a. Pengertian Bayi baru Lahir
Bayi baru lahir disebut juga dengan neonatus merupakan individu yang sedang bertumbuh dan baru saja mengalami trauma kelahiran serta
harus dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin.
Menurut Sondakh (2013) bayi baru lahir dikatakan normal jika termasuk dalam kriteria sebagai berikut:
1) Berat badan lahir bayi antara 2500-4000 gram.
2) Panjang badan bayi 48-50 cm.
3) Lingkar dada bayi 32-34 cm.
4) Lingkar kepala bayi 33-35 cm.
5) Bunyi jantung dalam menit pertama ± 180 kali/menit, kemudian turun sampai 120-140 kali/menit pada saat bayi berumur 30 menit.
6) Pernapasan cepat pada menit-menit pertama kira-kira 80 kali/menit disertai pernapasan cuping hidung, retraksi suprasternal dan interkostal, serta rintihan hanya berlangsung 10-15 menit.
7) Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup terbentuk dan dilapisi verniks kaseosa.
8) Rambut lanugo telah hilang, rambut kepala tumbuh baik.
9) Kuku agak panjang dan lemas.
10) Genetalia : testis sudah turun (pada bayi laki-laki) dan labia mayora telah menutupi labia minora (pada bayi perempuan).
11) Refleks isap, menelan, dan moro telah terbentuk.
12) Eliminasi, urin, dan mekonium normalnya keluar pada 24 jam pertama. Mekonium memiliki karakteristik hitam kehijauan dan lengket.
b. Adaptasi fisiologis BBL
Adaptasi yang terjadi pada bayi baru lahir adalah : 1) Sistem Pernapasan
a) Pernapasan awal dipacu oleh faktor fisik, sensorik, dan kimia (1) Faktor-faktor fisik meliputi usaha yang diperlukan untuk
mengembangkan paru-paru dan mengisi alveolus yang kolaps.
(2) Faktor-faktor sensorik, meliputi suhu, bunyi, cahaya, suara.
(3) Faktor-faktor kimia, meliputi perubahan dalam darah (misalnya penurunan kadar oksigen, peningkatan kadar karbon dioksida, dan penurunan pH) sebagai akibat asfiksia sementara selama kelahiran.
b) Frekuensi pernapasan bayi baru lahir berkisar 30-60 kali/menit.
c) Sekresi lendir mulut dapat menyebabkan bayi batuk dan muntah, terutama selama 12-18 jam pertama.
2) Sistem Termoregulasi dan Metabolik
a) Suhu bayi baru lahir dapat turun berapa derajat karena lingkungan eksternal lebih dingin daripada lingkungan pada uterus.
b) Suplai lemak subkutan yang terbatas dan area permukaan yang besar dibandingkan dengan berat badan menyebabkan bayi mudah menghantarkan panas pada lingkungan.
c) Kehilangan panas yang cepat dalam lingkungan yang dingin terjadi melalui konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi.
d) Trauma dingin (hipotermi) pada bayi baru lahir dalam hubungannya dengan asidosis metabolik dapat bersifat mematikan, bahkan pada bayi cukup bulan yang sehat.
3) Adaptasi Neurologis
Sistem neurologis bayi secara fisiologis belum berkembang sempurna. Bayi baru lahir menunjukkan gerakan-gerakan tidak terkoordinasi, pengaturan suhu yang labil, kontrol otot yang buruk, mudah terkejut, dan tremor pada ekstremitas.
4) Adaptasi Gastrointestinal
a) Perkembangan otot dan refleks yang penting untuk menghantarkan makanan sudah terbentuk saat lahir.
b) Pencernaan protein dan karbohidrat telah tercapai, pencernaan dan absorbsi lemak kurang baik karena tidak adekuatnya enzim-enzim pankreas dan lipase.
c) Pengeluaran mekonium. Yaitu feses berwarna hitam kehijauan, lengket, dan mengandung darah samar, diekskresikan dalam 24 jam pada 90% bayi baru lahir yang normal.
d) Beberapa bayi baru lahir menyusui segera bila diletakkan pada payudara, sebagian lainnya memerlukan 48 jam untuk menyusu secara efektif.
5) Adaptasi Ginjal
a) Laju filtrasi glomerulus relatif rendah pada saat lahir disebabkan oleh tidak adekuatnya area permukaan kapiler glomerulus.
b) Sebagian besar bayi baru lahir berkemih dalam 24 jam pertama setelah lahir dan 2-6 kali sehari pada 1-2 hari pertama, setelah itu mereka berkemih 5-20 kali dalam 24 jam.
6) Adaptasi Hati
a) Selama periode neonatus, hati memproduksi zat yang esensial untuk pembekuan darah.
b) Hati juga mengontrol jumlah bilirubin tak terkonjugasi yang bersirkulasi, pigmen berasal dari hemoglobin dan dilepaskan bersamaan dengan pemecahan sel-sel darah merah.
c) Bilirubin tak terkonjugasi dapat meninggalkan sistem vaskular dan menembus jaringan ekstravaskuler lainnya (misalnya: kulit, sklera dan membran mukosa oral) mengakibatkan warna kuning yang disebut ikterus.
7) Adaptasi Imun
a) Bayi baru lahir tidak dapat membatasi organisme penyerang di pintu masuk.
b) Imaturitas jumlah sistem pelindung secara signifikan meningkatkan risiko infeksi pada periode bayi baru lahir.
c. Penilaian
Menurut JNPK-KR (2014 : 114) Sebelum bayi lahir, sesudah ketuban pecah lakukan penilaian apakah air ketuban bercampur mekonium pada presentasi kepala. Segera setelah bayi lahir lakukan penilaian apakah bayi menangis, bernapas spontan dan teratur , apakah bayi lemas/lunglai.
