• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kematangan Karir

2. Aspek-Aspek Kematangan Karir

Menurut Super (dalam Sharf, 2010), kematangan karir pada individu mencakup aspek-aspek sebagai berikut:

1) Perencanaan karir

Aspek perencanaan karir ini meliputi kemampuan individu dalam mempelajari informasi karir, membicarakan tentang karir dengan orang dewasa, mengikuti berbagai pelatihan yang sesuai dengan pekerjaan yang diinginkan, dapat merencanakan hal-hal apa saja yang harus dilakukan setelah tamat sekolah, dan mampu mengatur waktu luang dengan efekif.

16

2) Eksplorasi karir

Eksplorasi karir dapat diartikan sebagai keinginan dari individu untuk melakukan eksplorasi dan pencarian informasi yang berkaitan dengan karir.

3) Informasi

Kemampuan dari individu dalam menggunakan informasi yang dimiliki dan memulai untuk mengetahui tugas dan kewajiban dari pekerjaan yang diinginkan.

4) Pengambilan Keputusan

Aspek pengambilan keputusan diartikan sebagai kemampuan individu dalam menentukan pekerjaan yang diinginkan serta mengetahui apa yang harus dipertimbangkan dalam memutuskan jenis pekerjaan yang akan diambil.

5) Orientasi

Aspek orientasi diartikan sebagai kemampuan individu dalam menentukan jenis pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan yang dimiliki.

Berdasarkan paparan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kematangan karir memiliki lima aspek yaitu perencanaan karir, eksplorasi karir, informasi, pengambilan keputusan, dan orientasi. Aspek-aspek tersebut akan digunakan dalam penelitian ini karena relevan dengan definisi konseptual kematangan karir. Aspek-aspek ini telah digunakan pada penelitian Mustikaningrum (2017) dan Hasanah (2018).

3. Tahapan Perkembangan Karir

Proses perkembangkan karir dibagi atas lima tahap menurut Super (dalam Winkel & Hastuti, 2013), yaitu:

1) Fase pengembangan

Fase ini berlangsung dari lahir hingga individu mencapai usia 15 tahun. Pada fase ini anak mulai mengembangkan berbagai macam potensi, sikap, minat, dan kebutuhan yang dipadukan dalam struktur gambaran diri.

2) Fase eksplorasi

Fase ini berlangsung dari usia 15 hingga individu mencapai usia 24 tahun. Fase ini meliputi upaya yang dilakukan individu dalam mendapatkan ide yang lebih baik dari informasi karir, memilih berbagai alternatif karir, memutuskan sebuah karir, dan memulai karir yang diputuskan. Pada fase eksplorasi, terdapat dua tugas perkembangan karir, yaitu kristalisasi dan spesifikasi karir.

a. Kristalisasi

Tahapan dimana individu menjelaskan apa yang ingin dilakukan yang berlangsung antara 15-18 tahun. Individu mulai belajar cara untuk memasuki sebuah tingkatan pekerjaan yang sesuai dengan dirinya dan belajar mengenai keterampilan apa yang dibutuhkan untuk pekerjaan tersebut.

18

b. Spesifikasi

Fase ini berlangsung antara usia 18-24 tahun yang memiliki ciri mengarahkan diri ke bidang jabatan tertentu dan mulai untuk memegang jabatan tersebut.

3) Fase pemantapan

Fase pemantapan ini pada umumnya berlangsung pada rentang usia 25 hingga 44 tahun. Secara umum tahap ini mengacu pada satu bidang pekerjaan dengan memulai bekerja yang kemungkinan berarti memulai awal kehidupan kerja. Pada tahap ini mencakup tiga tugas perkembangan karir yaitu, stabilisasi posisi karir, konsolidasi dengan sikap dan budaya kerja yang positif, serta memajukan tingkat kerja yang lebih tinggi.

