Bab 4 Hasil dan Pembahasan
4.2 Karakteristik Responden
4.2.2 Berdasarkan Umur
Keragaman responden berdasarkan umur dapat ditunjukan pada tabel berikut :
Tabel 4.5
Responden Berdasarkan Umur No Umur (tahun) Jumlah (orang)
1 16-20 9
2 21-25 15
3 26-30 26
4 Lebih dari 31 48
Jumlah 98
Sumber : Hasil Kuisioner 2021
Berdasarkan karakterisitik umur responden pada tabel diatas, menunjukkan bahwa responden yang berumur antara 16 -20 tahun sebanyak 9 orang, responden yang berumur antara antara 21 – 25 tahun sebanyak 15 orang, responden yang berumur antara 26 – 30 tahun sebanyak 26 orang dan responden yang berumur lebih dari 31 tahun sebanyak 48 orang. Berdasarkan karakteristik umur responden sebagian besar responden berumur antara 31 tahun keatas yaitu sebesar 48 orang.
4.2.3 Berdasarkan Pekerjaan
Keragaman responden berdasarkan pekerjaan dapat ditunjukkan pada tabel berikut
Tabel 4.6
Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan No Pekerjaan Jumlah Orang
1 PNS 15
2 Pedagang 12
3 Nelayan 26
4 Pelajar/Mahasiswa 13
5 Ibu Rumah Tangga 20
Jumlah 98
Sumber : Hasil Kuisioner 2021
Berdasarkan karakteristik responden pada tabel diatas, menunjukkan bahwa responden berdasarkan pekerjaan yang terbanyak adalah Nelayan 26 orang, Ibu Rumah Tangga 20 orang dan PNS 15 orang.
4.3 PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP KARAKTERISTIK RTH PUBLIK DESA TINAKIN
4.3.1 KARAKTERISTIK RTH PUBLIK DESA TINAKIN
Pada tahapan ini, peneltian akan difokuskan pada karakterisrik ruang terbuka hijau publik pada Desa Tinakin, Kecamatan Banggai, Kabupaten Banggai Laut. taman
lingkungan yang terdapat pada lingkungan sekitar pemukiman penduduk Desa Tinakin. Untuk sasaran pertama, penelitian akan melakukan observasi secara langsung dan wawancara kepada beberapa warga yang tinggal di kawasan sekitar. Untuk aspek yang akan ditinjau untuk mengetahui karakteristik ruang terbuka hijau, skala pemanfaatan ruang terbuka hijau, lalu vegetasi yang terdapat pada ruang terbuka hijau.
Pada Desa Tinakin, ruang terbuka hijau publik pujasera merupakan fisik binaan yang merupakan ruang terbuka hijau buatan dan dominasi dengan jenis tanaman lingkungan dengan skala RT/RW. Ruang terbuka hijau Pujasera Desa Tinakin, memiliki 3 titik lokasi yang terpisah, masing-masing memiliki karakter Ruang terbuka hijau yang sama. Namun yang membedakan adalah dari segi estetika berupa adanya patung
“Cardinal Fish” yang menjadi ikon bagi Kabupaten Banggai Laut itu sendiri.
Ruang Terbuka Hijua pada Desa Tinakin, secara keseluruhan memiliki luas sebesar 5.370 m2. Yang mengartikan bahwa RTH tersebut terklasifikasikan sebagai RTH skala RT/RW.
Berdasarkan hasil observasi langsung, ruang terbuka hijau Desa Tinakin secara ekologis belum berfungsi maksimal,
dikarenakan kurangnya vegetasi pada taman ini terutama pohon-pohon sebagai peneduh dan pengurai udara. Adapun vegetasi yang terdapat pada RTH ini adalah jenis tanaman bunga lidah mertua. kemudian drainase pada Ruang Terbuka Hijau ini dipenuhi sampah sampah yang menambah kesan kurang sehat pada ruang terbuka hijau pujasera tinakin ini.
Bisa dilihat pada gambar berikut : Gambar 4.5
Kondisi Ekologi RTH Pujasera
Sumber : Survey Lapangan, 2021
Selanjutnya, taman lingkungan ini sering menjadi titik aktivitas masyarakat setempat untuk berolahraga, adanya lapangan voli pada RTH Pujasera memberikan sarana sosial yang baik untuk masyarakat, kemudian terdapat juga masjid yang berada didepan Taman RTH Pujasera, memudahkan masyarakat pengunjung untuk beribadah bisa dilihat pada gambar berikut :
Gambar 4.6
Kondisi Sosial RTH Pujasera
Sumber : Survey Lapangan, 2021
Pada RTH Desa Tinakin ini juga cukup memberikan kesan estetik yaitu adanya patung ikan cardinal atau simbol kabupaten yang berada di taman cardinal fish RTH Pujasera.
dan beberapa tanaman-tanaman hias. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, juga didapatkan beberapa vegetasi tumbuhan yang terdapat ditaman lingkungan pada Desa Tinakin, seperti berikut :
Gambar 4.7
Kondisi Estetika RTH Pujasera
Sumber : Survey Lapangan 2021
a. Perspesi Masyarakat Berdasarkan Jumlah Penduduk
Jumlah Penduduk Desa Tinakin sebanyak 2.256 jiwa. Jika ditinjau dari Permen PU No. 5 Tahun 2008, akan luasan kebutuhan RTH berdasarkan jumlah penduduk pada suatu kawasan, maka RTH Pujasera termasuk dalam Tipe RTH, Taman RW dan harus berlokasi di Pusat Kegiatan RW.
b. Persepsi Masyarakat Berdasarkan Kondisi RTH Kemudian ditinjau dari kondisi RTH Desa Tinakin sendiri berdasarkan observasi dan wawancara dari 98 responden, hanya 15% yang menjawab taman tersebut sangat baik atau terawat, sisanya menjawab cukup baik atau terawat, sebesar 41%, kemudian 44% warga menjawab tidak baik atau tidak terawatt. Indikator yang digunakan untuk mengukur kondisi Ruang terbuka hijau pada Desa Tinakin yaitu pada sasaran I dimana dilakukan identifikasi ruang terbuka hijau publik di Desa Tinakin, setelah dilakukan identifikasi terdapat tiga fungsi yang berada pada Ruang Terbuka Hijau Publik yaitu ekologis, sosial dan estetika. Hasil tersebut
menjadi tolak ukur kondisi RTH Publik pada Desa Tinakin.
Tabel 4.7
Persepsi Masyarakat Terhadap Kondisi RTH Pujasera
No Persepsi Masyarakat Ketarangan
1 Sangat terawat 15
2 Terawat 40
3 Tidak terawat 43
Jumlah 98
Sumber : Kusioner, 2021
Diagram 4.1
Persepsi Masyarakat Desa Tinakin terhadap Kondisi RTH Pujasera
Sumber : Analisis 2021
c. Persepsi Masyarakat terhadap Keberadaan RTH Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap pentingnya keberadaan RTH khususnya taman lingkungan pada daerah tersebut 54% menjawab penting. Hal itu dikarenakan wadah untuk berinteraksi dalam hal olahraga bagi warga setempat.
Sangat Terawat, 15,
15%
Terawat, 40, 41%
Tidak Terawat, 43, 44%
Bermain bola Voli di Lapangan RTH Desa Tinakin pada malam hari sering dilakukan oleh pemuda- pemuda warga Desa Tinakin. Dan di dipagi hari ibu- ibu rumah tangga menjual kue-kue di sepanjang RTH Pujasera, Desa Tinakin
Untuk lebih jelasnya, berikut tabel persepsi masyarakat terhadap keberadaan RTH Pujasera Desa Tinakin :
Tabel 4.8
Persepsi Masyarakat terhadap Keberadaan RTH Pujasera
No Persepsi Masyarakat Ketarangan
1 Penting 32
2 Cukup Penting 53
3 Tidak Penting 13
Jumlah 98
Sumber : Kusioner, 2021
Diagram 4.2
Persepsi Masyarakat Desa Tinakin terhadap Keberadaan RTH Pujasera
Sumber : Analisis 2021
