BAB II IMPLEMENTASI AKAD PEMBIAYAAN MUDHARABAH DALAM
B. Analisa Pembiayaan Mudharabah
4. Batalnya Akad
Akad mudharabah dapat batal dengan beberapa hal berikut:
a. Pemilik modal ikut terjun dalam operasional usaha yang dijalankan.35
Dalam akad ini pemilik modal dilarang untuk ikut menangani operasional.
Jika memaksa ikut, akadmudharabah akan menjadi musyarakah.
b. Salah satu pihak ada yang meninggal atau gila.
Akad mudharabah merupakan kontrak yang di dalamnya terdapat unsur perwakilan. Perwakilan menjadi batal jika yang mewakili atau yang diwakili meninggal dunia atau gila. Demikian juga akad mudharabah. Akad ini akan batal jika salah satu pihak ada yang meninggal atau gila. Namun ulama’
Malikiah berbeda pendapat dalam persyaratan ini. Selama pihak yang masih hidup dapat dipercaya, akad mudharabah tetap bisa berjalan.
c. Hilangnya modal yang digunakan untuk usaha.
Ketika modal hilang atau rusak ditangan pengelola modal dan belum sempat digunakan untuk usaha, otomatis akad mudharabah menjadi batal. Dan pengelola modal wajib mengembalikannya.
35Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, h. 392.
d. Penghentian kontrak oleh salah satu pihak.
Kontrak mudharabah dapat dihentikankapan saja oleh salah satu pihak kapan saja dengan syarat memberi tahu pihak lain terlebih dahulu. Jika semua asset dalam bentuk tunai saat usaha dihentikan dan telahmenghasilkan keuntungan, maka keuntungan dibagi sesuai dengan kesepakatan. Jikaasetnya bukan tunai, pengelola modal harus diberi waktu untuk melikuidasi asset agar keuntungan atau kerugian dapat diketahui. Kekuasaan tak terbatas dari masing-masing pihak untuk menghentikan kontrak kapan saja, dapat menimbulkan masalah di zaman sekarang karena sebagian besar perusahaan memerlukan waktu untuk menghasilkan keuntungan. Akibatnya akan menimbulkan problem jika pemilik modal menghentikan kontrak pada masa awal perusahaan berdiri.
Pengelola modal tidak akan mendapatkan apapun walaupun telah mencurahkan tenaga dan pikiran. Oleh karena itu, tidak melanggar syariat ketika melakukan kontrak mudharabah, semua pihak bersepakat tidak akan menghentikan kontrak selama jangka waktu tertentu.
C. Konsep Rencana Penerapan Mudharabah dalam Bank Syariah
Sejarah berdirinya perbankan dengan sistem bagi hasil didasarkan pada dua alasan utama, yaitu: yang pertama, adanya pandangan bahwa bunga (interest) pada bank konvensional hukumnya haram karena termasuk dalam kategori riba yang dilarang dalam agama bukan saja pada agama Islam melaainkan juga agama samawi lainnya. Kedua, dari aspek ekonomi penyerahan risiko usaha terhadap salah satu pihak dinilai melanggar norma keadilan. Dalam jangka panjang sistem perbankan
konvensional akan menyebabkan penumpukan kekayaan pada segelintir orang yang memiliki kapital besar.
Lembaga keuangan syariah menerapkan sistem bagi hasil sebagai landasan operasionalnya dengan mekanisme pendapatan bagi hasil berlaku untuk produk- produk penyertaan, baik penyertaan menyeluruh maupun sebagai bentuk bisinis koorporasi (kerjasama). Pihak-pihak yang terlibat dalam kepentingan bisnis, harus melakukan transparansi dan kemitraan secara baik dan ideal. Sebab semua pengeluaran dan pemasukan rutin yang berkaitan dengan bisnis penyertaan, bukan untuk kepentingan pribadi yang menjalankan proyek. Itulah sebabnya, sebagian besar pembiayaan bisnis dalam suatu perekonomian Islam akan berbentuk penyertaan modal dimana penyedia dana (financier/finance provider) akan berbagi hasil rugi atau untung dari aktivitas bisnis yang dibiayainya. Pembiayaan demikian tidak saja akan mendistribusikan keuntungan pada investasi total antara penyedia dana dan pelaku bisnis (enterpreneur/ finance user) secara adil, tetapi juga akan mentransfer saham risiko investasi yang fair kepada penyedia dana dan bukan meletakkan keseluruhan beban pada pundak pelaku bisnis.