4) Fase pembinaan

Fase pembinaan ini secara umum berlangsung pada rentang usia 45 hingga 64 tahun dimana individu akan menetapkan pilihannya dalam suatu pekerjaan dan memelihara pekerjaannya. Pada fase ini terdapat tiga tugas perkembangan karir yaitu, mempertahankan apa yang sudah diraih, meningkatkan pengetahuan dan kemampuan, dan melakukan inovasi dengan melakukan tugas secara berbeda maupun melakukan tantangan baru.

5) Fase kemunduran

Tahap fase kemunduran merupakan tahap yang terjadi ketika kekuatan fisik dan mental menurun pada individu yang menyebabkan

aktivitas pekerjaan berubah dan berhentin pada waktunya. Tugas perkembangan dari tahap ini yaitu, perlambatan diri dalam melakukan pekerjaan, perencanaan pensiun yang mengarahkan pada perpisahan karir, dan kehidupan pensiun.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat lima tahapan dalam perkembangan karir, yaitu fase pengembangan, fase eksplorasi, fase pemantapan, fase pembinaan, dan fase kemunduran. Mahasiswa tahun ketiga tergolong pada fase eksplorasi yang mempunyai dua tugas perkembangan karir, yaitu kristalisasi dan spesifikasi karir.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan dan Kematangan Karir

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi perkembangan karir yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Shertzer & Stone, dalam Winkel &

Hastuti, 2013). Berikut uraian dari faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangkan karir.

1) Faktor Internal

a. Nilai-nilai kehidupan

Suatu kondisi ideal yang dikejar oleh individu dimanapun dan kapanpun. Nilai-nilai kehidupan ini menjadi pedoman dan sebagai pegangan hidup pada individu. Nilai-nilai ini memegang peranan yang penting dalam keseluruhan perilaku individu dan

20

mempengaruhi seluruh harapan serta lingkup aspirasi dalam hidup, termasuk dalam menentukan karir yang akan ditekuni.

b. Taraf inteligensi

Kemampuan untuk mencapai prestasi yang didalamnya berpikir memegang peranan penting. Dalam menentukan suatu keputusan mengenai pilihan jabatan, tinggi rendahnya taraf inteligensi individu sangat berpengaruh, apakah pilihan yang diambil baik dan efektif atau tidak.

c. Bakat khusus

Kemampuan yang menonjol pada suatu bidang, baik itu kognitif, keterampilan, atau bidang kesenian. Kemampuan ini akan menjadi bekal bagi individu untuk memasuki bidang pekerjaan atau karir tertentu dan mencapai tingkatan yang lebih tinggi dalam suatu jabatan.

d. Minat

Kecenderungan yang agak menetap pada diri individu untuk merasa tertarik pada suatu bidang tertentu dan merasa senang juga terlibat dalam berbagai kegiatan atau aktivitas yang berkaitan dengan bidang tersebut.

e. Sifat

Ciri-ciri kepribadian yang bersama-sama memberikan corak khas pada individu, seperti halus, riang gembira, teliti, ramah, terbuka, tertutup, ceroboh, dan pesimis. Gambaran diri dalam hal

sifat-sifat kepribadian menjadi pertimbangan untuk menentukan, apakah individu berani memegang peranan jabatan tertentu atau tidak.

f. Pengetahuan

Informasi yang dimiliki individu tentang berbagai bidang pekerjaan dan tentang diri sendiri. Informasi yang akurat tentang informasi berbagai bidang pekerjaan di dunia kerja dan diri sendiri sangat penting karena akan mempengaruhi taraf aspirasi dari individu.

g. Kondisi fisik

Ciri-ciri fisik yang dimiliki oleh individu, seperti tinggi badan, kemampuan pengelihatan, kemampuan pendengaran, dan jenis kelamin.

2) Faktor Eksternal a. Masyarakat

Kondisi sosial budaya yang berkembang di masyarakat memiliki pengaruh yang besar terhadap pandangan individu yang sangat dipegang teguh oleh setiap anggota keluarga.

b. Keadaan sosial ekonomi suatu negara atau daerah

Keadaan ini yaitu laju pertumbuhan ekonomi suatu negara atau daerah yang lambat atau cepat, stratifikasi golongan sosial ekonomi tinggi, tengah, dan rendah, serta spesifikasi masyarakat atas kelompok yang terbuka atau tertutup terhadap kelompok lain.

22

Semua hal tersebut berpengaruh pada terciptanya suatu lapangan kerja baru dan terhadap terbuka atau tertutupnya kesempatan bekerja bagi individu.

c. Status ekonomi keluarga

Status ini merupakan tingkatan pendidikan orang tua, tinggi atau rendahnya pendapatan orang tua, jabatan ayah atau ibu, daerah tempat tinggal, dan suku bangsa. Status ini akan berdampak pada tingkat pendidikan individu yang dimungkinkan, sehigga akan berpengaruh pada perkembangan karir individu tersebut.

d. Pengaruh dan ekspektasi keluarga besar dan inti

Orang tua, saudara kandung, dan keluarga besar lainnya terkadang menyarankan berbagai harapan serta mengkomunikasikan pandangan dan sikap tertentu terhadap pendidikan dan karir anggota keluarganya. Jika individu tersebut menerimanya, maka dukungan akan didapatkannya, namun jika individu tersebut tidak menerimanya, maka situasi sulit kemungkinan akan dialami individu tersebut karena tidak mendapatkan dukungan dari keluarga.

e. Pendidikan sekolah

Pandangan dan sikap yang dikomunikasikan kepada peserta didik tenaga pengajar atau guru mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam suatu pekerjaan, tinggi rendahnya status sosial

suatu jabatan, dan kecocokan suatu jabatan tertentu dengan jenis kelamin.

f. Pertemanan

Beraneka pandangan dan variasi harapan tentang masa depan yang terungkap dalam pergaulan sehari-hari individu.

g. Tuntutan

Tuntutan ini melekat pada masing-masing pekerjaan dan pada setiap program studi atau jurusan, yang mempersiapkan individu diterima pada suatu jabatan tertentu dan mencapai keberhasilan di dalamnya.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kematangan karir individu berasal dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari nilai-nilai kehidupan, taraf inteligensi, bakat khusus, minat, sifat, pengetahuan, dan kondisi fisik. Faktor eksternal terdiri dari masyarakat, keadaaan sosial- ekonomi negara atau daerah, status sosial-ekonomi keluarga, pengaruh dan ekspektasi keluarga besar dan inti, pendidikan sekolah, pertemanan, dan tuntutan.

B. Adversity Intelligence 1. DefinisiAdversity Intelligence

Adversity intelligence pertama kali dikenalkan oleh Stoltz (2005), yang mempunyai anggapan bahwa IQ dan EQ tidaklah cukup dalam

24

memprediksi kesusksesan individu karena ada faktor lain berupa motivasi dan dorongan dari dalam, serta pantang menyerah. Menurut Phoolka dan Kaur (2012), adveristy intelligence dapat memprediksi ketahanan, kegigihan, dan bagaimana individu berperilaku dalam situasi sulit.

Adversity intelligence mampu memprediksi ketahanan individu dalam menghadapi kesulitan serta kemampuan untuk mengatasinya, memprediksi individu yang mampu mengatasi suatu masalah, memprediksi individu yang mampu melampaui harapan-harapan atas kinerja dan potensi yang dimilikinya, serta memprediksi individu yang akan bertahan dan yang akan menyerah (Riyanti, 2003). Stoltz (2005) mendifinisikan adversity intelligence sebagai suatu respon individu dalam menghadapi situasi sulit dan bagaimana cara mengatasinya.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa adversity intelligence adalah suatu kemampuan individu untuk dapat bertahan dalam menghadapi situasi sulit hingga menemukan solusinya, memecahkan suatu permasalahan, mereduksi hambatan yang dihadapi, dan memperbaiki respon individu terhadap kesulitan.

