BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Metode Resitasi
4. Bentuk-Bentuk Metode Resitasi
Bentuk-bentuk resitasi merupakan bentuk atau cara pemberian tugas yang di berikan kepada siswa untuk mengerjakan tugas yang diberikan kepada seorang pangajar, adapun bentuk metode resitasi diantaranya:
a. Menghapal
Menghapal merupakan usaha untuk meresapkan sesuatu ke dalam pikiran agar selalu di ingat.
b. Diskusi atau kelompok
Diskusi adalah suatu pertukaran fikiran, gagasan, pendapat antara dua orang atau lebih secara lisan dengan tujuan mencari kesepakatan atau kesepahaman gagasan atau pendapat. Diskusi yang melibatkan beberapa orang disebut diskusi kelompok. Dalam diskusi kelompok dibutuhkan seorang pemimpin yang disebut ketua diskusi. Tugas ketua diskusi adalah membuka dan menutup diskusi, membangkitkan minat anggota untuk 31
mengemukakan kesimpulan hasil diskusi.
c. Praktek
Praktek adalah Melaksanakan sesuatu secara nyata seperti apa yang disebutkan dalam teori, Menjalankan perkerjaan sesuai dengan yang ada dalam teori, dan melaksanaan sesuai perbuatan yang ada di dalam teori.
d. Tulisan
Dimana siswa diberikan tugas oleh seorang guru yang berupa tulisan- tulisan yang menyangkut sesuai dengan mata pembelajaran yang di jelaskan seorang pengajar baik itu di kerjakan perindividu maupun kelompok tergantung dari seorang pengajar.
5. Manfaat dan Tujuan metode resitasi
Jika ditelusuri secara mendalam kanapa siswa diberikan tugas-tugas untk dikerjakan di kelas, di luar kelas atau di rumah, maka dapat dianalisis bahwa hal tersebut tentunya mempunyai tujuan tersendiri yang beroreantasi pada peningkatan kemampuan belajar siswa. Melelui metode resitasi atau pemberian tugas, siswa diharapkan dapat mengulang meteri pelajaran yang telah diajarkan guru sehingga penguasaannya terhadap materi pelajaran dapat lebih meningkat.
Sukardi (1987: 56) mengemukakan tujuan metode resitasi pada siswa adalah “untuk mengetahui sejauh mana seorang anak dapat mengerti 32
pelajaran yang diberikan guru, dan untuk melatih anak-anak menerima tanggung jawab“.
Sementara Roestiyah (1998:133) mengemukakan tujuan metode resitasi yaitu:
a. Agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas, sehingga pengalaman siswa dalam mempelajarai sesuatu dapat lebih terintegrasi.
b. Memperluas dan memperkaya pengetahuan serta keterampilan siswa di sekolah sehubungan dengan materi tugas yang di berikan c. Merangsang siswa untuk meningkatkan kemampuan belajar yang
lebih baik, memupuk inisiatif, dan berani bertanggung jawab atas tugas-tugas yang diberikan.
d. Menyadarkan siswa untuk hal-hal menunjang beljarnya melalui latihan dalam pengerjaan tugas sekolah.
Berdasarkan pendapat di atas, tampak bahwa metode resitasi beroriantasi pada peningkatan kemampuan belajar siswa melalui pemberian latihan sebagai suatu bentuk pemberian tugas-tugas yang dikerjakan di sekolah atau di rumah. Dalam pemberian tugas, guru hendaknya tidak semaunya memberikan tugas, tetapi harus dapat mempertimbangkan sebagai aspek, seperti: kesesuaian tugas dengan materi pelajaran, waktu siswa di luar sekolah, adanya juga guru memberikan tugas, dan hendaknya hasil pekerjaan siswa diperiksa oleh guru dan dikembalikan kepada siswa agar dapat menjadi bahan penilaian bagi siswa tentang kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru.
