• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Cattell ada tiga jenis belajar untuk tujuan pengembangan kepribadian:

1. Classical conditioning (asosiasi sederhana dan kognisi yang simultan). Secara khusus digunakan untuk mengaitkan respon emosional dengan isyarat lingkungan, misalnya belajar menghubungkan antara kehadiran ibu dengan perasaan senang.

2. Instrumental condisioning (means-end leaming, asosiasi berbagai kegiatan dengan tujuan tertentu).

Belajar membentuk subsidiasi untuk memuaskan tujuan sadar erg, misalnya belajar bahwa makan siang bersama rekan bisnis dapat melancarkan penjualan sekaligus meningkatkan rasa aman/percaya diri.

Instrumental conditioning yang khas pada belajar kepribadian adalah Confluence leaming, yakni belajar memperoleh kepuasan beberapa tujuan dengan melalui satu kegiatan tingkahlaku.

3. Integration leaming (model instrumental conditioning yang lebih canggih).

Belajar memaksimalkan kepuasan total jangka panjang dengan memilih erg tertentu untuk diekspresikan pada saat tertentu seraya menahan atau mensublimasia erg yang lain. Integration leaming merupakan aspek kunci ke arah pembentukan sentimen self dan superego. Misalnya, seorang anak belajar menekan erg kebebasan-diri dan memilih membantu orang tua untuk menyatakan erg cinta dan perlindungan orang tua.

Konteks sosial

Memahami kepribadan manusia membutuhkan alat ukur kepribadian yang ilmiah. Begitu pula untuk memahami masaah-masalah sosial dibutuhkan dassr-dasar deskripsi kelompok dan pengukuran sifat-sifatnya. Menurut Cattell mendiskripsi, mengukur dan mengklasifikasi kepribadian kelompok dan kepribadian individual berarti memahami

hakekat dan fungsi masing-masing beserta saling pengaruh antara keduanya, khususnya sosiokultural sebagai penentu tingkahlaku. Analisis faktor dapat juga dipakai untuk memahami kepribadian atau syntatlty of the group: ciri karakteristik kelompok yang disimpulkan dari tingkahlaku kelompok sebagaimana kepribadian disimpulkan dan tingkahlaku individu.

TEKNIK RISET

Cattell memakai empat teknik riset untuk memperoleh data kepribadian:

1. R-technique: sejumlah besar orang dibandingkan performansinya dalam beberapa hasil tes.

Tujuannya adalah melihat apakah orang yang mendapat skor tinggi di tes yang satu juga mendapat skor tinggi di tes yang lain, dan apakah tes-tes itu saling berkorelasi.

2. P-technique: skor satu orang pada sejumlah tes lintas waktu dan situasi saling dibandingkan, untuk menemukan konsistensi tingkahlaku orang itu dan aspek-aspek tingkahlaku yang berbeda cenderung muncin bersama.

3. Q-technique: Dua orang dikenai banyak tes yang sama, dan hasilnya dikorelasikan, untuk melihat persamaan dan perbedaan kedua orang itu. Analisis terhadap persamaan banyak orang, sekaligus akan menghasilkan type kepribadian sekeiompok orang.

4. Differential R-dechnique: adalah varian R-technique di mana pengukuran diulang di kejadian yang berbeda- beda, dan hasilnya dikorelasikan. Prosedur ini disamping menggambarkan traits-traits yang berkorelasi, juga menggambarkan traits yang berubah secara bersama-sama, untuk memahami psychological states orang itu.

HANS J. EYSENCK

Eysenck berpendapat dasar umum sifat-sifat kepribadian berasal dari keturunan, dalam bentuk type dan traits. Namun dia juga berpendapat bahwa semua tingkahlaku dipelajari dari lingkungan. Menurutnya, kepribadian adalah keseluruhan pola tingkah laku aktual maupun potensial dari organism, sebagaimana ditentukan oleh keturunan dan lingkungan; pola tingkahlaku itu berasal dan dikembangkan melalui interkasi fungsional dari empat sektor utama yang mengorganisir tingkahlaku; sektor kognitif (intelligence), sektor konatif (character), sektor afektif (temperament),dan sektor somatik (konstitusi). Kepribadian berisi kegiatan dan disposisi yang terorganisir secara hirarkis, sebagaimana contoh halaman berikut:

Hirarki yang paling rendah adalah specific response, tingkah laku yang secara aktual dapat diamati, yang berfungsi sebagai respon terhadap suatu kejadian. Tingkat generalitas diatasnya adalah habitual response, kumpulan dan specific response, tingkah laku yang muncul kembali untuk merespon kejadian yang sama/mirip. Tingtak diatasnya adalah traits,

kumpulan kecenderungan kegiatan. Traits adalah koleksi respon habitual yang saling berkaitan.