Adapun bentuk-bentuk usaha mudharabah pada bank syariah berupa:
1. Pada bank umum berdasarkan prinsip-prinsip syariah:
a) Menghimpun dana dari masyarakat berupa simpanan dalam bentuktabungan, deposito, atau bentuk lainnya yang berbentuk mudharbah.
b) Melakukan penyaluran dana dalammbentuk pembiayaan usaha.
c) Melakukan kegiatan usaha lain yanglazim bagi bank sepanjang disetujui oleh Dewa Syariah Nasional.
2. Pada bank perkreditan rakyat (BPR) berdasarkan prinsip syariah:
a) Menghimpun dana dari masyarakatdalam bentuk tabungan ataudeposito atau bentuk lain yangmenggunakan bentuk mudharabah.
b) Melakukan penyaluran dana dalambentuk pembiayaan bagi hasil.
c) Melakukan kegiatan atau usaha lain yang lazim bagi BPR sepanjangdisetujui oleh Dewan Syariah Nasional.
Teori mudharabah seperti yang tertuang dalam kajian fiqh telah mengalami perubahan dan modifikasi ketika diterapkan pada sistem keuangan syariah. Posisi mudharib (pengusaha) bertindak sebagai nasabah dan mitra bank, sehingga sedikit banyaknya bankakan ikut campur dalam manajemenusaha, mudharib tidak memiliki kebebasan penuh dalam menjalankan usahanya, tetapi tetap mendapat pengawasan dari pihak bank, meskipun kontrak mudharabahnya adalah mudharabah mutlaqah.
Modal usaha yang diberikan juga dikucurkan secara bertahap dengan tujuan agar pihak bank dengan mudah mengawasi dan mengontrol manajemen usaha.Penetapan berbagi resiko tidak diterapkan oleh bank, sehingga terkesan kerugian sepenuhnya ditanggung oleh mudharib (pengusaha), sebab bank telah ikut serta mengontrol dan mengawasi usaha, yang apabila usaha itu macet atau rugi, maka sepenuhnya adalah kesalahanpengusaha.
Kontrak mudharabah umumnya digunakan untuk tujuan perdagangan jangka pendek (shorterm commercial) yang dapat dengan mudah menentukan masa berlakunya kontrak.36 Dengan mengetahui batas berakhirnya kontrak, tingkat keuntungan dapat dihitung dan diketahui hasilnya. Bank syariah dalam melaksanakan kontrak mudharabah membuat kesepakatan dengan nasabah mengenai tingkat perbandingan keuntungan (profitratio) yang ditentukan dalam kontrak. Perbandingan keuntungan tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor, diantaranya: kesepakatan dari nasabah (mudharib), prediksi keuntungan yang akan diperoleh, respon pasar, kemampuan memasarkan barang, dan juga masa berlakunya kontrak.
Bentuk kontrak mudharabah yangditerapkan perbankan syariah memakaidua bentuk aqad, yaitu mudharabah muqayyadah on balance-sheet dan mudharabah muqayyadah of balancesheet. Pada bentuk pertama, aliran dana terjadi dari satu nasabah investor ke sekelompok pelaksana usaha dalam beberapa sector terbatas, seperti pertanian dan manufaktur. Pada bentuk kedua, aliran dana berasal dari nasabah investor kepada satu nasabah pembiayaan. Bank syariah hanya bertindak sebagai perantara saja dan transaksinya melalui mekanisme off balancesheet, yaitu transaksi yang tidak tercatat dalamneraca bank.