6. Prinsip – Prinsip Metode resitasi
33
memberikan tugas perlu memperhatikan, mengarahkan dan membimbing siswa sehingga maksud dan prinsip-prinsip, tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Pemberian tugas perlu memperhatikan prinsip-prinsip umum antara lain:
1. Tugas harus bermotivasi baik.
2. Tugas harus bersifat diagnostik.
3. Tugas jangan terlalu banyak.
4. Jangan memberikan tugas mengenai teknik yang baru dikembangkan yang belum dikerjakan di kelas.
5. Merupakan ide yang baik jika pada saat tertentu kita menyampaikan skill-skill yang telah dipelajari sebelumnya.
7. Kelebihan dan Kelemahan Metode Resitasi
Setiap metode tentu memiliki kelebihan di samping kekurangan, demekian halnya dengan metode resitasi. Hal tersebut juga menuntut kemampuan guru dalam penggunaan metode resitasi sehingga penggunaannya betul-betul efektif dalam meningkatkan kemampuan belajar siswa, khususnya dalam penguasaan materi pelajaraan dengan cara mengerjakan tugas-tugas sebagai latihan.
Djamarah dan Zain (2002 : 98) mengemukakan kelebihan dan kelemahan penggunaan metode resitasi yaitu:
1. Kelebihan metode resitasi yaitu:
34
a. Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktifitas belajar individual dan kelompok
b. Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan guru.
c. Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa d. Dapat mengembangkan kreatifitas siswa
2. Kelemahaan metode tugas yaitu:
a. Siswa sulit dikontrol, apakah ia benar mengerjakan tugas ataukah orang lain.
b. Tugas kelompok, tidak jarang yang aktif mengerjakan dan menyelesaikannya adalah angota tertentu saja, sedangkan anggota lainnya tidak berpartisifasi dengan baik
c. Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa
d. Sering memberikan tugas yang menonton (tidak bervariasi) dan dapat menimbulkan kebosanan siswa.
Pendapat tersebut relevan dengan pendapat sagala (2008 : 219) tentang kelebihan dan kelemahan metode resitasi yaitu:
a) Kelebihan metode resitasi, yaitu: pengetahuan yang diperoleh siswa akan lebih meresap atau tahan lama dan lebih ontentik, bertanggung jawab dan berdiri sndiri, dapat memperkaya atau memperluas wawasan, 35
membuat siswa bergairah dalam belajar.
b) Kelemahan metode resitasi, yaitu: seringkali siswa melakukan penipuan hasil pekerjaan orang lain, adakalanya tugas itu dikerjakan diri di mana mereka hanya meniru hasil pekerjaaan orang lain, adakalanya tugas itu dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan, dan hanya berfikir untuk melepaskan tanggung jawab.
Berdasarkan pendapat segala tersebut, maka pengunaan metode resitasi di samping memiliki kelebihan juga kelemahan. Oleh karena itu, guru harus profesional dalam penggunaan metode resitasi sehingga penggunaan dapat efektif dalam upaya meningkatkan keaktifan dan kemampuan belajar siswa. Demikian pula penggunaan metode resitasi hedaknya tidak terlalu sering dipergunakan guru, karena dapat membuat siswa bosan dalam mengerjakan tugas, apabila jika hanya diberikan kepada orang lain untuk dikerjakan sehingga guru kurang mengawasi.
8. Langkah-Langkah Metode Resitasi
Tugas yang diberikan oleh guru mata plajaran kepada siswa dapat merupakan tugas untuk dikerjakan di kelas, di perpustakan sekolah, maupun dikerjakan di rumah (PR). Tugas-tugas tersebut diharapkan dapat merangsang aktifitas belajar siswa baik secara individual maupun kelompok.
Tugas-tugas dapat berupa: tugas meneliti, menyusun laporan, tugas di laboratorium, dan tugas atau latihan pengerjaan soal. Tugas-tugas harus 36
diperhatikan, apabila bermanfaat bagi siswa atau tidak sehingga guru perlu mempertimbangkan dalam memberikan tugas kepada siswa agar efektif dalam pelaksanaannya.
