BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DESA LEWONAMA KECAMATAN
B. Pemerintah Desa
2. Badan Permusyawaratan Desa
Struktur Organisatoris dan Kepengurusan/Pejabat BPD untuk Periode Tahun 2018-2022 adalah :
Sumber : Kantor Desa Lewonama
a. Ketua : Paulus Pati Moron b. Wakil Ketua : Agustinus Kebaku Lion c. Sekretaris : Alfons Amasuba Sabon d. Anggota : Theresia Ene Kein e. Anggota : Martinus Mura Krowin
Administrasi Pemerintahan meliputi upaya penertiban administrasi pemerintah serta pelaksanaan reportase secara teratur dan memadai dalam bentuk Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (LPPD), Informasi Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (IPPD),
Ketua BPD
Wakil Ketua
Sekretaris
Anggota Anggota
81
Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ), SPJ dan lain-lain serta pelbagai program penataan peraturan perundang-undangan atau produk hukum desa melalui Peraturan Desa (Perdes), Peraturan Kepala Desa (Perkepdes) dan Surat Keputusan (SK) lainnya dalam rangka meningkatkan pelayanan publik dan menjamin kepastian hukum.
Administrasi Kependudukan meliputi peningkatan kualitas layanan administrasi kependudukan bagi masyarakat dengan proses cepat dan akurat serta biaya yang terjangkau. Antara lain dalam pelayanan administrasi; Surat Keterangan Kelahiran/Kematian, Surat Keterangan Nikah/Belum Nikah, Surat Keterangan Domisili/Pindah Penduduk/Pengantar KK, Surat Keterangan SITU/SKTU/IMB/
SKTM/SKKB dll.
1) Kearsipan
Pelaksanaan urusan kearsipan digunakan sebagai sumber informasi, acuan serta bahan pertanggungjawaban dari pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah desa melalui pengelolaan, penataan dan dokumentasi arsip secara baik dan berkesinambungan. Antara lain melalui pendataan aset pemerintah desa baik dari segi kepemilikan tanah, bangunan dan lain-lain.
82 2) Pertanahan
Urusan pertanahan dilaksanakan dalam mewujudkan kepastian status kepemilikan hak atas tanah baik yang dikuasai oleh pemerintah daerah, desa dan masyarakat. Pembenahan mendasar dilakukan melalui upaya sistemik penyelesaian sengketa dan konflik pertanahan, pembentukan kelompok mediator pembebasan tanah dll. Pemerintah juga secara terus menerus melakukan sosialisasi dan fasilitasi berbagai konflik- konflik pertanahan warga dan fasilitas umum lainnya yang terjadi dalam wilayah Desa.
102 BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian di lapangan maka pada bab ini peneliti dapat mengambil kesimpulan dari Tata Kelola Desa Terhadap Pelayanan Publik Pasca Pemekaran di Desa Lewonama, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur yaitu;
1. partisipasinya sangat luar biasa, partisipasi sendiri sebenarnya telah ada sebelum pemekaran.baik, hsl ini dilihat dari temuan dilapangan yang masyarakat sangat antusias dalam bergotong royong
2. Responsivitas dinilai sudah baik, hal ini terlihat dari beberapa temuan dilapangan bahwa daya tanggap pemerintah sangat baik baik hal ini dilihat dari perencanaan yang akan dilaksanakan seperti pengadaan mesin dinamo air, dan untuk temuan terkait keluhan masyarakat terkait dengan bantuan seperti, BLT, BST, dan PKH sebenarnya bantuan ini pemerintah desa hanya sebagai perpanjangan tangan baik dari pemerintah daerah, dan pemerintah pusat.
3. Untuk transparansi diharapkan pemerintah desa lebih terbuka mengenai informasi, hal ini ditunjukan dari beberapa temuan tentang komunikasi yang kurang baik terkait dengan deklarasi program STBM ( Sanitasi Total Berbasis Masyarakat). Sedangkan untuk trnsparansi anggaran untuk pembangunan pemerintah Desa sangat terbuka untuk anggaran untuk pembangunan desa.
103 B. SARAN
Setelah melakukan penelitian dan pengamatan di Desa Lewonama Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur. Maka penelitian ingin memberikan saran kepada Pemerintahan Desa dengan judul penelitian tentang dampak pemekaran desa terhadap partisipasi, responsivitas dan transparansi pelayanan publik agar kedepannya penyelenggaraan pemerintah dalam pelayanan publik menjadi lebih baik.
1. Dampak pemekaran desa terhadap partisipasi, pemerintah desa sebaiknya melakukan sosialisasi/penyuluhan terkait pentingnya pembebasan tanah untuk mendukung pembangunan infrastruktur desa seperti jalan raya dan lain-lainnya.
2. Dampak pemekaran desa terhadap responsivitas, pemerintah desa sebaiknya melakukan promosi terhadap kain tenun yang merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat desa sehingga daya jual kain tenun meningkat. Promosi ini dapat melalui media social berupa instagram, facebook dll.
3. Dampak pemekaran desa terhadap responsivitas, pemerintah desa dapat meningkatkan pengawasan dan juga melakukan evaluasi setiap bulannya terhadap masyarakat sehingga apabila terdapat kendala atau keluhan masyarakat desa pada program desa tersebut dapat segera diatasi.
