• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asparagus (Asparagus officinalis) 1996

SIMATUPANG, S.

Pengaruh penambahan sitokinin dan asam naftalen asetat pada media murashige dan skoog terhadap perkembangan eksplan asparagus. Effect of cytokinins and napthalene acetic acid on the growth of asparagus explants in vitro / Simatupang, S. (Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Berastagi, Medan). Jurnal Hortikultura. ISSN 0853-7097 (1996) v. 6(2) p.

105-108, 2 tables; 5 ref.

ASPARAGUS OFFICINALIS; CYTOKININS; NAA; IN VITRO CULTURE; PLANT GROWTH SUBSTANCES; EXPLANTS; GROWTH RATE.

Teknik perbanyakan kultur jaringan adalah salah satu metode untuk memperbanyak bibit asparagus. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium kultur jaringan Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Berastagi dari bulan Maret - Mei 1992. Eksplan berasal dari epikotil asparagus kultivar Mary Washington. Rancangan penelitian acak lengkap. Media Murashige dan Skoog digunakan sebagai media dasar. Perlakuan terdiri dari sumber sitokinin (15% air kelapa; 0,3 ppm kinetin; 0,3 ppm benzil amino purin), dan asam naftalen asetat (0; 0,3;

0,6; 0,9 ppm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan 0,9 ppm asam naftalen asetat dan 0,3 ppm kinetin adalah terbaik untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan eksplan asparagus. Pemberian zat pengatur tumbuh diperlukan untuk memacu pertumbuhan eksplan dalam kultur in vitro asparagus.

Abstrak Hasil Penelitian Badan Litbang Pertanian (1981-2010) Komoditas Tanaman Hias

32

1997

NURTIKA, N.

Waktu aplikasi pupuk kandang dan pupuk buatan pada tanaman asparagus tahun kedua.

Application time of stable manure and inorganic fertilizer on asparagus at second year / Nurtika, N.; Abidin, Z. (Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang). Jurnal Hortikultura. ISSN 0853- 7097 (1997) v. 6(5) p. 460-464, 4 tables; 9 ref. Appendix.

ASPARAGUS OFFICINALIS; FARMYARD MANURE; INORGANIC FERTILIZERS;

FERTILIZER APPLICATION; APPLICATION RATES; TREATMENT DATE; GROWTH;

SHOOTS.

Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan waktu aplikasi yang tepat dalam penggunaan pupuk kandang dan pupuk buatan terhadap pertumbuhan dan hasil rebung asparagus. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang pada tanah andosol, ketinggian temmpat 1.250 m dpl dari bulan April - Februari 1995. Metode yang digunakan, yaitu rancangan acak kelompok pola faktorial mengkaji dua faktor yaitu waktu pemberian pupuk yaitu dua kali dan empat kali setahun dan faktor kedua yaitu waktu aplikasi pupuk buatan yang terdiri atas setiap satu bulan, dua bulan, dan tiga bulan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa waktu aplikasi pupuk kandang dua kali setahun dan pupuk buatan setiap tiga bulan sekali merupakan waktu aplikasi yang paling tepat dan paling efisien bagi pertumbuhan dan hasil asparagus kultivar Mary Washington. Pada perlakuan tersebut setiap tanaman asparagus menghasilkan 8,15 pucuk rebung/bulan dengan berat 98,10 g. Keuntungan pengguna dalam penerapan teknologi ini adalah aplikasi yang tepat dan efisien dari pupuk organik dan anorganik untuk menghasilkan rebung asparagus.

Abstrak Hasil Penelitian Badan Litbang Pertanian (1981-2010) Komoditas Tanaman Hias 33

1998

SUHARDI

Pengendalian penyakit pada asparagus secara kultur teknis dan kimiawi. Cultural practices and chemical disease control on asparagus / Suhardi; Wasito, A.; Hanudin (Instalasi Penelitian Tanaman Hias, Segunung, Cianjur). Jurnal Hortikultura. ISSN 0853-7097 (1998) v. 7(4) p. 886- 891, 3 tables; 13 ref.

ASPARAGUS OFFICINALIS; FUSARIUM OXYSPORUM; CERCOSPORA; DISEASE CONTROL; CULTURE TECHNIQUES; SEED TREATMENT; FARMYARD MANURE;

FUNGICIDES; GROWTH RATE.

