• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA DAN KESIMPULAN

Analisa

Dari data diatas dapat di ketehui bahwa hubungan bintang dengan kompensasi faktor kerja motor induksi tersebut bagus pada saat beban penuh didapat nilai cos Ø = 0,91, slip = 46,3 dan Ƞ= 30,3. Pada hubungan bintang tanpa kompensasi faktor kerja dari motor tersebut sangat bagus didapat nilai cos Ø = 0,99 slip = 46,3. Pada hubungan delta tanpa kompensasi faktor kerja dari motor tersebut kurang bagus pada saat beban penuh dengan cos Ø = 0,74 slip = 48 dan Ƞ = 4.

Pada hubungan delta dengap kompensasi faktor kerjanya cukup tapi dengan cos Ø yang belum mencapai 0,99, nilai cos Ø dari hubungan ini adalah 0,88 dengan slip 48,8 dan Ƞ = 34,3 %.

Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilakukakan dapat disimpulkan bahwa :

 beban mekanik diberikan putaran motor akan sedikit turun. Penurunan ini akan mengakibatkan slip.

 terdapat hubungan antara besarnya slip dan efesiensi motor, semakin besar slip maka semakin rendah nilai efesiensi pada motor.

 Dengan penambahan kapasitor dengan reting yang sesuai maka harga faktor kerja motor induksi akan lebih baik

 Semakin kecil pemakain daya reaktif yang induktif faktor kerjanya akan semakin baik.

PERCOBAAN MOTOR SLIP RING 3 FASA

Laporan pratikum

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah mesin-mesin listrik di jurusan teknik elektro program studi teknik listrik

oleh:

Nama :Taufik Irmansyur NIM : 061530310194

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA PALEMBANG

2017

MOTOR SLIP RING 3 PHASA Pendahuluan :

Sejalan dengan perkembangan industri, pada teknik penggunaan motor- motor listrik dibutuhkan motor-motor listrik dengan pengasutan putaran.

Untuk itu terdapat beberapa alternatif pemilihan jenis motor listrik dengan perlengkapannya masing-masing.

Pada alternatif mesin arus bolak-balik mesin asingkron rotor sangkar merupakan jenis mesin listrik yang paling kokoh konstruksinya dan paling murah biayanya dan infestasi. Pemeliharaan yang diperlukan praktis hanya pada bagian mekanisnya saja yaitu bagian as and bantalannya, tetapi dalam pemakaian daya yang besar dengan pengaturan putaran, mesin ini dapat pula menjadi masalah satu pilihan utama, yang paling baik dari alternatif penggunaan motor dc.

Sebelum bidang elektronika daya berkembang, penggunaan motor asingkron dengan peralatan pengaturan yang khusus tidak jadi pilihan orang, karena mahalnya investasi yang diperlukan bagi peralatan pengaturan putaran tersebut serta buruknya efisiensi sistem. Misalnya digunakan rotor untuk pengaturan putaran motor induksi rotor belitan. Perkembangan peralatan konverter yang terdiri dari kombinasi saklar-saklar elektronik dapat mengatasi kesulitan diatas.

Pengaturannya dapat dilakukan dengan mudah dan rangkaian pengaturan otomatisnya mempunyai waktu tanggap yang tepat.

Cara-cara pengaturan putaran motor ini dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu :

1. Mengubah kecepatan singkron

a. Dengan mengatur frekuensi jala-jala b. Dengan mengatur jumlah katup 2. Mengubah slip

a. Dengan mengatur tegangan jala-jala b. Dengan mengatur tahanan rotor

c. Dengan menyisipkan suatu tegangan dengan frekuensi tertentu pada rangkaian rotor.

Untuk motor induksi rotor, cara yang paling mudah dan sederhana adalah dengan mengubah tahanan rotor, hal ini dapat dilakukan dengan menambah tahanan rotor yaitu menambahkan tahanan luar pada rotor, yaitu dapat diatur secara mekanis seperti gambar dibawah ini :

𝑅4>𝑅3>𝑅2>𝑅1

Dengan mengubah tahan rotor, kita dapat mengubah karakteristik dari T vs S sesuai dengan apa yang dikehendaki.

Pada motor slip ring ini adalah motor induksi motor lilit yang mana ketiga ujung belitan rotornya dikeluarkan melalui slip ring. Dengan demikian ada kemungkinan untuk dapat menambah tahan rotor melalui slip ring ini. Pada keadaan motor tidak berputar sifat kelistrikannya adalah sama dengan transformator dan belitan rotor sama dengan belitan sekunder pada transformator. Apabila dalam keadaan ini belitan rotor kita beri tahanan yang nilainya bermacam-macam akan dapat mempengaruhi arus stator. Sebagai contoh : pada saat tahanan rotor yang sangat besar, maka akan mengakibatkan kecilnya arus pada stator atau sebaliknya. Dalam praktek, sifat ini digunkanan menjalankan motor saat pertama kali (starting motor) yang tujuannya untuk mengurangi arus mula gerak. Oleh karena itu tahanan luar rotor sering juga disebut tahanan mula (starter resistor).