4. Dampak pemekaran desa terhadap responsivitas, pemerintah desa dapat memberikan pembekalan atau kursus terhadap anak muda desa atau
104
peminjaman modal kepada anak muda atau masyarakat desa sehingga dapat membantu masyarakat dalam meningkatkan ekonomi desa.
5. Dampak pemekaran desa terhadap transparansi, pemerintah desa harus lebih transparan terkait dengan program-program yang akan dilaksanakan di desa dan terhadap masyarakat desa yang mendapatkan bantuan dari pemerintah. Pemerintah desa dapat memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar masyarakat dapat lebih mengerti dan memahami terkait dengan program yang akan dilaksanakan serta masyarakat juga mengerti bahwa pemerintah desa hanya merupakan pihak yang melanjutkan perpanjangan tangan tangan dari pemerintah pusat, bukan sebagai pihak yang menentukan penerima bantuan.
105
DAFTAR PUSTAKA
Agus Dwiyanto. 2014. Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik. Gajah Mada University Press
Anaisa, M. A., Juhaepa, M. S., & Sos, S. S. Dampak Pemekaran Wilayah Desa terhadap Pelayanan Publik.
Christo Rd Waralah. 2008. http://www.artikata.com/arti324325- Dampak.
Httm. (diakses tanggal 21-7-2014).
Handoyo, E. (2012). Kebijakan Publik. Semarang: Widya Karya.
Hikmah, Arif. 2009. Pengertian Tentang Dampak. Jakarta: Bandung Alfabeta http://stbm.kemkes.go.id/app/news/11900/sosialisasi-germas-dengan- pendekatan-lima-pilarstbm-ke-masyrakat) diakses pada tanggal 29 Januari 2022
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M.PAN/7/2003 Tentang Pendoman Umum Pelayanan Publik
Keraf, Gorys. 1998. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Miles, Mathew B., dan A. Michael Huberman. 1994. An Expanded Sourcebook:
Qualitative Data Analysis. London: Sage Publications. Memahami, S.
(2007). Penelitian Kualitatif.
Moleong, Lexy J. 2018. Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi), Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Subarsono. (2008). Analisis Kebijakan Publik: Konsep, Teori, dan Aplikasi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kualitatif. Alfabeta, Bandung Sugiyono. (2016). Sugiyono, Metode Penelitian. In Sugiyono.
Telung, U., & Kairupan, M. M. J. (2019). Dampak Pemekaran Desa Dalam Menjaga Keamanan Dan Ketertiban Masyarakat (Studi Di Desa Raringis, Raringis Utara, Raringis Selatan, Kecamatan Langowan Barat). Jurnal Eksekutif, 3(3), 1–8.
Sapi‟Idkk.2013. “Dampak Pemekaran Desa terhadap Pembangunan Infrastruktur Desa Pecahan, Studi Kasus Pemekaran Desa Bagorejo Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember”.1, 1: 2-3.
106
Romario Batita F. D. J. Lengkong Deysi. L. N. Tampongangoy, Dampak Kebijakan Pemekaran Desa Pada Pelayanan Publik Di Desa Gamsida Kecamatan Ibu Selatan Kabupaten Halmahera Barat; JAP No. 111 Vol.
VII 2021
Kartini, F. (2016). Dampak Kebijakan Pemekaran Desa pada Aspek Pelayanan Publik Di Desa Sadar Kecamatan Bone-Bone Kabupaten Luwu Utara.
Universitas Negeri Makassar.
Hardiyansyah, H. (2018). Kualitas Pelayanan Publik: Kon (Kartini, 2016) sep, Dimensi, Indikator dan Implementasinya. Gava Media.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga: Jakarta balai Pustaka, 2002 Undang-Undang No 6 Tahun 2014 Tentang Desa
Undang-Undang No 23 Tahun 2014 Tentang Desa
Undang-Undang No 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik
PEDOMAN WAWANCARA Pertanyaan
1. Apakah Tata Kelola desa pasca pemekaran desa terhadap partisipasi dalam pelayanan sudah maksimal?
2. apakah ada upaya dari masyarakat untuk memberikan aspirasi untuk membenahi permasalahan tersebut.
3. Apakah Tata Kelola desa pasca pemekaran desa pemekaran desa terhadap responsivitas pelayanan, baik itu pelayanan secara tepat waktu, memberikan jaminan dalam pelayanan, serta ketanggapan aparat desa dalam memberikan kepastian biaya pelayanan, contohnya apakah ada nominal harga yang diberikan kepada masyarakat agar berkas mereka diurus oleh aparat, transportasi laut?
4. Bagaimana Tata Kelola desa pasca pemekaran desa pemekaran desa terhadap transparansi pelayanan di desa Lewonama, baik itu dari program pemerintah desa, mulai dari pembangunan sarana prasarana publik, untuk bidang kesehatan, dan transparansi alokasi dana desa? Apakah pemerintah desa desa sudah melaksanakannya?
LAMPIRAN 1. Aparat Desa Lewonama
2. Badan Permusyawaratan Desa Lewonama
3. Masyarakat Desa Lewonama
4. Surat Penunjukan Dosen Pembimbing Skripsi
5. Surat Permohonan Izin Penelitian
6. Surat Tugas