Ciri akad mudharabah adalah menuntut adanya saling kepercayaan antara nasabah dengan bank,37 sehingga pembiayaan dengan skema mudharabah dianggap sebagai pembiayaan yang berisiko tinggi, karena bank akan
36 Wahbah Az-Zuhaily, Fiqh Islam wa Adillatuhu, (Jakarta: Gema Insani, 2011), h 198.
37Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan, h. 202.
menghadapi permasalahan informasi asimetris, dimana pihak pengelola (mudharib) mengetahui informasi informasi yang tidak diketahui olehbank. Pada saat yang sama juga timbulmoral hazard dari pihak mudharib, yaitupihak mudharib akan melakukan hal-hal yang hanya menguntungkan mudharib dan merugikan shahibul maal (banksyariah).
Untuk itu, tugas mudharib dalam menjalankan usaha meliputi pengelolaan, penyimpanan, dan pemasaran, sehingga mudharib harus memanajerial dengan baik dan teliti atas modal yang dipercayakan kepadanya.38 Mudharib menjamin dalam mengelola barang tersebut sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati dalam pembiayaan mudharabah. Ia bertanggung jawab untuk menanggung segala kerugian yang disebabkan oleh kesalahannya sendiri yang menyimpang dari prosedur penentuan kontrak. Pihak bank tidak menanggung kerugian yang disebakan oleh kesalahan pihak mudharib. Singkatnya, mudharib harus tunduk terhadap segala persyaratan yang telah ditentukan dalam kontrak yang berkaitan dengan pengelolaan usaha. Pelaksanaan tersebut umumnya diawasi oleh pihak bank.
Kontrak mudharabah yang tidak menghasilkan keuntungan, maka pihak mudharib tidak mendapatkan upah dari pekerjaannya. Dan pihak bank menanggung kerugian tersebut sepanjang tidak terbukti bahwa mudharib tidak menyelewengkan dana dan bukan karena kesalahan dalam memanejerial. Namun jika terbukti akibat kecerobohan dari pihak mudharib, maka ia harus menanggung kerugian itu.
38Abd. Rahman Al-Jaziry, Al-Fiqh al Madzahib al-Arba’ah, (Beirut: Daar al-Kutub, 1990), h.
95.
Dalam kasus tersebut, barang jaminan yang dijadikan sarana pertanggung jawaban harus diberikan kepada bank.
Nisbah keuntungan antara shahibul mal dengan mudharib ditentukan dengan presentase bukan dengan nominal suatu mata uang. Nisbah itu ditentukan berdasarkan kesepakatan sebelum akad dan setelah melalui proses negoisasi dan tawar menawar.
Nisbah inilah yang menjadi indicator dalam penetuan pembagian keuntungan untuk masing-masing pihak yang berkontrak. Akan tetapi apabila usaha yang dijalankan dengan kontrak mudharabah mengalami kerugian, maka pembagian kerugian didasarkan atas porsi modal masing-masing. Karena shahibul mal menanggung modal sepenuhnya, maka secara otomatis akan kehilang modal, sedangkan mudharib memberikan porsi tenaga, waktu, dan fikiran, maka secara otomatis akan mengalami kerugian pada hal tersebut. Adanya perbedaan dalam mengukur pembagian keuntungan dan kerugian, disebabkan karena adanya perbedaan kemampuan untuk menanggung kerugia diantara kedua belah pihak.
Kenyataan menunjukkan bahwa proses tawar-menawar dan negoisasi pembagian nisbah hanya dilakukan terhadap deposan/investor dengan jumlah dana besar39, karena mereka memiliki daya tawar yang relative lebih tinggi, sehingga dapat diberikan special nisbah. Sedangkan terhadap deposan kecil biasanya tawar-menawar tidak terjadi, akan tetapi pihak bank yang menawarkan nisbaah yang telah jadi, sehingga deposan boleh setuju atau tidak.
