BAB II LANDASAN TEORI
C. Hukum Ekonomi Syaria‟ah
3. Prinsip-prinsip Hukum Ekonomi Syari‟ah
Sistem hukum ekonomi syari‟ah mencakup cara dan pelaksanaan setiap kegiatan ekonomi berdasarkan prinsip syari‟ah dengan melihat permasalahan E-bangking yang semakin berkembang
68Abdul Manan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam :Dalam Persefektif Kewenangan Pengadilan Agama. h. 19.
dan marak di Indonesia yang membutuhkan kepastian hukum terutama hukum syari‟ah.
Adapun prinsip-prinsip syariah dalam masalah pertukaran dan kontrak muamalah yang dapat digunakan untuk melakukan tinjauan hukum atas setiap transaksi sepanjang zaman, termasuk era modern untuk kemaslahatan semua pihak diantaranya adalah :
a. Asas kerelaan dari semua pihak yang terkait (An Taradhin) dalam Al-Qur‟an surat An-Nisa ayat 29 yang berbunyi:
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.69
Setiap transaksi yang dilakukan oleh para pihak haruslah didasarkan pada kesepakatan para pihak tersebut : tiap-tiap pihak rela atas isi perjanjian dan merupakan kehendak bebas sehingga tidak boleh ada paksaan dari pihak yang satu terhadap pihak yang lain, dengan unsur paksaan dan tekanan tidak sah, kecuali dalam hal yang bersifat untuk kepentingan publik ataupun Negara yang membutuhkan adanya transaksi jual beli barang dan jasa dengan barang standar karena adanya faktor pelanggaran etika bisnis seperti penimbunan.70
b. Larangan praktek penipuan, kecurangan, dan pemalsuan. Hal ini termasuk memakan harta orang lain secara bathil, maka
69 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer, (Jakarta:Gema Insani Press, 2003), h. 63
70 Aiyub Ahmad, Transaksi Ekonomi Persefektif Hukum Perdata dan Hukum Islam, (Jakarta: Kiswah, 2004), h. 34
transaksinya batal demi hukum. Dalam Al-Qur‟an surat Al- Muthaffifin ayat 1-5 yang berbunyi :
Artinya: “(1) kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang,(2) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,(3)dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.(4) tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,(5) pada suatu hari yang besar”.71
Asbabun Nuzul :
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Rasulullah saw sampai ke madinah, diketahui bahwa orang-orang Madinah termasuk orang yang pling curang dalam takaran dan timbangan, maka Allah menurunkan ayat ini sebagai ancaman bagi orang yang curang menimbang. Setelah ayat ini turun orang-orang Mandinah termasuk orang yang jujur dalam menimbang dan menaksir.72
Oleh karena itu Rasulullah SAW melarang semua bentuk penipuan transaksi dalam segala bentuk dan media bisnisnya Rasulullah SAW bersabda : “ Barang siapa yang melakukan penipuan (dalam bertransaksi), maka ia bukan golongan kami.” (HR.Muslim).73 c. Tradisi, prosedur, sistem, konvensi, norma, kelaziman, dan
kebiasaan bisnis yang berlaku ( „urf ) tidak bertentangan dengan prinsip syari‟ah.74transaksi yang diadakan oleh para pihak itu bukanlah perbuatan yang dilarang atau bertentangan dengan hukum syara‟ sehingga transaksi yang berlawanan dengan hukum syara‟
adalah tidak sah. Jadi, setiap barang barang atau jasa yang ditransaksikan harus halal.75
71 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer,h. 64
72 Nurcholis, Asbabun Nuzul, ( Surabaya: Pustaka Anda, 1997), h. 115
73 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer,h. 64
74 Ibid
75 Aiyub Ahmad, Transaksi Ekonomi Persefektif Hukum Perdata dan Hukum Islam, (Jakarta: Kiswah, 2004), h. 34
d. Berdasarkan niat dan itikad yang baik serta menghindarkan kelicikan dan akal-akalan (moral hazard) dengan mencari celah hukum dan ketentuan yang seharusnya.76
e. Kesepakatan transaksi dilangsungkan dengan serius, komitmen, konsekuen. Sebab, Nabi SAW bersabda:
“Umat islam itu terikat dengan perjanjian dan kesepakatan yang mereka lakukan” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi).77 f. Transaksi harus berdasarkan prinsip keadilan dan toleransi dalam
Al-Quran Surat An-Nahl ayat 90 yang berbunyi:
Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu da pat mengambil pelajaran”.78
Dan Al-Baqarah ayat 280 yang berbunyi :
Artinya: “dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.79
76 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer,h. 64
77Ibid.
78Ibid.
79Ibid.
