BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Tinjauan Teori
2. Covid-19
a. Pengertian Corona Virus
Virus corona adalah kumpuan virus yang bisa menginfeksi system pernafasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernafasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernafasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia), Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di China dan beberapa negara, termasuk
14Sentot Imam Wahjono, Bisnis Modern (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), h. 228-229
13
Indonesia.15 Virus corana menyerang saluran pernafasan manusia. Seseorang dapat terinfeksi dari penderitaan Covid-19 penyakit ini dapat menyebar melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut pada saat batuk dan bersin. Perekonomian nasional diprediksi lebih rendah dibandingkan periode-periode sebelumnya. Hal ini disebabkan wabah corona yang sudah menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia.
b. Dampak Covid-19 terhadap Kehidupan Masyarakat Khususnya Di Indonesia
Virus Corona ini telah memberikan dampak yang buruk bagi perekonomian masyarakat di indonesia. Adapun beberapa tingkatan atas dampak dari penyebaran Virus Corona, yaitu :
1) Tingkat tinggi, seperti perusahaan manufaktur otomotof di bawah tekanan besar dengan ketergantungan mereka pada rantai pasokan global sehingga menghambat proses produksi. Industri gamment yang melakukan sistem pengurangan kepada karyawan dengan cara dua pekan kerja dan dua pekan libur guna mengurangi penyebaran virus corona, hal ini tentu berdampak pada penurunan produksi bagi masyarakat kurang mamp.
2) Tingkat sedang, seperti industri perfilmn yang mengurangi proses syuting, industri media dan pers yang menghambat mencari berita dan mencari konten.
3) Tingkat rendah, seperti industri sektor jasa.16 Ia memiliki sedikit hambatan dan dibatasi oleh sektor jasa dan tidak terlalu dipengaruhi.
15Markas Besar Polri, Menghadapi Covid-19 (Jakarta, 2020), h. 1
16Abdul Malik Ibrahim, “Dampak Covid-19 Terhadap Perekonomian Dan Kebijakan Pemerintah Indonesia,” Balewarga, 26 April 2020.
3. Hukum Ekonomi Islam
a. Pengertian Hukum Ekonomi Islam
Hukum ekonomi Islam adalah sebuah system ilmu pengetahuan yang menyoroti masalah perekonomin, sama seperti konsep ekonomi konvensional lainnya. Hanya dalam system ekonomi ini, nilai-nilai islam menjadi landasan dan dasar dalam setiap aktivitasnya.
Hukum adalah sistem yang terpenting dalam pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan kelembagaan dari bentuk penyalahgunaan kekuasaan dalam bidang politik, ekonomi dan masyarakat dalam berbagai cara dan bertindak, sebagaimana perantara utama dalam hubungan sosial antar masyarakat terhadap kriminalisasi dalam hukum pidana, hukum pidana yang berupayakan cara negara dapat menuntut pelaku dalam konstitusi hukum dalam menyediakan kerangka kerja bagi penciptaan hukum.perlindungan hak asasi manusia dan memperluas kekuasaan politik serta cara perwakilan mereka yang akan dipilih.17
Ekonomi berasal dari kata “oikos” dan “nomos”. Arti ekonomi adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Adapun kegiatan ekonomi terbagi menjadi 3 yaitu, produksi distribusi dan konsumsi.
1) M. Umer Chapra
Menurut Chapra Ekonomi Islam adalah sebuah pengetahuan yang membantu Upaya tentang kebahagiaan manusia melalui alokasi dan distribusi sumber daya yang terbatas yang berada dalam koridor yang mengacu pada pengajaran Islam.18 Tanpa memberikan kebebasan individu dan tanpa perilaku makro ekonomi yang berkesinambungan dan tanpa ketidakseimbangan lingkungan.
17Wikipedia, Hukum, https://id. Wikipedia.org/wiki/Hukum, (23 Januari 2020).
18Mustafa Edwin Nasution, et al., ed., Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam (Jakarta: Kencana, 2006), h. 16
15
2) Muhammad Abdul Manan
Menurut Abdul Manan ilmu ekonomi Islam adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi masyarakat yang dinilai oleh nilai Islam.19 Ia mengatakan bahwa ekonomi Islam merupakan bagian dari suatu tata kehidupan lengkap yang berdasarkan empat bagian nyata dari pengetahuan, yaitu Al- Qur’an, as-Sunnah, Ijma dan Qiyas.
