• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buah Perjuangan: Pasca Okupasi

Dalam dokumen TANAH UNTUK KEHIDUPAN (Halaman 46-56)

Sudah hampir lima tahun berlalu sejak okupasi dan konflik agraria antara masyarakat Desa Suka Maju dengan PT. Kaswari Unggul. Situasi yang tampak kini menunjukkan betapa keyakinan para petani akan kepemilikan lahan mereka memacu semangat mereka untuk sungguh-sungguh mengolah lahannya. Walaupun dalam prosesnya, memang masalah kepemilikan lahan ini sempat menimbulkan ketegangan antar para petani ataupun antar kelompok tani, terutama terkait dengan masalah pembagian lahan.

Di samping mekanisme pembagian lahan kepada masing-masing rumah tangga, terdapat juga lahan yang diperuntukkan sebagai lahan kolektif milik organisasi. Luas lahan kolektif sebanyak 2 kavling, atau 4 hektar. Lahan kolektif tersebut dibedakan menjadi lahan kolektif pokok seluas kavling, atau

3

2 hektar, yang dikelola bersama-sama dan hasilnya nanti dipergunakan untuk kepentingan organisasi.

Lahan kolekif pokok dikelola bersama oleh anggota organisasi tani. Pengerjaannya dilakukan seminggu sekali setiap hari minggu secara bergotong royong.

Lahan ini rencananya akan ditanami kelapa sawit, karena hasilnya yang dirasa menguntungkan dan akan berguna untuk pengembangan organisasi.

Saat ini, lahan kolektif tersebut sudah dibersihkan dari tanaman-tanaman besar, serta secara bertahap dalam masa pembersihan dari alang-alang agar siap untuk ditanami. Yang menarik dari lahan kolektif adalah letaknya yang tepat di tengah-tengah lahan milik perkebunan PT. Kaswari Unggul. Posisi lahan ini seakan menjadi lambang perlawanan para petani terhadap pihak perkebunan. Walaupun dikerjakan bersama-sama namun tetap ada satu orang yang menjadi penanggung jawab lahan kolektif pokok ini yaitu Suraji, ketua OTL Bunga Raya.

Sementara kavling lain dari lahan kolektif dikembangkan sebagai badan usaha. Lahan ini dikelola oleh Budi, anak dari salah satu DPP Pertajam Rujianto yang juga anggota kelompok Pertajam. Pada lahan ini yang juga dikembangkan tanaman yang sama, kelapa sawit. Hasil dari lahan seluas 2 hektar ini nantinya akan dibagi dua antara pihak Pertajam dengan pengelola. Budi, sejauh ini bertugas untuk menyiapkan lahan agar siap tanam, serta mengelola dan merawat tanaman sawit yang dikembangkan. Sementara pihak Pertajam berperan menyediakan modal awal berupa bibit, pupuk dan pestisida. Saat ini perkembangan kebun kelapa sawit

35

Tanah Untuk Kehidupan

Perjuangan Reforma Agraria di Suka Maju, Tanjung Jabung Timur, Jambi

di kebun ini sudah sampai pada tahap pembibitan.

Sejak terjadi konflik dengan PT. Kaswari Unggul yang akhirnya dimenangkan kaum tani, menghasilkan keyakinan yang kuat di hati rakyat. Rakyat pun semakin yakin dengan kemandirian dan sadar akan hak-haknya. Hal ini ditandai dengan tidak diindahkannya lagi larangan pemerintah untuk tidak menanam tanaman keras. Secara terbuka mereka mulai menanam tanaman perkebunan umumnya berupa kelapa sawit—walaupun ada sebagian kecil kaum tani yang menanam karet, kopi atau coklat.

Menurut para petani tanaman perkebunan jauh lebih menguntungkan secara ekonomi, disamping memang sesuai dengan kondisi lahan di wilayah tersebut yang sebagian besar merupakan tanah rawa.

Tanaman keras seperti sawit atau karet memang membutuhkan kesabaran hingga bisa memberikan hasil yang memuaskan. Sementara di sisi lain, para petani tetap membutuhkan sumber kehidupan sehari- hari selama masa pertumbuhan hingga menghasilkan.

Sebagai contoh proyeksi ekonomi, para petani sawit di Desa Suka Maju yang kini telah berproduksi dari kavling lahan yang dimilikinya bisa mendapatkan hasil tidak kurang dari Rp 3 juta per bulan, setelah dikurangi biaya produksi. Mudahnya lagi, dari sisi perawatan, kelapa sawit bukanlah tanaman yang membutuhkan perhatian yang sangat intensif.

Untuk mengatasi masalah di atas, pada masa menunggu hasil kelapa sawit para petani di Desa Suka Maju berhasil menumpang sarikan tanaman keras dengan beberapa jenis palawija, seperti padi

3

kacang-kacangan, dan jagung. Hasil dari tanaman palawija ini selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari juga menjadi sumber pendapatan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun sistem tumpang sari ini hanya bisa dilakukan hingga kelapa sawit mencapai usia 2 tahun, sebelum tanaman ini membutuhkan banyak air.

Organisasi tani di Desa Suka Maju memiliki peranan penting dalam kehidupan para petani di Desa Suka Maju. Di satu sisi organisasi tani telah menjadi bagian penting dari perjuangan bersama dan berhasil mengubah sejarah kepemilikan lahan masyarakat. Di sisi lain organisasi tani juga berperan penting dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dalam organisasi tani yang ada di Desa Suka Maju, kita dapat merasakan betapa semangat gotong royong dan kebersamaan seakan menjadi darah kehidupan di daerah ini. Disadari betul bahwa sebagai daerah yang masih dianggap ”lahan sengketa” dalam pandangan pemerintah daerah, sulit sekali bagi kaum tani di daerah ini untuk bisa mendapatkan dukungan pemerintah dalam membangun infrastruktur yang dibutuhkan oleh masyarakat, seperti jalan dan saluran air.

Sebagai daerah yang kerap tergenang air, saluran air yang baik sangat dibutuhkan oleh para petani. Untuk mengatasinya mereka mengumpulkan uang dari tiap rumah tangga untuk menyewa alat pengeruk tanah untuk membuat parit. Sewa alat pengeruk pada saat itu yang cukup mahal—sekitar Rp 0 juta—ternyata mampu mereka kumpulkan secara swadaya. Pada

37

Tanah Untuk Kehidupan

Perjuangan Reforma Agraria di Suka Maju, Tanjung Jabung Timur, Jambi

akhir Agustus 2007, pengerjaan saluran air hasil swadaya kaum tani tersebut sudah hampir selesai.

Saat ini mereka juga tengah mempersiapkan pembangunan jalan yang lebih layak, agar dapat dilalui oleh truk-truk pengangkut sawit. Jalan yang ada saat ini masih berupa jalan tanah yang jika hujan menjadi amat licin dan berlumpur sehingga sulit untuk dilalui. Ketiadaan jalan yang baik tentunya menyulitkan bagi para petani ketika harus mengangkut hasil panen mereka. Hingga kini ketika mereka akan mengangkut hasil panen dan jalan tidak bisa dilalui, maka kaum tani mau tak mau harus melalui jalan milik perkebunan. Untuk itu, dibutuhkan ijin dari perkebunan—dan sebagai catatan, ijin tersebut tidak selalu diberikan kaum tani. Sementara dalam kasus kelapa sawit, harga jualnya turun dengan cepat jika sawit tersebut tidak segera dijual secepat mungkin setelah panen. Hal tersebut tentunya akan berakibat pada kerugian kaum tani. Pembangunan jalan ini juga dilakukan secara swadaya, dimana setiap rumah tangga dikenakan kewajiban untuk membayar Rp 62.000 untuk biaya pembangunannya.

Semangat gotong-royong mereka juga amat terlihat ketika ada anggota masyarakat yang mendapat masalah. Seperti pada kasus keluarga Pak Nur, yang disebutkan di atas. Ketika rumah anak Pak Nur habis terbakar, dengan cepat para tetangga dan teman- teman datang dan mendirikan rumah baru bagi keluarga Pak Nur.

3

Foto 3. Pembangunan rumah yang dikerjakan secara gotong royong, dan menjadi lambang bahwa tanah ini telah menjadi milik masyarakat.

Secara rutin, setiap tanggal 5 di awal bulan para petani yang tergabung dalam lima organisasi tani yang berbeda berkumpul untuk mengadakan pertemuan bersama. Dalam pertemuan rutin ini mereka mengadakan diskusi mengenai kondisi pertanian mereka, masalah yang mereka hadapi dan mencari pemecahannya bersama-sama. Dalam beberapa kesempatan, kaum tani juga mengadakan kegiatan ekonomi seperti arisan tradisional. Yang menarik ialah lewat ajang pertemuan-pertemuan rutin inilah, para petani bisa saling bertukar informasi dan pengetahuan mengenai metode, teknik dan perkembangan terakhir mengenai pertanian.

Lebih lanjut lagi, organisasi tani yang ada juga membantu para petani dalam menghadapi para

39

Tanah Untuk Kehidupan

Perjuangan Reforma Agraria di Suka Maju, Tanjung Jabung Timur, Jambi

tengkulak. Faktanya, kaum tani di Desa Suka Maju hingga hari ini memang masih sangat tergantung pada tengkulak. Namun kaum tani akhirnya menciptakan apa yang disebut Harjonarno sebagai

”tengkulak tandingan.” Adanya tengkulak tandingan bertujuan membantu agar harga pembelian produk pertanian mereka tidak ditentukan secara semena- mena oleh pihak tengkulak. Hal ini dilakukan agar dapat terjadi keseimbangan harga antara dua atau lebih penawaran. Ketika kaum tani merasa pihak tengkulak mulai menekan harga, saat itu terjadi mereka mencari pihak lain yang bersedia membeli dengan harga lebih tinggi dari tengkulak langganan mereka. Pihak tengkulak yang pertama tentunya tidak ingin kehilangan langganan mereka begitu saja, sehingga mereka akan bersedia menaikkan harga pembelian agar para petani tidak beralih ke tengkulak yang lain.

Foto 4. Pertemuan Rutin Kelompok Tani di Desa Suka Maju

0

Yang memang dirasa masih menjadi kekurangan dari organisasi tani mereka ialah belum adanya badan usaha milik organisasi, lebih khususnya lagi koperasi.

Rencana tersebut sebenarnya sudah dibuat, yaitu dengan merealisasikan koperasi produksi yang dikelola oleh Persatuan Petani Jambi (Pertajam). Namun tampaknya rencana gerakan ekonomi kerakyatan ini belum bisa dijalankan. Sejauh ini di beberapa OTL di Desa Suka Maju mereka mengadakan semacam koperasi simpan pinjam yang belum terorganisasi secara maksimal.

Hal yang patut menjadi catatan bersama dari keberhasilan para petani di Desa Suka Maju yaitu prinsip 3T yang sungguh-sungguh dipegang oleh mereka. 3T berarti tekun, tabah, dan temen (yang dalam Bahasa Jawa berarti benar atau serius, ed).

Prinsip ini seakan menjadi semangat mereka dalam melaksanakan reforma agraria dan menegakkan hak-hak mereka. Ketekunan ini diwujudkan dalam proses pengolahan lahan yang sulit dan perjuangan kepemilikan mereka atas lahan. Ketabahan dalam menunggu hasil panenan mereka, dan ketabahan menghadapi berbagai bentuk represi dan ketidakadilan.

Serta yang tak bisa dilupakan adalah persaudaraan dan persahabatan yang saling mendukung di dalam organisasi tani untuk sama-sama berjuang dan saling membantu. Hal ini dirasa telah sungguh-sungguh menjadi dasar keberhasilan para petani Desa Suka Maju hingga hari ini.

Para petani ini sebenarnya datang dari latar belakang yang cukup berbeda. Sebagian dari mereka ternyata tidak memiliki latar belakang pertanian.

4

Tanah Untuk Kehidupan

Perjuangan Reforma Agraria di Suka Maju, Tanjung Jabung Timur, Jambi

Namun keinginan kuat dari mereka untuk bertani timbul karena adanya keyakinan bahwa pertanian merupakan jaminan bagi kehidupan yang lebih baik.

Lewat pertanian mereka percaya bahwa mereka dapat menjadi mandiri secara ekonomi, tidak tergantung pada orang lain terus-menerus. Mereka menginginkan kehidupan yang lebih baik terutama bagi anak cucu mereka, yang mereka yakini bisa didapat lewat bertani.

Perjalanan para petani di Desa Suka Maju, Kecamatan Geragai, Tanjung Jabung Timur, Jambi bukanlah perjalanan yang mudah. Namun perjuangan mereka untuk mendapatkan lahan tidak lah sia-sia. Hasil yang mereka peroleh kini bukanlah sesuatu yang bisa dipandang remeh.

Hasil perjuangan kaum tani ini menunjukkan betapa pentingnya lahan dan akses terhadap sumber-sumber agraria lainnya bagi kehidupan. Di negeri agraris, dimana mayoritas penduduknya masih berada di pedesaan dan menggantungkan kehidupan di sektor pertanian, akses dan penguasaan terhadap sumber- sumber agraria menjadi sesuatu yang amat penting.

Jaminan yang pasti bahwa mereka dapat mengelola lahan mereka dengan bebas, secara psikologis bisa menjadi pemicu semangat kerja para petani.

Namun melihat pengalaman para transmigran di Tanjung Jabung Timur nampak betapa penguasaan terhadap sumber-sumber agraria juga bukanlah satu-satunya jaminan untuk perbaikkan hidup para petani. Sistem distribusi yang baik, tata guna lahan dan infrasruktur

pertanian juga penting untuk diperhatikan. Hal ini terlihat dari pengalaman para transmigran di Tanjung Jabung yang telah memiliki lahan. Namun pada fase awal kehidupan mereka karena buruknya tata guna lahan, infrasturktur dan sistem distribusi lahan tersebut seakan menjadi beban bagi mereka.

Ini juga bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk ketidakadilan agraria yang manifest (nyata) dialami para petani.

Reforma agraria yang sejati adalah suatu kesatuan dalam perombakan sistem pertanian. Hal itu tidak dapat berhenti pada penguasaan alas produksi belaka, namun juga pada penataan proses produksi hingga distribusi. Dalam kasus Tanjung Jabung Timur, merebut tanah dengan cara okupasi hanya merupakan salah satu cara masuk memperbaiki struktur kepemilikan agraria. Lebih jauh lagi, pertanian di negara agraris seperti Indonesia hendaknya menjadi tulang punggung bagi kehidupan masyarakatnya. Pertanian hendaknya dapat meningkatkan kesejahteraan hidup penduduk.

43

Tanah Untuk Kehidupan

Perjuangan Reforma Agraria di Suka Maju, Tanjung Jabung Timur, Jambi

Dalam dokumen TANAH UNTUK KEHIDUPAN (Halaman 46-56)

Dokumen terkait