V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Analisis Pendapatan Usahatani
Analisis pendapatan usahatani jagung bersumber dari 17 responden pada tahun 2022 dengan jumlah luas lahan rata-rata 1,05 – 1,50 haktar per responden,
40 pelaksanaan usaha memerlukan biaya dalam proses produksi begitu juga usaha tani jagung. Biaya tersebut terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel atau tidak tetap. Berikut pemaparan tentang biaya tetap, biaya variabel dan total pendapatan : 5.2.1 Biaya Variabel
Biaya variabel merupakan biaya yang besar kecilnya tergantung dari volume usahatani atau sifatnya berubah sesuai dengan besarnya produksi. Biaya variabel adalah biaya yang mewakili jumlah biaya-biaya untuk faktor-faktor produksi variabel. Biaya ini dapat berbentuk tunai, barang atau jasa dan kerja sesungguhnya tidak dibayarkan. Yang termasuk kedalam biaya variabel antara lain benih, pemberian obat-obatan dan biaya tenaga kerja. Adapun rata-rata biaya variabel usahatani jagungdapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Biaya Variabel Rata-rata Usahatani Jagung
No Rincian Biaya Harga (RP)
1 Bibit (Hibrida Pacific) 1.537.000
2 Biaya Obat (Abenz dan Turmadan) 572.000
3 Biaya Pupuk (Urea dan Phonska) 1.327.000
4 Tenaga Kerja 544.000
Jumlah 3.980.000
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2022
Berdasarkan Tabel 11 menjelaskan bahwa terdapat 4 jenis biaya variabel yang digunakan oleh petani sampel dalam usahatani jagung yaitu bibit, Obat, Tenaga kerja pemanenan dan Pupuk dengan total biaya variabel Rp. 3.980.000.
Menurut Mulyadi (2009), variable costing adalah metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan dan membebankan biaya-biaya produksi yang berperilakusebagai variabel kedalam harga pokok produksi yang
41 terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan overhead pabrik variabel.
5.2.2 Biaya Tetap
Penggunaan alat-alat pertanian yang digunakan dalam proses produksi tanaman jagung dimaksudkan untuk memudahkan petani dalam melakukan usaha taninya. Adapun jenis biaya pertanian yang digunakan oleh petani jagung adalah cangkul, parang dan tangki.
Biaya yang dikeluarkan untuk alat-alat pertanian berdasarkan nilai penyusutan peralatan yang digunakan setiap tahun. Biaya penyusutan adalah selisih antara harga beli dan harga jual saat dibagi dengan lama penggunaan alat tersebut. Adapun jenis biaya tetap yang digunakan dalam kegiatan produksi jagung dapat dilihat pada Tabel 12 berikut :
Tabel 12. Biaya Tetap Rata-rata Usahatani Jagung
No Jenis Biaya Jumlah (RP)
1 Cangkul 17.000
2 Parang 17.000
3 Sprayer 160.000
Jumlah 194.000
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2022
Berdasarkan Tabel diatas dapat dilihat bahwa terdapat 3 jenis biaya yang digunakan oleh petani sampel dalam melakukan usahataninya sehingga dapat memudahkan petani jagung dalam melakukan pekerjaannya. Total pengeluaran biaya tetap yaitu Rp. 194.000. Tinggi rendahnya biaya penyusutan alat dikarenakan pada penggunaan dan lamanya alat usahatani digunakan oleh petani sampel.
42 Menurut Mursyidi (2008) biaya merupakan sebagai pengorbanan sumber ekonomi yang berwujud maupun tidak berwujud yang dapat diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu.
5.2.3. Penerimaan
Penerimaan menurut Suratiyah (2015) adalah perkalian antara produksi dengan harga jual, besarnya penerimaan yang diterima oleh petani untuk setiap rupiah yang dikeluarkan dalam kegiatan produksi usahatani dipengaruhi oleh jumlah produksi yang dihasilkan dan harga satuan produksi yang dihasilkan.
