• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Makna Syahida dalam Rukyatul Hilal

BAB III ANALISIS MAKNA SYAHIDA QS. AL-BAQARAH: 185

A. Analisis Makna Syahida dalam Rukyatul Hilal

28

29

melihat hilal. Maka, jika tertutup oleh awan atas kalian, sempurnakanlah bilangan Sya’ban 30 hari.’”47

Dalam riwayat al-Bukhari yang lain, juga disebutkan:

Abdullah ibn Maslamah telah bercerita kepada kami dari Malik dari Nafi’

dari Abdullah Ibnu Umar ra. bahwasanya Rasulullah saw menjelaskan tentang puasa Ramadan kemudian beliau bersabda “Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal dan janganlah kalian berbuka sebelum kalian melihatnya lagi. Bila hilal itu tertutup awan maka kadarkanlah.”48

Hadits-hadits di atas menunjukkan kewajiban berpuasa dengan masuknya awal bulan qamariyah. Lalu tanda-tanda permulaan awal bulan qamariyah pada setiap bulan adalah dengan terlihatnya bulan sabit (hilal). Secara tekstual, hadits- hadits tersebut menyebut terlihatnya hilal dengan panca indra manusia. Karena memang saat itu peradabannya belum secanggih sekarang.

Setelah ilmu pengetahuan mengalami kemajuan, pengertian tentang rukyatul hilal mengalami pergeseran. Ada yang memaknainya tetap seperti semula, yaitu rukyah bil fi’li dan ada yang memaknainya dengan rukyah bil

‘ilmi, yakni melihat hilal dengan ilmu pengetahuan atau hisab. Hal ini merupakan buntut dari kalimat “faqdurulahu” yang mengalami polarisasi penafsiran. Oleh kalangan penganut hisab atau golongan ahli hisab ditafsirkan:

47 Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Ṣahih Bukhari..., hlm. 588.

48 Ibid.

30

“kira-kirakanlah”, yakni dengan jalan hisab. Sementara bagi kalangan penganut rukyat atau golongan ahli rukyat, kalimat tersebut masih bersifat mujmal.

Menurut mereka, hadits dengan redaksi: “fakmiluu ‘iddata sya’baana tsalaatsiina” adalah mufashshar. Sehingga, kalimat yang mujmal harus dibawa ke yang mufashshar. Oleh karena itu, mereka berkesimpulan: makna faqdurulahu dalam hadits tersebut adalah istikmal. Artinya, bila rukyat tidak berhasil, maka bilangan bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari.49

Paradigma berpikir yang berbeda di kalangan golongan ahli rukyat dan golongan ahli hisab mengakibatkan penafsiran tentang hadits-hadits dia tas juga berbeda. Bagi kalangan ahli rukyat, term rukyah dalam hadits-hadits hisab rukyat adalah bersifat ta’abbudi−ghair ma’qul al-ma’na. Artinya: tidak dapat dirasionalkan pengertiannya. Sehingga, tidak dapat diperluas dan tidak dapat dikembangkan. Dengan demikian, rukyat hanya diartikan sebatas melihat dengan mata kepala (mata telanjang−tanpa alat).50

Sementara, bagi kalangan ahli hisab, term rukyat yang ada dalam hadits- hadits hisab rukyat dinilai bersifat ta’aqquli−ma’qul al-ma’na. Dapat dirasionalkan, diperluas, dan dikembangkan. Sehingga, ia dapat diartikan (antara lain) mengetahui sekalipun bersifat zhanni−dugaan kuat―tentang adanya hilal.

Kendati pun hilal berdasarkan hisab falaki tidak mungkin dapat dilihat.51

Kata rukyah (ةيؤر) sebenarnya berasal dari kata ra’a (ىأر) yang memiliki

49 Maskufa, Ilmu Falak..., hlm. 152.

50Ahmad Izzuddin, Fiqih Hisab Rukyah: Menyatukan..., hlm. 4.

