Program Pengelolaan Sumberdaya Terumbu Karang yang BerkelanJutan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir pada Lokasi Terpilih
Lender Kode
Loan Masa Laku Mata Uang
Nilai Pinjaman
(Juta)
Penarikan
Kumulatif Pinjaman Belum Ditarik (Juta)
PV
TA 2016 (Juta)
(Juta) % Target Realisasi %
Bank Dunia 8336-
ID
05/06/2014
30/06/2019 s/d USD 47,4 21,5 45,4 25,8 -5,3 9,9 5,9 59.8
ADB 3094- INO
24/02/2014 s/d
30/06/2019 USD 45,5 11,2 24,5 34,4 -28,8 9,7 1) 2,1 21,6
Keterangan: Nilai tukar berdasarkan Kurs APBN-P 2016 yaitu, Rp 13.900
Donor Kode
Hibah Masa Laku Mata Uang Nilai Hibah (Juta)
Penarikan Kumulatif Hibah Belum Ditarik (Juta)
(Juta) %
Bank Dunia TF-15470 05/06/2014
30/06/2019 s/d USD 10,0 1,7 1) 17,1 8,3
ADB 0379-INO 07/02/2013
s/d
30/06/2018 USD 8,0 1,2 15,3 6,8
Instansi Pelaksana
a. Kementerian Kelautan dan Perikanan:
Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap
b. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia:
Pusat Penelitian Oseanografi
Lokasi Proyek
a. Provinsi DKI Jakarta
b. Porsi Bank Dunia : 14 PIU (6 UPT dan 14
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Peta Tutupan Karang Hidup di Kabupaten/Kota Porsi ADB
Provinsi Sumatera Barat (Mentawai dan Pulau Pieh National MPA di Kabupaten Pariaman)
d. Provinsi Nusa Tenggara Barat (Gilimatra National MPA di Kabupaten Lombok)
Ruang Lingkup (Pekerjaan dan Sasaran) a. Kelembagaan pengelolaan terumbu
karang melalui perluasan pendekatan pengelolaan terumbu karang yang terintegrasi dengan tata ruang laut b. Efektifitas pengelolaan kawasan
konservasi
c. Pengelolaan sumber daya perikanan berkelanJutan
d. Pengembangan infrastruktur dasar bagi ekonomi berbasis konservasi untuk penghidupan masyarakat
Kinerja Pelaksanaan Proyek Komponen Bank Dunia
Komponen 1. Penguatan kelembagaan untuk Pengelolaan Terumbu Karang yang Terdesentralisasi Kegiatan di level masyarakat seperti penyusunan Rencana Pengelolaan Sumberdaya Pesisir (RPSP) telah selesai dilaksanakan. Sampai dengan Triwulan IV Tahun 2016 telah disusun 163 RPSP. Meski demikian, strategi implementasi dari dokumen RPSP masih dinilai minim, terutama terkait keselarasan antara RPSP dengan dokumen perencanaan desa. Sampai dengan triwulan ini, LPSTK/LPSP telah dibangun di 210 desa, namun beberapa LPSTK belum beroperasi dengan baik sehingga masih diperlukan pelatihan serta advokasi dari proyek agar masyarakat desa mengimplementasikan kegiatan yang telah direncanakan dalam RPSP. Beberapa kabupaten telah melakukan pemantauan terkait kegiatan perikanan yang merusak seperti di Kabupaten Pangkep dan Selayar. Namun, sampai dengan MTR di bulan Oktober 2016 belum ada data baseline atau informasi terkait indikator ini. Berdasarkan hasil MTR, diketahui bahwa PMO dan dinas mengalami kesulitan dalam menghitung peningkatan terkat indikator ini.
Terkait dengan kegiatan komponen 1 yang dilaksanakan oleh PIU LIPI, sampai dengan Triwulan IV Tahun 2016 ini telah diselesaikan survei biofisik dan sosial ekonomI untuk KKPN Aru Tenggara, Buton Utara, Buton Tengah dan Buton Selatan. LIPI juga telah melaksanakan kerjasama dengan beberapa universitas terkait monitoring kondisi terumbu karang, antara lain kerjasama dengan Universitas Mataram, Universitas Diponegoro dan Universitas Sam Ratulangi. Melalui proyek COREMAP CTI, LIPI diberikan dukungan kapasitas untuk menjadi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) pemantauan terumbu karang. Uji sertifikasi akan mulai dilakukan pada awal tahun 2017.
Sementara itu, terkait dengan kegiatan beasiswa sampai dengan Triwulan IV Tahun 2016, terdapat 4 staf Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) yang mengikuti program pendidikan master dan 1 staf mengikuti program doktoral di Rhode Island University, Amerika Serikat. Mengingat proyek akan berakhir pada bulan Juni 2019, maka DJPT memutuskan proyek COREMAP CTI tidak lagi membiayai program
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Biak, Pangkep dan Raja Ampat. Pada tingkat provinsi, Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi dengan persiapan zoning plans paling baik. Rencananya pada akhir 2016, dokumen zoning plans untuk provinsi NTT akan diproses ke tingkat legislatif dan ditandatangani oleh gubernur. Sementara itu, untuk provinsi Papua, Papua Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara masih dalam tahap perincian zoning plans.
Terkait dengan pelaksanaan aktivitas pengelolaan sumberdaya alam berbasis ekosistem, proyek COREMAP CTI juga telah melakukan kerjasama dengan RARE Indonesia, sebuah NGO yang bergerak dalam bidang perikanan berkelanjutan, untuk pelaksanaan pilot project terkait Right Based Fisheries Management (RBFM). Melalui kerjsama tersebut Kabupaten Wakatobi dan Banda dipilih menjadai lokasi pilot. Telah dilakukan penilaian terhadap ketersediaan ikan terumbu karang yang kemudian dilanjutkan dengan skema manajemen yang dilakukan oleh masyarakat lokal. Selain Itu, telah dilakukan juga dukungan program untuk peningkatan kualitas biofisik terumbu karang, peningkatan pendapatan nelayan serta peningkatan kesadaran.
Komponen 3: Penguatan Ekonomi berbasis Kelautan yang Berkelanjutan
Pada tahun 2016, pelaksanaan komponen 3 direncanakan mencakup kegiatan pembangunan infrastruktur dasar untuk tingkat KPPN dan DPIU. Meski demikian, pembangunan infrastruktur belum secara spesifik difokuskan untuk mendukung komponen 3.2 terkait kegiatan SEA (Sustainable Enterprise Alliance).
Pembangunan infrastruktur dasar juga terkendala oleh permasalahan lahan yang diperlukan di sekitar area konservasi. Terkait dengan kegiatan SEA, telah disusun penilaian awal untuk semua kabupaten kecuali Kabupaten Selayar, Sikka dan Biak. Kegiatan SEA yang akan dilakukan di seluruh daerah target proyek adalah kegiatan budidaya terintegrasi dan kegiatan pariwisata. Manual untuk kegiatan SEA sampai dengan triwulan ini masih dalam penyusunan draft dan perlu segera disampaikan kepada Bank Dunia untuk mendapat persetujuan.