39Adiwarman Karim, Bank Islam, Analisis Fiqh dan Keuangan, h. 197.
Sedangkan penerapan akad mudharabah pada perbankan memakai modus indirect financing, dalam hal ini bank akan bertindak sebagai pihak ketiga yang menjadi sebagai intermediary antar shahibul maal dengan mudharib. Proses kerjanya, yaitu bank menerima dana-dana daripihak deposan (shahibul maal) sebagai sumber dana. Dana-dana tersebut dikemas dalam bentuk tabungan dan deposito dengan jangka waktu yang bervariasi. Selanjutnya, dana-dana tersebut disalurkan kembali kepada mudharib dalam bentuk pembiayaan yang menghasilkan (earning assets).
Keuntungan dari pemanfaaatan penyaluran dana inilah yang akan dibagi hasilkan antara bank dengan shahibul maal.
D. Implementasi Pembiayaan Mudharabah dalam Bank Syariah
Sejauh ini, skema mudharabah yang telah kita bahas adalah skema yang berlaku antara dua pihak saja secara langsung, yakni shahibul maal berhubungan langsung dengan mudharib. Skema ini adalah skema standar yang dapat di jumpai dalam kitab-kitab klasik fiqih islam. Dan ini lah sesungguhnya praktik mudharabah yang dilakukan oleh nabi dan para sahabat serta umat muslim sesudahnya. Dalam kasus ini, yang terjadi adalah investasi langsung (direct financing) antara shahibul maal sebagai dengan mudharib (sebagai deficit unit). Dalam direct financing seperti ini, peran bank sebagai lembaga perantara (intermediary) tidak ada.
Mudharabah klasik seperti ini memiliki ciri-ciri khusus, yakni bahwa biasanya hubungan anatara shahibul maal dengan mudharib merupakan hubungan personal dan langsung serta dilandasi oleh rasa saling percaya (amanah). Sahibul maal hanya mau menyerahkan modalnya kepada orang yang ia kenal dengan baik
profesionalitas maupun karakternya. Modus mudharabah seperti itu tidak efisien lagi dan kecil kemungkinannya untuk dapat diterapkan oleh bank, karena beberapa hal:
1. Sistem kerja pada bank adalah investasi berkelompok, dimana mereka tidak saling mengenal, jadi kecil sekali kemungkinannya terjadi hubungan yang langsung dan personal.
2. Banyak investasi sekarang ini membutuhkan dana dalam jumlah besar, sehingga diperlukan puluhan bahkan ratus ribuan shahibul maal untuk sama- sama menjadi penyandang dana untuk satu proyek tertentu.
3. Lemahnya pengamalan akan ajaran agama, khususnya yang berkaitan dengan kejujuran, sehingga bank sulit menjamin dana yang disalurkan aman dan tanpa resiko.
Untuk mengatasi hal di atas, ulama’kontemporer melakukan inovasi baru atas skema mudharabah dengan melibatkan pihak ketiga, yakni bank syariah.40 Fungsinya adalah sebagai perantara yangmempertemukan pemilik modal dan pengelola modal.
Bank menerima dana dari pemilik modal berbentuk tabungan dalam jangka waktu yang bervariasi. Selanjutnya, dana yang sudah terkumpul tersebut disalurkan kepada pengelola modal. Keuntungan yang diperoleh dari pengelola modal akan dibagi antara pemilik modal dan bank.
Mudharabah biasanya diterapkan pada produk-produk pembiayaan dan pendanaan.41 Pada sisi penghimpunan dana, mudharabah diterapkan pada:
40Adiwarman Karim, Bank Islam, h. 210.
41Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, (Jakarta : Gema Insan Press, 2001), h. 97.
a) Tabungan berjangka, yaitu tabungan yang yang di maksudkan untuk tujuan khusus, seperti tabungan haji, tabungan kurban.
b) Deposito spesial (special investment), yaitu dana yang dititipkan nasabah khusus untuk bisnis tertentu, misalnya murabahah saja atau ijarah saja.
Adapun pada sisi pembiayaan, mudharabah diterapkan untuk:
a) Pembiayaan modal kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa
b) Investasi khusus, disebut juga mudharabah muqayyadah, sumber dana khusus dengan penayaluran yang khusus dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh shahibul maal.
46 BAB III
TINJAUAN FATWA DSN-MUI TERHADAP IMPLEMENTASI AKAD PEMBIAYAAN MUDHARABAH DALAM BANK SYARIAH
A. Ketentuan Pembiayaan dengan Akad Mudharabah
Hasil analisis menunjukkan mudharobah merupakan akad untuk pembiayaan dengan sistem bagi hasil yang diberikan untuk jenis pembiayaan produktif, bukan konsumtif.42 Pernyataan tersebut sesuai dengan definisi pada Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI bahwa pembiayaan mudharabah adalah pembiayaan yang disalurkan oleh LKS kepada pihak lain untuk suatu usaha yang produktif. Pembiayaan produktif adalah pembiayaan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam arti luas yaitu untuk peningkatan usaha baik usaha produksi, perdagangan maupun investasi.
Prinsip pembiayaan dengan akad mudharabah tidak ada potongan sama sekali, artinya pengguna dana menerima 100% utuh sesuai dengan yang tertera pada akad perjanjian, sedangkan untuk biaya lain-lain seperti administrasi, biaya notaris, materai dibayarkan secara terpisah. Kedua belah pihak baik pemilik dana maupun pengguna dana juga diharuskan memahami dan mengerti isi dari perjanjian yang akan disepakati. Hal tersebut sesuai dengan Fatwa yang ditentukan oleh Dewan Syariah Nasional MUI bahwa jangka waktu usaha, tatacara pengembalian dana, dan pembagian keuntungan ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (LKS
42Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syari’ah dari Teori ke Praktik, h. 165.
dengan pengusaha), sedangkan dari pihak Dewan Syariah Nasional MUI hanyamelakukan pengawasan dari segi control laporan keuangannya.
Pengawasan yang dilakukan oleh pihak bank kepada pengguna dana dilakukan dengan cara melakukan audit pada laporan keuangan mereka selama dua bulan sekali, sedangkan untuk pengajuan pembiayaan baru pihak bank akan menseleksi calon nasabahnya dengan menerapkan kualifikasi dan persyaratan tertentu, apabila pihak bank menilai calon nasabah tersebut meragukan maka pihak bank tidak akan meloloskannya. Salah satu persyaratan dalam perjanjian tersebut adalah jenis usaha yang akan dikelola oleh pengguna dana harus sesuai dengan syariah, karena sesuai dengan prinsip bank syariah bahwa akan menjalankan segala sesuatunya dengan prinsip-prinsip syariah, sesuai dengan Alquran dan hadist.
Pihak Bank wajib mengetahui jenis usaha yang dikelola oleh calon nasabah selaku pengelola dana, hal tersebut dikarenakan sesuai dengan prinsip bank syariah yang dalam tata maupun pengelolaannya harus sesuai dengan syariah. Selain persyaratan dalam jenis usaha yang harus sesuai dengan syariah, persyaratan lainnya yaitu dana yang diberikan kepada pihak pengelola (mudharib) diharuskan dalam bentuk tunai. Dana yang diberikan pihak bank kepada nasabah dalam hal ini adalah pengelola dana (mudharib) adalah berupa dana tunai. Pengguna dana memahami apabila mengalami kerugian, maka 100% menjadi tanggung jawab pihak pemilik dana (shahibul maal). Hal tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Antonio bahwa keuntungan usaha secara mudharabah dibagai menurut kesepakatan yang dituangkan di dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik
modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola, namun seandainnya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.
Sesuai dengan teori delegated monitoring yang disebutkan oleh Allen (2010), nasabah dan masyarakat pada umumnya tidak dapat dengan mudah melakukan monitoring dan pengawasan bank. Alasannya antara lain karena kurangnya kompetensi dan kemampuan, kesulitan untuk mengakses informasi tentang kinerja bank, serta tidak tersedianya waktu dan adanya masalah efisiensi untuk dapat melaksanakan pengawasan terhadap kegiatan usaha bank Setiap pembiayaan produktif dengan akad mudharabah diwajibkan menggunakan jaminan. Seperti penjelasan MUI dalam fatwanya dimana dalam pembiayaan mudharabah tidak ada jaminan, namun agar mudharib tidak melakukan penyimpangan, LKS dapat meminta jaminan dari mudharib atau pihak ketiga.
Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila mudharib terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad. Secara prinsip dalam konsep mudharabah tidak ada jaminan yang diambil sebagai agunan dan Jaminan dapat diambil untuk menjaga agar nasabah benar-benar melaksanakan usaha dengan baik. Dalam incentive compatible constraints penetapan agunan berupa aset tetapakan mencegah mudharib melakukan penyelewengan karena jaminan yang sudah diberikannya itu menjadi harga dari penyelewengan atas perilakunya (character risk).
Hasil tersebut didukung oleh kesimpulan dari penelitian Yudha (2010) dimana perbankan syariah di wilayah Surabaya memiliki nasabah yang karakternya bermacam-macam dan sedemikian terbuka menjadikan bank syariah sebagai penyedia pembiayaan tidak mampu mengetahui keadaan calon nasabah yang akan dibiayai denga mudharabah yang nilainya terbatas, hal tersebut yang menyebabkan bank syariah perlu meminta jaminan dalam pembiayaan mudharabah.
B. Analisa Fatwa Terhadap Pembiayaan Mudharabah 1. Analisa Syarat terbentuknya akad
a) Tamyiz
Dalam semua akad disyaratkan bahwa kedua belah pihak bukan termasuk anak-anak. Demikian juga para pihak dalam contoh Fatwa DSN MUI No 7 dijelaskan bahwa penyedia dana (shahib al-maal) dan pengelola harus cakap hukum.Yang tidak termasuk dalam kriteria tamyiz/ cakap hukum yakni; anak yang masih di bawah umur, orang yang tidak sehat akal.
b) Berbilang pihak
Fatwa DSN No 7 tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa akadpembiayaan mudharabah harus terdiri dari berbilang pihak, namun hanya mengatakan dalam Rukun dan Syarat Pembiayaan bahwa penyedia dana (shahib al-maal) dan pengelola (mudharib) harus cakap hukum.43 Kata-kata ini sudah menunjukkan bahwa pembiayaan mudharabah harus dilakukan oleh berbilang pihak. Dalam contoh akad
43Tim Penulis Dewan Syariah Nasional MUI, Himpunan Fatwa DSN MUI, h. 46.
pembiayaan mudharabah terdapat dua pihak, yakni shahib al-maal sebagai pihak bank dan mudharib sebagai mitra usaha. Dengan demikian syarat yang kedua ini sesuai dengan Fatwa DSN MUI No 7.
c) Persesuaian ijab dan kabul
Sighat akad (ijab qabul) mudharabah yang dipraktekkan pada pembiayaan syariah telah dibakukan dalam sebuah form yang berisikan akad mudharabah yang diikuti dengan sembilan pasal. Dari sembilan pasal yang ada terdapat enam pasal yang harus disesuaikan dan ditentukan bersama-sama sesuai kesepakatan masing- masing pihak sebagai suatu perjanjian yangmengikat antara pihak bank dan nasabah.