Menurut sudjana (2002 : 81), langkah-langkah dalam pengunaan metode resitasi yaitu:
a. Fase pemberian tugas
Tugas yang diberikan hendaknya mempertimbangkan:
1. Tujuan yang akan dicapai
2. Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut
3. Sesuai dengan kemampuan siswa
4. Ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa 5. Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.
b. Langkah-langkah pelaksanaan tugas:
1. Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru 2. Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja
3. Diusahakan/dikerjakan oleh siswa sendiri. Tidak menyuruh orang lain 4. Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik
dan sistematik.
c. Fase pertanggung jawaban tugas
Hal yang harus dikerjakan pada fase ini yaitu:
1. Laporan siswa baik lisan/tertulis dari apa yang telah dikerjakannya.
37
3. Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun non tes atau cara lain.
Tahapan metode resitasi, menurut Roestiyah (1998) yaitu:
a. Merumuskan tujuan khusus dari tugas yang diberikan
b. Pertimbangan betul-betul apakah pemilihan teknik itu telah tepat dan dapat mencapai tujuan yang telah anda rumuskan
c. Anda (guru) perlu merumuskan tugas-tugas dengan jelas dan mudah di mengerti.
Berdasarkan pendapat tersebut, jelas bahwa metode resitasi dalam pembelajaran baik untuk dikerjakan di kelas maupun di luar kelas, guru hendaknya memperhatikan langkah-langkah yang efektif dalam pemberikan tugas, sehingga tugas yang diberikan kepada siswa betul-betul bermanfaat bagi siswa maupun bagi guru untuk kebutuhan penilaian terhadap kualitas pembelajaran.
B. HIPOTESIS TINDAKAN
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban yang di berikan baru didasarkan pada teori yang relevan belum di dasarkan pada fakta-fakta.
38
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah “ Jika diterapkan metode resitasi Maka proses belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMA Negeri 1 Pasui Kabupaten Enrekang akan meningkat”.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dalam bentuk penelitian deskrifsi kuantitatif yaitu untuk mengetahui bagai mana peningkatan proses belajar pendidikan agama islam melalui metode resitasi di SMA Negeri 1 Pasui Kabupaten Enrekang.
B. Variabel Penelitian
Dengan melihat judul diatas peningkatan proses pembelajaran pendidikan agama islam melalui metode resitasi di SMA Negeri 1 pasui kabupaten Enrekang Terdapat dua variabel yaitu variabel Independen atau
dependen atau terikat adalah melalui metode resitasi.
C. Defenisi Operasional Variabel
Agar penelitian ini dapat terarah dalam pengumpulan data, maka penulis mengemukakan defenisi variabel-variabelnya secara operasional, adalah sebagai berikut;
1. pembelajaran pendidikan agama islam adalah kegiatan yang dilaksanakan secara terencanakan pada setiap tahapan perencanaan, pelaksanaan, penilaian belajar, bimbingan serta asuhan yang diberikan pada peserta didik dalam pertumbuhan jasmani dan rohani untuk mencapai tingkat kedewasaan demi keselamatan dan kesejahteraan hidup manusia di dunia maupun di akhira
2. metode resitasi adalah metode dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar dilakuan di dalam kelas, di halama sekolah, di laboratorium, di perpustakaan, di bengkel, di rumah siswa, atau di mana saja asal tugas itu dapat dikerjakan.
D. Populasi dan Sampel
Agar pembahasan hasil terarah dan sistematis sesuai dengan tujuan penelitian, maka peneliti berupaya semaksimal mungkin untuk menguraikan hal-hal yang terkait dengan metode penelitian ini adalah populasi dan sample.
39
40
1. Populasi
Populasi dan sampel penentuan populasi mutlak di perlukan dalam penelitian, hal ini disebabkan karena populasi memberikan batasan terhadap apa yang akan diteliti. Untuk mengetahui dengan jelas dari masalah populasi itu, perlu dikemukakan tentang pengertian populasi , sebagai mana yang dikemukakan oleh para ahli sbb:
Menurut suharsimi arikunto (2002: 108) mengatakan, populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Sedangkan sugiono (2002: 55) bahwa populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti, baik berupa benda, kejadian, nilai maupun hal-hal yang terjadi.