Semakin tinggi jumlah produksi dan harga satuan produksi yang dihasilkan maka penerimaan usahatani semakin besar sebaliknya, semakin rendah jumlah produksi dan harga satuan produksi yang dihasilkan maka penerimaan usahatani juga akan semakin kecil.
Tabel 13. Penerimaan Rata-Rata Usaha Di Kelurahan Cilallang, Kecamatan Kamanre Kabupaten Luwu.
Produksi Jagung 1x Panen (Rp) Harga/Kg Penerimaan (Rp)
8.000 3.500 25.000.000
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2022.
Berdasarkan Tabel 13 diatas hasil penelitian dilapangan diperoleh hasil rata-rata produksi jagung yaitu 8.000 kg dengan rata-rata harga sebesar Rp. 3.500.
Berdasarkan produksi dan harga jual persatuan produksi didapat hasil rata-rata penerimaan usahatani jagung permusim panen adalah sebesar Rp. 25.000.000.
Besar kecilnya penerimaan petani di daerah penelitian bervariasi tergantung dengan banyaknya produksi jagung yang dihasilkan serta harga jual yang berlaku saat itu.
43 5.2.4. Pendapatan
Ikatan Akuntan Indonesia (2015) mendefinisikan: Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dari pelaksanaan aktivitas entitas yang normal dan dikenal dengan sebutan yang berbeda, seperti penjualan, penghasilan jasa, bunga, dividen, royalti,dan sewa.
Mengetahui besarnya pendapatan yang diterima oleh petani dari usahatani jagung yang dikelolanya perlu dilakukan analisis pendapatan. Analisis pendapatan yang dihitung berdasarkan besarnya penerimaan dikurangi dengan total biaya yang dikeluarkan.
Potensi pengembangan jagung di sangat menjanjikan. Karena tanaman jagung terbilang gampang dalam perawatan dan juga cenderung cepat berbuah.
Produksi jagung di Luwu layak dikembangkan karena Luwu juga dikenal penghasil jagung. Pengelolaan usahatani jagung di Luwu bertujuan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Karena dengan meningkatnya produksi yang dihasilkan maka keuntungan atau pendapatan petani akan lebih maksimal. Sehingga jika petani tidak mendapatkan keuntungan yang layak maka petani akan menentukan pilihan lain, bahkan kemungkinan petani akan beralih kejenis tanaman yang dapat memberikan keuntungan taraf hidup yang lebih tinggi
Hal diatas menunjukkan bahwa produksi jagung di Kelurahan Cilallang Kecamatan Kamanre Kabupaten Luwu berpotensi karna para petani mampu memproduksi jagung sebanyak tiga kali dalam satu tahun dengan jangka tanam 3 bulan. Maka besarnya pendapatan rata-rata yang diperoleh petani dalam satu kali
44 panen di Kelurahan Cilallang Kecamatan Kamanre Kabupaten Luwu dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Pendapatan Rata-rata Petani Jagung di Kelurahan Cilallang
No Uraian Rata-rata Pendapatan
1. Produksi Jagung(kg) 8.000
Harga Jual (Rp) 3.500
Jumlah Penerimaan Rp. 25.000.000
2. Biaya Produksi
- Biaya Tetap(Rp) 194.000
- Biaya Variabel(Rp) 3.980.000
Jumlah Biaya Rp. 4.174.000
Pendapatan(Rp)(1-2) Rp. 20.826.000
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2022
Berdasarkan Tabel 14 menunjukkan bahwa jumlah penerimaan petani jagung adalah sebesar Rp. 25.000.000, sedangkan jumlah biaya yang dikeluarkan adalah sebesar Rp. 4.174.000. Jadi jumlah pendapatan rata-rata yang diperoleh petani jagung untuk satu kali produksi adalah sebesar Rp. 20.826.000.
Pendapatan seseorang juga dapat didefinisikan sebagai banyaknya penerimaan yang dimulai dinilai dengan satuan mata uang yang dapat dihasilkan seseorang atau suatu bangsa dalam periode tertentu (Reksoprayitno, 2004).