Enam pasal yang harus disesuaikan tersebut mengenai besar modal yang dipinjamkan, penggunaan modal atas usaha tertentu, penentuan jangka waktu, cara pembayaran, nisbah bagi hasil dan denda apabila terjadi keterlambatan pembayaran angsuran maupun jatuh tempo.44 Ini sesuai dengan Rukun dan Syarat Pembiayaan angka 2.c dalam Fatwa DSN MUI yang berbunyi “akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi, atau denganmengunakan cara-cara komunikasi modern”.
d) Kesatuan majlis akad
Penutupan akad harus terjadi dalam satu majelis yang sama.45 Umumnya, suatu akad yang ditandatangani oleh kedua pihak di saksikan oleh para saksi serta dilakukan dalam satu waktu dan tempat. Contoh akad pembiayaan
44Fatwa DSN NO: 07/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh)
45Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syari’ah, h. 146.
mudharabah yang ada disepakati dalam satu waktu. Hal ini terlihat pada tanggal akad tersebut ditandatangani.
e) Objek dapat diserahkan
Pada pasal 2 dari akad pembiayaan mudharabah yang berbunyi, “Pihak II dengan ini mengakui dengan sebenarnya telah menerima uang Rp 10 juta dari pihak I”, menunjukkan adanya penyerahan sejumlah modal mudharabah dari pihak Bank Syariah kepada nasabah.
f) Objek akad tertentu atau dapat ditentukan
Objek akad tertentu artinya diketahuidengan jelas oleh para pihak sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan sengketa di kemudian hari.46 Rukun dan Syarat Pembiayaan pada FatwaDSN MUI berbunyi:
1) Modal harus diketahui jumlah dan jenisnya.
2) Modal dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai. Jika modal diberikan dalam bentuk asset, maka aset tersebut harus dinilai pada waktu akad.
3) Modal tidak dapat berbentuk piutang dan harus dibayarkan kepada mudharaib, baik secara bertahap maupun tidak sesuai dengan kesepakatan dalamakadPasal 2 akad pembiayaan mudharabah berbunyi, “Pihak II dengan ini mengakui dengan sebenarnya telah menerima uang Rp 10 juta dari pihak I”.
46Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syari’ah, h. 82.
g) Objek dapat ditransaksikan
Suatu objek dapat ditransaksikan dalam hukum Islam apabila memenuhi kriteria-kriteria berikut:
1) Tujuan objek tersebut tidak bertentangan dengan transaksi: sesuatu tidak dapat ditransaksikan apabila transaksi tersebut bertentangan dengan tujuan yang ditentukan untuk sesuatu tersebut.
2) Sifat atau hakikat dari objek tersebut tidak bertentangan dengan transaksi:
sesuatu tidak dapat ditransaksikan apabila sifat atau hakikat sesuatu itu tidak memungkinkan transaksi. Sesuatu yang tidak dapat ditransaksikan apabila hakikat atau sifat sesuatu itu memang tidak dapat menerima transaksi atau tidak dapat menerima akibat hukum akad. Untuk dapat ditransaksikan dan dapat menerimaakibat hukum akad, suuatu obyek apabila benda harus merupakan benda bernilai dalam pandangan syara’ serta benda tersebut dimiliki.
3) Objek tersebut tidak bertentangan dengan ketertiban umum, Obyek yang tidak bertentangan dengan ketertiban umum misalnya narkoba dan vcd porno.47 h) Tujuan akad tidak bertentangan dengan syara’.
Tujuan akad adalah mewujudkanakibat hukum yang pokok dari akad.Dalam akad disebutkan bahwa pembiayaan mudharabah adalah pembiayaan usaha yang diajukan oleh kedua belah pihak antara nasabah selaku pengelola usaha dengan pihak bank selaku penyandang danayang diperlukan nasabah.
47Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syari’ah, h. 208.