• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Hasil Penelitian 1. Rasio Efektifitas PAD 1.Rasio Efektifitas PAD

BAB I PENDAHULUAN

B. Analisis Hasil Penelitian 1. Rasio Efektifitas PAD 1.Rasio Efektifitas PAD

31

B. Analisis Hasil Penelitian

persentase ini, meskipun masih jauh dari 100% harus mendapat perhatian dari pemerintah daerah karena hal ini berhubungan dengan kinerja pemerintah daerah dalam menghasilkan PAD. Walaupun ada peningkatan persentase tapi untuk saat ini pemerintah kabupaten Aceh Utara masih dapat dikatakan efisiensi dalam penggunaan dana-dana untuk menghasilkan PAD

Tabel. 4.1

Rasio Efektivitas dan Rasio Efisiensi Kabupaten Aceh Utara

No. Keterangan Tahun Anggaran

2006 2007 2008 1. Realisasi PAD / Target PAD 182,76% 95,73% 106,26%

2. Biaya Pungutan PAD / Realisasi PAD 0,10% 20,77% 28,73%

Rata-rata 1 128,25%

Rata-rata 2 16,53%

3. Rasio Keserasian

Berdasarkan Permendagri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, belanja dibagi ke dalam dua kelompok: belanja tidak langsung dan belanja langsung. Belanja tidak langsung adalah belanja yang tidak terkait langsung dengan adanya program dan kegiatan. Sedangkan belanja langsung adalah belanja yang terkait secara langsung dengan adanya progam dan kegiatan.

Belanja langsung harus ditetapkan indikator kinerjanya sebab akan diukur kinerja pelaksanaan program/kegiatannya. Sedangkan belanja tidak langsung tidak dapat atau sulit untuk ditetapkan indikator kinerjanya, karena itu belanja tidak langsung tidak perlu diukur kinerjanya. Berdasarkan konsep tersebut maka

33

perbandingan yang serasi adalah bila belanja lansung lebih besar dan semakin besar dibandingkan belanja tidak langsung.

Dari tabel 2 dapat dijelaskan bahwa rasio keserasian belanja Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Utara yaitu pada tahun 2006 sebesar 308,16%, pada tahun 2007 terjadi penurunan sebesar 141,58% dan pada tahun 2008 sebesar 134,46%, terlihat bahwa belanja langsung masih sangat mendominasi sehingga dapat dikatakan bahwa Kabupaten Aceh Utara dalam membelanjakan dana APBDnya lebih memprioritaskan belanja langsungnya dibandingkan dengan belanja tidak langsung. Namun demikian adanya penurunan yang sangat signifikan antara tahun 2006 dan 2007 yang mencapai lebih dari setengah dari yang didapat pada tahun 2006 perlu menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah untuk dapat memperhatikan penggunaan dana langsung yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam pembangunan daerah. Penggunaan dana-dana pembangunan secara maksimal ini diharapkan dapat diterima oleh masyarakat untuk peningkatan kesejahteraan.

Tabel. 4.2

Rasio Keserasian Belanja Kabupaten Aceh Utara

No. Keterangan Tahun Anggaran

2006 2007 2008 1. Belanja Langsung / Belanja Tdk Langsung 308,16% 141,58% 134,46%

Rata-rata 1 194,73%

4. Rasio Kemandirian

Rasio Kemandirian menggambarkan ketergantungan daerah terhadap sumber dana eksternal. Semakin tinggi rasio kemandirian mengandung arti bahwa tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan eksternal semakin rendah.

Kabupaten Aceh Utara yang di dalam perhitungan rasio kemandirian terlihat pada tabel. 3 menunjukkan peningkatan rata-rata rasio Kemandirian selama 3 tahun mencapai 47,85%. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah sedikit demi sedikit mulai melepaskan ketergantungannya dari bantuan provinsi maupun pusat.

Keberhasilan pemerintah daerah juga dapat dilihat dari kemampuannya dalam mendanai kegiatan pemerintahan tanpa banyak mendapatkan bantuan dana baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi.