1) Penilaian APGAR
Tabel 2.1 Penilaian keadaan umum bayi berdasarkan nilai APGAR
0 1 2
Appearance (warna kulit)
Pucat Badan merah, ekstremitas biru
Seluruh tubuh kemerah-merahan
Pulse rate (frekuensi nadi)
Tidak ada Kurang dari 100 Lebih dari 100
Grimace (reaksi rangsang)
Tidak ada Sedikit gerakan mimik (grimace)
Batuk/bersin
Activity (tonus otot)
Tidak ada Ekstremitas dalam sedikit fleksi
Gerakan aktif
Respiration (pernapasan)
Tidak ada Lemah/tidak teratur Baik/menangis
Sumber: Sondakh, 2013
Menurut Mead (1996) dalam Sondakh (2013) mengemukakan : Nilai 7 – 10 :bayi dalam kondisi baik
Nilai 4 – 6 :menunjukkan adanya depresi sedang dan membutuhkan beberapa tindakan resusitasi sedang Nilai 0 – 3 :menunjukkan depresi serius dan membutuhkan
resusitasi segera dan mungkin memerlukan ventilasi.
Prosedur penilaian APGAR
a) Pastikan bahwa pencahayaan baik, sehingga visualisasi warna dapat dilakukan dengan baik, dan pastikan adanya akses yang baik ke bayi.
b) Catat waktu kelahiran, tunggu 1 menit, kemudian lakukan pengkajian yang pertama. Kaji kelima variabel dengan cepat dan simultan. Kemudian jumlahkan hasilnya.
c) Lakukan tindakan dengan cepat dan tepat sesuai dengan hasilnya.
d) Ulangi pada menit kelima. Skor harus naik bila nilai sebelumnya 8 atau kurang.
e) Ulangi lagi pada menit ke sepuluh.
f) Dokumentasikan hasilnya dan lakukan tindakan yang sesuai.
d. Konsep inisiasi menyusu dini (IMD) 1) Pengertian
Menurut Sondakh (2013 : 170) inisiasi menyusu dini adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir.
2) Manfaat
Beberapa penelitian membuktikan bahwa IMD membawa banyak sekali keuntungan untuk ibu dan bayi , antara lain :
a) Mendekatkan hubungan batin ibu-bayi.
b) Bayi akan mengenal ibunya sehingga akan memperlancar proses laktasi.
c) Suhu tubuh bayi stabil karena hipotermi telah dikoreksi panas tubuh ibunya.
d) Reflek oksitosin ibu akan berfungsi maksimal.
e) Mempercepat produksi ASI, karena sudah mendapat rangsangan isapan dari bayi lebih awal.
3) Langkah IMD
Menurut Sondakh (2013 : 173) langkah dalam pemberian IMD adalah :
a) Lahirkan, lakukan penilaian penilaian pada bayi, keringkan.
b) Lakukan kontak kulit dengan kulit selama paling sedikit 1 jam.
Biarkan bayi mencari dan menemukan puting ibu dan mulai menyusu.
e. Masalah Potensial pada Janin dan BBL Masa Persalinan 1) Asfiksia
a) Defini
Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernapasan secara spontan dan teratur segera setelah lahir (FKUI RSCM, 2000: 1072).
Asfiksia adalah kegagalan untuk memulai dan melanjutkan pernapasan pada BBL (APN, 2008: 4-11).
b) Tanda dan Gejala
Beberapa tanda dan gejala yang dapat muncul pada asfiksia neonatorum adalah:
(1) Tidak ada pernapasan (apneu)/ pernapasan lambat (kurang dari 30 kali per menit).
(2) Pernapasan tidak teratur, dengkuran, atau retraksi (perlekukan dada).
(3) Tangisan lemah.
(4) Warna kulit pucat dan biru (5) Tonus otot lemas atau terkulai.
(6) Denyut jantung tidak ada atau perlahan (kurang dari 100 kali per menit)
c) Etiologi
Banyak hal yang dapat menyebabkan bayi tidak bernapas saat lahir. Sering kali hal ini terjadi ketika bayi sebelumnya mengalami gawat janin. Gawat janin adalah reaksi janin pada
kondisi di mana terjadi ketidakcukupan oksigen. Gawat janin dapat diketahui dengan hal-hal berikut:
(1) Frekuensi DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 kali per menit.
(2) Berkurangnya gerakan janin (janin normal bergerak lebih dari 10 kali per hari).
(3) Adanya air ketuban yang bercampur dengan meconium atau berwarna kehijauan (pada presentasi kepala). (Sondak, 2013:
176)
d) Penatalaksanaan (1) Prinsip
Prinsip penatalaksanaan asfiksia adalah pengaturan suhu dan Tindakan A-B-C-D.
(2) Resusitasi
Prinsip dasar resusitasi adalah meberikan lingkungan yang baik dan mengusahakan saluran pernapasan, memberikan bantuan pernapasan secara aktif, melakukan koreksi terhadap asidosis yang terjadi, dan menjaga agar sirkulasi darah tetap baik. Adapun perlengkapan dan peralatan resusitasi, yaitu:
(a) Perlengkapan pengisap (b) Peralatan kantong dan masker (c) Peralatan intubasi
(d) Obat-obatan (e) Lain-lain