Atau mempunyai persamaan tertentu. Akhimya, tingkat yang paling umum adalah type, kumpulan dari syndrome atau traits, yang mewadahi kombinasi traits itu dalam suatu dimensi yang luas. Eysenck telah menemukan empat dimensi type, yakni ekstraversi-introversi, neurotisisme, psikofisisme, dan inteligensi. Masing-masing dimensi ini saling asing, sehingga dapat berlangsung kombinasi antara dimensi satu dengan dimensi yang lain secara bebas. Misalnya, orang normal dapat mengambil bentuk ekstravert atau introvert, sama halnya dengan orang neurofik dapat ekstravert atau introvert.

Eysenck juga mengemukakan postulat bahwa factor keturunan membuat otak dan sistem syaraf pusat manusia berbeda-beda dalam mereaksi dan memproses stimulasi dari linqkunqan, dan perbedaan ini berhubungan dengan dimensi kepribadian. Type ekstravert dan introvert berbeda tingkat

keterangsangan korteks (cortical excitation levels) nya. Orang ekstravert tingkat eksitasi korteksnya rendah, sehingga cenderung mencari stimulasi/membutuhkan stimulasi lebih banyak untuk membangkitkan korteksnya, sedang type introvert eksitasinya tinggi sehingga mereka menolak stimulasi tambahan. Type normal-neurotik berhubungan dengan kemampuan reaksi sistem syaraf otonom (autonomic nervous system reactivity=ANS). Orang yang ANS nya mudah bereaksi, pada kondisi lingkungan wajar sekalipun sudah mengembangkan gangguan neurotik. Kecenderungan merespon stimuli secara emosionsl ini dapat dipandang sebagai kondisi predisposisi yang mempermudah berkembanqnya gangguan psikologik. Orang yang ANS nya tinggi, dan eksitasi korteksnya juga tinggi, cenderung mudah mengembangkan symptom neurotik, seperti takut, fobid, kompulsi, dan obsesi. Orang semacam ini dikatakan Eysenck mengidap gangguan tingkat pertama (disorders of the first kind), misalnya anxiety neurotic: Orang yang ANS nya tinggi tetapi eksitasinya rendah dikatakan mengidap gangguan tingkat kedua (disorders of the second kind), misalnya psikopat atau antisosial. Mereka tidak dapat mengembangkan reaksi takut yang kuat terhadap tingkah laku destruktif yang mereka lakukan, sehingga tidak dapat menghambat ekspresi destruktif antisosialnya. Tingkahlaku neurotik diperoleh (learned) dan lingkungan sehingga dapat dihilangkan (unlearned) dengan terapi tingkahlaku.

Eysenck mengembangkan teknik criterion analysis, suatu variasi analisis faktor yakni pemakaian kelompok

kriterium yang dapat membantu menentukan secara tepat seberapa sensitif suatu tes terhadep variabel tertentu.

HOLISM AND HUMANISM ABRAHAM MASLOW PENGANTAR

Abraham Maslow menjadi orang pertama yang memproklamirkan aliran humanistik sebagai kekuatan ketiga dalam psikologi (kekuatan pertama: psikoanalisis, dan kekuatan kedua: behaviorisme). Humanisme: Menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri (self-ralization). Humanisme menentang pesimisme dan keputus-asaan pandangan psikeanalitik dan konsep kehidupan “robot” pandangan behaviorisme. Holisme yakin bahwa rnanusia memiliki di dalam dirinya potensi untuk berkembang sehat dan kreatif, dan jika orang mau menerima tanggungjawab untuk hidupnya sendiri, dia akan menyadari potensinya lebih kuat dibanding pengaruh pendidikan orang tua, sekolah, dan tekanan social lainnya. Pandangan humanisme dalam kepribadian menekankan hal-hal berikut: