BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pemahaman Masyarakat Terhadap Implementasi Pendistribusian
2. Analisis Pemahaman Masyarakat Terhadap Muzakki dan
Zakat merupakan rukun Islam yang ke-5 dan zakat mengajarkan agar manusia mempunyai kepedulian sosial yang tinggi terhadap
119Wawancara dengan para Mustahik di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro pada hari Minggu, 30 Juni 2019
120 Wawancara dengan Tugiman selaku Lurah di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro pada hari Minggu, 30 Juni 2019
sesama.121 Zakat itu ada dua macam, yaitu zakat maal dan zakat fitrah.122
Selama ini zakat fitrah hanya dikonsumsi sehingga habis dalam waktu relatif singkat, dan akhirnya tidak menghasilkan nilai tambah dan sebagai akibatnya harapan untuk meningkatkan taraf hidup seperti yang dikehendaki tidak pernah menjadi kenyataan.123
ِرْطِفْلا َةاَكَز َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهّللا ىَّلَص ِهّللا ُلْوُسَر َضَرَ ف : َلاَق ٍساَّبَع ِنْبا ِنَع اَّصلِل ًةَرْهُط َلْبَ ق اَهاَّدَا َنَم . ِْيِْك اَسَمْلِل ًةَمْعُطَو ِثَف َّرلاَوِوْغَّلا َنِم ِمِئ
َنِم ٌةَق َدَص َىِهَف ِةَلاَّصل ا َدْعَ ب اَهاَّدَا ْنَمَو ٌةَل ْوُ بْقَم ٌةاَكَز َىِهَف ِةَلاَّصلا ِت اَق َدّصلا
“Dari Ibnu Abbas berkata: „Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan diri bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia – sia dan busuk, serta untuk memberi makan kepada orang – orang miskin, maka barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat („Id), itu merupakan zakat yang diterima, sedangkan yang menunaikannya setelah shalat („Id), itu merupakan sedekah biasa.” (HR. Abu Dawud).124
Dalam hadits Ibnu Abbas di atas diperintahkan untuk memberi makan fakir miskin pada hari raya dan menghilangkan peminta – minta pada hari bahagia itu. Hal ini tidak berarti bahwa masalah memberi makan atau makanan untuk mereka hari berikutnya tidak dihiraukan, tetapi justru untuk hari berikutnya lebih perlu lagi. Jelasnya tentang hari depan mereka harus lebih diperhatikan di samping untuk sehari raya itu juga mereka
121 Mahmud Abu Saud, Garis – Garis Besar Ekonomi Islam, (Jakarta: Gema Insani Pers, 1996), h.21.
122 Amir Syarifuddin, Garis – Garis Besar Fiqh, (Jakarta: Prenada Media, 2003), h.37
123 Tim Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fatwa – Fatwa Tarjih. Tanya Jawab Agama 4 , (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2011), Cetakan Keenam, h.
200
124 HR. Abu Dawud No. 1609.
harus dapat makan dan memenuhi kebutuhan pokok, namun kebutuhan hari depan termasuk prioritas.
Kategori Mustahiq yang bisa diberi zakat secara konsumtif yaitu ada sekitar 50 orang dari jumlah Mustahiq 196 orang tersebut. Cirinya yaitu Mustahiq yang sudah tidak bisa diberdayakan lagi, seperti Mustahiq yang sudah lanjut usia dan tidak bisa bekerja lagi. Sedangkan Mustahiq yang layak diberi zakat fitrah secara produktif ada sekitar 146 orang yaitu Mustahiq yang masih bisa diberdayakan seperti Mustahiq yang masih bisa bekerja sehingga dapat diarahkan oleh yang ahli atau dalam hal ini Tokoh Agama setempat agar dapat memberdayakan zakat fitrahnya.125
Memberdayakan zakat fitrah dalam bentuk usaha produktif itu haruslah seijin fakir miskin tersebut, karena zakat fitrah itu adalah hak mereka. Si kurang ilmu dan keterampilan sehingga kecil sekali kemungkinan untuk berhasil jika mereka diserahi untuk memodalkan harta zakat tersebut menjadi barang yang produktif. Oleh karena itu pengelolaannya haruslah dilakukan oleh orang – orang yang ahli, alim dan terpercaya, dan juga dapat melibatkan para mustahiq tersebut, sehingga dapat mengelola usaha tersebut secara efektif dan efisien. Adapun hasil dari permodalan atau usaha tersebut adalah untuk kepentingan si fakir miskin.126
Pendistribusian zakat kepada beberapa Mustahiq Zakat yang sesuai menurut ketentuan syariat yaitu disalurkan kepada delapan golongan yaitu
125Wawancara dengan para Mustahik di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro pada Hari Minggu, 30 Juni 2019
126 Ibid.,
orang fakir, orag miskin, pengurus zakat, mu’allaf, hamba sahaya, gharimin, ibnu sabil dan sabilillah. Ketentuan ini sesuai dengan Firman Allah SWT dalam QS. At –Taubah ayat 60.