Komponen 4: Pengelolaan Koordinasi dan Pembelajaran Proyek
Belum semua panitia pengadaan di daerah menggunakan pedoman pengadaan yang disepakati di dalam perjanjian pinjaman. Terkait dengan hal ini proyek telah melaksanakan pelatihan terhadap pelaksanaan kegiatan pengadaan dan PIU sudah melakukan revisi pedoman pengadaan sesuai ketentuan. Proyek juga akan mengembangkan sistem monitoring dan akan dilakukan bimbingan terkait MIS. Sementara itu, terkait dengan implementasi UU No. 23 Tahun 2014 maka diperlukan susunan pelaksana proyek baru
Komponen ADB
Equivalen Juta USD No Paket Kontrak/
Komponen Nilai Kontrak
Keuangan
Realisasi Kumulatif TA 2016
Nilai % Target Realisasi %
Porsi Pinjaman 1 Persiapan Program
Master dan Doktoral - 0,17 - - 0,17 -
2 Program Pendidikan - - - - - -
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
No Paket Kontrak/
Komponen Nilai Kontrak
Keuangan
Realisasi Kumulatif TA 2016
Nilai % Target Realisasi %
1
Pelatihan Metode Pengumpulan Data dan Standarisasi Data dan Informasi Ikan Karang
- - - - - -
2 Workshop Perbaikan Data dan Informasi
Perikanan Karang - - - - - -
3 Penyusunan Database Perikanan Karang yang
Terintegrasi - - - - - -
4 Konsultan Teknis - - - - - -
Catatan :
- Nilai tukar satu valas Rp. 13.500,-.
- Usulan realokasi masih dalam proses.
Kemajuan Pelaksanaan Kegiatan dan Pencapaian Indikator Kinerja
Pinjaman. Usulan realokasi loan 3094-INO dan grant 0379-INO telah disetujui oleh ADB. Berdasarkan hasil realokasi ini, alokasi konsultan yang sebelumnya sebagian didanai oleh pinjaman dipindahkan sehingga seluruhnya didanai oleh hibah. Konsultan yang dibutuhkan sudah dikontrak dan dimobilisasi.
Rencana Kerja. Beberapa hal yang saat ini dilakukan oleh executing agency terutama setelah dilakukannya realokasi kegiatan, yaitu:
1. Penyusunan Annual Work Plan (AWP);
2. Penyusunan perubahan Design Monitoring Framework (DMF);
3. Penyusunan dokumen panduan kegiatan, seperti panduan penyusunan safeguard untuk 8 dari 10 subprojects.
Selain akibat realokasi, terdapat pula beberapa perubahan yang perlu dilakukan terkait diberlakukannya Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, diantaranya:
1. Penyesuaian Design Monitoring Framework (DMF);
2. Penyesuaian Annual Work Plan (AWP);
3. Perubahan dokumen rencana tata ruang laut;
4. Pengalihan anggaran ke provinsi melalui dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan;
5. Perubahan Project Implementation Unit (PIU); dan 6. Penyesuaian jumlah district advisor.
Perluasan Wilayah Kerja. Terdapat rencana perluasan wilayah kerja di dalam provinsi yang saat ini masuk dalam lingkup COREMAP-CTI porsi ADB dikarenakan lokasi yang saat ini ada tidak memenuhi luas minimal yang disepakati. Namun lokasi yang akan ditambah belum ditentukan oleh PMU.
Midterm Review Mission (MTR). Setelah mengalami keterlambatan, MTR rencananya akan dilaksanakan pada semester 1 tahun 2017 untuk melihat pelaksanaan kegiatan setelah AWP baru diselesaikan dan terdapat kemajuan pelaksanaan di lapangan.
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Permasalahan/KendalaYang Dihadapi Tindak Lanjut
Porsi Bank Dunia Lain-lain
- Implementasi dari UU 23/2014 akan berpengaruh pada desain kegiatan proyek (implikasi pada kelembagaan UPT Kawasan, pelaksanaan kegiatan di desa serta penganggaran TP).
- Pelaksanaan kegiatan SEA (Sustainable Enterprise Alliance) terhambat sehingga berdampak pada capaian indikator PDO ke-4 terkait “Increased income of COREMAP-CTI beneficiaries”).
- Restrukturisasi proyek, jika diperlukan, akan dibahas pada Mid Term Review.
- Diusulkan agar proyek COREMAP CTI dapat bekerjasama dengan program CCRES (Capturing Coral Reef Related Ecosystem Services) sebagai salah satu proyek FAO di KKP yang memiliki kegiatan serupa dengan
SEA.