BAB II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan Pustaka
4. Bahasa Ragam Jurnalistik
37
pengembangan dimensi kedekatan geografis dan kendekatan psikologis.
3. Pers Regional : berkedudukan di ibukota provinsi.
Sirkulasinya meliputi seluruh kota yang terdapat dalam provinsi itu.
4. Pers nasional : kebanyakan berkedudukan di ibukota negara. Wilayah sirkulasinya meliputi seluruh wilayah yang terjangkau aleh sarana transportasi. Kebijakan redaksionalnya lebih banyak menekankan masalah, isu, aspirasi, tuntutan dan kepentingan nasional.
5. Pers Internasional : hadir di sejumlah negara dengan menggunakan teknologi sistem cetak jarak jauhdengan pola pengembangan zona atau wilayah.
38
memperhatikan ejaan yang benar, dalam kosa kata bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat.
Wojowasito (2010:110) : Bahasa ragam jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa sebagai tampak dalam harian-harian dan majalah-majalah. Dengan fungsi yang demikian itu bahasa tersebut haruslah jelas dan mudah dibaca oleh mereka dengan ukuran intelek yang minimal. Sehingga sebagian besar masyarakat yang melek huruf dapat menikmati isinya. Walaupun demikian tuntutan bahwa bahasa jurnalistik harus baik, tak boleh ditinggalkan. Dengan kata lain bahasa jurnalistik yang baik haruslah sesuai dengan norma-norma tata bahasa yang antara lain terdiri atas susunan kalimat yang benar, pilihan kata yang cocok.
Badudu (1992:49): bahasa surat kabar harus singkat, padat, sederhana, jelas, lugas, tetapi selalu menarik. Sifat-sifat itu harus dipenuhi oleh bahasa surat kabar mengingat bahasa surat kabar dibaca oleh lapisan-lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya. Mengingat bahwa orang tidak harus menghabiskan waktunya hanya dengan membaca surat kabar.
Harus lugas, tetapi jelas, agar mudah dipahami. Orang tidak perlu mesti mengulang-ulang apa yang dibacanya karena ketidakjelasan bahasa yang digunakan dalam surat kabar.
Romli (2003:34) Bahasa Jurnalistik/ Language of mass communication. Bahasa yang biasa digunakan wartawan untuk
39
menulis berita di media massa. Sifatnya: (1) komunikatif, yakni langsung menjamah materi atau ke pokok persoalan (straight to the point), tidak berbunga-bunga, dan tanpa basa-basi. Serta (2) spesifik, yakni jelas atau mudah dipahami orang banyak, hemat kata, menghindarkan penggunaan kata mubazir dan kata jenuh, menaati kaidah-kaidah bahasa yang berlaku (Ejaan yang disempurnakan), dan kalimatnya singkat-singkat.
Debdikbud (2005:78): Bahasa jurnalistik adalah salah satu ragam bahasa Indonesia, selain tiga lainnya ragam bahasa undang-undang, ragam bahasa ilmiah, dan ragam bahasa sastra.
Dewabrata: Penampilan bahasa ragam jurnalistik yang baik bisa ditengarai dengan kalimat-kalimat yang mengalir lancar dari atas sampai akhir, menggunakan kata-kata yang merakyat, akrab di telinga masyarakat sehari-hari; tidak menggunakan susunan yang kaku formal dan sulit dicerna. Susunan kalimat jurnalistik yang baik akan menggunakan kata-kata yang paling pas untuk menggambarkan suasana serta isi pesannya. Bahkan nuansa yang terkandung dalam masing-masing kata pun perlu diperhitungkan.
Kurnia (2002:134) (bahasa surat kabar), bahasa jurnalistik adalah suatu jenis bahasa tertulis yang memiliki sifat-sifatnya dengan bahasa sastra, bahasa ilmu atau bahasa buku pada umumnya. Kurniawan Junaedhie (Ensiklopedi Pers Indonesia), bahasa jurnalistik adalah bahasa yang digunakan oleh penerbitan
40
pers. Bahasa yang mengandung makna informatif, persuasif, dan yang secara konsensus merupakan kata-kata yang bisa dimengerti secara umum, harus singkat tapi jelas dan tidak bertele-tele.