Prinsip keadilan dilakukan dengan tegas terhadap berbagai bentuk kegiatan perdagangan agar tidak membawa kepada konflik dan keributan.80
g. Tidak boleh melakukan transaksi dengan cara media, dan objek transaksi yang diharamkan Islam. Selain itu selama transaksi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah maka ketentuan Islam berlaku fleksibel, dinamis dan inovatif dalam hal muamallah karena Allah menciptakan manusia sebagai khalifah-Nya yang diberi mandat dan kebebasan untuk melakukan pemakmuran bumi dengan mengikuti petunjuk-Nya .81
Bila dilihat dari sistemnya serta prinsip operasionalnya maka hukum bertransaksi menggunakan e-bangking adalah sebagai kebutuhan manusia akan kemajuan teknologi yang berusaha memperbaiki dan menghindari kelemahan dan penyimpangan teknis maupun syariah. Sebab tidak dapat dipungkiri bahwa mekanisme yang dibuat manusia tidak luput dari kelemahan dan selama masih relative aman dan didukung oleh upaya-upaya pengamanan hal ini dapat di tolelir ini didasarkan berdasarkan prinsi toleransi syari‟ah .
Kegiatan pembayaran zakat menggunakan elektronik bangking dapat dilakukan, karena tidak adanya pemasalahan ataupun suatu
80 Afzalul Rahman, Doktrin Ekonomi Islam jilid 1 (Yogyakarta: Pt Dana Bhakti Wakaf, 1995) h. 88.
81 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer,h. 65
hukum yang melarang bertransaksi menggunakan elektronik bangking berdasarkan prinsip syari‟ah. Sehingga keterkaitan antara berbagai pertanyaan mengenai ketetapan kebolehan mengenai transaksi tersebut dapat menjawab kebolehan akan kemanfaatan yang diterima oleh masyarakat melalui pembayaran zakat melalui elektronik bangking.
Transaksi pembayaran zakat menggunakan elektronik bangking di dalam akad fiqih muamalah disebut akad tabbaru‟ (gratuitous contract) adalah “segala macam perjanjian yang menyangkut not-for profit transaction ( transaksi nirlaba) transaksi ini pada hakikatnya bukan transaksi bisnis untuk mencari keuntungan komersil akad tabbaru‟ dilakukan dengan tujuan tolong-menolong dalam rangka berbuat kebaikan dan dalam akad tabbaru‟ pihak yang berbuat kebaikan tersebut tidak berhak mensyaratkan imbalan apa pun kepada pihak lainnya, imbalan dari akad tabbaru‟ dari Allah Swt., bukan dari manusia. Namun demikian, pihak yang berbuat kebaikan tersebut boleh meminta kepada counter-part-nya untuk sekedar menutupi biaya (cover the cost), yang dikeluarkannya untuk dapat melakukan akad tabbaru‟ tersebut” .82 Pada dasarnya ,akad tabbaru‟ ini adalah memberikan sesuatu atau meminjamkan sesuatu dan pembayaran zakat melalui elektronik banking termasuk dalam “memberikan sesuatu yang termasuk dalam golongan ini adalah akad-akad hibah, wakaf, shadaqah, hadiah, dan lain-lain dalam semua akad-akad
82 Adiwarman A.Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan,( Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2016), h. 66
tersebut si pelaku memberikan sesuatu kepada orang lain. Bila penggunaannya untuk kepentingan umum dan agama, akadnya dinamakan wakaf, sedangkan hibah dan hadiah adalah pemberian sesuatu secara sukarela kepada orang lain”83. Dan kegiatan pembayaran zakat melalui elektronik banking merupakan sebuah akad pemberian sesuatu dengan sukarela kepada orang lain antara muzaki dengan LAZIS tersebut, dengan rukun dan sayarat tabbaru‟ adalah:
1) Rukun tabbaru‟ terdiri dari:
a) Mutabarri‟ (yang memberikan) b) Mutabarra‟ lah ( yang menerima) c) Al-Mutabarra‟ (yang diberikan) d) Shighat.84
2) Syarat tabbaru‟, bagi setiap tabbaru‟ masing-masing memiliki syarat-syarat tertentu, apabila syarat-syarat tersebut terpenuhi maka tabbaru‟nya sah namun jika tidak maka tabbaru‟nya tidak sah.85 Dan salah satu tabbaru‟ yang masuk kedalam golongan memberikan sesuatu secara sukarela kepada orang lain adalah sebagai berikut:
a) Pemberi tabbaru‟, tidak sah tabbaru‟ dari anak kecil, orang tidak waras, dan sebagainya.
83 Ibid, h. 69
84 Atep Hendang Waluya, Memahami Akad Tabbaru‟ (Non Profit) Dalam Islam”, dalam http://koneksi-indonesia.org/2015/memahami-akad-tabbaru-non-profit-dalam-islam/ diunduh pada 05 Agustus 2017
85 Ibid.
b) Penerima tabbaru‟ diperbolehkan siapa saja yang sah untuk menerima pemberian.
c) Shighat, diisyaratkan dalam shigat adanya ijab dan qabul, dengan lafaz atau kalimat apa saja yang menunjukkan adanya pemberian harta.86
Pembayaran zakat tersebut merupakan sebuah akad memberikan sesuatu dengan ikhlas tanpa adanya sebuah imbalan yang diberikan oleh muzzaki kepada lazis, namun pembayaran zakat tersebut adalah sebuah transaksi yang dilakukan menggunakan sebuah akad tabbaru‟ yang mana tidak terdapat sebuah keuntungan dari pembayaran zakat tersebut.
86Syarat-syarat Tabbaru‟dalam http://www.sadar-asuransi.com/syarat-yarat-tabbaruhibah- asuransi--syariah/ diunduh pada 05 Agustus 2017