Penting 33%
Cukup Penting 54%
Tidak Penting 13%
d. Persepsi Masyarakat terhadap fungsi RTH
Adapun fungsi ruang terbuka hijau di Desa Tinakin berdasarkan observasi secara langsung terdapat tiga fungsi yang diteliti, ketiga fungsi tersebut ialah fungsi ekologis, fungsi sosial, dan fungsi estetika. Berikut ialah penjabaran mengenai fungsi RTH publik Desa Tinakin :
Fungsi Ekologis
Dari suvey yang telah dilakukan terhadap 98 responden yang berada di Desa Tinakin, dapat diketahui bahwa 66% responden menjawab bahwa fungsi ekologis dari RTH Pujasera Desa Tinakin, adalah sebagai pelestari lingkungan dimana RTH Pujasera bermanfaat sebagai paru- paru kota, penurun suhu, dan sebagai ruang hidup satwa
Tabel 4.9
Persepsi Masyarakat terhadap fungsi ekologis RTH Pujasera Desa Tinakin
No Persepsi Masyarakat Ketarangan
1 Paru-paru Kota 64
2 Pengurai Polusi dan Kebisingan
6
3 Rekreasi 13
4 Tidak memiliki peranan 15
Jumlah 98
Sumber : Kuisioner, 2021
Diagram 4.3
Persepsi Masyarakat Desa Tinakin terhadap Fungsi Ekologis RTH Pujasera
„
Sumber : Analisis 2021
Fungsi Sosial
Adapun fungsi sosial yang telah terpenuhi berdasarkan survey yang dilakukan adalah, RTH Pujasera Desa Tinakin berfungsi sebagai media rekreasi dan olahraga. Dengan responden yang memilih indikator tersebut mencapai 65%, adanya lapangan voli pada RTH ini menjadi acuan fungsi sosial di RTH ini menjadi berfungsi. Sementara itu, fungsi sosial sebagai media komunikasi warga, hanya memperoleh 3% saja dari 98 responden.
Paru-Paru Kota 66%
Pengurai Polusi dan Kebisingan
6%
Rekreasi 13%
Tidak Memiliki Peranan
15%
Tabel 4.10
Persepsi Masyarakat terhadap Fungsi Sosial RTH Pujasera Desa Tinakin
No Persepsi Masyarakat Ketarangan 1 Sebagai Ekspresi Budaya
Lokal
24 2 Sebagai Media Komunikasi 3 3 Tempat Rekreasi dan
Olahraga
64
4 Wadah Pendidikan 5
5 Lainnya 3
Jumlah 98
Sumber : Kuisioner, 2021
Diagram 4.4
Persepsi Masyarakat Desa Tinakin terhadap Fungsi Sosial RTH Pujasera
Sumber : Analisis 2021
Fungsi Estetika
Untuk fungsi estetika yang sudah terpenuhi, berdasarkan hasil survey yang dilakukan, -% dari responden memilih indikator RTH berfungsi untuk meningkatkan kenyamanan dan memperindah lingkungan dan taman sekitar, acuan tersebut
Sebagai Ekspresi Budaya Lokal
24%
Sebagai Media Komunikasi
3%
Tempat Rekreasi dan
Olahraga 65%
Wadah Pendidikan
5%
Lainnya 3%
dapat dilihat dari adanya patung ikan “Cardinal Fish” pada taman ini yang menambah kesan estetik pada RTH Pujasera, Desa Tinakin.
Tabel 4.11
Persepsi Masyarakat terhadap Fungsi Estetika RTH Pujasera Desa Tinakin
No Persepsi Masyarakat Ketarangan 1 Kenyamanan dan
Memperindah lingkungan
68 2 Menstimulasi Kreatifitas dan
Produktifitas
12 3 Pembentuk Faktor
Keindahan Arsitektural
5
4 Lainnya 13
Jumlah 98
Sumber : Kuisioner, 2021
Diagram 4.5
Persepsi Masyarakat Terhadap Fungsi Estetika RTH Pujasera, Desa Tinakin
Sumber : Analisis, 2021
4.3.2 ANALISIS FAKTOR PENGARUH OPTIMALISASI RTH PUJASERA
Analisis ini akan menggunakan analisis Delphi Deskriptif, dimana akan memberikan beberapa pertanyaan semi terstruktur
kenyamanan dan memperindah
lingkungan 70%
menstimulasi kreatifitas dan
produktifitas 12%
pembentuk faktor keindahan arsitektural
5%
Lainnya 13%
kepada stakeholder yang dipilih pada analisis stakeholder.
Kuisioner yang disebarkan dilakukan melalui beberapa tahap tergantung consensus responden. Jika semua responden belum menyetujui variabel dalam faktor yang mempengaruhi optimalisasi RTH Pujasera, maka kuisioner akan dilanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu tahap II untuk mendapatkan consensus antar responden dan kemudian ditarik kesimpulan. Kemudian nantinya kesimpulan tersebut akan menjadi hasil tujuan pada sasaran kedua yaitu pengaruh penyebab ketidakoptimalan RTH Pujasera Desa Tinakin, Kecamatan Banggai, Kabupaten Banggai Laut. adapun tahapan yang dilalui pada analisis ini adalah :
a. Identifikasi Stakeholders Sebagai Responden
Mengidentifikasi responden yang akan dijadikan stakeholder dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan tingkat pengaruh dan tingkat kepentingan responden terhadap optimalisasi RTH Pujasera Desa Tinakin.
Stakeholder yang akan dijadikan responden dalam penelitian ini merupakan instansi atau pihak yang terkait dalam Perencanaan, pengadaan, serta pengelolaan RTH Pujasera Desa Tinakin, Kecamatan Banggai, Kabupaten Banggai Laut.
Berdasarkan hasil analisis stakeholder yang telah dilakukan didapatkan 4 stakeholders kunci yang menjadi sumber
peneliti dalam mengidentifikasi faktor optimalisasi RTH Pujasera, yaitu :
Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Banggai Laut
Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Banggai Laut
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Banggai Laut
Aktivis lingkungan Kabupaten Banggai Laut b. Eksplorasi Faktor
Tahapan ini dilakukan dengan mewawancara serta pengisian kuisioner terkait faktor yang mempengaruhi optimalisasi RTH Publik Desa Tinakin. Kemudian responden akan diberikan pertanyaan dari peneliti lalu responden harus menjawab setuju atau tidak setuju atas pertanyaan tersebut beserta alasan yang jelas. Adapun pertanyaan pertanyaan yang diberikan adalah kaitannya dengan pengaruh optimalisasi RTH Pujasera dari Aspek Kelembagaan, aspek tata guna lahan, aspek rekreasi, dan aspek sosial.
c. Hasil Literasi
Setelah dilakukan wawancara dan pengisian kuisioner oleh seluruh responden, maka didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 4.12
Aspek Pengaruh Optimalisasi RTH Pujasera Menurut Pendapat Pihak Terkait
Aspek Indikator Pendapat responden Tingkat Kesepakatan R1 R2 R3 R4
Kelembagaan
Penyelenggaraan
Program terkait RTH TS S TS TS
100%
Pengawasan dan pengelolaan
pemerintah
TS S TS TS
Tata Guna Lahan Pemanfaatan Lahan TS S TS TS
100%
Fungsi Lahan TS S TS TS Rekreasi
Kelengkapan Sarana
dan Prasarana S S S S 100%
Jenis Rekreasi S S S S
Sosial
Wawasan Masyarakat S S S S
100%
Partisipasi Masyarakat S S S S Kepedulian Masyarakat S S S S Sumber : Kuisioner, 2021
Keterangan :
S / TS : Setuju / Tidak Setuju
R1 : Dinas Lingkungan Hidup Dan Pertanahan R2 : Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang R3 : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah R4 : Aktivis Lingkungan
Setelah dilakukan wawancara dan pengisian kuisioner terhadap oleh seluruh responden terpilih dan seluruh responden menyepakati seluruh pendapat yang ada, maka dapat ditarik faktor yang berpengaruh pada ketidak optimalan RTH Pujasera Desa Tinakin adalah aspek kelembagaan dan
tata guna lahan. Dalam aspek kelembagaan terbagi menjadi dua indikator yaitu :
Penyelenggaraan Program Terkait RTH Pujasera
Indikator ini membahas mengenai keterkaitan program-program yang menyangkut ruang terbuka hijau dengan optimalisasi RTH Publik Pujasera. Program yang dimaksudkan dalam konteks ini ialah mengenai program dalam kegiatan penyediaan dan pengelolaan RTH.
Berdasarkan kuisioner Delphi yang telah diisi oleh stakeholders terkait, diketahui bahwa indikator ini sangat erat kaitannya dengan optimalisasi RTH Pujasera Desa Tinakin. Program ini yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yang kemudian ditindak lanjuti oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan kemudian dimonitoring oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, diharapkan menambah kawasan estetika kawasan perkotaan Kabupaten Banggai Laut, yang kemudian menjadi wadah interaksi masyarakat Desa Tinakin maupun seluruh masyarakat Banggai Laut pada umumnya. Berdasarkan responden stakeholder yang tidak menyetujui program pembangunan RTH Ini adalah Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan kemudian Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah, dan tokoh pemuda sebagai aktivis lingkungan, dimana sampai saat ini Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Kabupaten Banggai Laut menurut responden masih belum menerima dokumen pembangunan daripada RTH ini. Tidak adanya koordinasi dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan ruang menjadi permasalahan tersendiri pada pembangunan RTH Pujasera ini.
Pengawasan dan Pengelolaan Pemerintah
Pengawasan dan Pengelolaan Pemerintah Daerah sebagai pengelola adalah bentuk peran pemerintah terhadap optimalisasi RTH Pujasera. Dengan adanya upaya pemerintah dalam pengelolaan dan pengawasan RTH Pujasera diharapkan dapat menjaga keberlanjutan RTH Pujasera Desa Tinakin. Berdasarkan hasil Delphi hampir seluruh responden stakeholder memberikan jawaban setuju terhadap indikator ini hanya Dinas PUPR yang berpendapat setuju. Menurut ketiga responden lainnya berpendapat bahwa pengawasan dan pengelolaan pemerintah masih belum dilakukan secara maksimal.
Sementara menurut pendapat responden R2, pengawasan dan pengelolaan telah dilakukan langsung dengan memantau permasalahan RTH di Lapangan.
Kemudian faktor kedua dari aspek tata guna lahan, yang dibagi menjadi dua indikator yaitu :
Pemanfaatan Lahan
Indikator ini perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui keterkaitan antara pemanfaatan lahan RTH selama ini dengan optimalisasi RTH Pujasera. Indikator ini juga harus mesti dikaji karena adanya ketidaksesuaian pemanfaatan lahan pada kawasan ini. Berdasarkan jawaban dari responden, yang menjawab tidak setuju adalah Responden R1, R3, dan R4. Hal ini membuktikan bahwa pemanfaatan lahan menjadi faktor yang cukup berpengaruh terhadap ketidakoptimalan RTH Pujasera Desa tinakin.
Fungsi Lahan
Pada kuisioner diatas, mayoritas responden menyatakan tidak setuju bahwa fungsi lahan sudah memberikan pengaruh terhadap optimalisasi. Maka faktor fungsi lahan merupakan faktor yang juga cukup berpengaruh terhadap ketidakoptimalan RTH Pujasera, Desa Tinakin
Sementara itu, kedua aspek lainnya yaitu aspek rekreasi, dan aspek sosial, berdasarkan pendapat stakeholders diatas menyatakan bahwa aspek rekreasi
dan aspek sosial sudah memberikan pengaruh yang baik bagi keoptimalan RTH Pujasera, Desa Tinakin, Kecamatan Banggai, Kabupaten Banggai Laut.
4.4 STRATEGI PENGOPTIMALAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK PUJASERA DESA TINAKIN
Selanjutnya adalah merumuskan strategi pengoptimalan RTH Pujasera Desa Tinakin, berdasarkan preferensi masyarakat serta faktor- faktor yang berpengaruh terhadap optimalisasi RTH Pujasera Desa Tinakin. Maka strategi dirumuskan pada tabel berikut :
Tabel 4.13
Strategi Pengoptimalan RTH Pujasera Desa Tinakin, Kecamatan Banggai, Kabupaten Banggai Laut
Aspek Faktor Hasil Penelitian Studi Literatur Kebijakan
Kelembagaan Penyelenggaraan Program terkait RTH
&
Pengawasan dan Pengelolaan Pemerintah
Belum adanya
masterplan RTH untuk diterapkan sebagai dokumen acuan dalam penyediaan ruang terbuka hijau
Kabupaten Banggai Laut
Program terkait RTH Pujasera tidak
terkoordinir dengan
Hedi Dewanto, Dyah Hariani, Maesaroh (2013) Perencanaan Strategis menurut Olsen dan Eadie adalah sebagai upaya yang didisiplinkan untuk membuat keputusan dan tindakan penting yang membentuk dan memandu bagaimana
menjadi organisasi, apa yang dikerjakan organisasi dan mengapa mengerjakan hal
Peraturan Menteri Dalam Negeri No 1 Tahun 2007 tentang Penataan RTH Kawasan Perkotaan Pemanfaatan RTHKP Publik dikelola oleh
pemerintah daerah dengan melibatkan para pelaku pembangunan.
Bab VII Pembina dan pengawasan Pasal 17 :
baik, dimana tidak adanya koordinasi antara Dinas
Pekerjaan Umum dan Dinas Lingkungan Hidup dalam
Pembangunan RTH Pujasera.
seperti itu. Perencanaan strategis dapat memfasilitasi komunikasi dan partisipasi, mengakomodasi kepentingan dan nilai yang berbeda, dan membantu pembuat
keputusan secara tertib maupun keberhasilan implementasi keputusan.
(1) Bupati/Walikota
Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penataan RTHKP
(2) Gubernur
Mengkoordinasikan pembinaan dan
pengawasan terhadap penataan RTHKP Kabupaten/Kota Strategi : Pemerintah Daerah sebagai pengelola Ruang Terbuka Hijau Pujasera, menerbitkan peraturan daerah ataupun dokumen perencanaan terkait pemanfaatan Ruang terbuka hijau daerah Kabupaten Banggai laut, yang didalamnya sudah termuat bagaimana pemeliharaan, pengelolaan, pemanfaatan, serta pemeliharaan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan Kabupaten Banggai Laut,. Dengan
mengikut sertakan peran serta masyarakat sebagai pengguna Ruang Terbuka Hijau.
Tata Guna Lahan
Pemanfaatan dan Fungsi Lahan
Pada Ruang Terbuka Hijau Desa Tinakin, terdapat kekeliruan terhadap pemanfaatan lahan RTH ini.
Stakeholder terkait menyatakan bahwa terjadi masalah sengketa terkait lahan RTH ini. Dan inilah yang memberikan pengaruh atas
ketidakoptimalan RTH Pujasera ini.
Santun R.P. Sitorus, Engge Mustamei, Setyadi P. Mulya (2019)
Perencanaan
pengembangan RTH diprioritaskan pada penggunaan lahan yang teridentifikasi sebagai lahan prioritas 1 (lahan terbuka dan semak belukar) dan Lahan prioritas 2 (tegalan/ladang dan kebun campuran).
PERDA KAB. BANGGAI LAUT NO. 9 TAHUN 2015 Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan ruang terbuka hijau sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf h ditetapkan sebagai berikut :
a. Kawasan ruang terbuka hijau tidak diperkenankan dialihfungsikan menjadi kawasan permukiman b. Dalam kawasan ruang
terbuka hijau masih diperkenankan dibangun fasilitas pelayanan sosial secara terbatas dan
memenuhi ketentuan yang berlaku
c. Pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan rekreasi dan Pelarangan semua jenis kegiatan yang dapat menurunkan luas, nilai ekologis, dan estetika kawasan
Strategi : Pemerintah Daerah sebagai penanggung jawab penyediaan RTH Pujasera segera menyelesaikan permasalahan terkait lahan dari RTH Pujasera dan sekaligus menambah jumlah lahan ruang terbuka hijau demi memenuhi kuota minimal lahan hijau, dengan mengacu kepada aturan – aturan terkait penyediaan dan pengelolaan ruang terbuka hijau.
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terkait strategi pengoptimalan RTH Pujasera, Desa Tinakin, Kecamatan Banggai, Kabupaten Banggai Laut, maka kesimpulan yang dapat ditarik dari penilitian ini adalah :
1. Faktor yang menyebabkan tidak optimalnya RTH Pujasera Desa Aspek Kelembagaan : yaitu penyelenggaraan, pengelolaan, dan pengawasan RTH Pujasera serta aspek tata guna lahan yaitu pemanfaatan dan fungsi lahan mengalami permasalahan sengketa, dan menjadi faktor yang cukup berpengaruh terhadap ketidakoptimalan RTH pujasera 2. Strategi Pengoptimalan RTH Pujasera, Desa Tinakin, Kecamatan
Banggai, Kabupaten Banggai Laut, adalah sebagai berikut :
a. Pemerintah Daerah sebagai pengelola Ruang Terbuka Hijau Pujasera, menerbitkan peraturan daerah ataupun dokumen perencanaan terkait pemanfaatan Ruang terbuka hijau daerah Kabupaten Banggai laut, yang didalamnya sudah termuat bagaimana pemeliharaan, pengelolaan, pemanfaatan, serta pemeliharaan Ruang Terbuka Hijau Perkotaan Kabupaten Banggai Laut,. Dengan mengikut sertakan peran serta masyarakat sebagai pengguna Ruang Terbuka Hijau.
b. Pemerintah Daerah sebagai penanggung jawab penyediaan RTH Pujasera segera menyelesaikan permasalahan terkait lahan dari RTH Pujasera dan sekaligus menambah jumlah lahan ruang terbuka hijau demi memenuhi kuota minimal lahan hijau, dengan mengacu kepada aturan – aturan terkait penyediaan dan pengelolaan ruang terbuka hijau.