Daya keluaran motor dapat dipengaruhi oleh kerugian daya pada rotor, jika kerugian daya pada rotor naik maka daya keluaran berkurang (turun), melalui pernyataan :

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 𝑀.𝑛

9,55

Dimana : m adalah torsi n adalah putaran

Bila torsi tetap dan daya turun, maka putaran akan turun. Dengan demikian kita dapat mengatur kecepatan motor dengan mengubah tahanan rotor yang melalui slip ring.

Frekuensi dimana tegangan dimotor sangat tergantung dari besarnya slip yaitu perbedaan antara kecepatan medan putar stator dan kecepatan putar dari motor.

Hal ini dapat dinyatakan sebagai berikut : F2 = F1 ( 𝑛𝑠−𝑛

𝑛𝑠 ) F2 = f1 . s Keterangan :

f1 = frekuensi jala-jala f2 = frekuensi tegangan rotor s = slip

n = putaran rotor

Ns = putaran medan stator

Seperti halnya pada motor asinkron rotor sangkar, beban yang diberikan mengakibatkan turunnya putaran atau bertambahnya slip. Tapi pada saat starting, dengan menggunakan motor slip ring kita bisa mengatur tahanan rotor.

Keuntungan pengaturan putaran rotor yang lain adalah dapat memperbesar torsi mula gerak. Oleh karena itu dalam percobaan ini perlu pula mengetahui starting karakteristik mula gerak dari motor ini.

I. PENGOPERASIAN, PERTUKARAN KECEPATAN, DAN

PEMBALIKAN PUTARAN 1.1 Tujuan :

Tujuan dari praktikum yaitu agar mahasiswa mampu :

- Mengoperasikan motor slip ring 3 phasa dengan menggunakan beberapa tahanan luar motor

- Mengatur arus mula gerak motor dengan tahanan luar yang bervariasi

- Menjelaskan pengaruh kecepatan putaran dan arus stator pada switching stater

- Mengoreksi, menukar arah putaran 1.2 Alat yang digunakan :

Peralatan yang digunakan pada saat melakukan praktikum yaitu : - Unit, control 1 Kw

- Magnetik power break 1 Kw - Motor slip ring 3 fasa 380 V - Circuit breaker 3 fasa

- Starter untuk motor slip ring 1 Kw - Counling and cover

- Multimeter

- Power meter dan cos ∅ meter 1.3 Langkah kerja

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam melakukan praktikum, yaitu ; - Merangkai diagram rangkaian pada gambar 1.1

- Mengukur arus stand still pada setiap posisi starter dan memasukkannya dalam tabel

- Menukar torsi pada kontrol unit pada 5,6 Nm dengan menggunakan rangkaian 1.3, mengukur arus motor dan kecepatan putarannya pada setiap setting starter dimana dimulai pada posisi 2 dan menuliskannya pada tabel.

1.4 Tabel percobaan

Berikut ini merupakan tabel data dari hasil praktikum :

Tabel Hasil Percobaan Pengoperasian Motor Slip Ring 3 Phasa

Starter 2 3 4 5 6 7

I (A) 2,1 2,13 2,14 2,17 2,18 2,19

Tabel Hasil Percobaan Penukaran Putaran Motor Slip Ring 3 Phasa

Starter 2 3 4 5 6 7

n (RPM) 887 1142 1292 1359 1400 1432

I (Amp) 2,6 2,62 2,64 2,65 2,66 2,68

1.5 Diagram Rangkaian

M

K L M

Gambar 1.1 Rangkaian Pengoperasian, Pertukaran dan Pembalikan Kecepatan

1.6 Analisa

Dari hasil praktikum dapat dianalisa bahwa belitan rotor yang diberi tahanan yang nilainya bermacam-macam akan dapat mempengaruhi arus stator.

Pada saat tahanan rotor yang sangat besar, maka akan mengakibatkan kecilnya arus pada stator atau sebaliknya. Dari data tabel pengoperasian motor slip ring setting starter posisi 2 arusnya sebesar 2,1 Ampere, pada posisi 7 arusnya sebesar 2,19 Ampere. Maka data tersebut menunjukkan bahwa semakin besar posisi setting starter pada motor maka arus start akan semakin besar, begitu juga sebaliknya.

Dari data tabel penukaran putaran motor slip ring 3 phasa setting starter posisi 2 arusnya sebesar 2,6 Ampere dengan rpm sebesar 288, sedangkan ketika setting starter pada posisi 7 arusnya sebesar 2,68 dengan rpm sebesar 1432. Jadi semakin besar posisi setting startet juga akan mempengaruhi kecepatan putaran motor tersebut.

II. PENGUKURAN TEGANGAN, ARUS DAN FREKUENSI ROTOR

Dokumen terkait