Dua percohaan, yaitu percobaan di pesemaian dan lapangan, untuk mengetahui pengaruh pupuk organik. Perlakuan biji, penyemprotan fungisida, dan eradikasi terhadap pertumbuhan bibit asparagus (Asparagus officinalis L.) dan penyakit, dilaksanakan di kebun percobaan Sub Balai Penditian Hortikultura Segunung (1.100 m dpl). Percobaan pesemaian, dilaksanakan mulai September 1991-Mei 1992. Perlakuan terdiri dari jenis pupuk organik (kotoran ayam, kotoran kuda, OST) dan perlakuan biji (air panas, captan, benomil). Percobaan dilaksanakan dengan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Percobaan lapangan, dilaksanakan mulai Juli 1992-Maret 1993. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini ialah acak kelompok dengan dua faktor dan empat ulangan. Faktor pertama ialah jenis fungisida (mankozeh, klorotalonil, dan karbendazin + mankozeh) dengan konsentrasi 2,0 g b.a./l diberikan dengan interval 7 hari;

sedangkan faktor kedua ialah eradikasi dan tanpa eradikasi dari bagian tanaman sakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) kotoran ayam meningkatkan intensitas penyakit yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum sedangkan kotoran kuda menekan intensitas penyakit yang disebabkan oleh Cercospora asparagi, (b) pupuk organik meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah anakan, (c) perlakuan biji tidak berpengaruh terhadap intensitas penyakit, (d) aplikasi Karhendazim + Mankozeh (2,0 g/l) dengan interval 7 hari sekali mampu mengurangi secara nyata intensitas serangan hawar Cercospora. Meningkatkan jumlah dan bohot hasil Asparagus, (e) eradikasi mampu menurunkan tingkat intensitas penyakit. Dari hasil itu direkomendasikan penggunaan pupuk kandang di pesemaian, penggunaan fungisida, dan eradikasi pada budi daya asparagus.

Abstrak Hasil Penelitian Badan Litbang Pertanian (1981-2010) Komoditas Tanaman Hias

34

Bunga Matahari ( Helianthus annuus) 1989

HASANAH

Korelasi antara beberapa faktor iklim dengan pertumbuhan dan sifat-sifat benih bunga matahari.

Correlation of some climatological factors with plant and seed characteristics of sunflowers (Helianthus annuus L.)/ Hasanah, Maharani; Andrews, C.H. Indonesian Journal of Crop Science.

ISSN 0216-8170 (1989) v. 4(2) p. 63-75

HELIANTHUS ANNUUS; AGRONOMIC CHARACTERS; CLIMATIC FACTORS;

GROWTH.

Bunga matahari merupakan tanaman penghasil minyak biji yang telah diusahakan di banyak negara. Benih ditanam dengan selang waktu 1 bulan, mulai tanggal 24 Maret - 25 Juli 1986.

Kultivar D-716 yang mempunyai kadar lemak rendah serta kultivar NK-212 yang berkadar lemak tinggi dipergunakan dalam percobaan ini. Dari hasil penelitian ini diperoleh korelasi yang positif antara tinggi tanaman, diameter bunga, 50% berbunga, 50% berbunga sampai panen, masak fisiologis, produksi, persentase perkecambahan, kepadatan benih (kg/ha), persentase lemak, persentase linoleat, persentase oleat, persentase asam lemak bebas, dengan beberapa faktor iklim seperti suhu udara minimum, suhu udara maksimum, radiasi matahari, suhu tanah dan curah hujan.

Abstrak Hasil Penelitian Badan Litbang Pertanian (1981-2010) Komoditas Tanaman Hias 35

2005

YULLIANIDA

Pengaruh antioksidan sebagai perlakuan invigorasi benih sebelum simpan terhadap daya simpan benih bunga matahari (Helianthus annuus L.). Effects of antioxidants as prestorage seed invigoration treatments on storability of sunflower (Helianthus annuus L.) seeds / Yullianida (Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang); Murniati, E. Hayati.

ISSN 0854-8587 (2005) v. 12(4) p. 145-150, 1 ill., 5 tables; 23 ref.

HELIANTHUS ANNUUS; SEED; SEED CHARACTERISTICS; VIGOUR; KEEPING QUALITY; ANTIOXIDANTS.

Oilly seeds, such as those of sunflower (Helianthus annuus L.), have short storability (3-4 months in room condition) due to oxidative stress during storage. The objective of this research was to determine whether prestorage seed invigoration by antioxidants, could improve storability of sunflower seeds. The research was performed using fresh harvested seeds. Prestorage seed invigorations were conducted by matriconditioning with water or antioxidants solution i.e. 4.17%

curcumin or 100 and 150 ppm ascorbic acid. The seeds were stored for four months at room condition (28-29°C and 62-79% relative humidity). Observations were conducted monthly.

Experiment was arranged in split plot design. The result showed that all prestorage seed invigoration treatments were not effective to enhance storability of sunflower seeds compared to control. Inefficiency exogenous antioxidants was probably due to highly endogenous antioxidants activity during storage. This was indicated by the slow deterioration rate of control seeds, or due to high concentration of curcumin which was actually potential to enhance storability of sunflower seeds. It is suggested that presowing treatment and midstorage treatment will enhance storability of sunflower seeds.

Abstrak Hasil Penelitian Badan Litbang Pertanian (1981-2010) Komoditas Tanaman Hias

36

Dahlia (Dahlia pinnata)

Dokumen terkait