Tabel. 4.3

Rasio Kemandirian Daerah Kabupaten Aceh Utara

No. Keterangan Tahun Anggaran

2006 2007 2008 1. PAD: Bantuan Pemerintah Pusat / Provinsi 43,10% 39,61% 60,84%

Rata-rata 1 47,85%

Kemampuan Kabupaten Aceh Utara dalam mencukupi kebutuhan pembiayaan untuk melakukan tugas-tugas pemerintahan sangat terlihat peningkatannya pada tahun 2008 yaitu sebesar 60,84%. Kasi. Anggaran Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah Kabupaten Aceh Utara menjelaskan bahwa peningkatan itu disebabkan oleh tingginya pajak daerah dan hasil perusahan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah lainnya. Selain itu

35

di Kabupaten Aceh Utara juga terdapat perusahaan minyak Exxon Mobil dan PT.Arun yang secara langsung menjadi penyumbang PAD terbesar bagi Aceh Utara. Dapat disimpulkan bahwa pajak merupakan komponen terbesar dari Pendapatan Asli Daerah. Melalui dua perusahaan besar tersebut, pemerintah Kabupaten Aceh Utara mendapatkan pendapatan Bagi Hasil Bukan Pajak (BHBP) yang berupa minyak bumi dan gas alam.

Untuk mengurangi tingkat ketergantungan pemerintah terhadap pihak eksternal, pihak pemerintah daerah perlu melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas finansial dengan sedikit lebih meningkatkan dan mengembangkan basis pajak, meningkatkan pengumpulan pajak dan retribusi, merasionalkan belanja daerah serta meningkatkan penyediaan lahan daerah sebagai sumber daya yang penting. Karena dengan meningkatnya pajak maka akan terlihat jelas bagaimana kesejahteraan masyarakat dan kesadaran masyarakat dalam hal membaya pajak kepada Negara.

5. Rasio Likuiditas

Rasio Likuiditas merupakan rasio yang mengukur kemampuan pemerintah daerah untuk membayar utang (kewajiban) jangka pendeknya. Rasio ini bias diukur dengan rasio lancer dan rasio kas (terhadap utang jangka pendek). Pos persediaan pada neraca pemerintah daerah umumnya bukan persediaan barang dagang yang ditujukan untuk dijual tetapi untuk digunakan dalam operasi kegiatan pemerintahan atau diserahkan kepada masyarakat. Oleh sebab itu, dalam perhitungan rasio lancar pos persediaan ditidak diperhitungkan.

Seperti terlihat pada tabel 4, pada tahu 2006 terlihat besarnya rasio lancar adalah 2.257,75, hal ini berarti bahwa untuk setiap Rp. 1 utang, Pemerintah Kabupaten aceh Utara mempunyai aktiva sebesar Rp. 2.257,75 aktiva yang sangat lancar. Kondisi ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara sangat likuid. Demikian juga untuk kondisi tahun anggaran 2007 dan 2008 dimana terlihat besarnya rasio lancar adalah 1.936,04 dan 1.114,29 yang berarti bahwa setiap Rp.1 utang pemerintah daerah mempunyai aktiva sebesar Rp. 1.936,04 dan Rp. 1.114,29. Walaupun terjadi penurunan aktiva namun hal ini masih menunjukkan bahwa kondisi keuangan pemerintah daerah masih sangat likuid.

Demikian pula dengan gambaran dari rasio Kas, pada tabel terlihat bahwa untuk tahun anggaran 2007 dan 2008 dimana perbandingan kas terhadap utang jangka pendek adalah sebesar 1.916,16 dan 1.111,63. Hal ini berarti bahwa pada tahun 2007 untuk setiap Rp.1 utang jangka pendek pemerintah daerah mempunyai kas sebesar Rp. 1.916,16 kondisi ini menunjukkan bahwa tanpa harus menunggu ditagihnya utang jangka pendeknya Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Utara mampu untuk melunasi utangnya saat ini.

37

Tabel. 4.4 Rasio Likuiditas Kabupaten Aceh Utara

No. Keterangan Tahun Anggaran

2006 2007 2008

1. Rasio Lancar 2.257,76 1.936,04 1.114,29

2. Rasio Kas 2.257,46 1.916,16 1.111,63

Rata-rata 1 1.769,36

Rata-rata 2 1.761,75

6. Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitias digunakan untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar semua utangnya yang akan jatuh tempo. Rasio ini dapat diukur dengan rasio aktiva terhadap utang. Untuk tahun anggaran 2007 dan 2008, terlihat dalam tabel 7 bahwa rasio solvabilitas sebesar 4.548,37 dan 3.931,09 menunjukkan bahwa untuk Rp.1 rupiah utang pemerintah Kabupaten Aceh Utara memilki asset sebesar Rp. 4.548,37 dan Rp. 3.931,09. Kondisi ini menunjukkan kondisi keuangan pemerintah daerah sangat solvable terhadap utang-utangnya.

Tabel. 4.5 Rasio Solvabilitas Kabupaten Aceh Utara

No. Keterangan Tahun Anggaran

2006 2007 2008 1. Total Aktiva / Total Utang 4.874,19 4.548,37 3.931,09

Rata-rata 1 4.451,22

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait