BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Analisis dan Interpretasi (Pembahasan)
57
“Alhamdulillah kalau selama saya menjabat belum pernah terjadi praktik fraud di kantor desa Je'netallasa. Kita mencoba untuk terus memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat dan pengelolaan keuangan yang berkualitas dan terpercaya.
Transparansi kita masih junjung tinggi. Setiap tahunnya kita ada namanya spanduk pemberitahuan terkait dengan anggaran yang digunakan desa di tahun itu. Jadi disana sudah disampaikan transparansinya mulai dari program desa sampai dengan pembiayaan apapun itu yang ada di kantor desa Je'netallasa.
Apalagi di desa banyak yang mengawasi kami, ada LSM, aparat penegak hukum, kepolisian, kejaksaan, ada dari inspektorat, terus ada juga BPK, jadi kalau ada yang coba-coba melakukan tindakan fraud (kecurangan) itu dengan sebenarnya sudah ada informasi keterbukaan itu sama saja mencari bunuh diri teman-teman kepada desa sebenarnya kalau seperti itu. Apa lagi selama saya menjabat dari 2017 sampai sekarang ada namanya aplikasi siskeudes yang dimana sistem aplikasi ini sangat membantu dalam sistem keuangan desa untuk meminimalisir terjadinya kesalahan pencatatan keuangan. Berikutnya juga setiap pekerjaan misalnya pemberdayaan atau pelatihan-pelatihan itu kita bentuk yang namanya panitia atau pengawasannya juga dari BPD (Badan Permusyawaratan Desa) itu juga selalu mengawasi kami, sehingga ruang-ruang untuk melakukan tindakan kecurangan terkait dana dapat diminimalisir.” (Hasil wawancara pada tanggal 6 April 2022).
Penjelasan narasumber di atas menunjukkan bahwa Kantor Desa Je’netallasa adalah salah satu sektor publik yang mengelola keuangan desa sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan baik aturan dari pemerintah, dan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Dan juga yang tidak kalah penting, dalam melakukan segala aktivitas terutama dalam pengelolaan dana desa perlu menerapkan Falsafah Siri’ Na Pacce untuk mengendalikan perilaku sehingga dapat meminimalisir praktik fraud yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh para aparatur desa Je’netallasa telah sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2018 yaitu sesuai dengan asas pengelolaan keuangan yang bersifat transparan, akuntabel, partisipatif, serta dilakukan sesuai tata tertib dan disiplin anggaran. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa pengelolaan keuangan yang sesuai dengan aturan pemerintah belum mampu menjamin bersihnya tindakan para aparat dalam mengelola keuangan dan mencatat hasil pelaporan keuangan. Maka dari itu, untuk terciptanya tindakan yang dilakukan agar sesuai dengan aturan atau apa yang diperintahkan baik pemerintah dan agama, maka aparat perlu mengaplikasikan sebuah nilai- nilai budaya.
Pengaplikasian nilai budaya yang sangat sesuai dengan pengelolaan keuangan untuk meminimalisir praktik fraud yang kerap terjadi. Dengan menanamkan falsafah Siri’ Na Pacce dalam diri seseorang maka akan terhindar dari tindakan yang tercela karena dengan ditanamkannya sifat Siri’ dalam kehidupan kita maka sudah tertanam harga diri untuk tidak melakukan suatu perilaku yang menjatuhkan kehormatan diri beserta keluarga, dan Pacce adalah bentuk atau sifat kepedulian yang harus ditanamkan di diri kita terkhusus sebagai pemimpin harus memiliki sifat Pacce. Maka nilai-nilai falsafah Siri’ Na Pacce memberikan hasil pengelolaan alokasi dana desa yang lebih baik. Hal tersebut dapat diperoleh dalam nilai kearifan yang terkandung dalam unsur-unsur falsafah
“Siri’ Na Pacce”, yaitu rasa malu dan kepedulian.
Dari hasil penelitian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa aparatur Desa Je’netallasa telah menanamkan nilai budaya “Siri’ Na
59
Pacce” dalam diri mereka masing-masing sehingga dapat mengendalikan setiap tindakan yang dilakukan dalam bekerja atau beraktivitas, terutama dalam melakukan pengelolaan dana desa. Dengan demikian para apatur desa melakukan pengelolaan dana desa dengan jujur dan bertanggung jawab karena telah menerapkan nilai budaya “Siri’ Na Pacce” dalam diri mereka.
Hasil penelitian ini memperkuat penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Asbi Amin (2019) yang menyatakan bahwa makna yang terkait dengan etika siri’ na pacce dalam praktik akuntansi yaitu rasa malu, harga diri, kejujuran dalam bertingkah laku dan norma yang berlaku. Jika seorang akuntan menerapkan etika siri’ na pacce dalam menyelesaikan pekerjaanya maka praktik-praktik kecurangan dalam akuntansi dan penyimpangan dalam penyusunan laporan keuangan diharapkan tidak akan terjadi lagi. Hasil penelitian ini juga memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Muh. Nur Sucipto Rahman dkk (2021) yang menyatakan bahwa pertanggungjawaban dan pelaporan dalam pengelolaan alokasi dana desa (ADD) langsung berkaitan kepada pihak- pihak yang berkepentingan dengan berlandaskan pada nilai budaya siri’ na pacce yang dapat meningkatkan pengawasan pengelolaan ADD karena sebagaimana diketahui bahwa yang dapat ikut dalam melakukan pengawasan selain masyarakat, pemerintah pusat, adalah diri kita sendiri.
60 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian sebagaimana telah dipaparkan pada Bab 4 diatas, maka pada bagian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Aparatur Desa Je’netallasa menilai bahwa Falsafah Budaya “Siri’ Na Pacce” adalah suatu nilai budaya yang sangat cocok untuk diterapkan dalam setiap instansi terkhusus instansi pemerintahan. Para aparatur desa telah menanamkan nilai budaya “Siri’ Na Pacce” dalam diri mereka masing-masing sehingga dapat mengendalikan setiap tindakan yang dilakukan dalam bekerja atau beraktivitas, terutama dalam melakukan pengelolaan dana desa. Dengan demikian para aparatur desa melakukan pengelolaan dana desa dengan jujur dan bertanggung jawab karena telah menerapkan nilai budaya “Siri’ Na Pacce” dalam diri mereka.
2. Siri’ Na Pacce memiliki arti malu dan rasa kepedulian. Siri’ Na Pacce dapat mengendalikan diri dalam melakukan pengelolaan dana desa, karena seseorang akan memiliki rasa malu apabila melakukan perbuatan yang tidak pantas untuk dilakukan dan akan memiliki rasa tanggung jawab yang besar dalam melakukan pengelolaan dana desa dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian falsafah Siri’ Na Pacce berperan dalam pengelolaan dana desa untuk menekan praktik fraud.
61
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka terdapat beberapa saran yang direkomendasikan untuk meningkatkan kinerja Kantor Desa Je’netallasa dan sebagai perbaikan di masa mendatang, antara lain sebagai berikut:
1. Diharapkan dari tahun ke tahun Kantor Desa Je’netallasa dapat mengembangkan tata cara terkait pengelolaan dana desanya sehingga Desa Je’netallasa bisa menjadi salah satu desa dengan sistem pengelolaan keuangan yang baik dan diakui oleh masyarakat dan negara.
2. Penelitian ini dilakukan dalam menganalisis terkait bagaimana penerapan Falsafah Budaya dalam pengelolaan keuangan, dengan demikian peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengkaji lebih luas lagi terkait hal-hal yang berkaitan dengan penyusunan, pengelolaan, dan pengalokasian dana desa untuk memberikan penjelasan atas hal-hal yang belum dipahami.
62
DAFTAR PUSTAKA
Amin, A. (2019). Praktek Akuntansi Dalam Bingkai Etika Siri’na Pacce: Persepsi Mahasiswa Akuntansi. ATESTASI: Jurnal Ilmiah Akuntansi, 2(1), 51–57.
Amiruddin, M.M., Haq, I., Hasanuddin, H., Ilham, M., Syatar, A., & Arief, M.
(2019). Mitigating Fraud In E-Commerce By Adapting The Concept Of Siri’
Na Pacce. KURIOSITAS: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan, 12(1), 76-93.
Anggito, A., & Setiawan, J. (2018). Metodologi penelitian kualitatif. CV Jejak (Jejak Publisher).
Anton, K. A. A. S., Nurwanah, A., Tjan, J. S., & Sanuddin, S. (2021). Akuntabilitas Auditor Guna Mencegah Fraud Dalam Perspektif Siri’Na Pacce pada Kantor BPK Perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan. PARADOKS: Jurnal Ilmu Ekonomi, 4(3), 730–739.
Aqsa, M. (2020). Implementasi nilai-nilai pendidikan moral dalam budaya siri’masyarakat Bugis dan relevansinya dengan pendidikan agama Islam:
studi di SD Negeri 66 Gantarang dan SD Negeri 65 Kompang kabupaten Sinjai (Doctoral dissertation, UIN Sunan Ampel Surabaya).
Armaini, R. (2017). Asas-asas Pengelolaan Keuangan Desa dalam Pencapaian Akuntabilitas Penggunaan Dana Desa di desa Karang Agung Kabupaten Pali. Jurnal ACSY: Jurnal Accounting Politeknik Sekayu, 6(1), 57-67.
Aurora, K. O. K. A., Wirazulfikar, M. U. H. R., & Indonesia, P. P. B. D. A. N. S.
(n.d.). Analisis Nilai Budaya Siri’na Pacce Pada Novel Silariang.
Azhari, R. S., & Handayani, N. (2020). Analisis Alokasian dan Pengelolaan Dana di Desa Petiken Kecamatan Driyorejo Kabupaten Gresik. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi (JIRA), 9(9).
Darmawan, A. 2020. Mazhab toilet. Jariah Publishing Intermedia: Gowa.
Dewi, N., & Rasmini, N. K. (2019). Pengaruh Kompetensi SDM dan Locus Of Control Pada Pencegahan Fraud dalam Pengelolaan Dana Desa. E-Jurnal Akuntansi, 29(3), 1071.
Halim, I. (2021). Analisis laporan keuangan.
Haris, A., & Amalia, A. (2018). Makna dan Simbol Dalam Proses Interaksi Sosial (Sebuah Tinjauan Komunikasi). 29(1), 16–19.
Jamil, J. (2021). Pergeseran Nilai Falsafah Siri’na Pacce’ dalam Kehidupan Masyarakat di Desa Julukanaya Kec. Biringbulu, Kab. Gowa (Tinjauan Etika). Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
63
Jane, B. S., Ngandoh, M. C. P., Hidayat, D. N. S., Rahman, F., & Puspitha, A.
(2021). Budaya Siri’na Pacce terhadap Self Esteem Perempuan dengan HIV/AIDS di Kota Makassar Melalui Pendekatan Transcultural Nursing.
Jurnal Keperawatan Silampari, 5(1), 591–600.
Kabupaten Ponorogo. Peraturan Bupati Ponorogo Nomor 17 Tahun 2015 tentang Alokasi Dana Desa.
Kennedy, P. S. J., & Siregar, S. L. (2017). Para Pelaku Fraud di Indonesia Menurut Survei Fraud Indonesia. Buletin Ekonomi FEUKI ISSN-14103842 Vol, 21, 50–58.
Khomaeny, E. F. F., Latief, F., & Aryani, N. 2020. Indonesian Parenting.
Kismawadi, E. R. 2021. Fraud Pada Lembaga Keuangan dan Non Keuangan.
Rajawali Pers. PT. RajaGrafindo Persada: Depok.
Kristanto, S. B. (2020). Asistensi Akuntansi Keuangan Desa Marga Mulya. SULUH: Jurnal Abdimas, 2(1), 21-32.
Kuntadi, C. 2015. SIKENCUR (Sistem Kendali Kecurangan) Menata Birokrasi Bebas Korupsi. PT Elex Media Komputindo: Jakarta.
Misbahruddin, A. (2017). Kapasitas Aparatur Desa di Kalimantan Selatn dalam Menjalankan Tata Kelola Keuangan Desa Berdasarkan UU No. 6/2014 Tentang Desa. Jurnal Penelitian Pers dan Komunikasi Pembangunan, 21(2), 127-135.
Nurwanah, A., & Hanafie, H. (2018). Memaknai Creative Accounting Dengan Keindahan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Siri’ Na Pacce. Assets: Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi, 8(1), 1-13.
Panggabean, F. Y. (2019). Kinerja Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Dan Kota Di Sumatera Utara Berdasarkan Opini Audit. Jurnal Akuntansi Dan Bisnis: Jurnal Program Studi Akuntansi, 5(2), 151–159.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa. 11 April 2018. Jakarta.
Putri, N. W. (2018). Implementasi Penerapan Islamic Corporate Social Responsibility Pada Spiritual Company Waroeng Group Perspektif Maqasid Al-Syariah (Master's thesis, UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA).
Rahman, M. N. S., Nassaruddin, F., & Lannai, D. (2021). Pengawasan Anggaran Ditinjau Dari Budaya Lokal Makassar Dalam Konsep Good Governance.
Invoice: Jurnal Ilmu Akuntansi, 3(1), 68–91.
Rahmawaty, R. (2017). Pengaruh Tingkat Pendidikan, Kualitas Pelatihan, dan Pengalaman Kerja Aparatur Desa terhadap Pemahaman Laporan
Keuangan Desa (Studi pada Kecamatan Banda Raya Kota Banda Aceh) (Doctoral dissertation, Syiah Kuala University).
Ratih, A. E. (2018). Pengaruh Kompetensi Aparatur Desa dan Peran Serta BPD Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Desa di Teluk Sebong dan Teluk Bintan. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Finansial Indonesia, 2(1), 65-78.
Ratnawati & Falarima, D. P. 2021. Demokrasi dan Otonomi Daerah Dinasti Politik dan Demokrasi Lokal. Syiah Kuala University Press: Aceh.
Rusdi, M. I. W. & Susanti, P. (2016). Nilai Budaya Siri’na Pacce dan Perilaku Korupsi. University of Muhammadiyah Malang.
Rustam, R. (2021). Konsep Amanah; Pengelolaan Dana Desa Menuju Good Village Governance (Studi pada Pemerintah Desa Wonorejo Timur, Kecamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur) (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar).
Septriani, Y. (2018). Mendeteksi Kecurangan Laporan Keuangan dengan Analisis Fraud Pentagon. Jurnal Akuntansi Keuangan Dan Bisnis 11(1), 11–23.
Setiawan, A., Haboddin, M., & Wilujeng, N. F. (2017). Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa di Desa Budugsidorejo Kabupaten Jombang Tahun 2015. Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review, 2(1), 1–16.
Sidik, M. (2002). Optimalisasi pajak daerah dan restribusi daerah dalam rangka meningkatkan kemampuan keuangan daerah. Makalah disampaikan Acara Orasi Ilmiah. Bandung, 10.
Sodikin, O., Hendriady, D., Sauri, S., & Fathullah, F. K. (2021). Komunikasi Dan Human Relation Pemimpin Pendidikan Berbasis Agama, Filsafat, Psikologi, Dan Sosiologi. As-Salam: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman, 5(1), 14–31.