Ajidarma (2005:90), bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa dengan pilihan kosakata yang sederhana agar dapat dipahami oleh segenap lapisan masyarakat.
Pada lapisan masyarakat masih ada sebagian orang begitu sisnis memandang bahasa yang digunakan kaum jurnalis.
Pasalnya, bahasa jurnalistik terlanjur dianggap sebagai perusak bahasa terbesar.bahasa jurnalistik seolah-olah dianggap sebagai bahasa lain yang tak pantas dilirik. Padahal bahasa yang gunakan para pewarta pun bahasa Indonesia. Bahkan para sesepuh jurnalistik kerap mengatakan bahwa bahasa jurnalistik itu harus berstandar pada bahasa baku. Bila tidak, penggunaan bahasa si pewarta akan dianggap kurang baik.
Tengok saja apa yang dikatakan pakar bahasa kita. Menurut Wojowasito (dalam Anwar, 1991:31), bahasa jurnalistik yang baik haruslah sesuai dengan norma tata bahasa yang antara lain terdiri atas susunan kalimat yang benar, pilihan kata yang cocok. Moeliono (1989:8), yang konsultan pusat bahasa pun mangatakan bahwa laras bahasa jurnalistik tergolom ragam bahasa baku.
Terbuktilah bahwa bahasa Indonesia jurnalistik tidaklah berbeda dengan bahasa Indonesia baku. Yang membedakan antara
41
keduannya hanyalah penggunaannya. Karena digunakan sebagai media penyampai informasi, bahasa yang digunakan di media massa memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan bahasa yang digunakan untuk keperluan lain. Ishwara (2005:12) mangatakan,
“Bahasa jurnalistik memunyai sifat khas”. Harsono (2008:142) menambahkan bahwa bahasa jurnalistik memiliki kekhasan diksi yang dicirikan oleh upaya ekonomi kata, kekhasan pengalimatan yang ditandai oleh pemendekan kalimat.
Menurut Badudu (1992:62), bahasa jurnalistik itu harus sederhana, mudah dipahami, teratur, dan efektif. Bahasa yang sederhana dan mudah dipahami menggunakan kata dan struktur kalimat yang mudah dimengerti pemakai bahasa umum. Bahasanya teratur berarti setiap kata dalam kalimat sudah ditempatkan sesuai dengan kaidah. Efektif, bahasa pers haruslah tidak bertele-tele, tetapi juga tidak harus berhemat sehingga maknanya menjadi kabur.
Yang membuat orang rancu ialah membandingkan bahasa media massa dengan bahasa buku. Bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan buku memang sangat dijaga agar sesuai dan benar dengan kaidah dan keresmian bahasa baku. Adapun bahasa Indonesia yang digunakan dalam media massa lebih mendekati bahasa sehari-hari. Jelas saja, karena menggunakan ukuran yang berbeda, dan si penilai sangat normatif, bahasa media massa dianggap kurang baik. Padahal tidak seperti itu. Bukankah pemakai
42
bahasa yang baik adalah yang sesuai dengan lingkungan dan kesempatan.
Jadi bahasa jurnalistik itu apa? Bahasa jurnalistik adalah bahasa yang digunakan oleh pewarta atau media massa untuk menyampaikan informasi. Bahasa dengan ciri khas yang memudahkan penyampaian berita dan komunikatif. Bahasa jurnalistik juga memunyai kaitan dengan sastra dan masyarakat.
Bahasa jurnalistik yang ditulis dalam bahasa Indonesia juga harus dapat dipahami oleh pembaca di seluruh nusantara. Bahasa Indonesia juga mengenal berbagai ragam bahasa, termasuk dialek.
