• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Pendidikan Agama Islam

5. Aspek-aspek Pendidikan Agama Islam

Nata (2001: 72) mengemukakan bahwa aspek kandungan materi dari pendidikan Islam secara garis besarnya mencakup aspek akidah, ibadah, dan akhlak. Aspek-aspek tersebut yaitu:

a. Akidah

Dalam dunia pendidikan aspek aqidah sering disebut dengan aspek kognitif. Menurut Muhibbin Syah (2003: 22) Istilah cognitive berasal dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti berarti mengetahui. Muhaimin (2004: 305-306) mendefinisikan kata aqidah dalam bukunya Wacana Pengembangan Pendidikan Islam. Kata

“aqidah” berasal dari bahasa Arab, yang berarti: “ma „uqida „alaihi wa al-dlamir”, yakni sesuatu yang ditetapkan atau yang diyakini oleh hati dan perasaan (hati nurani); dan berarti “ma tadayyana bihi al-insan wa i‟taqadahu”, yakni sesuatu yang dipegangi dan diyakini (kebenarannya) oleh manusia.

Dengan demikian secara etimologis, aqidah berarti kepercayaan atau keyakinan yang benar-benar menetap dan melekat di hati manusia.

Dalam arti luas, cognition (kognisi) ialah memperoleh, penataan dan penggunaan pengetahuan. Disebutkan pula, ranah psikologi siswa yang terpenting adalah ranah kognitif. Ranah kejiwaan yang berkedudukan pada otak ini, pada perspektif psikologi, kognitif adalah sumber sekaligus sumber ranah-ranah kejiwaan lainnya, yakni ranah afektif

(rasa) dan ranah psikomotor (karsa). Dijelaskan pula bahwa upaya pengembangan fungsi ranah kognitif sendiri melainkan juga dalam ranah afektif dan psikomotor jadi dapat disimpulkan bahwa aspek aqidah sangat penting karena aspek aqidah sangat mempengaruhi aspek ibadah (afektif) dan aspek akhlak (psikomotor). Menurut Piaget yang dikutip dalam Muhaimi (2002: 199), membagi proses belajar menjadi tiga tahapan, yaitu asimilasi, akomodasi dan equilibrasi. Dijelaskan pula, asimilasi adalah proses penyatuan (pengitegrasian) informasi baru ke struktur kognisi.

Pendidikan akidah terdiri dari pengesaan Allah tidak menyekutukannya dan mensyukuri segala nikmat-Nya. Larangan menyekutukan Allah terdapat dalam surat Luqman ayat 13:

ٌمْلُظَل َكْرِّشلا َّنِإ ِللهاِب ْكِرْشُتَلا ََّنَُ باَي ُوُظِعَيَوُىَو ِوِنْبِلا ُناَمْقُل َلاَق ْذِإَو ٌمْيِظَع

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Pada ayat ini, Luqman memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anaknya berupa akidah yang mantap, agar tidak menyekutukan Allah. Itulah akidah tauhid, karena tidak ada Tuhan selain Allah.

Karena yang selain Allah adalah makhluk Allah tidak berserikat dalam menciptakan alam ini.

b. Ibadah

Secara harfiah ibadah berarti bakti manusia kepada Allah SWT karena didorong oleh akidah atau tauhid. Menurut Majelis Tarjih Muhammadiyah ibadah adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diizinkan-Nya. (Abudin Nata, 2001: 82).

Ibadah dibedakan menjadi dua bagian yaitu Ibadah umum dan Ibadah khusus. Ibadah umum ialah segala sesuatu yang diizinkan Allah sedangkan ibadah khusus adalah segala sesuatu yang telah ditetapkan Allah lengkap dengan segala rinciannya, tingkat dan dengan cara- caranya yang tertentu.