Dasar pembagian zakat fitrah yaitu berdasarkan kesepakatan Jumhur Ulama (mayoritas ulama) yang terdiri dari ulama Mazhab Hanafi, Maliki dan Hambali, bahwa zakat tidak harus dibagikan kepada delapan asnaf secara merata, melainkan boleh hanya dibagikan kepada salah satu dari delapan asnaf. Sementara itu, menurut ulama Mazhab Syafi‟i, zakat harus dibagikan kepada delapan asnaf minimal terdiri dari tiga orang. Jika pada waktu pembagian zakat hanya ada satu asnaf saja, maka zakat boleh dibagikan hanya kepada beberapa asnaf yang ada tanpa harus menyisihkan pembagian zakat untuk asnaf yang tidak ada.127
Kenyataan di lapangan, semua mendapatkan zakat fitrah. Namun, ada pengecualian untuk Amil yang mungkin secara ekonomi berkecukupan sehingga mereka mengambil zakat hanya sebatas untuk mengganti biaya transportasi. Besarnya zakat zakat yang diberikan kepada pengurus (amil) zakat, menurut kesepakatan fuqaha ialah sebesar yang diberikan oleh imam berdasarkan pertimbangannya atas kerja yang telah dilakukan oleh panitia zakat, atau sebesar biaya transportasi yang diperlukan olehnya selama mengurusi zakat. Akan tetapi, mazhab Hanafi memberikan catatan tambahan atas hal ini, bahwa pemberian yang diberikan kepada panitia zakat hendaknya tidak melebihi setengah dari bagian zakat yang
127 Az – Zuhaili, Al – Fiqh al – Islam wa Adillatuhu, juz ke 2, h. 867-868.
dipungutnya.128 Oleh sebab itu, pemberdayaan distribusi zakat fitrah sebaiknya mengutamakan untuk merubah Mustahik menjadi Muzakki.
Sehingga pemberdayaan distribusi zakat fitrah menjadi lebih bermanfaat.
128 Wahbah Al – Zuhayly, Zakat Kajian., h. 292.
70
Berdasarkan fenomena pemberdayaan distribusi zakat fitrah di Kelurahan Banjarsari Kecamatan Metro Utara Kota Metro bahwa pemberdayaan zakat fitrah menurut peneliti dinilai belum pernah dilaksanakan. Hal ini disebabkan oleh rendahnya pemahaman masyarakat mengenai zakat fitrah. Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap zakat, karena faktor pendidikan masyarakat yang tidak mendukung.
Pemberdayaan zakat fitrah belum mampu memberdayakan ekonomi masyarakat, karena manfaat zakat hanya dapat dirasakan untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya jangka pendek. Apabila kebutuhan pokok para Mustahiq telah terpenuhi maka sebaiknya zakat fitrah diberdayakan secara konsumtif dan produktif sehingga dapat mengangkat perekonomian masyarakat.
B. Saran
1. Kepada Amil Zakat agar dapat mengoptimalisasikan pemberdayaan zakat fitrah secara efektif dan efisien sehingga kesejahteraan umat dapat diwujudkan. Amil Zakat sebaiknya memberdayakan zakat untuk Mustahiq yang berada di lingkungan sekitar dan diberdayakan secara konsumtif dan produktif.
2. Kepada masyarakat agar lebih membangun kesadaran untuk menunaikan zakat fitrah dan juga dapat bekerja sama dengan amil serta tokoh agama agar dapat memberdayakan zakat fitrah bersama - sama.
71
A. Warson Munawwir, Kamus al – Munawwir Arab Indonesia, Surabaya: Pustaka Progresif, 1997.
Abd. Aziz Muhammad Azzam dan Abd. Wahab Sayyed Hawwas, Fiqh Ibadah, Thaharah, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji, Jakarta: Amzah, 2009.
Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Ibadah, Terj. Kamran As‟ad Irsyady, dkk, Jakarta: PT Kalola Printing, 2015, Cet. IV.
Abdul Aziz, Ekonomi Islam Analisis Mikro dan Makro, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008, Cet. Ke-1.
Abdurahmat Fatoni, Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006.