Bila surat kabar, majalah, tabloid, dan sebagainya menggunakan bahasa Indonesia dengan salah satu dialek tertentu, besar kemungkinannya tulisan dalam surat kabar/majalah tersebut tidak dapat dipahami oleh pembaca di seluruh nusantara. Seperti dikemukakan oleh Badudu, bahasa baku, baik lisan maupun tulisan dipakai oIeh golongan masyarakat yang paling Iuas pengaruhnya dan paling besar wibawanya.
Bahasa Indonesia baku itulah yang seharusnya digunakan dalam bahasa jurnalistik agar dapat dipahami oleh pembaca di seluruh tanah air. Karena itu, bahasa jurnalistik sama sekali tidak berbeda dengan bahasa Indonesia baku, bahasa Indonesia yang digunakan dalam komunikasi resmi: pidato resmi kenegaraan, surat- menyurat resmi, menulis Iaporan resmi, menulis buku ajar,
43
makalah (paper), skripsi, tesis, disertasi, undang-undang, peraturan pemerintah, dan sebagainya. Jadi, kalau pada kenyataannya ada sedikit perbedaan antara bahasa jurnalistik dengan bahasa Indonesia baku, bukan pada hakikatnya memang harus berbeda. Akan tetapi, perbedaan itu lebih disebabkan oleh faktor-faktor yang bersifat teknis di samping kurangnya kemampuan berbahasa para jurnalis dan redaktur surat kabar yang bersangkutan, seperti telah disinggung di muka.
Bahasa ragam jurnalistik harus efektif karena bahasa akan mencapai sasaran. Ini sejalan dengan yang dimaksudkan (Moeliono, 1989:13). Bahasa Indonesia jurnalistik yang efektif membuahkan hasil atau efek yang diharapkan pembicaraan karena cocok atau relevan dengan peristiwa atau sesuai dengan keadaan yang menjadi latamya. Bahasa Indonesia jurnalistik yang efektif ialah bahasa yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku.
Paragraf yang efektif memiliki ciri keutuhan, perpautan, penempatan pumpunan (fokus) kalimat, kehematan kata (efisiensi), dan variasi. Keutuhan itu dinyatakan oleh keutuhan struktur kalimat dan kesatuan logika yang jalin menjalin. Jika salah satu unsur tidak ada, maka unsur itu berhadapan dengan penggalan yang bukan kalimat. Perpautan di dalam kalimat menyangkut pertalian di antara unsur-unsurnya.
44
a. Ciri-ciri Bahasa Ragam Jurnalistik 1) Ciri-ciri Umum
Bahasa jumalistik memiliki sifat-sifat yang khas: singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar, dan jelas (Sutopo, 2002:138). Ciri-ciri tersebut harus dipenuhi oleh bahasa jurnalistik, bahasa surat kabar, mengingat surat kabar dibaca oleh lapisan masyarakat yang tidak sarna tingkat pengetahuannya, dari warga masyarakat yang berpendidikan dasar sampai dengan warga masyarakat yang berpendidikan tinggi. Di samping itu, tidak semua orang harus menghabiskan waktunya hanya untuk membaca surat kabar. Oleh karena itu, bahasa jumalistik sangat mengutamakan kemampuan untuk bisa menyampaikan semua informasi yang dibawanya kepada pembaca secepatnya. Dengan kata lain, bahasa jurnalistik lebih mengutamakan daya komunikasinya.