2. Aspek-AspekAdversity Intelligence

Menurut Stoltz (2005), terdapat empat aspekadversity intelligenceyaitu:

a. Control

Control atau kendali adalah kemampuan individu untuk mengendalikan dan mengelola sebuah situasi yang menyebabkan kesulitan atau hambatan.

b. OrigindanOwnership

Origin atau asal-usul adalah kemampuan individu dalam mencari sumber kesulitan baik dari dirinya maupun dari individu lain ataupun lingkungan. Aspekoriginmerupakan pembukaan dari aspekownership.

Ownership mengungkap kesediaan individu mengakui akibat-akibat kesulitan dan kesediaan untuk bertanggung jawab atas kesalahan atau kegagalan tersebut.

c. Reach

Reach atau jangkauan adalah kemampuan individu dalam mengetahui bahwa kesulitan akan merambah dan menganggu aktivitas lain yang dimilikinya.

d. Endurance

Endurance atau daya tahan adalah kecepatan dan ketepatan individu dalam memecahkan suatu masalah serta dapat dilihat seberapa lama kesulitan akan berlangsung dan berapa lama penyebab kesulitan tersebut akan berlangsung.

Berdasarkan paparan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa adversity intelligence memiliki empat aspek, yaitu control, origin dan ownership, reach, dan endurance. Aspek-aspek tersebut digunakan dalam penelitian ini karena relevan dengan definisi konseptual adversity intelligence. Aspek-aspek ini telah digunakan pada penelitian Andiani (2016) serta Farelin dan Kustanti (2017).

26

3. KategoriAdversity Intelligence

Menurut Stoltz (2005), terdapat tiga kategoriadversity intelligenceyaitu:

a.Quitters

Quitters adalah kategori yang menggambarkan individu yang mudah menyerah atau meninggalkan tantangan yang dirasa sulit untuk diselesaikan.

b.Campers

Campers adalah kategori yang menunjukan individu yang mau memulai usaha untuk mencapai harapan dan tujuan, namun dapat mengakhiri usahanya ketika merasa bosan dan kehilangan fokus tujuan untuk mencapai hal tersebut.

c.Climbers

Climbersadalah individu yang berhasil mencapai tujuan, cita-cita, dan harapan karena mempersiapkan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi dan siap menghadapi segala tantangan.

Berdasarkan paparan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa adversity intelligence memiliki tiga kategori, yaitu quitters, campers, dan climbers. Individu dengan adversity intelligence yang rendah termasuk pada kategori quiiters. Sedangkan, individu dengan adversity intelligence yang tinggi termasuk pada kategoriclimbers.

C. Hubungan AntaraAdversity IntelligenceDan Kematangan Karir Pada Mahasiswa Bidikmisi Tahun Ketiga Fakultas Peternakan Dan

Pertanian Universitas Diponegoro

Mahasiswa yang menerima bidikmisi merupakan mahasiswa berasal dari keluarga yang berstatus ekonomi kurang mampu. Bidikmisi adalah bantuan biaya pendidikan yang berfokus kepada mahasiswa yang memiliki keterbatasan kemampuan ekonomi namun memiliki prestasi yang tinggi (Belmawa Ristekdikti, 2016). Dalam pencarian bantuan bidikmisi, mahasiswa menerima bantuan biaya hidup sebesar Rp. 3.900.000,00 per-semester. Kondisi di lapangan sering kali bantuan biaya hidup tersebut mengalami keterlambatan pengiriman. Hal tersebut pernah dikeluhkan mahasiswa penerima bidikmisi yang berkuliah di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di seluruh Indonesia yang mengeluhkan pencaraian beasiswa ke rekening mahasiswa selalu terlambat (Napitupulu, 2013).

Akibat dari keterlambatan pencairan bantuan bidikmisi, banyak mahasiswa yang terpaksa mencari pekerjaan di luar jam perkuliahan untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun hal ini memunculkan masalah baru, yaitu beberapa mahasiswa tidak memenuhi standar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang ditentukan masing- masing kampus karena harus membagi waktu antara bekerja dan kuliah.

