Analisis data adalah suatu proses pengumpulan dan pengaturan data secara sistematis dan berurut sehingga dapat dipahami dengan mudah oleh diri sendiri maupun orang lain dengan cara mengkonstruksi pola dari wawancara, kuesioner, dan dokumen serta hal-hal yang paling penting untuk dipelajari.22
Data yang dianalisis bersifat kualitatif dan merupakan suatu metode dalam memperoleh data deskriptif dengan bentuk tertulis maupun tidak tertulis (lisan) dari orang-orang yang melakukan penelitian. Deduksi adalah
21 Aminullah, Zaenal abiding, Pengantar Metode Penenlitian Hukum, (Jakarta: Balai Pustaka,2006), h.107
22 Aminullah, Zaenal abiding, Pengantar Metode Penenlitian Hukum, h.335
kalimat di mana inferensi berada di paragraf dan induksi adalah penalaran yang benar dari kasus tertentu ke kesimpulan umum tertentu.
BAB IV
HASIL PENELITIN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Pada bab ini penulis akan menguraikan Desa Karassing, Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba sebagai lokasi penelitian. Pada uraian ini
diharapkan penulis mampu menjelaskan tentang bagiamana anggota BPD dalam menjalan peran dan fungsinya.
Pembahasan ini akan menjabarkan dengan model deskriptif terhadap fakta-fakta yang ditemukan oleh penulis di lapangan yang berupa dokumentasi dari wawancara mendalam oleh informan
1. Gambaran Umum Desa Karassing a. Sejarah Desa Karassing
Karassing adalah sebuah nama desa yang terletak di Kecamatan Herlang, yang mempunyai wilayah yang lumayan luas untuk ukuran desa yang luasnya 10,25 KM2 yang dikelilingi sungai besar, Karassing adalah salah satu desa dari 9 Desa/Kelurahan yang ada di Kecamatan Herlang Kabupaten Bulukumba. Desa Karassing terdiri atas 4 Dusun yakni Dusun Babalohe, Dusun Bontolohe, Dusun Kalanting, Dusun Pallantikang adalah desa yang Prasejahtera, hasil bumi belum melimpah namun masih dianggap desa tertinggal terutama dibidang inprastruktur dari ratusan desa yang berada di Kabupaten Bulukumba.
Pada jaman penjajahan Belanda (1920-1928) terdapat sebuah Kawasan padang luas, tanahnya subur untuk kawasan pertanian dan perkebunan, penduduknya sangat kurang, oleh karena tanahnya yang subur, maka banyak ditumbuhi padang ilalang, maka banyaklah penduduk berdatangan dari kampung lain masuk dan berdomisili sambil membawa ternaknya sekaligus membuka lahan pertanian dan perkebunan serta usaha-usaha lainnya, terbentuklah sebuah wilayah
perkampungan yang diberi nama Karassing dibawah pimpinan Sulehatang (Sultang) Manompi Dg.Pabisa yang berkedudukan pada wilayah Taktis.
Pada jaman pemerintahan Sulehatang (Sultan) Manrapi Dg Pabeta ini, Karassing berdiri sendiri dan berkembang sama daerah lainnya atau kampong yang ada disekitarnya. Setelah Sulehatang (Sultang) Manrapi Meninggal, maka digantikan oleh Sulehatang Solong, lalu digantikan oleh Sulehatang (Sultang) Rabbani.
NO NAMA JABATAN PERIODE
1
. Samma Kades 1957-1978
2
. M.Tondeng Kades 1989-1997
3
. Andi Daruma DM Kades 1989-2013
4
. Kamaruddin.T, S.Sos Pelanjut Pemerintahan
Oktober- November 2013 5
. Andi Muhammad Haris, SE Kades November 2013 - 2019 6
. Kamaruddin.T, S.Sos Pelanjut
Pemerintahan September 2019 – April 2020 7 Andi Muhammad Haris, SE Kades April 2020 – April 2026
Sumber : data umum desa
b. Letak Geografis
Desa Karassing merupakan salah satu desa dalam wilayah Kecamatan Herlang Kabupaten Bulukumba. Secara administratif, wilayah Desa Karassing memiliki batas sebagai berikut :
Sebelah Utara : Desa Tugondeng
Sebelah Selatan : Desa Bonto Barua Kec.Bontotiro Sebelah Timur : Desa Borong
Sebelah Barat : Desa Paccarammengan Kec.Ujung Loe
Gambar 4.1 Peta Dan Kondisi Desa
Luas wilayah Desa Karassing adalah 10,25 KM2 yang terdiri dari 47% berupa pemukiman, 32% berupa daratan yang digunakan untuk lahan pertanian, serta 0 % berupa lahan budidaya perikanan. Sebagaimana wilayah tropis, Desa Karassing mengalami musim kemarau dan musim penghujan dalam tiap tahunnya.
Jarak pusat desa dengan ibu kota kabupaten yang dapat ditempuh melalui perjalanan darat kurang lebih 42 km. Kondisi prasarana jalan poros desa yang masih berupa jalan konstruksilaston dengan kondisi rusak parah mengakibatkan waktu tempuh menggunakan kendaraan bermotor mencapai kurang lebih 60 menit. Sedangkan jarak pusat desa dengan ibu kota kecamatan yang dapat ditempuh melalui perjalanan darat kurang lebih 15 km.
Desa Karassing merupakan wilayah paling potensial untuk Pertanian dan Perkebunan Hal tersebut didukung oleh kondisi geografis namun sistem pengairan yang belum memadai.
Dukungan pemerintah daerah untuk pengembangan potensi diwujudkan dengan menetapkan wilayah Desa Karassing sebagai bagian Kawasan Perkebunan.
Berdasarkan kondisi desa ini maka akan dijabarkan permasalahan, potensi, hingga daftar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) yang diprogramkan untuk 6 (enam) tahun, siklus iklim yang terjadi di desa Karassing setiap tahunnya antara bulan Nopember sampai Juni adalah musim penghujan, dari bulan Juli sampai bulan Agustus adalah musim pancaroba dan pada bulan September sampai Oktober adalah musim kemarau.
c. Kependudukan
Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah penduduk Desa Karassing adalah 3283 jiwa dengan komposisi tersaji dalam tabel 1.2 berikut :
No Nama dusun Jenis kelamin Penduduk
Laki-laki Perempuan (Jiwa)
%
(Jiwa)
% (Jiwa) %
1 Babalohe 248 47.33 276 52.67 524 100
2 Bontolohe 509 47.39 565 52.61 1074 100
3 Kalanting 462 47.68 507 52.32 969 100
4 Pallantikang 340 47.49 376 52.51 716 100 Desa Karassing 1559 47.49 1724 52.51 3283 100
B. Peran BPD Desa Karassing Dalam Menjalankan Tugas Dan Fungsinya Badan permusyawaratan Desa (BPD) diatur dalam peraturan Republik Indonesia Nomor 110 Tahun 2016 yang dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri, Permendagri No. 110 tahun 2016 mengatur kedudukan Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) dalam pemerintahan desa, yang bekaitan dengan: Pasal 1 ayat (40) Badan Permusyawaratan Desa, yang disingkat menjadi BPD, yaitu badan dalam menjalankan atau menyelenggarakan fungsi pemerintahan yang terdiri dari wakil rakyat desa berdasarkan wakil daerah dan ditetapkan secara demokratis.
Selain wakil ketua dan sekertaris, BPD memiliki ketua yang mengawasi dapertemen. Pada pertemuan khusus Badan Permusywaratan Desa, anggota BPD langsung memilih ketua BPD. Anggota tertua dan anggota termuda mengikuti diskusi pemilihan ketua BPD perdana.
Secara garis beras Badan Permusyawaratan Desa (BPD) memiliki tanggung jawab utama, seperti yang berkaitan dengan legitimasi, pengawasan, dan berfungsi sebagai penampung serta menyalurkan aspirasi masyarakat.
BPD dalam menjalankan tugasnya, BPD memiliki wewenang sebagai berikut:23
23 Permendagri 110/2016, Pasal 63.
Sumber : Data umum desa
1. Mengadakan pertemuan dengan mayarakat untuk mendapatkan aspirasi;
2. Menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah desa secara lisan dan tertulis;
3. Mengajukan rancangan peraturan desa yang menjadi kewenangannya;
4. Melaksanakan monitoring dan evaluasi kinerja kepala desa;
5. Meminta keterangan tentang penyelenggaraan pemerintahan desa kepada pemerintah desa;
6. Menyatakan pendapat atas penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa;
7. Mengawal aspirasi masyarakat, menjaga kewibawaan dan kestabilan penyelenggaraan pemerintahan desa serta mempelopori penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan tata kelola pemerintahan yang baik;
8. Menyusun peraturan tata tertib BPD;
9. Menyampaikan laporan hasil pengawasan yang bersifat insidentil kepada Bupati/Wali kota melalui Camat;
10. Menyusun dan menyampaikan usulan rencana biaya operasional BPD secara tertulis kepada Kepala Desa untuk dialokasikan dalam Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Desa;
11. Mengelola biaya operasional BPD;
12. Mengusulkan pembentukan Forum Komunikasi Antar Kelembagaan Desa kepada Kepala Desa; dan
13. Melakukan kunjungan kepada masyarakat dalam rangka monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan desa.
a. Peran Bpd Desa Karassing Dalam Menjalankan Tugas Dan Fungsi Legislasi
Berdasarkan hasil penelitian penulis yang dimulai tanggal 14 Juni 2023 dengan informan pertama adalah ketua BPD Desa Karassing, bapak A. Daruma DM, Sos. disampaikan bahwa dalam penerapan fungsi legislasi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) belum terlaksana, BPD desa Karassing belum pernah membuat Undang-undang Desa. Menurut pak A. Daruma DM, Sos., Pihak BPD sudah mendorong pemerintah setempat, dalam hal ini kepala desa untuk bersama-sama membuat rancangan Undang-undang, seperti larangan pemasangan jerat babi menggunakan listrik, undang-undang asusila yang terafiliasi dengan adat setempat, dan sebagainya. Hanya saja pemerintah desa sampai hari ini belum melaksanakan usulan tersebut, dengan alasan bahwa semua desa di Kabupaten Bulukumba peraturan yang dibuat sebatas peraturan kepala desa, peraturan desa tentang RKPDes dan APDes. Padahal, berdasarkan pengamatan penulis, terdapat hal-hal penting yang ada di desa Karassing yang perlu dibuatkan Undang-undang Desa. Misal Undang-undang tentang pemasangan jerat babi di ladang jagung menggunakan listrik.
Pemasangan jerat babi menggunakan listrik ini sangat berbahaya dan sudah memakan banyak korban. Tidak sedikit yang jadi korban adalah pemilik lahan sendiri yang meninggal tersengat aliran listrik yang di pasang pada jerat babi tersebut. Namun, sampai hari ini tidak ada
tindakan tegas dan solusi tepat yang dilakukan pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten, khususnya dalam pembuatan Undang- undang Desa yang mengatur hal tersebut.
Dari hasil wawancara dengan ketua BPD desa Karassing dan komparasi pemangatan penulis maka dapat digambarkan bahwa fungsi legislasi BPD desa Karassing tidak berjalan.
b. Peran Bpd Desa Karassing Dalam Menjalankan Tugas Dan Fungsi Pengawasan
Berdasarkan Peraturan Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 2020, Pasal 20 Ayat 2 termaktub empat point pengawasan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yaitu: Perencanaan kegiatan dan anggaran pemerintah desa, pelaksanaan kegiatan, laporan pelaksanaan APD Desa, dan capaian pelaksanaan RPJM Desa, RKP Desa, dan APD Desa. Bentuk pengawasan BPD tersebut berupa monitoring dan evaluasi yang menjadi bagian dari laporan kinerja BPD sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan tugas BPD kepada masyarakat.
Evaluasi pelaksanaan tugas kepala desa selama 1 (satu) tahun anggaran dilakukan berdasarkan prinsip demokratis, responsif, transparansi, akuntabilitas dan objektif.
Pelaksanaan fungsi pengawasan BPD Desa Karassing berdasarkan hasil wawancara dengan ketua BPD Desa Karassing, bapak Andi Daruma, Sos.
“Alhamdulillah kita lakukan, baik itu pengawasan perencanaan, pembangunan fisik, laporan pertanggungjawaban, dan semua bentuk-bentuk pengawasan kita lakukan. Pengawasan ini juga
dilakukan di masing-masing wilayah tugas anggota BPD berdasarkan keterwakilan dusun. Tapi perlu saya akui juga bahwa ada keterbatasan kapasitas dalam menjalankan fungsi dan tugasnya”.
Sedikit berbeda dengan yang disampaikan salah satu toko masyarakat yang ada di desa Karassing tentang fungsi BPD, bapak Andi Baharuddin, S.H.
“Saya melihat BPD desa Karassing ini tidak begitu aktif dalam menjalankan tugas dan fungsinya, salah satunya kehadiran dalam rapat-rapat yang diselenggarakan di desa. Banyak anggota BPD yang sering tidak hadir, dan ada juga yang hadir tapi hanya datang, duduk, diam, lalu pulang. Kalau yang saya liat aktif itu hanya 2 orang, pak Andi Daruma selaku ketua BPD dan anggotanya pak Ahmad Yani.”
Dalam fungsi pengawasan serta pengamatan, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Karassing melakukan fungsi pengawawasan fungsi mengakomodasi dan menyalurkan aspirasi masyarakat
Selain berfungsi sebagai penghubung antara kepala desa dan masyarakat desa, peran BPD sebagai organisasi konsultatif yang terdiri dari masyrakat desa juga menuntut untuk dapat melaksanakan tanggung jawab utamanya, yaitu tanggung jawab reprentasional (Waistono dan Tahir, 2007:35). Transformasi ini merupakan hasil dari dari fakta bahwa ideologi (musyawarah/konsensus) yang menopang budaya politik lokal. Masyrakat desa membutuhkan Badan Permusyawaratan Desa sebagai lembaga konsultatif karena melalui BPD semua tuntutan masyarakat, khususnya yang berakitan dengan pembangunan dan