Berdasarkan beberapa pandangan diatas, maka dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan populasi adalah seluruh anggota atau objek yang akan diteliti di dalam suatu penelitian,
Tabel 1 Keadaan Populasi
No Objek/populasi Jenis Kelamin Jumlah
L P
1 X.A 13 12 25
2 X.B 13 12 25
3 X.C 12 14 26
4 XI IPS.1 13 5 18
5 XI IPS.2 19 6 25
41
8 XII IPA.1 7 8 15
9 XII IPA.2 3 14 17
10 XII IPS 16 11 27
11 Guru SMA 1 Pasui 12 18 30
Jumlah 133 110 243
Sumber data : Kantor SMA Negeri 1 Pasui Kab. Enrekang 2014/2015 2. Sampel
Dalam penelitian diperlukan adanya yang dinamakan sampel penelitian atau miniatur dari populasi hal ini mardalis (2004:55) mengatakan bahwa sampel adalah sebagian dari seluruh individu yang menjadi objek penelitian, sedangkan sampel menurut sutrisni hadi (2002: 221) adalah sebagian dari populasi penelitian yang di pilih yang memiliki sifat yang sama dengan populasi dengan kata lain sampel adalah sebagian dari populasi yang di teliti.
Arikunto (2010 : 134) mengemukakan bahwa:
sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan sampel adalah bagian populasi yang hendak diteliti dan mewakili karakteristik populasi. Apabila populasi penelitian berjumlah kurang dari 100 maka sampel yang diambil adalah semuanya, namun apabila populasi penelitian berjumlah lebih dari 100 maka sampel dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih
Dengan melihat beberapa pendapat di atas maka penulis menyimpulkan bahwa sampel adalah bagian dari populasi yang mewakili 42
keseluruhan. Adapun yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XB SMA Negeri 1 Pasui Kabupaten Enrekang berjumlah 21 orang.
Tabel 2 Keadaan Sampel
No Objek Populasi Sampel
1 Siswa 238 25
Jumlah 238 25
E. Instrumen Penelitian
Adapun instrumen yang penulis akan pergunakan dalam penelitian untuk mengetahui peningkatan proses pembelajaran pendidikan agama islam melalui metode resitasi di SMA Negeri 1 Pasui Kabupaten Enrekang Instumen yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah mengunakan tes, panduwan wawancara dan observasi untuk mengukur, mengamati dan mencatat peningkatan proses pembelajaran pendidikan agama islam melalui metode resitasi di SMA Negeri 1 Pasui Kabupaten Enrekang, setiap kejadian yang berlangsung kepada siswa kelas XB.
F. Teknik Pengumpulan Data 1. Teknik Tes
43
pengumpulan data penelitian guna mengukur peningkatan proses pembelajaran pendidikan agama islam melalui metode resitasi di Kabupaten Enrekan. Isi tes berkaitan dengan materi yang di ajarkan dalam tindakan dengan standar kompetensi yang akan disesuaikan pada saat penelitian tindakan dilaksanakan.
Menurut Suharsimi Arikunto (1996:138) “Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok”.
2. Teknik Dokumentasi
Kegiatan dekomentasi dimaksud untuk memperoleh data siswa kelas XB SMA Negeri 1 Pasui Kabupaten Enrekang, kurikulum dan rencana pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama islam dengan standar kompetensi akan di sesuaikan pada saat penelitian.
3. Wawan cara
wawancara dilakukan untuk mengumpulkan data yang di lakukan secara langsung yaitu kepada guru pandidikan agama islam
4. Observasi
Observasi ini dilakukan untuk mengetahui dengan adanya penerapan metode resitasi minat belajar siswa semakin meningkat
44
G. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang penulis gunakan untuk menguji hipotesis penelitian
1. Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif dimaksudan untuk mengetahui tingkatan prestasi belajar pendidikan agama islam melalui metode resitasi di SMA Negeri 1 Pasui KabupateN Enrekang, kelompok yang di ajar mengunakan metode resitasi. Guna kepentingan tersebut di buatkan tabel kemudian di lakukan perhitungan rata-rata untuk mengukur prestasi belajar siswa sebelum dan sesudah perlakuan.
Analisis data yang dilakukan adalah deskriptif kuantitatif digunakan untuk menjelaskan hasil-hasil tindakan yang mengarah pada peningkatan keaktifan siswa selama mengikuti proses belajar mengajar.
Analisis data secara kuantitatif digunakan untuk mendeskripsikan kategori hasil belajar siswa pendidikan agama islam yang akan dikelompokkan dalam sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan tinggi sekali. berdasarkan teknik kategorisasi standar yang diterapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, Murdiah (Abdul Gafur, 2010: 30) yang dimnyatakan sebagai berikut:
No Presentase Tingkat Penguasaan Kategori Kategori
1 00-54 Sangat Rendah
45
3 65-79 Sedang
4 80-89 Tinggi
5 90-100 Sangat Tinggi
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Kondisi Obyektif dan Lokasi Penelitian
Pada pembahasan ini penulis menguraikan tentang hasil penelitian, namun sebelum terlalu jauh membahas mengenai hasil penelitian ini, terlebih dahulu peneliti memberikan gambaran tentang obyek lokasi penelitian sebagai berikut:
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Dalam hal ini penulis mengemukakan mengenai gambaran umum SMA Negeri 1 Pasui Kabupaten Enrekang yang dirinci sebagai berikut:
a. Sejarah Berdirinya SMA Negeri 1 Pasui Kab. Enrekang
SMA Negeri 1 Pasui adalah salah satu sekolah yang didirikan pada tahun 2007, sebelumnya sebagai keas jauh SMA Negeri 1 Barakah, guru-guru yang mengajar di SMA Barakahh itu juga yang mengajar di SMA 1 Pasui, dan kegiatan ekstra kulikulerpun gabung dengan SMA Negeri 1 baraka, beberapa bulan kemudian SMA Negeri 1 Pasui memiliki kepala sekolah sementara yaitu Hamrul. S.Pd selama 6 bulan.
Pada tahun 2008 SMA Negeri 1 Pasui mempunyai siswa angkatan pertama yang berjumlah 39 orang, dan mempunyai kepala sekolah pertama yaitu M.
Arif candik M.Pd.I selama dua tahun, di lanjutkan lagi Drs. Abdul Haliq, M.M selam lima tahun, dan sekarang tahun 2014/2015 Hamrul, S.Pd, dan Dimana lokasinya di sebelah timur perkebunan, di sebelah barat kantor camat disebelah selatan kampung madata, dan disebelah utara rumah sakit. SMA Negeri 1 pasui sudah berdiri sendiri tahun 2009 dan tidak lagi di katakan SMA 1 baraka Jauh.
Sejak berdirinya SMA Negeri 1 Pasui sampai sekarang masih tetap mampu bertahan, berkembang dalam bidang pendidikan demi tercapainya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang berilmu pengetahuan dengan dasar keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt.
Keberadaan SMA Negeri 1 Pasui merupakan salah satu sarana yang turut membantu pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran 47
46
berlaku.
2. Profil SMA Negeri 1 Pasui
a. Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Pasui b. Jalan/Nomor : Jl. Pendidikan No. 1 Pasui c. No. Induk Sekolah : 40314179
d. No. Statistik Sekolah : 301191603460 e. Provinsi : Sulawesi Selatan
f. Kabupaten : Enrekang
g. Kecamatan : Buntu Batu
h. Kode Pos : 91753
i. Desa/Kelurahan : Pasui j. Status Sekolah : Negeri k. Kegiatan Belajar : Pagi
l. Bangunan Sekolah : Milik Sendiri m. Jarak ke Pusat Kecamatan : 0.5 KM n. Jarak Ke Pusat Kabupaten : 41KM o. Terletak pada lintasan : Desa
3. Visi dan Misi SMA Negeri 1 Pasui a. Visi SMA Negeri 1 Pasui
48
"Menguasai teknologi informasi, mantap dalam IMTAQ unggul dalam IPTEK, berprestasi dalam olahraga dan seni serta siap bersaing dalam menghadapi era global ".
b. Misi SMA Negeri 1 Pasui
1) Menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran.
2) Menumbuhkembangkan semangat keunggulan dan bernalar sehat kepada para peserta didik, guru dan pegawai sehingga berkemauan kuat untuk terus maju.
3) Meningkatkan komitmen seluruh tenaga kependidikan terhadap tugas pokok dan fungsinya.
4) Mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran dan administrasi sekolah.
4. Keadaan Pendidikan dan Tenaga Pendidikan Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Pasui Kab Enrekang.
Keadaan pendidikan dan tenaga pendidikan sekolah menengah atas Negeri 1 Pasui dapat kita lihat pada table di bawah ini
a. Kepala Sekolah
Tabel 3
Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Pasui Kab. Enrekang
No Nama Jenis
Kelamin
Usia Pend.
Akhir
L P
1. Kepala Sekolah Hamrul S.Pd L 44 S.1
49
Sekolah
Sumber Data : Kantor SMA Negeri 1 Pasui Kab Enrekang 2014/2015
b. Guru
Tabel 4
Kualifikasi Pendidikan, Jenis Kelamin dan Jumlah No Tingkat
Pendidikan
Jumlah dan Status Guru
Jumlah GT/PNS GTT/Guru Bantu
L P L P
1. S3/S2 1 1
2. S1 7 11 4 7 29
3. D-4
4. D3
5. D2
6. D1
Jumlah 8 11 4 7 30
Sumber Data : Kantor SMA Negeri 1 Pasui Kab Enrekang 2014/2015 Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa sumber daya manusia di SMA Negeri 1 Pasui sangat memadai dalam rangka meningkatkan minat hasil belajar siswa yang ada di sekolah tersebut.
4. Keadaan Sarana dan Prasarana
Keadaan Sarana dan prasarana SMA Negeri 1 Pasui dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5
Keadaan Sarana dan Prasarana SMA Negeri 1 Pasui Kab Enrekang
No Jenis Prasarana Kondisi Jumlah
50
Baik Rusak
1. Ruang kelas 11 - 11
2. R. Kepsek 1 - 1
3. R. Wakil Kepsek 1 - 1
4. R. Guru 1 - 1
5. R. Tata Usaha 1 - 1
6. Ruang Tamu 1 - 1
7. Perpustakaan 1 - 1
8. R. Keterampilan 1 - 1
9. Lab. IPA 1 - 1
10 Musollah 1 - 1
11. Lab. Komputer 1 - 1
12. Multimedia 1 - 1
13. R. Serbaguna 1 - 1
14. Gudang 1 - 1
15. Dapur/ WC 2 - 2
16. BK 1 - 1
18. OSIS 1 - 1
Sumber data : Kantor tata usaha Keadaan Peserta didik Siswa SMA Negeri 1 Pasui Kab. Enrekang 2014/2015
Siswa kelas XB SMA Negeri 1 Pasui tahun ajaran 2014/2015 berjumlah 25 orang. Jumlah laki-laki 12 orang dan jumlah perempuan 13 orang. Berikut ini daftar nama-nama siswa yang menjadi objek penelitian.
Tabel 6
Keadaan siswa kelas XB SMA Negeri 1 Pasui Kab Enrekang 2014/2015
No Nama Jenis Kelamin
1. Lisa Angraini Ningsi P
2. Nasriah P
3. Aprianti Haris P
4. Jumriah P
51
6 Muh. Ilham L
7. Muh. Yusuf Sahar L
8. Mufassir L
9. Zainuddin L
10. Yuniarti Ningrum Aman P
11. Isnaini Munawarah P
12. Salman L
13. Muh. Amril L
14. Nurul Fitri P
15. Hartono L
16. Anita Bonita P
17. Al-Irfan L
18. Surianto L
19. Riswan L
20. Puspa Gasali P
21. Depita Santi P
22. Rahma Diana P
23. Mariani P
24. Masdin L
25. Miratna P
Sumber: Absensi kelas XB SMA Negeri 1 Pasui Kab Enrekang
A. Peningkatan Proses Pembelajaran Agama Islam Melalui Metode Resitasi Siswa SMA Negeri 1 Pasui Kabupaten Enrekang
1. Pra siklus
Berdasarkan hasil wawancara yang di lakukan pada seorang guru yang mengajar Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 1 Pasui yaitu ibu ST.