Abu Malik Kamal Ibn Sayyid Salim, Fikih Sunnah Wanita, Terj. Firdaus, Jakarta:
Qisthi Press, Cet.2, 2014.
Amir Syarifuddin, Garis – Garis Besar Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2003.
Arief Mufraiani, Akuntansi dan Manajemen Zakat, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Cet. II, 2006.
Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial dan Ekonomi, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013, Edisi Pertama, Cet. 1.
Cik Hasan Bisri, Penuntun Rencana Penelitian dan Pelaksanaan Skripsi Bidang Ilmu Agama Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003.
Deasy Anwar, Kamus Bahasa Indonesia, Surabaya: Karya Abditama, 2001, Cet.
Ke-1.
Direktorat Pemberdayaan Zakat, Petunjuk Pelaksanaan Pengumpulan Zakat, Jakarta: Kementrian Agama RI, 2011.
Hikmat Kurnia dan Ade Hidayat, Panduan Pintar Zakat, Jakarta: Qultum Media, 2008.
Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, Jakarta: Bumi Aksara, 2014.
Kartini Kartono, Pengantar Metode Riset Sosial, Bandung: CV Mandar Maju, 1996.
Lahmuddin Nasution, Fiqh 1, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1995.
Lexi J. Moeong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012.
M.Arif Mufraini, Lc.,M.Si, Akuntansi dan Manajemen Zakat¸ Jakarta:
Prenadamedia Grup, 2018.
Mahmud Abu Saud, Garis – Garis Besar Ekonomi Islam, Jakarta: Gema Insani Pers, 1996.
Moh Kasiram, Metodologi Penelitian Kualitatif – Kuantitatif, Yogyakarta: UIN – Maliki Press, 2008.
Muh Atha Zhafran, Pintar Agama Islam, Solo: CV Beringin 55.
Muhammad Nazir, Metode Penelitian, Jakarta: Galian Indonesia, 2003.
Mursyidi, Akuntansi Zakat Kontemporer, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003.
Rian Hidayat El – Bantany, Kamus Pengetahuan Islam Lengkap, Depok: Mutiara Allamah Utama, 2014.
Ridwan Mas‟ud dan Muhammad, Zakat dan Kemiskinan, Yogyakarta: UII Press, 2005.
Sedarmayanti, Metodologi Penelitian, Bandung: Mandar Maju, 2002.
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian hukum, Universitas Indonesia Pers, Jakarta, Cet 3, 1986.
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Yogyakarta: Yayasan Penarbitan Psikologi UGM, 1985.
Taqiyuddin an – Nabhani, Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam, Penerjemah Hafizh Abdurrahman, Sistem Ekonomi Islam, Jakarta: Hizbuttahrir Indonesia, 2004, Cet. Ke-4.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1990, Cet. 3..
Tim Pusat Pembina Muhammadiyah, Tanya Jawab Agama 4, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2011, Cetakan Keenam.
Ujianto Singgih Prayitno, et all, Pemberdayaan Masyarakat, Jakarta: Azz Grafika, 2013.
Wahbah Al – Zuhaily, Zakat Kajian Berbagai Mazhab, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995.
Zuhairi, dkk, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Jakarta: Rajawali Pers, 2016, Edisi Revisi, Cet. 1.
Sumber dari Al – Qur’an, Hadist, Hasil Penelitian Skripsi dan lain sebagainya:
Afdloluddin, Analisis Pendistribusian Dana Zakat Bagi Pemberdayaan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Walisongo Semarag, 2015.
digilib.uinsby.ac.id/2410/4Bab%202.pdf, Di akses pada hari Rabu, 7 November 2018 Pukul 13.00 WIB
Hendra Maulana, “Analisa Distribusi Zakat dalam Meningkatkan Kesejahteraan Mustahiq”, Skripsi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Husnul Hotimah, Pendayagunaan Zakat di Desa Campur Asri, Kec. Baradatu, Kab. Way Kanan, Mahasiswa Jurusan Ekonomi Syariah IAIN Metro, 2017.
https://lazgis.com/ini-pengertian-muzakki-dan-mustahik-kriteria-dan-macam- macamnya/
Idah Umdah Safitritazkiya, “Problematika Zakat Fitrah”, Jurnal Keislaman, Kemasyarakatan & Kebudayaan, vol. 19 No. 1 (Januari-Juni) 2018, h.33.
Nur Addini Rahma, Pemberdayaan Ekonomi Umat Melalui Penyaluran Zakat Produktif, Program Studi Ekonomi Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015.
ZISWAF, Vol. 2,No.1,Juni 2015.