2) Ciri-ciri Khusus a) Singkat
Bahasa jurnalistik harus singkat, artinya bahasa jurnalistik harus menghindari penjelasan yang panjang- panjang dan bertele-tele.
b) Padat
Bahasa jurnalistik juga harus padat, artinya bahasa jurnalistik yang singkat itu harus sudah mampu
45
menyampaikan informasi yang selengkaplengkapnya dan sepadat-padatnya. Semua infonnasi yang diperlukan pembaca harus sudah tertampung di dalamnya. Dalam istilah jumalistik, artinya ia harus memenuhi syarat 5W+1H.
c) Sederhana
Bahasa jurnalistik yang sederhana, artinya bahasa jurnalistik harus dibuat sedapat-dapatnya memilih kalimat tunggal yang sederhana. Kalimat tersebut bukan kalirnat- kalimat majemuk yang panjang, rumit, dan kompleks, apalagi sampai beranak bercucu. Kalimat yang efektif, yang praktis, yang jurnalistis ialah kalimat yang sederhana dengan pemakaian pemilihan kata yang secukupnya saja, tidak berlebihan, dan berbunga-bunga (bombastis).
Membuang kata yang mubazir asal tidak mengubah makna informasi tentu tidak dilarang. Tindakan membuang kata yang mubazir ini merupakan langkah yang efektif dan menimbulkan efisiensi kalimat (Effendy, 1993: 136).
d) lugas
Bahasa jurnalistik harus lugas artinya ia harus mampu menyampaikan pengertian atau makna informasi secara
46
langsung dengan menghindarkan bahasa yang berbunga- bunga (bombastis).
e) Menarik
Bahasa jurnalistik harus menarik, artinya bahasa jurnalistik selalu memakai kata-kata yang masih hidup, tumbuh, dan bekembang, menghindari kata-kata dan ungkapan-ungakapan klise dan yang sudah mati. Tuntutan menarik inilah yang membuat bahasa jurnalistik harus selalu mengikuti perkembangan bahasa yang hidup di tengah-tengahmasyarakat, termasuk istilah-istilah yang baru muncul di tengah masyarakat pembaca.
f) Jelas
Bahasa jurnalistik harus jelas, artinya informasi- informasi yang disampaikan jurnalis dengan mudah dapat dipahami oleh khalayak umum (pembaca). Dengan demikian, struktur kalimatnya harus benar dan tidak menimbulkan penyimpangan pengertian/makna, menghindari ungkapan bersayap atau bermakna ganda (ambigu). Oleh karena itu, ditekankan agar bahasa jurnalistik memakai kata-kata yang bermakna denotatif.
Kendati demikian, seperti telah disinggung di muka, Rosihan Anwar, J.S. Badudu, Ras Siregar, dan sejumlah pakar bahasa dan jurnalistik lainnya sepakat dan
47
sependapat bahwa bahasa jurnalistik tetap didasarkan pada bahasa baku serta norma-norma, dan kaidah-kaidah bahasa Indonesia.
b. Bahasa Jurnalistik dan Sastra
Kebebasan penggunaan bahasa di media massa sempat iri para sastrawan. Karena itu sastrawan lantas ramai-ramai menjadi wartawan. Barangkali begitu yang terlintas di benak orang ketika melihat begitu banyak sastrawan menjadi wartawan di majalah tempo. Majalah ini memang fenomenal. Kehadirannya beberapa tahun yang lalu langsung menggebrak dunia penulisan jurnalistik.
Mungkin karena dunia jurnalistik dan sastra sama-sama menuntuk kreativitas dalam berbahasa, ketika sastrawan menjadi wartawan tidak merasa berpindah dunia. Gorys Keraf kepada harian Berita Buana (17 April 1991), dalam bahasa jurnalistik ada kemerdekaan pengungkapan seperti halnya bahasa sastra.
Itulah mengapa bahasa dalam tulisan jurnalistik masa kini lebih kaya warna. Bahasa jurnalistik tidak lagi menjadi bahasa yang kering yang cuma bertugas menyampaikan informasi. Selain informasi, pembaca kini juga disuguhi bahasa yang enak dan indah. Penulis berita bukan cuma memilih kata yang tepat agar penyampaian berita tepat sasaran, melainkan juga agar menimbulkan efek bunyi yang enak (eufoni). Oleh karena itu beberapa media mengharamkan satu kata diulang berkali-kali
48
dalam kalimat agar kalimat tidak membuat pembaja menjadi jenuh karena bersifat menoton. (Djajasudarma, 2001:44).