Menurut sumber website Universitas Diponegoro (www.undip.ac.id) tentang jangka waktu dan komponen biaya bidikmisi, bantuan biaya bidikmisi diberikan selama 8 (delapan) semester untuk program Strata 1 (S1). Hal tersebut merupakan tuntutan institusi yang ditujukan untuk mahasiwa penerima bidikmisi.

Jika mahasiswa bidikmisi kuliah melebihi 8 (delapan) semester, maka bantuan

28

biaya hidup dapat dicabut dari mahasiswa. Seperti yang terjadi di Universitas Sebelas Maret (UNS), sebanyak 329 mahasiswa penerima bidikmisi gagal lulus tepat waktu (Murdianingsih, 2015). Gagalnya mahasiswa bidikmisi lulus tepat waktu, maka akan menimbulkan masalah-masalah baru yang akan dihadapi.

Tuntutan institusi lain yang wajib dipatuhi oleh mahasiswa penerima bidikmisi yaitu mahasiswa penerima bidikmisi Universitas Diponegoro diwajibkan memiliki IPK minimal 2.75. Jika mahasiswa memiliki IPK kurang dari yang sudah ditetapkan, maka menjadi pertimbangan bantuan bidikmisi dapat dicabut dan dialihkan kepada mahasiswa lain yang seangkatan dan memenuhi persyaratan penerima.

Berdasarkan uraian diatas mahasiswa bidikmisi dituntut untuk memiliki kemampuan dalam berpikir, mengontrol, mengelola, dan mengambil tindakan dalam menghadapi kesulitan, hambatan, atau tantangan, serta mengubah kesulitan maupun hambatan tersebut menjadi peluang untuk meraih kesuksesan yang disebut dengan adversity intelligence. Stoltz (2005) mendifinisikan adversity intelligence sebagai suatu respon individu dalam menghadapi situasi sulit dan bagaimana cara mengatasinya. Semakin tinggiadversity intelligenceyang dimiliki oleh individu maka semakin tinggi juga ketahan malangan yang dimiliki ketika menghadapi kesulitan dalam hidupnya (Wardiana, Wiarta, & Zulaikha, 2014).

Individu yang memiliki adversity intelligence yang tinggi menurut Stolz (2005) adalah individu yang optimis, berpikir dan bertindak dengan tepat dan bijaksana, mampu memotivasin dirinya sendiri, berani mengambil resiko, memiliki orientasi untuk masa depan, dan disiplin. Sedangkan individu dengan

adversity intelligence yang rendah, merupakan individu yang cenderung pesimis, berpikir dan bertindak tidak kreatif, tidak berani mengambil resiko, menyalahkan orang lain ketika dalam situasi sulit, lari dari permasalahan, tidak memiliki orientasi masa depan, dan menghindari tantangan yang ada. Oleh karena itu mahasiswa bidikmisi diharapkan memiliki adversity intelligence yang tinggi agar mampu mempersiapkan karirnya dengan matang walaupun adanya tuntutan dan permasalahan yang dihadapi.

Hasil penelitian sebelumnya telah menunjukan bahwaadversity intelligence yang tinggi, akan diikuti dengan kematangan karir yang tinggi juga (Khusna, Karyanta, & Setyanto, 2017). Menurut Stoltz (2005), aspek-aspek adversity intelligence terdiri dari control, origin dan ownership, reach, dan endurance.

Sedangkan menurut Super (dalam Sharf, 2010) aspek-aspek kematangan karir meliputi perencanaan karir, eksplorasi karir, informasi, pengambilan keputusan, dan orientasi. Aspek control adalah kemampuan individu untuk merespon kesulitan yang ada. Kesulitan yang ditemui oleh mahasiswa bidikmisi yaitu tugas- tugas dalam kuliah dan kesulitan dalam mencari jenis pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minatnya atau orientasi karirnya. Individu yang mampu mengendalikan diri dan pantang menyerah menyelesaikan tugas dalam rangka untuk mempersiapkan dan mencari informasi karir merupakan individu yang matang dalam perencanaan karir (Amalia & Muhari, 2013). Aspek origin dan ownership memiliki tanggung jawab atas pengambilan keputusan. Individu yang memiliki tanggung jawab yang tinggi, akan percaya diri atas pengambilan

30

keputusan karir yang diambil dan bertanggung jawab terhadap segala tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai karir yang diinginkan.

Pada masa remaja, individu akan mengalami masa transisi yakni masa dari anak-anak menuju masa dewasa. Salah satu tugas remaja dalam tahap perkembangannya adalah mempersiapkan masa depan termasuk karir (Havighurst, dalam Monks, Knoers, & Haditono, 1999). Mahasiswa bidikmisi tahun ketiga Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro memiliki rentang usia antara 18 hingga 22 tahun. Pada periode ini merupakan transisi remaja ke dewasa usia 18 sampai 25 tahun, perkembangan individu masih mengeksplorasi dan mempersiapkan jalur karir yang ingin dicapai di masa depan (Santrock, 2012).

Pemilihan karir yang dibuat oleh individu erat kaitannya dengan kematangan karir.

Berdasarkan tahapan perkembangan karir, usia 18 hingga 22 tahun termasuk pada tahap eksplorasi karir menurut teori Super (dalam Winkel dan Hastuti, 2013). Pada tahap ini meliputi upaya yang dilakukan individu untuk mendapatkan ide yang lebih baik dari informasi pekerjaan, memilih alternatif karir, memutuskan suatu pekerjaan, dan memulai bekerja. Tugas-tugas dalam perkembangan karir pada tahap eksplorasi ini yaitu kristalisasi, spesifikasi, dan implementasi karir. Status ekonomi keluarga dan tuntutan dari institusi pendidikan merupakan faktor yang dapat memengaruhi perkembangan dan kematangan karir pada suatu individu. Menurut penelitian Nurillah (2017) menunjukan kematangan karir yang telah dicapai mahasiswa merupakan indikator kemampuan dan konsekuensi mahasiswa dalam memaknai tugas-tugas perkembangan karir yang harus dijalani oleh setiap mahasiswa.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ketika individu yang mempunyai kegigihan serta mampu menghadapi situasi sulit dan mengetahui bagaimana cara mengatasinya, maka individu yang berada dalam tahap eksplorasi karir akan memiliki perencanaan karir yang matang, mampu mengeksplorasi karir, menggunakan informasi yang didapatkan untuk mempersiapkan karir, mengambil keputusan dengan tepat tentang karir, dan dapat menentukan karir sesuai dengan minat dan kemampuan yang dimiliki sehingga individu tersebut memiliki kematangan karir yang baik.

D. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan positif yang signifikan antara adversity intelligence dan kematangan karir pada mahasiswa bidikmisi tahun ketiga di Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro. Artinya, semakin tinggi adversity intelligence, maka semakin tinggi pula kematangan karir, dan sebaliknya, semakin rendah adversity intelligence, maka semakin rendah pula kematangan karir mahasiswa.

32 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel

Pada penelitian ini peneliti mengidentifikasikan variabel prediktor (X) dan variabel kriterium (Y). Adapun kedua variabel tersebut sebagai berikut:

a. Variabel prediktor :Adversity intelligence b. Variabel kriterium : Kematangan karir

B. Definisi Operasional 1. Kematangan Karir

Kematangan karir adalah kemampuan individu untuk menyelesaikan setiap tugas perkembangan karir yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan individu tersebut, meliputi fase pengembangan, eksplorasi, pemantapan, pembinaan, dan kemunduran. Pengukuran kematangan karir ini menggunakan Skala Kematangan Karir yang disusun oleh peneliti berdasarkan aspek-aspek yang diungkapkan oleh Super (dalam Sharf, 2010), yaitu perencanaan karir, eksplorasi karir, informasi, pengambilan keputusan, dan orientasi karir. Semakin tinggi skor yang diperoleh dalam Skala Kematangan Karir, menunjukan semakin tingginya kematangan karir yang dimiliki subjek penelitian.

