• Tidak ada hasil yang ditemukan

Control Objectives Control Method / Procedures / Countermeasures

The preparation of PIN numbers should be rigidly controlled and secured

1. Never print PIN numbers on terminals &

reports.

2. Make PINs available to only the customer and selected and identified bank security or data processing personnel.

3. Store PINs in an encrypted form.

4. Perform the PIN number preparation on the computer under dual control.

5. Use PIN mailers that are secured so that they do not reveal the printed PIN number.

6. Dan seterusnya.

Detail control objective Card Center (2)

Control Objectives Control Method / Procedures / Countermeasures

Ensure that the generation of PINs is done in a secure

environment and in a secure

manner

1. Execute the generation of the actual PIN generation program under dual control 2. Schedule the execution of the PIN

generation program randomly. The

scheduled generation should be done only upon request and approval of authorized ATM and EFT personnel

3. Secure the documentation of the PIN algorithm and limit access to it.

Kategori Control: Preventive

• Preventive:

– detect problem before they arise – pemantauan operasi dan input

– melakukan prediksi atas problem yang mungkin terjadi – mencegah error dan tindakan kejahatan

• Misalnya:

– pemisahan pekerjaan

– ada prosedur yang tepat untuk proses otorisasi

– menyediakan dokumen yang dirancang tepat bagi karyawan

Kategori Control: Detective

Detective :

Menggunakan kontrol untuk mendeteksi bahwa error, perubahan atau tindakan kejahatan (malicious) yang sudah terjadi, serta melaporkannya

Misalnya :

• Hash

• Kalkulasi ulang

• Internal audit

• Laporan kinerja sistem

• Check points dalam rantai produksi

Kategori Control: Corrective

Corrective:

• Meminimalisir dampak ancaman

• Mengidentifikasi sumber dari masalah

• Memperbaiki error dari sebuah masalah

• Mengubah sistem agar dapat meminimkan jumlah ancaman di masa depan

Misalnya:

• Contingency planning

• Backup

• Re-run

Definisi Audit

“Systematic process by which a competent, independent person objectively obtains and evaluates evidence regarding assertions

about an economic entity or event for the purpose of forming an opinion about and reporting on the degree to which the

assertion conforms to an identified set of

standards.”

General audit procedures

• Understanding of the audit area/subject

• Risk assessment and general audit plan

• Detailed audit planning

• Preliminary review of audit area/subject

• Evaluating audit area/subject

• Compliance testing

• Substantive testing

• Reporting(communicating results)

• Follow-up

Klasifikasi Audit

Kategori audit berdasarkan tujuannya :

1. Financial audit : mengetahui kebenaran dari laporan keuangan perusahaan

2. Operational audit : mengetahui ada/tidaknya, berfungsi/tidaknya interal controls dalam kegiatan operasi perusahaan

3. Administrative audit : mengetahui efisiensi produktifitas operasional dari sebuah perusahaan.

4. IS audit

5. Forensic audits: untuk menemukan atau menindaklanjuti suatu kejahatan

6. Specialized audit: misalnya dalam rangka SAS 70 (AICPA) dan atau SOX, melakukan audit terhadap internal controls

Tujuan Audit

Tujuan audit bisa sangat beraneka ragam, dan sangat tergantung keinginan manajemen atau peraturan yang mengharuskan audit.

Misalnya :

• Evaluasi terhadap internal controls

• Security audit

• Software Quality Assurance audit

No. Audit phase Penjelasan

1. Audit subject Menentukan apa yang akan diaudit

2. Audit objective Menentukan tujuan dari audit.

Misalnya: ―menentukan apakah source code dapat diubah-ubah dalam data center yang dianggap secure‖

No. Audit phase Penjelasan 3. Audit scope (ruang

lingkup)

Menentukan sistem, fungsi dan bagian dari organisasi yang secara

spesifik/khusus akan diaudit. Misalnya:

―hanya melihat source code dari aplikasi Internet banking saja‖.

4. Preaudit planning Mengidentifikasi sumber daya dan SDM yang dibutuhkan.

Menentukan dokumen-dokumen apa yang diperlukan untuk menunjang audit.

Menentukan lokasi audit.

No. Audit phase Penjelasan 5. Audit procedures &

steps for data gathering

Menentukan cara melakukan audit untuk memeriksa dan menguji

kontrol.

Menentukan siapa yang akan diwawancara.

6. Evaluasi hasil pengujian dan pemeriksaan

Spesifik pada tiap organisasi

No. Audit phase Penjelasan 7. Prosedur komunikasi

dengan pihak manajemen

Spesifik pada tiap organisasi

8. Audit report

preparationMenentukan bagaimana cara

mereview hasil audit

Evaluasi kesahihan dari dokumen- dokumen, prosedur, dan kebijakan dari orgnisasi yang diaudit

Jenis Audit Risk (1)

Inherent risk : resiko yang dari pada dasarnya memang sudah ada pada auditee, karena nature (sifat) dari bisnis yang bersangkutan.