Bahasa yang digunakan dalam refortase dan sastra agaknya sudah semakin tipis perbedaannya. Tidak hanya bahasa, tulisan jurnalistik dan sastra pun hampir tidak ada bedanya. Bukankah Ernest Hemingway, ketika bekerja sebagai wartawan, pernah dengan cueknya mengirim satu cerita pendek sebagai laporan jurnalistik pada masa perang dunia II. Malah Hasan Junus (Kompas, 8 Oktober 1999), mengatakan suatu tulisan akan dipandang benar-benar sebagai karya sastra ketika dipandang dari sudut pandang sastra. Tetapi, ketika dipandang dari sudut jurnalistik tulisan itu benar-benar menjadi karya jurnalistik.
c. Bahasa Jurnalistik dan Masyarakat
Sejak awal keberadaannya, bahasa jurnalistik sudah membedakan diri dengan bahasa yang sangat resmi. Tengoklah koran Sin Po, Hong Po, atau Keng Po. Bahasa yang digunakan koran-koran itu adalah bahasa sehari-hari, melayu tionghoa.
Hingga kine kendati, kendati menggunakan bahasa yang cenderung resmi, seperti Kompas tetap saja itu merupakan bahasa sehari-hari yang tidak sama persis dengan bahas resmi.
Karena itu tak salah bila ada yang mengatakan bahwa bahasa jurnalistik adalah cerminan bahasa masyarakat.
Pasalnya, bahasa yang digunakan media massa adlah bahasa
49
yang hidup atau dipakai masyarakat. Namun demikian Harsono tak sependapat. Menurut guru besar linguistik ini (2008:44), yang terjadi kini justru bahasa media massa dipakai sebagai model penggunaan bahasa. Disinilah bukti bahwa media massa mampu membentuk opini masyarakat. Cobalah kita lihat lebih teliti keadaan di awal era reformasi ini. Media lebih banyak menggunakan kosakata yang lebih tegas. Selain itu kosakata yang bersifat agak barbar juga menghiasi halaman media massa kita. Hal ini terjadi, menurut pakar komunikasi Zaenuddin (2007:72), merupakan euforia politik karena yang selama ini terbendung sekarang bobol. Semua yang dulu dihalus-haluskan, sekarang dibuka blakblakan. Akibatnya kata-kata seperti sikat, bakar, bunuh, darah, bantai, rusuh, rusak, provokator, perkosa, penjara, merupakan makanan sehar-hari pembaca media massa kita.
Masyaraka kita akrab dengan kata-kata kasar. Alhasil, masyarakat kita ringan-ringan saja, atau tanpa beban ketika mengucapkan kata-kata barbar itu. Padahal eufemisme tetap diperlukan karena merupakan kekayaan bahasa Indonesia dan bagian dari budaya komunikasi yang tak dapat dihilangkan begitu saja. Hanya saja pemakainya jangan berlebihan.
Perubahan ini, bagi Bungin (2007:129), adalah suatu yang wajar, sebab dinamika kehidupan bahasa Indonesia memang
50
tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial politik. Justru bila mana kita mencoba mensterilkan bahasa Indonesia dari perubahan, hal itu jelas perbuatan yang tidak masuk akal.
Dinamika perubahan itulah yang dipakai media massa.
Segala perubahan dalam masyarakat cepat diserap. Jadi tidak berlebihlebihan bila ada kata-kata yang populer dalam masyarakat muncul di media massa. Sebutlah kata Obok-obok dan sebagainya, yang dengan cepat menghiasi halaman media massa kita.
Jadi antara media massa dengan masyarakat terjadi saling memengaruhi. Taruhlah masyarakat mungkin terdistorsi oleh kesalahan penggunaan bahasa jurnalistik, tetapi kaum jurnalistik membantu perkembangan bahasa masyarakat.