2. Adversity Intelligence

Adversity intelligence adalah kemampuan individu dalam berpikir, mengontrol, mengelola, dan mengambil tindakan dalam menghadapi kesulitan, hambatan, atau tantangan, serta mengubah kesulitan maupun hambatan tersebut menjadi peluang untuk meraih kesuksesan. Pengukuran variabel adversity intelligence ini diungkap melalui Skala Adversity Intelligence yang disusun berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Stoltz (2005), yaitu kendali (control), asal-usul (origin), pengakuan (ownership), jangkauan (rich), dan daya tahan (endurance). Semakin tinggi skor yang diperoleh dalam SkalaAdversity Intelligence, menunjukan semakin tingginyaadversity intelligenceyang dimiliki subjek penelitian.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek atau objek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa bidikmisi tahun ketiga di Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro sebanyak 115 orang yang dipaparkan dalam Tabel 3.1.

34

Tabel 3.1

Populasi Mahasiswa Bidikmisi Tahun ke Tiga Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro

No. Program Studi Jumlah Mahasiswa

1. Peternakan 55

2. Teknologi Pangan 19

3. Agroekoteknologi 22

4. Agribisnis 19

Total 115

Sumber: Keputusan Rektor Universitas Diponegoro No. 36/UN7.P/HK/2017 2. Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang hendak diteliti serta dianalisis. Menurut Sugiyono (2014), sampel adalah bagian dari jumlah dan karakeristik yang dimiliki oleh populasi yang hendak diteliti. Apa yang dipelajari dari sampel yang diambil, kesimpulan dari penelitian tersebut dapat diberlakukan untuk populasi yang diteliti. Oleh karena itu, karakteristik sampel penelitian harus memiliki kesamaan dengan populasi (Azwar, 2013)

Menurut Arikunto (2013), apabila populasi kurang dari 100, lebih baik mengambil semua hingga penelitiannya disebut sebagai penelitian populasi.

Jika jumlah subjeknya lebih dari 100 dapat diambil 10-15% atau 20-55% atau lebih tergantung pada sedikit banyaknya dari:

1. Kemampuan peneliti ditinjau dari segi waktu, tenaga, dan dana

2. Luas wilayah pengamatan dari setiap subjek, karena hal ini berhubungan dengan banyak sedikitnya dana diperlukan.

3. Besar kecil resiko yang harus ditanggung peneliti.

Jumlah populasi mahasiswa mahasiswa bidikmisi tahun ketiga Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro yaitu

berjumlah 115 orang. Cara yang dilakukan dalam pengambilan sampel penelitian ini menggunakan teknik convenience sampling. Convenience sampling adalah teknik pengambilan sampel yang sewaktu-waktu dan anggota populasi yang ditemui bersedia menjadi responden untuk dijadikan sampel penelitian (Siregar, 2013).

Untuk menghitung penentuan sampel dari jumlah populasi dalam penelitian ini menggunakan Tabel Cohen Manion dan Morrison dengan taraf keyakinan penelitian 90% dan sampling error sebesar 10%.

Didapatkan sampel dari populasi berjumlah 115 orang berjumlah 83 responden.

D. Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan alat pengumpulan data berupa skala psikologi yaitu Skala Adversity Intelligencedan Skala Kematangan Karir.

Kelebihan yang dimiliki oleh skala biasanya pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan dapat lebih sistematik, terarah, dan lebih cermat. Penggunaan skala dapat memudahkan penulis menjaring data dari responden dalam jumlah yang besar dalam waktu yang relatif singkat. Jawaban dari skala dapat dimanifestasikan ke dalam angka-angka, tabel analisis statistik, dan uraian serta kesimpulan hasil penelitian. Dalam penelitian ini digunakan insturmen berdasarkan skalalikert.

Dokumen terkait