51 Ibid.

31

dua makna. Pertama, melihat dengan mata. Kedua, melihat dengan ilmu pengetahuan. Kata rukyah bermakna penglihatan jika dalam kalimatnya terdiri dari satu maf’ul. Sedangkan bermakna pengetahuan jika dalam kalimatnya terdiri dari dua maf’ul.52

Selanjutnya, ra’a (ىأر) dalam ilmu balaghah dapat bermakna haqiqah dan majaz. Haqiqah adalah penggunaan kata sesuai dengan makna aslinya, seperti contoh: “saya melihat bulan dari kamar”, sehingga dalam hal ini, penglihatan yang dimaksud adalah penglihatan yang sesuai dengan makna aslinya.

Sedangkan majaz adalah penggunaan kata yang tidak menunjukkan kepada arti yang sebenarnya sebagaimana yang dikehendaki suatu bahasa, seperti contoh:

“saya melihat bulan duduk di kamar”, sehingga kata melihat disini tidak dapat diartikan sebagaimana makna aslinya, namun dialihkan kepada makna sesuatu yang menunjukkan keindahan seperti halnya keindahan bulan.53 Oleh karena itu, berdasarkan pada penjelasan tersebut, kata ةيؤر dalam hadis al-Bukhari di atas memiliki makna haqiqah yang sesuai dengan makna aslinya, yaitu melihat dengan mata kepala.

Akan tetapi, bagaimanapun juga, syahida dalam penggalan QS. al- Baqarah: 185 tersebut dihubungkan dengan kata “syahr”. Allah Swt.

menggunakan kata syahr untuk menunjuk bulan Ramadhan dan bulan-bulan lain guna menunjukkan waktu-waktu pelaksanaan ibadah bulanan dalam Islam. Hal itu mengandung implikasi bahwa untuk mengetahui atau memberi keterangan

52 Fuad Fansauri, “Studi Kritis tentang Hadits Rukyah dan Hisab”, Rausyan Fiqr, Vol. 13, No. 1, Juni 2017, hlm. 109.

53 Ibid.

32

yang sebenarnya tentang datangnya bulan-bulan ibadah ialah dengan menggunakan perhitungan. Sebab, kata syahr berarti bulan dalam arti bilangan, bukan bendanya. Jika yang dituju itu bulan dalam arti benda langit, maka lafaz yang digunakan adalah “qamar”.54 Itu artinya, pengetahuan tentang datangnya bulan-bulan ibadah, secara implisit Allah Swt. memerintahkan untuk melakukan perhitungan, bukan dengan melihat bulan.

Hal ini penting untuk diperhatikan, karena menurut Al-Qardhawi, puasa itu dilakukan setelah adanya kepastian masuknya bulan Ramadhan dengan cara yang memungkinkan dan dapat dilakukan oleh banyak orang, yang tidak membebani dan memberatkan mereka dalam agama.55 Kemudahan dalam menjalankan syariat adalah sesuai dengan maksud ayat tersebut dan menjadi fitrah agama Islam.

Betul memang, Nabi dan para sabahat beliau tidak melakukan perhitungan (hisab) untuk mengetahui atau meyakini datangnya “syahr” Ramadan itu. Beliau memerintahkan para sahabat untuk melakukan rukyat. Yang demikian itu karena adanya kelemahan atau kekurangan pada diri kaum muslimin saat itu yang belum mampu melakukan perhitungan kapan bulan Ramadhan tiba. Kelemahan atau kekurangan tersebut dinyatakan sendiri oleh Rasulullah dalam sabda beliau:

54 Budi Kisworo dan Hardivizon, “Telaah Leksikal..., hlm. 168.

55 Yusuf Qardhawi, Pengantar Studi Hadits (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2007), hlm. 227–

228.

33

Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tak bisa menulis dan melakukan perhitungan. Bulan itu adalah demikian-demikian. Kadang- kdang dua puluh sembilan hari, dan kadang-kadang tiga puluh hari.56 Persoalan yang muncul setelahnya adalah pengamalan dari kata syahida dalam QS. al-Baqarah: 185 tersebut, dikuatkan dengan hadits-hadits hisab rukyat sebagaimana yang disebutkan di atas, apakah metode rukyat melalui aktifitas melihat bulan secara mata kepala atau cukup dengan perhitungan sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu dapat dijadikan acuan untuk menentukan masuknya awal bulan qamariyah; mengingat perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat khususnya di bidang astronomi yang sudah dapat mendeteksi posisi bulan jauh- jauh hari sebelumnya.