Dalam dunia pendidikan aspek ibadah sering disebut dengan aspek psikomotorik (Muhibbin Syah, 2003: 54). mendefinisikan kecakapan psikomotor ialah segala amal jasmaniah yang konkret dan mudah diamati baik kuantitasnya maupun kualitasnya, karena sifatnya yang terbuka. Muhibbin Syah (2003: 54) berpendapat keberhasilan pengembangan ranah kognitif juga akan berdampak positif terhadap perkembangan ranah psikomotorik Dijelaskan pula oleh Nana Sudjana, (2005: 54.) seseorang yang berubah tigkat kognisinya sebenarnya dalam kadar tertentu telah berubah pula perilakunya. Muhaimin berpendapat (2002: 169) Pembelajaran PAI justru harus dikembangkan ke arah proses internalisasi nilai (afektif) yang dibarengi dengan aspek kognitif sehingga timbul dorongan yang sangat kuat untuk mengamalkan dan

mentaati pelajaran dan nilai-nilai dasar agama yang telah terinternalisasikan dalam diri peserta didik (psikomotori). Dari pernyataan tersebut dapat dismpulkan bahwa keberhasilan guru dalam mendidik peserta didik dapat dilihat dari aspek psikomotor yaitu bias atau tidakkah peserta didik itu mengaplikasikan mata pelajaran yang diberikan oleh guru ke dalam tingkah laku kehidupan sehari-hari.

c. Akhlak

Dalam dunia pendidikan aspek akhlak sering disebut aspek afektif. Menurut Muhimin (2003:306) kata “akhlak” (bahasa arab) merupakan bentuk jamak dari kata “khuluq”, yang berarti tabiat, budi pekerti, kebiasaan. Jadi bila kita berbicara tentang afektif, maka kita berbicara tentang sikap dan nilai siswa. Muhibbin (2003: 53) mengatakan keberhasilan pengembangan ranah kognitif tidak hanya akan membuahkan kecakapan kognitif tetapi juga menghasilkan kecakapan ranah afektif. Ia juga mengatakan keberhasilan pengembangan ranah kognitif juga akan berdampak positif terhadap perkembangan ranah afektif. Peningkatan kecakapan afektif ini antara lain, berupa kesadaran beragama yang mantap. Dampak positif lainnya inilah dimilikinya sikap mental keagamaan ysng lebih tegas dan lugas sesuai dengan tuntunan ajaran agama yang telah diilhami dan diyakini secara mendalam.

Dalam Al Qur’an surat Luqman ayat 12-15 dijelaskan tentang tujuan dari pendidikan Islam, dalam aspek aqidah yang meliputi

keyakinan agama kesadaran moral dan tanggung jawab sosial (Uhbiyati, 2005:152)

1) Keyakinan Agama

Dalam menanamkan keyakinan agama, pesan Luqman menekan 3 aspek penting, yaitu:

a) Keyakinan tauhid yang sebersih-bersihnya

b) Kesadaran akan kemakhlukan kita yang wajib menyukuri segala karunia Tuhan.

c) Kesadaran bahwa segala gerak gerik kita yang nampak maupun yang tersembunyi tidak lepas dari pengetahuan dan pengawasan Tuhan.

Untuk menumbuhkan, memupuk dan memantapkan keyakinan agama itu, Luqman berpesan kepada anaknya agar mendirikan sholat. Ini berarti melaksanakan ibadah harus dibiasakan semenjak kecil. Dari kutipan diatas bisa disimpulkan bahwa aspek aqidah sangat mempengaruhi aspek akhlak. Bila diaplikasikan dalam dunia pendidikan yaitu dengan menanamkan pengetahuan (aspek aqidah) maka peserta didik dapat mengerti tentang bagaimana ia menilai suatu perbuatan disekitarnya (aspek akhlak).

2) Kesadaran Moral

Perkembangan kesadaran moral dalam diri anak, sebagaimana dicontohkan oleh Luqman, berpangkal kepada kemampuan membedakan antara yang makruf, yakni hal-hal yang

tidak bertetangan dengan nilai-nilai agama dan nilai-nilai moral dan yang mungkar yakni hal-hal yang mengganggu dan menimbulkan kerusakan pada kehidupan manusia.

3) Tanggung Jawab Sosial

Nana Sudjana (2005:153) mengatakan tanggung jawab sosial dapat diwujudkan sikap:

a) Berbuat baik dan hormat epada orang lain, lebih-lebih mereka yang berjasa kepada kita seperti orang tua kita sendiri.

b) Bergaul dengan baik walaupun dengan orang yang berbeda keyakinan dengan kita.

c) Tidak berlagak, sombong dan angkuh kepada orang lain.

