BAB II LANDASAN TEORI
B. Perceraian
3. Akibat Hukum Setelah Terjadinya Perceraian
Oleh karena itu, apabila gugatan cerai dikabulkan, maka proses selanjutnya tergantung ada atau tidaknya keberatan dari pihak tergugat.
Pihak yang keberatan selanjutnya dapat mengajukan banding melalui pengadilan agama tersebut dan sebaliknya apabila gugatan ditolak, penggugat dapat mengajukan banding melalui pengadilan agama tersebut.
Selanjutnya apabila gugatan tidak diterima, maka Penggugat dapat mengajukan permohonan baru.
Pengadilan hanya memutuskan untuk mengadakan sidang pengadilan untuk menyaksikan perceraian apabila memang terdapat alasan- alasan (Pasal 19 disebutkan dibawah) dan Pengadilan berpendapat bahwa antara suami isteri yang bersangkutan tidak mungkin lagi didamaikan untuk hidup rukun lagi dalam rumah tangga. Sesaat setelah dilakukan sidang untuk menyaksikan perceraian yang dimaksud maka Ketua Pengadilan membuat surat keterangan tentang terjadinya perceraian tersebut. Surat keterangan itu dikirimkan kepada pegawai Pencatat di tempat perceraian itu terjadi untuk diadakan pencatatan perceraian.
Perceraian sanni adalah perceraian yang berjalan sesuai ketentuan agama, yaitu seseorang suami menperceraian perempuan yang pernah dicampurinya dengan sekali perceraian pada masa yang bersih dan belum ia sentuh kembali selama masa bersih itu Instruksi Presiden RI No 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam Pasal 121 meyebutkan bahwa perceraian sunni adalah perceraian yang dibolehkan yaitu perceraian yang di berikan kepada isteri yang sedang suci dan tidak dicampuri pada waktu suci. Selanjutnya, perceraian bid’i adalah perceraian yang dilarang oleh ajaran agama Islam Pasal 122 Instruksi Presiden Republik Indonesia No 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam menyebutkan “perceraian bid’i adalah perceraian yang dilarang dijatuhkan pada waktu isteri dalam keadaan haid atau isteri dalam keadaan suci tetapi sudah dicampuri pada waktu suci itu”.
Jadi, pada prinsipnya perceraian bid’i dan perceraian sunni hanya dilihat dari keadaan yang akan ditalakkan tersebut dalam keadaan suci atau tidak dalam ajaran Islam dikenal pula jenis-jenis perceraian yaitu perceraian Raj’i dan perceraian bain sugro yaitu perceraian kesatu atau kedua dan suami berhak untuk rujuk selama isteri dalam masa idah (Vide Pasal 118 Instruksi Presiden No 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam). Perceraian ba’in sugro tidak boleh rujuk tetapi boleh menikah lagi dengan bekas suaminya meskipun dalam keadaan idah, perceraian bain sugro dapat terjadi karena:
a. Perceraian yang terjadi sebelum suami isteri bercampur (qabla al dhukul),
b. Perceraian dengan tebusan,
c. Perceraian yang dijatuhkan oleh Pengadilan Agama (vide Pasal 119 Inpres No.1 tahun 1991)
Perceraian ba’in kubro yaitu perceraian yang terjadi untuk ketiga kalinya perceraian ini tidak dapat dirujuk dan tidak dapatdinikahkan kembali kecuali apabila pernikahan itu dilakukan setelah isteri menikah dengan orang lain dan kemudian terjadi perceraian setelah di antara suami isteri tersebut pernah bercampur (perceraian ba’dal dhukul) perceraian tersebut telah pula habis, masa iddahnya.
Apabila perkawinan putus atau terjadi perceraian, persoalan tidak begitu saja selesai akan tetapi timbul akibat-akibat hukum yang harus dipatuhi oleh pihak-pihak yang bercerai.
Pada umumnya akibat hukum dari perceraian yang sering timbul adalah tentang hadhanah apabila anak sudah mumayyiz (berumur 12 tahun) Hendaknya diselidiki oleh yang berwajib siapakah di antara kedua orang tua yang lebih cakap untuk mendidik anak tersebut. Akibat lain yang timbul adalah berkaitan dengan biaya nafkah anak tersebut dan harta sarikah (harta bersama).
Dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 156, akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah :
a. Anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hadhanah dari ibunya, kecuali bila ibunya telah meninggal dunia, maka kedudukannya digantikan oleh :
1) Wanita-wanita dalam garis lurus dari ibu.
2) Ayah.
3) Wanita-wanita dalam garis Iurus ke atas dari ayah.
4) Saudara perempuan dari anak yang bersangkutan.
5) Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ibu 6) Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ayah.
b. Anak yang sudah mumayyiz berhak memilih untuk mendapatkan hadhanah dari ayah atau ibunya.
c. Apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang memnpunyai hak hadhanah pula.
d. Semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggungan ayah menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dan dapat mengurus diri sendiri (21 tahun).
e. Bilamana terjadi perselisihan mengenai hadhanah dan nafkah anak, Pengadilan Agama memberikan putusannya berdasarkan huruf (a); (b), (c), dan (d).
f. Pengadilan dapat pula dengan mengingat kemampuan ayahnya menetapkan jumlah biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak yang tidak turut padanya.122
Jika kita perhatikan pula, dalam Intruksi Presiden No 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi hukum Islam akibat putusnya perkawinan lebih di perinci yakni akibat cerai talak, cerai gugat, khuluk dan lian.
Hak seorang suami untuk menceraikan diatur dalam Pasal 66 sedangkan dalam Intruksi Presiden RI No 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam diatur dalam Pasal129 sampai dengan Pasal 131. Oleh karena itu, cerai perceraian adalah hak suami menceraikan isteri dengan alasan
122 Mohd Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Hukum Kewarisan, Hukum Acara Peradilan Agama dan Zakat Menurut Hukum Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2000), h. 164.
yang cukup sebagai mana telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Akibat terjadinya cerai perceraian menurut ketentuan Pasal 149 Intruksi Presiden RI No 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam dinyatakan sebagai berikut :
a. Bilamana perkawinan putus karena perceraian maka bekas suami wajib memberikan mut’ah yang layak kepada bekas isteri baik berupa uang atau benda kecuali isteri tersebut belum pernah di campuri oleh suaminya(qobla al dhukul.
b. suami memberikan nafkah, maskan (tempat tinggal) dan qiswah (pakaian kepada isteri selama masa idah kecuali isteri telah dijatuhi perceraian ba’in atau isteri nusyuz (isteri durhaka) dan dalam keadaan tidak hamil
c. melunasi mahar yang masih terhutang seluruhnya dan separuh apabila tidak dicampuri (qobla al dhukul) memberikan biaya hadhanah untuk fitnahnya yang belum mencapai 21 tahun.
Sedangkan akibat hukum setelah terjadinya cerai perceraian menurut Pasal 41 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 yaitu:
a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak- anaknya; semata-mata berdasarkan kepentingan anak, bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, Pengadilan memberi keputusannya.
b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikannya yang diperlukan anak itu, bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut. Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.
c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isteri.
Dengan demikian Pengadilan Agama dapat mengabulkan atau menolak permohonan tersebut, dan terhadap keputusan tersebut apabila kedua belah pihak merasa tidak puas dengan keputusan pengadilan dapat diminta upaya hukum banding dan kasasi.