Jumhur ulama empat mazhab memang menyatakan pengetahuan tentang tibanya bulan Ramadhan terwujud dengan melihat hilal, baik sendiri atau dengan mengetahui bahwa hilal telah terlihat (oleh orang lain). Sementara, ulama Syafi’iyah, berpendapat bahwa ketentuan ahli nujum dapat dijadikan dasar bagi dirinya sendiri dan orang yang mempercayainya. Sedang untuk orang-orang secara umum tidaklah diwajibkan puasa karena ketentuannya itu berdasarkan pendapat yang rajih (kuat).57

Dalam hal ini, penulis tidak menekankan metode mana yang lebih sah dan kredibel untuk digunakan. Akan tetapi, dalam penetapan awal dan akhir Ramadhan terdapat nilai jama’i (persatuan umat Islam) dalam pelaksanaan

56 Muhammad ibn Ismail al-Bukhari, Ṣahih Bukhari..., hlm. 590.

57Abdurrahman al-Jaziri, Fiqh Empat Mazhab 4, (Jakarta: Darul Ulum Press, 1994), terj.

Chatibul Umam dan Abu Hurairah, hlm. 22.

34

ibadah puasa dan lebaran yang patut jadi pertimbangan. Oleh karena itu, guna mewujudkan persatuan, penulis beranggapan perlunya penetapan hakim atau mufti, khususnya di Indonesia, yang memiliki kredibilitas dan ditopang dengan payung hukum yang kuat, juga memiliki independensi tanpa memihak kepada golongan tertentu.

Selama ini, perselisihan penetapan awal dan akhir bulan Ramadhan di Indonesia ditengarai terjadi karena Kementerian Agama sebagai penentu kebijakan hanya mewakili kepentingan golongan tertentu saja. Namun, apabila hal tersebut tidak dapat dilakukan, hendaknya masyarakat tetap menjaga pluralisme dalam persatuan. Karena masalah ini adalah masalah fiqih yang potensial menimbulkan perbedaan.

Dalam sebuah kaidah fikih disebutkan:

Keputusan pemerintah bersifat mengikat dan menghilangkan perbedaan.58

Perbedaan berpendapat dalam wacana fikih merupakan suatu hal yang lumrah. Tetapi, apabila perbedaan itu dapat menimbulkan perpecahan, maka menurut kaidah di atas, hakim (pemerintah) dapat melakukan intervensi (apabila diperlukan) untuk mengatasi dampak perbedaan tersebut.

Tegasnya, fikih menghendaki campur tangan pemerintah dalam hal-hal

58 Jaih Mubarok, Kaidah Fikih: Sejarah dan Kaidah Asasi, (Jakarta: Rajawali Press, 2002),

hlm. 90-91.

35

yang menyangkut persoalan kemasysrakatan dengan tujuan untuk penyeragaman dalam amaliah demi tercapainya kemaslahatan bersama sebagaimana dalam kaidah fikih yang lain:

Tindakan seorang pemimpin terhadap yang dipimpin (rakyat) harus berdasarkan kemaslahatan.”59

B. Analisis Makna Syahida Perspektif Golongan Rukyat dan Golongan Hisab dalam Rukyatul Hilal Awal Bulan Qamariyah

1. Rukyah bil Fi’li: Melihat Hilal Perspektif Golongan Rukyat

Menurut golongan rukyat, lafazh syahida dalam QS. al-Baqarah: 185 diartikan sebagai “menyaksikan”.60 Berdasarkan pemaknaan itu, pengetahuan tentang awal dan akhir bulan qamariyah bagi mereka ditempuh berdasarkan rukyat atau melihat bulan yang dilakukan pada hari ke-29. Apabila rukyat tidak berhasil, baik karena posisi hilal yang memang tidak dapat dilihat, maupun karena terjadi mendung, maka penetapan awal bulan harus berdasarkan istikmal (penyempurnaan bilangan bulan menjadi 30).