Misalnya :

• Kalkulasi 10.000 posting lebih bisa error ketimbang kalkulas 10 posting

• Uang kas lebih mudah tercuri ketimbang mobil di inventory

Jenis Audit Risk (2)

Control risk : suatu resiko yang signifikan yang mungkin muncul tak terdeteksi atau tak

tercegah oleh kontrol internal.

Misalnya, di sebuah perusahaan besar,

pemantauan piutang aging dilakukan secara manual oleh seorang pengawas interen.

Control risk ini akan lebih kecil kalau menggunakan CAAT

Jenis Audit Risk (3)

Detection risk : resiko karena suatu

ancaman tidak dideteksi karena auditor

menggunakan teknik/prosedur yang kurang

memadai.

Testing (1)

Compliance Testing

• Yakni test untuk menguji apakah kontrol diterapkan sesuai kebijakan dan prosedur organsasi.

• Tujuan utamanya adalah untuk menguji apakah kontrol-kontrol bekerja seperti yang

diperkirakan dalam preliminary evaluation.

• Misalnya kontrol bahwa source code sama dengan executeables trakhir.

Testing (2)

Substantive Testing

• Menguji pengolahan sebenarnya.

• Substantive testing dapat dilakukan untuk mengecek apakah memang ada kesalahan

dalam laporan keuangan (yang digenerate oleh komputer) atau kesalahan-kesalahaan lainnya.

• Auditor bisa melakukan substantive testing dengan cara mengambil sampel data, dan mengolahnya. Lalu memeriksa apakah valid.

Testing (3)

Korelasinya : kalau compliance testing

menunjukkan banyak kesalahan, maka

substantive testing hanya sedikit perlu

dilakukan (vice versa).

Testing (4)

Cara memahami kontrol :

• Review system to identify controls

• Test compliance, apakah kontrol benar- benar bekerja

• Evaluasi kontrol, sebagai dasar perlu

tidaknya substantive test

Risk Based Audit Approach

Gather Information & Plan

Aturan pemerintah, inherent risk, laporan keuangan, latar blkg perusahaan

Understand the Internal Controls

Prosedur kendali, analisa detection risk, analisa control risk

Compliance Test

Test policies, test segregation of duties

Substantive Test

Test account balances, test transactions

Conclude the Audit Recommendations, reports

Evidence

Yakni informasi yang dipergunakan untuk menentukan apakah objek yang diaudit sesuai dengan kriteria atau control

objectives tertentu.

Contoh Evidence (1)

1. Hasil observasi / pengamatan auditor: harus non-obtrusive. Misalnya:

• pola kerja pegawai

• struktur organisasi (bisa dengan melihat dokumen & interview)

2. Catatan interview: auditor harus tahu teknik interview.

3. Hasil korespondensi organisasi.

Contoh Evidence (2)

4. Dokumen-dokumen internal organisasi :

feasibility study docs.

test plans & reports.

requirement docs.

operations manual.

quality assurance report.

risk management document.

Logs.

5. Hasil pengujian auditor.

Evidence Reliability

• Keindependensian dari yang menyediakan bukti :

bukti dari luar organisasi sering lebih kuat, itulah sebabnya surat balasan bisa jadi dipergunakan untuk memeriksa account receivables.

• Kualifikasi orang yang memberikan bukti : Kalau

interview harus pada orang yang tepat. Jangan tanya soal firewall ke janitor! Tetapi kecakapan auditor-pun juga dapat.

• Objektifitas dari sebuah bukti. perhitungan uang tunai lebih objektif ketimbang opini auditor hanya

berdasarkan 1 orang responden yang diwawancarai mengenai perasaannya

Evidence

Auditor harus cari bukti-bukti yang relevan dan valid, sehingga bukti itu dapat

dianggap ‗competent‘.

Sampling (1)

Sampling dipergunakan kalau waktu dan biaya tidak memungkinkan untuk

memeriksa seluruh transaksi / kejadian dalam suatu populasi. Populasi adalah

seluruh item yang harus diperiksa. Subset dar populasi disebut dengan istilah sampel.

Sampling dipergunakan untuk

menginferensi karakteristik dari populasi.

Sampling (2)

Pendekatan utama terhadap sampling:

1. Statistical sampling : sampel ditentukan

secara objektif dengan kritera-kriteria yang khusus.

2. Non-statistical sampling : (judgemental sampling) menggunakan pertimbangan auditor dalam memilih sampel secar subjektif, sehingga cara ini sebenarnya mengandung resiko.

Sampling (3)

Jenis sampling lainnya :

1. Stop-or-go sampling: mencegah sampling yang terlalu banyak. Kalau terasa bahwa tidak akan ada error lagi (atau justru kebanyakan!) maka kegiatan audit boleh dihentikan.

2. Discovery sampling: metode sampling yang bisa dipergunakan untuk menemukan ―jarum dalam tumpukan jerami‖. Biasanya dipergunakan untuk mencari jejak korupsi, pemalsuan, penipuan dan tindakan melawan hukum lainnya.

Dua Jenis Sampling

• Attribute sampling: ada – tidak ada

• Variable sampling: Rp., nilai, besaran

Bagian dari Variable Sampling

• Stratified mean

• Unstratified mean

• Difference estimation

Dalam dokumen Information Systems Security Access Control (Halaman 40-76)

Dokumen terkait