Sululing, S., Ode, H., & Sono, M. G. (2019). Model Pengelolaan Keuangan Desa.
Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 2(1), 27–48.
Tamba, R. (2019). Analisis Laporan Keuangan Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah Kabupaten Labuhan Batu.
Triani, N. N. A., & Handayani, S. (2018). Praktik pengelolaan keuangan dana desa. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 9(1), 136–155.
Ultsani, F. G., Prastika, R. A., & Herlin, H. (2019). Menggali Nilai Siri ’ Na Pacce Sebagai Tinjauan Sosiologis Pembentukan Perda Anti Korupsi. Pleno Jure, 8(2), 37–46.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. 15 Januari 2014. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7.
Jakarta.
65
Yanti, R. P., & Purnamawati, G. A. (2020). Analisis Pengendalian Internal Dan Upaya Pencegahan Kecurangan Akuntansi Di Sektor Perhotelan. JIMAT (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi) Undiksha, 11(1), 192-204.
Yunus, S. P. I., & Fadli, H. S. 2020. Pluralisme dalam Bingkai Budaya. Bintang Pustaka Madani: Yogyakarta.
Zanki, H. A. (2020). Teori Psikologi dan Sosial Pendidikan (Teori Interaksi Simbolik). Scolae: Journal of Pedagogy, 3(2).
66
L A M P
I
R
A
N
67
Tabel 1
PEDOMAN WAWANCARA
No. Pertanyaan Coding
1. Bagaimana bapak memaknai profesi bapak? S, RPP 2. Adakah kesulitan-kesulitan yang bapak alami semenjak
menjabat sebagai kepala Desa? S
3.
Bagaimana cara bapak mengalokasikan dana yang telah diterima oleh pemerintah agar sesuai dengan apa yang telah diharapkan oleh pemerintah?
S, MH
4.
Apakah kantor ini menjunjung tinggi integritas, nilai etika dan budaya terdahulu dalam menyajikan suatu informasi terkait pengelolaan keuangan desa?
S 5. Apakah pernah ada praktik fraud yang terjadi di kantor
desa Je'netallasa? S
6.
Bagaimana cara bapak meminimalisir kesalahan hitung terhadap pencatatan dan pengelolaan data yang dilakukan oleh para pegawai?
S 7. Apa yang bapak ketahui tentang pepatah siri’ na pacce? S, MH 8.
Bagaimana cara bapak mewujudkan nilai “siri’ na pacce”
dalam kehidupan sehari-hari terlebih dalam melakukan pengelolaan keuangan?
S
9.
Menurut bapak/ibu, apakah konsep siri’ na pacce sebagai salah satu konsep Bugis-Makassar dapat diinternalisasi dalam pengelolaan keuangan saat ini?
S, MH, RPP
10. Bagaimanakah alur pengelolaan keuangan yang
dilakukan oleh para aparat Desa Je’netallasa? MH
Tabel 2
TRANSKIP WAWANCARA
No. Coding Transkip
1.
S
Tentunya sebagai kepala desa, saya terpilih di tahun 2017 sampai saat ini menjabat, saya selalu memaknainya dengan melayani masyarakat.
Melayani masyarakat sepenuh hati dan saya menganggap saya ini adalah pelayan bagi masyarakat, memberikan sesuatu yang terbaik buat masyarakat saya, sehingga apa yang saya cita-citakan dengan program- program kerja yang kami jalankan di desa itu bisa terlaksana dengan baik karena didasari oleh keinginan untuk melayani masyarakat sebaik mungkin, kira-kira seperti itu.
RPP
Kalau saya disini memaknai pekerjaan saya selaku aparat pemerintahan desa, di desa itu kami lebih ke pekerjaan sosial artinya banyak memang pelayanan sosial ke masyarakat atau pelayanan umum. Jadinya, pekerja- pekerja sosial, bukan pekerja-pekerja pendapatan.
2. S
Ya, tentunya pasti ada. Kesulitan-kesulitan itu yang kami hadapi barangkali mungkin informasi-informasi yang harus disampaikan secara detail, secara teliti tentang kebijakan-kebijakan yang diambil oleh baik pemerintah desa, pemerintah kabupaten maupun pemerintah pusat yang harus dilaksanakan di desa tentunya harus disampaikan secara jelas sehingga masyarakat betul-betul paham mengenai kebijakan-kebijakan yang diambil atau dilaksanakan di desa. Apalagi di 2019 sampai 2022 ini kita ada namanya pandemi covid-19, tentunya banyak pro dan kontra mengenai kebijakan- kebijakan yang diambil di desa. Tentunya semua peran penting baik dari pemerintah desa itu sendiri maupun dari masyarakat, pemuda itu bisa berkolaborasi untuk menyampaikan informasi-informasi hal-hal yang terkait program-program kerja pemerintah, khususnya di penanganan covid. Kita ketahui banyak informasi yang hoax, banyak informasi yang tidak benar sehingga masyarakat kita kadang-kadang terbawa atau termakan isu-isu hoax tersebut sehingga kadang-kadang pemerintah disalahkan, inilah tugasnya pemerintah dan seluruh stakeholder yang ada baik dari pemuda, karang taruna, maupun organisasi-organisasi yang ada di desa dan kader- kader yang ada di desa itu bisa menyampaikan informasi-informasi sebaik mungkin, sedetail mungkin, dan memberikan pemahaman. Ketika itu dijalankan, kita juga tidak boleh memaksakan informasi itu harus langsung diterima, tapi disampaikan terus-menerus sehingga masyarakat paham bahwasanya apa yang dilakukan pemerintah itu betul-betul sebenarnya untuk masyarakat itu sendiri, kira-kira seperti itu.
3. S
Untuk alokasi dana, pemerintah desa tidak serta-merta mengalokasikan dana langsung seperti itu, tapi ada proses-proses yang dilewati, mulai dari musyawarah desa, dari tingkat dusun ke tingkat desa, itu dibicarakan melalui BPD, tokoh masyarakat, dan seluruh pemuda dan stakeholder yang terlibat di dalam desa itu sendiri. Jadi, program-program kerja itu memang berdasarkan hal-hal yang dibutuhkan oleh masyarakat sehingga alokasi dana itu betul-betul sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat. Pemerintah desa juga tidak ingin membuat program yang tidak dibutuhkan oleh masyarakat. Jadi, mengalokasikan dana itu memang sudah dibicarakan dari bawah oleh seluruh perangkat, baik dari dusun, RT,
69
RW, tokoh-tokoh masyarakat, pemuda, tentang apa yang harus dilaksanakan di desa, sehingga dalam mengealokasikan dana nanti itu sudah sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat. Contoh, misalnya kita membutuhkan sebuah pelatihan, pelatihan yang dibutuhkan oleh masyarakat, apakah akan bermanfaat bagi masyarakat, itu yang biasanya dibicarakan di musyawarah desa. Sehingga hal-hal mengenai program itu tidak karena keinginan kepala desa saja, tapi memang keinginan masyarakat sehingga alokasi dana itu betul-betul tepat guna dan memang bisa bermanfaat bagi masyarakat desa itu sendiri, khususnya di Desa Je’netallasa.
MH
Untuk aturan-aturan yang dipakai dalam pengelolaan keuangan desa ini yang harus dicermati di desa bahwa di desa itu kalau di sekretaris desa kan kepala keuangan sebenarnya, karna di dalam struktur itu kaur keuangan ada di bawahnya sekretaris desa berarti dia harus melapor dulu kepada sekretaris desa itu. Tetapi untuk pelaporannya, kaur keuangan langsung melapor kepada kepala desa. Dan sekarang itu bendahara dalam melapor keuangan kepada pusat itu secara online, jadi saya tidak tahu berapa yang keluar dan masuk. Dan untuk alokasi dananya, kan itu pemerintah desa tidak semerta-merta mengalokasikan dana. Ada proses dilewati, ada yang namanya musyawarah desa baik itu tingkat dusun maupun tingkat desa itu, dibicarakan melalui BPD, tokoh masyarakat, pemuda-pemuda, RT, RW, artinya dari masyarakat ataupun stakeholder yang terlibat dalam desa. Jadi disana kita musyawarahkan tentang apa yang harus dilaksanakan desa kemudian apa yang dibutuhkan oleh masyarakat sehingga dalam mengalokasikan dana nanti itu sudah sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat.
4. S
Untuk ini, sekarang kan jamannya era keterbukaan. Kalau budaya terdahulu kan memang sudah kita diharapkan untuk selalu menjadi orang yang jujur, dan bisa menjadi contoh bagi masyarakat. Malu kalau misalnya pejabat melakukan hal-hal di luar yang biasanya, mungkin melakukan pungutan atau pungli atau apapun itu yang tidak ada dalam aturan. Di jaman sekarang ini, keterbukaan itu sudah sangat luar biasa, kami setiap tahun ada namanya spanduk yang kami tempel di halaman kantor desa terkait seluruh anggaran yang digunakan di desa di tahun itu, misalnya di tahun 2022, itu sudah ada semua spanduk transparansinya, mulai dari program-program sampai dengan pembiayaan apapun itu yang ada di kantor desa dengan program pemberdayaan di masyarakat itu sudah tercantum disitu. Selain itu, di website juga bisa dilihat di Kemendes tentang pendanaan-pendanaan yang digunakan oleh desa, misalnya di desa Je’netalllasa ini dananya yang dikekola misalnya 2 milyar lebih, itu akan tercantum seluruh rilisnya terkait yang dipakai. Di era sekarang ini memang untuk keterbukaan sangat terbuka, tinggal kepala desa dan aparatnya menjaga itu, walaupun informasi itu terbuka dan transparan tapi kalau pelaksanaannya ada sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan pasti akan mendapat masalah-masalah hukum di saat pelaksanaan tersebut, bisa saja kami hanya karena salah administrasi, bisa saja itu terlibat atau bisa ada upaya-upaya misalnya alokasi dananya disiapkan seperti ini tapi tidak dijalankan seperti itu, itu bisa menjadi pelanggaran-pelanggaran hukum yang bisa sangat berat bagi kepala desa maupun pemerintah desa.
Ya, saya kira masyarakat bisa mengawasi itu, masyarakat bisa melihat itu, banyak yang mengawasi kami, ada LSM, aparat penegak hukum baik dari kepolisian, kejaksaan, ada dari internal yaitu inspektorat, terus ada BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), jadi kalau ada yang coba-coba menyelewengkan dana itu dengan sebenarnya sudah ada informasi keterbukaan itu sama saja mencari bunuh diri teman-teman kepala desa sebenarnya kalau seperti itu. Dan kami berharap di Desa Je’netallasa itu, saran dan kritikan itu tetap harus ada dari masyarakat maupun tokoh-tokoh pemuda yang ada di desa, sehingga kami melaksanakan pemerintahan ini betul-betul terbuka dan transparan soal pengelolaan dana.
5. S
Alhamdulillah kalau selama saya menjabat belum pernah terjadi praktik fraud di kantor desa Je'netallasa. Kita mencoba untuk terus memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat dan pengelolaan keuangan yang berkualitas dan terpercaya. Transparansi kita masih junjung tinggi. Setiap tahunnya kita ada namanya spanduk pemberitahuan terkait dengan anggaran yang digunakan desa di tahun itu. Jadi disana sudah disampaikan transparansinya mulai dari program desa sampai dengan pembiayaan apapun itu yang ada di kantor desa Je'netallasa. Apalagi di desa banyak yang mengawasi kami, ada LSM, aparat penegak hukum, kepolisian, kejaksaan, ada dari inspektorat, terus ada juga BPK, jadi kalau ada yang coba-coba melakukan tindakan fraud (kecurangan) itu dengan sebenarnya sudah ada informasi keterbukaan itu sama saja mencari bunuh diri teman-teman kepada desa sebenarnya kalau seperti itu. Apa lagi selama saya menjabat dari 2017 sampai sekarang ada namanya aplikasi siskeudes yang dimana sistem aplikasi ini sangat membantu dalam sistem keuangan desa untuk meminimalisir terjadinya kesalahan pencatatan keuangan. Berikutnya juga setiap pekerjaan misalnya pemberdayaan atau pelatihan-pelatihan itu kita bentuk yang namanya panitia atau pengawasannya juga dari BPD (Badan Permusyawaratan Desa) itu juga selalu mengawasi kami, sehingga ruang-ruang untuk melakukan tindakan kecurangan terkait dana dapat diminimalisir.
6. S
Kalau di desa sekarang kan sudah memakai sistem aplikasi dan memang itu sudah kita minimalisir karena sudah sistem aplikasi, dari program itu sudah jelas disitu berapa yang dipakai untuk misalnya operasional kantor, pekerjaan infrastruktur, itu sudah kita minimalisir sebaik mungkin dengan adanya aplikasi yang ada di desa, namanya SISKEUDES. Berikutnya, tentunya setiap pekerjaan itu, misalnya mengenai pekerjaan-pekerjaan pemberdayaan atau pelatihan-pelatihan itu kita selalu bentuk panitia atau pengawasannya juga dari BPD (Badan Permusyawaratan Desa) itu juga selalu mengawasi kami, sehingga ruang-ruang untuk tidak dilakukan minismalisir dana itu bisa dikurangi. Jadi pengawasan melekat bagi desa itu sangat luar biasa, kami diawasi oleh BPD, LSM, inspektorat, BPK, para penegak hukum, jadi pastinya kepala desa maupun aparatnya itu pasti betul-betul melakukan pencatatan dengan baik dan kami terbantu dengan adanya SISKEUDES (Sistem Keuangan Desa), aplikasi tersebut sudah dari awal saya menjabat dari 2017 sampai sekarang juga sudah dipakai, dan terus dikembangkan diperbaharui oleh Kementerian Desa. Jadi untuk minimalisirnya sudah sangat baik, namun memang yang namanya teknologi yang menggunakan itu kan manusia, tentunya tergantung dari SDM nya dalam menggunakan aplikasi tersebut.
7. S
Kalau bagi saya, siri’ na pacce itu budaya malu, malu melakukan hal-hal yang diluar dari kontrol kita. Jadi sebagai pejabat, kita harus memberikan contoh yang baik buat masyarakat. Tidak hanya sebagai seorang pejabat, tapi sstelah itu kita harus selalu menjunjung tinggi nilai-nilai etika, artinya harus selalu memberikan hal-hal atau contoh yang baik buat diri kita sendiri maupun masyarakat khususnya masyarakat yang ada di Desa Je’netallasa. Saya berharap selama periode saya ini, saya menjaga budaya siri’ na pacce dengan selalu menjaga sikap, selalu berusaha melayani masyarakat dengan baik, tentunya pasti ada kekurangan- kekurangan tetapi namamnya manusia itu selalu mau mengintropeksi diri, apa yang kurang, apa yang perlu dibenahi, itulah yang saya lakukan selama menjadi kepala desa. Jadi, budaya siri’ na pacce itu budaya malu, jangan melakukan hal-hal yang di luar dari kontrol kita, bagi saya seperti itu memberikan contoh yang baik untuk orang-orang yang ada di sekitar kita.