Samami, S.Ag memberikan tanggapan terhadap Proses pembelajaran pendidikan agama islam di SMA Negeri 1 Pasui sudah berjalan sesuai 52
dengan jadwan yang sudah di tentukan dan mengenai metode resitasi yang di lakukan pada proses pembelajaran pendidikan agama sudah di terapkan tapi guru pendidikan agama islam di SMA Negeri 1 pasui hanya mengenal dengan nama PR (Pekerjaan Rumah),
Memang penerapa metode resitasi sudah memulai, akan tetapi setiap materi pada pelajaran pendidikan agama islam yang di berikan kepada siwa di gunakan metode resitasi, beliau mengkondisikanya sesuai dengan materi yang diberikan.
Berikut ini data dari hasil observasi untuk mengetahui aktivitas siswa kelas XB SMA Negeri 1 Pasui Kabupaten Enrekang selama penerapan metode resitasi pada proses pembelajaran pendidikan Agama Islam.
Berdasarkan hasil observasi, peneliti menggambarkan data yang diperoleh sebagai berikut:
Tabel 7
Hasil Observasi Aktivitas Siswa Kelas XB SMA Negeri 1 Pasui Kab Enrekang sebelum Penerapan metode Resitasi Pada Proses Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam.tahun 2014/2015
No Nama Nilai
1. Lisa Angraini Ningsi 80
2. Nasriah 75
3. Aprianti Haris 75
4. Jumriah 70
5. Ricky Chandra 70
53
7. Muh. Yusuf Sahar 65
8. Mufassir 75
9. Zainuddin 75
10. Yuniarti Ningrum Aman 80
11. Isnaini Munawarah 70
12. Salman 80
13. Muh. Amril 60
14. Nurul Fitri 75
15. Hartono 70
16. Anita Bonita 70
17. Al-Irfan 70
18. Surianto 60
19. Riswan 60
20. Puspa Gasali 75
21. Depita Santi 80
22. Rahma Diana 70
23. Mariani 70
24. Masdin 80
25. Miratna 70
Jumlah Nilai ∑fx=1800
Ket:
Skor maksimal : 95 Nilai minimum : 60
Sebelum melakukan perhitungan dengan prosentase terlebih dahulu menghitung nilai rata-rata:
M = ∑𝑓𝑥
∑𝑓
M = 1800
25
54
M = 72
Setelah diketahui nilai rata-rata langkah selanjutnya yaitu menentukan prosentase:
Prosentase = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ𝑠𝑘𝑜𝑟𝑦𝑎𝑛𝑔𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ
𝑠𝑘𝑜𝑟𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 X 100%
P = 72
95 X 100%
P = 75, 78%
Adapun hasil pengamatan belajar siswa pada pembelajaran agama islam pada langkah prasiklus menunjukkan nilai rata-rata yang diperoleh yaitu 72 dengan hasil prosentase 75, 78%. Dari hasil pengamatan di atas membuktikan bahwa minat belajar siswa pada pembelajaran pendidikan agama islam dengan kategori nilai sudah sedang, karena nilai yang diperoleh dalam pengamatan sudah di atas pencapaian nilai minimum.
Adapun kriteria hasil penilaian belajra siswa dapat kita lihat pada table dibawah ini adalah sebagai berikut :
Tabel 8 Kriteria penilaian Persentase tingkat penguasaan
kategori
Kategori
00-54 Sangat Rendah
55-64 Rendah
65-79 Sedang
80-89 tinggi
90-100 Sangat Tinggi
2. Siklus 1
55