Menurut golongan ini, term rukyah dalam hadits-hadits hisab rukyat adalah bersifat ta’abbudi−ghair ma’qul al-ma’na. Artinya: tidak dapat dirasionalkan pengertiannya. Sehingga, tidak dapat diperluas dan tidak dapat

59 Imam Masbukin, Qawa’id al-Fiqhiyah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 124.

60 Arino Bemi Sado, “Dakwah Inside..., hlm. 85.

36

dikembangkan. Dengan demikian, rukyat hanya diartikan sebatas melihat dengan mata kepala (mata telanjang−tanpa alat).61

Dari pemaknaan di atas, term rukyat menurut golongan ahli rukyat, tidak bisa mengalami pergeseran makna lagi. Oleh karena itu, syahida dalam makna pengetahuan tentang awal dan akhir bulan qamariah; yang dikuatkan dengan hadits-hadits hisab rukyat hanya ditafsirkan dengan rukyah bil fi’li.

Rukyah bil fi’li sendiri adalah upaya melihat hilal dengan mata (tanpa menggunakan alat) yang dilakukan secara langsung atau dengan menggunakan alat pada saat akhir bulan qamariyah (tanggal 29) ketika matahari terbenam.62 Secara sederhana, rukyah bil fi’li adalah pengamalan penentuan awal bulan qamariyah dengan menyaksikan hilal secara langsung berdasarkan ketentuan yang dipraktikkan Nabi di zamannya.

Di Indonesia, rukyah bil fi’li selalu diidentikkan dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam Nahdlatul Ulama (NU). Sejak dulu, NU memang dikenal sebagai simbolitas golongan rukyat.

Dalam kaitannya dengan penentuan awal bulan qamariyah, khususnya bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, NU sebagai simbolitas golongan rukyat berpegang pada Putusan Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama tahun 1404 H/1983 M yang dikukuhkan dalam Muktamar NU ke-27 tahun 1405

61Ahmad Izzuddin, Fiqih Hisab Rukyah: Menyatukan..., hlm. 4.

62 Jaenal Arifin, “Fikih Hisab Rukyat..., hlm. 407.

37

H/1984 M di Situbondo yang menetapkan bahwa:63

Penetapan pemerintah tentang awal Ramadan dan awal Syawal dengan menggunakan dasar Hisab, tidak wajib diikuti. Sebab menurut jumhur salaf bahwa terbit awal Ramadan dan awal Syawal itu hanya bi al-rukyat au itmi al-‘adadi salasina yauman.

Kemudian keputusan tersebut diperkuat dengan putusan Munas Alim Ulama NU di Cilacap tahun 1409 H/1987 M dan rapat kerja Lajnah Falakiyah NU di Pelabuhan Ratu 1992:64

a. Bahwa dasar rukyat al-hilal atau istikmal dalam penetapan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha adalah dasar yang diamalkan oleh Rasul dan Khulafaur Rasyidin dan dipegangi oleh seluruh ulama mazahib al-arba’ah. Sedang dasar hisab falak untuk penetapan tiga hal ini ialah dasar yang tidak pernah diamalkan oleh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin serta diperselisihkan keabsahannya di kalangan para ulama;

b. Bahwa itsbat ‘am (penetapan secara umum) oleh Qadli atau penguasa mengenai awal Ramadan, idul fitri, dan idul adha atas dasar hisab tanpa dihasilkan rukyat al-hilal atau istikmal adalah tidak dibenarkan oleh mazhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali);

c. Bahwa Nahdlatul Ulama adalah jam’iyah yang berhaluan Aswaja (AD pasal 4), yaitu jam’iyah yang menjunjung tinggi dan mengikuti agama

63 Kumpulan Hasil Mutamar NU ke-27 1405 H/1984 M di Situbondo dengan Tema

“Nahdlatul Ulama Kembali ke Khittah Perjuangan 1926”, (Jakarta : PBNU, 1985), hlm. 25.

64 Ahmad Izzuddin, Fiqih Hisab Rukyah: Menyatukan…, hlm. 107-110.

38

Rasulullah dan tuntunan sahabat serta ijtihad para ulama mazhab empat;

d. Bahwa Munas Alim Ulama NU tanggal 13-16 Rabiul Awal 1404 H/18- 21 Desember 1983 di Situbondo telah mengambil keputusan mengenai penetapan awal Ramadan dan idul fitri yang intinya bahwa NU menggunakan dasar rukyat al-hilal atau istikmal. Keputusan ini telah dikukuhkan oleh Muktamar NU ke-27 th. 1405 H/1984 M;

e. Dan untuk keseragaman di kalangan warga NU dalam melaksanakan keputusan yang dimaksud dalam hal penetapan mengenai idul adha, maka Munas Alim Ulama yang berlangsung tanggal 23-24 Rabiul awal 1408 H/15-16 November 1987 di Pondok Pesantren Ihya Ulumuddin Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah, telah mengambil keputusan sebagai berikut:

1) Menegaskan bahwa penetapan awal Ramadan, idul fitri dan idul adha oleh Qadli atau penguasa yang diberlakukan kepada masyarakat setempat (itsbat al-‘am) dapat dibenarkan jika berdasarkan rukyat al- hilal atau istikmal;

2) NU telah lama mengikuti pendapat ulama yang tidak membedakan matla’ dalam penetapan awal Ramadan, idul fitri, dan idul adha, yakni rukyat al-hilal di salah satu tempat di Indonesia yang diterima oleh pemerintah sebagai dasar penetapan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha berlaku di seluruh wilayah Indonesia walaupun berbeda matla’nya;

39

3) Melakukan rukyat al-hilal untuk penetapan awal Ramadan, idul fitri, dan idul adha adalah fardu kifayah menurut mazahib al-arba’ah, kecuali mazhab Hambali yang berpendapat bahwa hukumnya sunnah. Pelaksanaan rukyat al-hilal yang diusahakan pemerintah/Depag adalah sudah cukup sebagai pelaksanaan fardlu kifayah tersebut bagi seluruh umat Islam Indonesia;

4) Lajnah Falakiyah PBNU perlu melakukan upaya bagi terlaksananya prinsip rukyat al-hilal atau istikmal antara lain dengan cara:

a) Membuat kepastian awal Sya’ban dengan rukyat al-hilal atau istikmal untuk keperluan awal Ramadan;

b) Melakukan rukyat al-hilal pada malam 30 Syawal dan 30 Dzulhijah selanjutnya menanyakan hasil rukyat al-hilal tanggal 1 Dzulhijah kepada pemerintah. Hal ini dilakukan sebab sering kali pemerintah tidak mengeluarkan pengumuman penetapan tanggal 1 Dzulhijah secara rinci, kemudian hasilnya diumumkan kepada wilayah dan cabang NU di seluruh Indonesia untuk keperluan idul adha segera.

c) Untuk keperluan memulai puasa Ramadan, melaksanakan idul fitri dan menyelenggarakan idul adha, maka kepada warga NU terutama anggota pimpinan dari tingkat pusat sampai dengan tingkat ranting diinstruksikan agar menyimak pengumuman dan penetapan pemerintah/Depag melalui RRI dan TVRI mengenai

40

tiga hal. Jika pengumuman dan penetapannya berdasarkan rukyat al-hilal atau istikmal, maka warga NU wajib mengikuti dan menaatinya, tetapi jika pengumuman dan penetapannya hanya semata-mata berdasarkan hisab, maka warga NU tidak wajib mengikuti dan menaatinya, selanjutnya menyuruh puasa Ramadan, melaksanakan idul fitri, dan menjalankan idul adha pada hari berikutnya.

Sebagai konsekwensi dari prinsip ta’abbudiy yang masih dipertahankan,65 NU tetap menyelenggarakan rukyat al-hilal bil fi’li di lapangan. Betapapun menurut hisab hilal masih di bawah ufuk atau di atas ufuk, tapi ghairu imkanir rukyat yang menurut pengalaman, hilal tidak akan kelihatan. Hal demikian ini, menurut Ahmad Ghazali Masroeri, dilakukan agar pengambilan keputusan istikmal itu tetap didasarkan pada sistem rukyat di lapangan yang tidak berhasil melihat hilal, bukan atas dasar hisab.66

Rukyat yang diterima sebagai dasar adalah hasil rukyat di Indonesia (bukan rukyat global) dengan wawasan satu wilayah hukum NKRI (matla’

wilayah al-hukmi).67 Sehingga, apabila salah satu tempat di Indonesia dapat

65 Term rukyat dalam hadits-hadits hisab rukyat menurut NU adalah bersifat ta’abbudi−ghair ma’qul al-ma’na. Artinya: tidak dapat dirasionalkan pengertiannya. Sehingga, tidak dapat diperluas dan tidak dapat dikembangkan. Dengan demikian, rukyat hanya diartikan sebatas melihat dengan mata kepala (mata telanjang−tanpa alat). Selengkapnya lihat Ahmad Izzuddin, Fiqih Hisab Rukyah: Menyatukan…, hlm. 4.

66 Ahmad Ghazali Masroeri, Penentuan Bulan Syawal dalam Perspektif NU dalam http://falakiyah.nu.or.id/PedomanRukyatNU.aspx. (Diakses pada 16 Juli 2021).

67 Mathla’ fi wilayatil hukmi yaitu keberlakuan hilal untuk satu wilayah di mana pun kawasan di seluruh wilayah Indonesia. Selengkapnya dalam Susiknan Azhari, Ensiklopedi Hisab

41

menyaksikan hilal, maka hasil rukyat demikian itu menjadi dasar itsbat al-‘am yang berlaku bagi umat Islam di seluruh Indonesia.

Rukyat yang dikehendaki oleh NU, seperti yang dipaparkan oleh Ahmad Ghazali Masroeri adalah rukyat yang berkualitas; yang didasarkan atas:68

a. Pemahaman terhadap hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dari salah seorang sahabat Rasulullah SAW., Rib’i bin Hirasy, yang di dalamnya terdapat ungkapan: “Demi Allah, bahwa sesungguhnya hilal telah tampak.” Kata sumpah, kata sungguh, dan kata tampak dalam hadits itu mengisyaratkan, bahwa rukyat al-hilal itu benar-benar terjadi dan meyakinkan, sehingga Rasulullah menerima laporan itu. Hal ini dapat dipahami, bahwa Rasulullah menerima laporan itu karena rukyat itu berkualitas;

b. Pemahaman terhadap qaul Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Kitab Tuhfatul Muhtaj jilid III halaman 382, yang artinya:

Yang dituju dari padanya ialah bahwa hisab itu apabila para ahlinya sepakat bahwa dalil-dalilnya qath’i (pasti) dan orang-orang yang memberitakan (mengumumkan) hisab tersebut mencapai jumlah mutawatir, maka persaksian rukyat itu ditolak. Jika tidak demikian, maka tidak ditolak.

Qaul ini menurut Ketua Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah NU itu dalam

Rukyah, (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2005), hlm.101. Lihat juga dalam A. Ghazalie Masroeri, Pedoman Rukyah dan Hisab Nahdlatul Ulama, (Jakarta : Lajnah Falakiyah NU, 2006), hlm. 14.

68 Ahmad Ghazali Masroeri, Penentuan Bulan Syawal... (Diakses pada 16 Juli 2021).

42

konteks laporan hasil rukyat yang ditolak jika para ahli hisab yang mencapai jumlah mutawatir sepakat, bahwa saat itu hilal ghairu imkanir rukyat secara hisab. Dengan demikian−lanjut beliau−dapat dipahami, bahwa Ibnu Hajar al- Haitami menghendaki adanya rukyat yang berkualitas.

Untuk mewujudkan rukyat yang berkualitas, maka NU menggunakan ilmu hisab dan menerima kriteria imkanur rukyat sebagai “pendukung” proses pelaksanaan rukyat. Imkanur rukyat yang dimaksud dengan indikator minimal tinggi hilal 2 derajat, umur bulan 8 jam, dan jarak Matahari-Bulan (elongasi) 3 derajat.69

Kriteria imkanur rukyat, seperti pemaparan Ahmad Ghazali Masroeri hanyalah sebagai instrumen untuk menolak laporan adanya rukyat al-hilal.

Sedangkan para ahli hisab telah bersepakat, bahwa hilal masih di bawah ufuk atau di atas ufuk tapi ghairu imkanir rukyat. Jadi, kriteria imkanur rukyat tidak digunakan untuk menentukan awal bulan qamariyah. Jelasnya, apabila menurut hitungan hisab bahwa hilal sudah imkanur rukyat, tetapi kenyataan di lapangan hilal tidak berhasil dirukyat, maka penentuan awal bulan qamariyah, khususnya awal bulan Ramadlan, Syawal, dan Dzulhijjah didasarkan atas dasar istikmal. Jadi, posisi ilmu hisab berikut kriteria imkanur rukyat bersifat ta’aqquliy sebagai sarana untuk “mendukung” proses penyelenggaraan rukyat.

Proses pengambilan keputusan yang diterbitkan oleh PBNU sehubungan

69 A. Ghazalie Masroeri, Penentuan Awal Bulan..., hlm. 19.

43

dengan hasil rukyat untuk menentukan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah melalui 4 tahap:70

a. Melakukan hisab awal bulan untuk membantu pelaksanaan rukyat dan untuk mengontrol keakurasian laporan hasil rukyat;

b. Menyelenggarakan rukyat al-hilal bil fi’li di lokasi-lokasi strategis yang telah ditentukan di seluruh Indonesia;

c. Melaporkan hasil rukyat dalam sidang itsbat yang diselenggarakan oleh Menteri Agama;

d. Setelah ada itsbat dari pemerintah, maka PBNU mengeluarkan ikhbar sehubungan dengan itsbat tersebut untuk menjadi pedoman warga NU.71 Jadi, PBNU−tegas Ahmad Ghazali Masroeri−tidak dalam kapasitas mengitsbatkan hasil rukyat. Hak itsbat ada pada pemerintah. Hak ikhbar ada pada PBNU.

Sesudah sidang isbat, kemudian PBNU mengeluarkan ikhbar. Ikhbar PBNU ini berfungsi:72

a. Menyampaikan pendirian NU tentang awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijah;

70 Ahmad Ghazali Masroeri, Penentuan Bulan Syawal... (Diakses pada 16 Juli 2021).

71 Ikhbar PBNU dapat sejalan dengan itsbat pemerintah jika diterbitkan atas dasar rukyat.

Jika itsbat tidak berdasarkan rukyat, maka PBNU berwenang untuk mengambil kebijakan lain.

Selengkapnya lihat Ibid.

72 A. Ghazalie Masroeri, Penentuan Awal Bulan..., hlm. 28.

44

b. Memperkuat isbat Menteri Agama jika diterbitkan berdasarkan rukyat;

c. Sebagai koreksi terhadap isbat Menteri Agama ketika diterbitkan dengan mengabaikan rukyat.73

Paradigma berpikir: ta’abbudi−ghair ma’qul al-ma’na yang dibangun golongan ahli rukyat dari awal mengakibatkan hadits-hadits hisab rukyat tidak dapat dirasionalkan pengertiannya. Sehingga, tidak dapat diperluas dan tidak dapat dikembangkan. Dengan demikian, rukyat hanya diartikan sebatas melihat dengan mata kepala (mata telanjang−tanpa alat).

Pemaknaan seperti yang disebutkan di atas meyebabkan adanya kelemahan pada metode rukyat ini. Kelemahan tersebut akibat dari banyaknya halangan dan hambatan saat observasi di lapangan, seperti:

a. Kondisi Cuaca

Kondisi cuaca seperti mendung, tertutup awan dan sebagainya mengakibatkan proses rukyat menjadi terhambat. Di udara terdapat banyak partikel atau butiran kecil yang menghambat pandangan, yaitu partikel yang berasal dari air (hidrometeor), misalnya kabut, mist (kabut tipis), hujan; dan partikel lainnya (litometeor), misalnya debu dan asap. Partikel pencemar udara ini dapat mengganggu pandangan dan memiliki dampak

73 Artinya, apabila pemerintah tidak melakukan isbat berdasarkan rukyat, maka NU menginformasikan (meng-ikhbar-kan) hasil rukyat kepada segenap warga nahdliyin di seluruh penjuru tanah air melalui jaringan intern organisasi yang ada, dan ikhbar NU ini mempunyai nilai isbat, yakni berlaku umum bagi umat Islam di Indonesia. Selengkapnya lihat Abd. Salam Nawawi, Rukyat Hisab di Kalangan NU-Muhammadiyah, (Surabaya: Diantama, 2004), hlm. 90.

Dokumen terkait