5.2 Saran
Dari kesimpulan yang telah disajikan maka dalam penelitian ini saran sebagai bahan masukan strategi pengoptimalan RTH Pujasera, Desa Tinakin, Kecamatan Banggai, Kabupaten Banggai Laut, ialah :
1. Dapat dijadikan sebagai rujukan kepada pemerintah daerah Kabupaten Banggai Laut dalam upaya penyediaan, pengelolaan, maupun pemanfaatan ruang terbuka hijau publik kawasan perkotaan, Kabupaten Banggai Laut.
2. Bagi akademisi, penelitian dan pengkajian lebih lanjut mengenai variabel lainnya perlu dilakukan. Dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan munculnya temuan-temuan baru yang dapat menjadi masukan pemerintah dalam merencanakan dan menjalankan program.
DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. (2007). Jakarta; Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional. (Prof. Dr. sumarni, 2010).
PU, M. (2008). Pedoman Penyediaan Pemanfaatan RTH di Perkotaan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 4 Tahun 1996 tentang Penataan
Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan. (1996). Jakarta Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05/PRT/M/2008 tentang
Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan
Peraturan Daerah Kabupaten Banggai Laut Nomor 9 Tahun 2015 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banggai Laut Tahun 2015-2035
Badan Pusat Statistik Kabupaten Banggai Laut . (2020). Kabupaten Banggai Laut Dalam Angka Tahun 2020
Heinze, John. (2011). Benefit of Green Space. Environmental Health Research Foundation. Virginia.
Bogdan, Robert dan Steven Taylor. Introducing to Qualitatif Methods:
Phenomenological. New York: A Wley Interscience Publication, 1975
Kustiawan, Iwan. (2017). Perencanaan Kota. Tanggerang Selatan:
Penerbit Universitas Terbuka
Wijaya, Putra, 2013. Analisis Pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik di Jakarta Timur, Jakarta: Universitas Indonesia
Purnomohadi, N. (2006). Ruang Terbuka Hijau sebagai unsur Utama Tata Ruang Kota. Jakarta: direkotrat Jenderal Penataan Ruang Kementrian Pekerjaan Umum
W,.A. (2010). Analisis Perubahan Luas Ruang Terbuka Hijau Dan Faktor- Faktor yang Mempengaruhinya Di Jakarta Selatan. Skripsi.
Vidi Wijaya, Faisal. (2018). Strategi Optimalisasi Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Preferensi Masyarakat Di Kelurahan Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Skripsi.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Kuisioner Masyarakat Terhadap Evaluasi Ruang Terbuka Hijau No. Responden :
KUISIONER STRATEFI PEGOPTIMALAN RUANG TERBUKA HIJAU KABUPATEN BANGGAI LAUT
Oleh
Fauzan Kaepa (4517042019) Bapak/Ibu/Saudara yang saya hormati,
Saya mahasiswa jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Bosowa Makassar. Dalam hal ini saya sedang melakukan penelitian tugas akhir (skripsi). Kuisioner ini berhubungan dengan persepsi saudara sebagai masyarakat Tinakin Laut yang terkait dengan Ruang Terbuka Hijau yang berada di Kabupaten Banggai Laut.
Hasil kuisioner ini tidak untuk dipublikasikan melainkan untuk kepentingan penelitian. Atas bantuan dan kerjasamanya saya ucapkan terimakasih.
A. Karakteristik Responden
Petunjuk pengisian. berilah tanda (X) untuk jawaban yang anda pilih dan isi (… ) sesuai dengan pendapat saudara!.
1. Nama
:...
..
2. Jenis Kelamin : a. Laki-Laki b.
Perempuan 3. Umur ... tahun 4. Pendidikan : a. SD
b. SMP c. SMA d. Diploma e. S1
f. Lainnya, ...
5. Pekerjaan : a. Pegawai Negeri b. Pegawai Swasta
c. Pengusaha/Wiraswasta d. Pedagang
e. Petani
f. Pelajar/Mahasiswa g. Lainya, ...