Setelah dibahas tujuan mengapa kita harus menanamkam aspek akhlak, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana memananmkan aspek tersebut pada diri peserta didik. Dr. Asma Hasan Fahmi mengemukakan cara-cara pendidikan Akhlak yang dikutip Nur Uhbiyati (2005:153) adalah sebagai berikut:

1) Memberi petunjuk dan pendekatan dengan cara menerangkan mana yang baik dan mana yang buruk, menghafal syair-syair, cerita-cerita dan nasihat-nasihat yang baik, menganjurkan untuk melakukan budi pekerti yang baik dan akhlak yang mulia. Selain itu ketika peserta didik melakukan kesalahan, pendidik harus mengingatkan dengan menggunakan kata-kata yang baik dan sebijak mungkin sehingga

peserta didik paham atas kesalahannya dan tidak melakukan kesalahn yang sama.

2) Mempergunakan instink untuk mendidik anak-anak dengan cara:

a) Anak-anak suka dipuji dan disanjung untuk memenuhi keinginan instink berkuasa dan ia takut celaan dan cercaan. Maka oleh karena itu kalau anak-anak mengerjakan sesuatu yang baik hendaklah dipuji dan menggemarkan dia melawan hawa nafsu dan menjauhkan diri dari ketamakan, baik yang dalam makanan minuman maupun dalam segala kelezatan pada umumnya, dan menimbulkan kesukaan pada dirinya untuk mengutamakan orang lain atas dirinya sendiri, serta ia dicela kalau menginginkan makanan dan pakaian megah.

b) Mempergunakan instink meniru. Sesuai dengan hai ini para pendidik islam haruslah orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang utama dan berakhlak karena anak-anak akan menuruti jejak gurunya, apa yang dianggap jelek oleh guru, maka jeleklah dalam pandangan anak-anak, sebaliknya apa yang dianggap baik oleh guru, maka baiklah dalam pandangan anak-anak.

c) Memperhatikan instink bermasyarakat. Anak-anak disuruh belajar di tempat-tempat yang sudah ada anak-anak yang lain sesuai dengan instink utuk bermasyarakat yang terdapat dalam dirinya.

Apabila instink bermasyarakat ini telah dipenuhi, akan memberi efek dalam segi-segi lain dari kehidupannya, seperti ia akan

merasa bangga dengan anak-anak lain yang telah dikenalnya, dan akan membangkitkan semangat apabila ia melihat kemajuan yang telah dicapai oleh kawan-kawannya, sehingga iapun mau bekerja untuk mencapai cita-citanya.

d) Mementingkan pembentukan adaptasi kebiasaan dan keinginan- keinginan semenjak kecil, seperti membiasakan anak-anak bangun cepat diwaktu pagi, berjalan, bergerak, gerak badan dan naik kuda dan membiasakan tidak membuka anggota badan dan tidak menurunkan tangan, tidak cepat berjalan, tidak memanjangkan rambut, tidak memakai pakaian wanita, tidak meludah dalam majlis, tidak membuang ingus atau menguap didepan orang lain, tidak meletakkan kaki atas kaki yang lain,tidak berbohong, tidak bersumpah baik benar atau bohong dan membiasakan patuh kepada ibu-bapak dan guru-guru.

Menurut Haidar Putra Daulay (2007:220) di dalam pendidikan akhlak yang dilaksanakan pada saat Pendidikan Agama ada beberapa hal yang masih perlu mendapatkan perhatian karena hasilnya belum optimal yaitu:

1) Terlalu Kognitif, pendekatan yang dilakukan terlalu berorientasi pengisian otak, memberi tahu mana yang baik dan mana yang buruk, yang sepatutnya dilakukan dan yang tidak sepatutnya dilakukan dan seterusnya. Aspek afektif dan psikomotornya tidak tersinggung.

Kalaupun tersinggung sangat kecil sekali.

2) Problema yang bersumber dari anak didik sendiri yang berasal latar belakang keluarga yang beraneka ragam, yang sebagian sudah ada yang tertata dengan baik akhlaknya ada yang belum.

3) Terkesan bahwa tanggungjawab pendidikan agama tersebut berada dipundak guru agama saja. Keterbatasan waktu; ketidakseimbangan antara waktu yang tersedia bobot materi pendidikan agama yang sudah dirancangkan.

Dokumen terkait