3) Syed Nawab Haider Naqvi
Ilmu Ekonomi Islam merupakan kajian tentang perilaku ekonomi orang islam respresentative dalam masyarakat muslim modern.20 Ekonomi Islam merupakan representasi perilaku muslim dalam suatu masyarakat muslim tertentu.
Dapat disimpulkan bahwa pengertian hukum ekonomi Islam (muamalah) merupakan ilmu yang mempelajari segala perilaku manusia yang memenuhi kebutuhan hidupnya dengan tujuan untuk memperoleh kedamaian dan kesejahteraan dunia akhirat.21 Perilaku manusia disini berkaitan dengan landasan syariah dimana rujukan berprilaku dan kecendrungan-kecendrungan dari fitrah manusia.
b. Tujuan Hukum Ekonomi Islam
Tujuan hukum ekonomi Islam, bahwa dalam hidup ini manusia memerlukan agama, ia wajib mempertahankan eksistensinya (jiwa), melindungi akalnya, keturunan, dan hartanya. Tujuan ekonomi Islam menggunakan pendekatan antara lain; (a) konsumsi manusia dibatasi sampai pada tingkat yang dibutuhkan dan
19Muhammad Abdul Nasution, Islamic Economics, Theory and Practice (Jakarta, 1980), h. 3
20Syed Nawad Haider Naqvi, Islam, Economics, and Society, Terj. M. Saiful Anam Dan Muhammad Ufuqul Mubin, Menggagas Ilmu Ekonomi Islam, h. 28
21Akhmad Muhajidin, Ekonomi Islam, Sejarah, Konsep, Instrument, Negara dan Pasar (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), h. 5
bermanfaat bagi kehidupan manusia, (b) alat pemuas kebutuhan manusia seimbang dengan tingkat kualitas manusia agar ia mampu meningkatkan kecerdasan dan kemampuan tekhnologinya guna menggali sumber-sumber alam yang masih terpendam, (c) dalam pengaturan distribusi dan sirkulasi barang dan jasa, nilai-nilai moral harus diterapkan, (d) pemerataan pendapatan dilakukan dengan mengingat sumber kekayaan seseorang yang diperoleh dari usaha halal, maka zakat sebagai sarana distribusi pendapatan merupakan sarana yang ampuh.22
Selain itu, tujuan hukum ekonomi Islam adalah untuk memenuhi keperluan kehidupan manusia yang bersifat primer, sekunder dan tertier, yang dalam kepustakaan hukum Islam disebut sebagai daruriyat, hajjiyat dan tahsiniyyat:23
1) Kebutuhan primer, merupakan kebutuhan utama24 yang harus dilindungi dan dipelihara sebaik-baiknya oleh hukum Islam agar kemaslahatan hidup manusia benar-benar terwujud.
2) Kebutuhan sekunder, kebutuhan yang diperlukan untuk mencapai kebutuhan primer.25 Misalnya: kemerdekaan persamaan dan sebagainya yang bersifat menunjang eksitensi kebutuhan primer.
3) Kebutuhan tertier, kebutuhan hidup manusia selain dari sifatnya yang primer dan sekunder itu yang perlu diadakan dan dipelihara untuk kebaikan hidup manusia dan masyarakat.
Tujuan pembangunan Nasional dapat dirumuskan dengan satu kalimat
“meningkatkan kualitas bangsa Indonesia baik secara spiritual maupun material”.
22Zainuddin Ali, Hukum Ekonomi Islam (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), h. 4
23Agus Muchsin, Ilmu Fiqh: Suatu Pengantar Dialetika Konsep Klasik dan Kontemporer (Yogyakarta: CV. Marawa, 2019), h. 249
24Made Sukada, Pembinaan Kritik Sastra Indonesia (Bandung: Angkasa, 1993), h. 21
25Tatang M. Amirin, Menyusun Rencana Penelitian (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), h. 25
17
Tujuan pembangunan adalah kebahagiaan dan kesejahteraan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Dilihat dari sudut doktrin Islam sebagaimana dalam Q.S. Al- Baqarah/2: 201.
ن س ح ة ر خٰ ۡلاا ى ف َّو ًة ن س ح ا يۡن دلا ى ف ا ن تٰا ٓا نَّب ر ل ۡو قَّي ۡنَّم ۡم هۡن م و راَّنلا با ذ ع ا ن ق َّو ًة
Terjemahnya:
Dan diantara mereka ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.”26
Hukum Islam sebagai suatu sistem hukum yang berlandaskan wahyu Ilahi tidak terlepas dari peran-peran diatas. Pada satu sisi, hukum islam merupakan alat untuk mengubah masyarakat untuk menciptakan suatu tatanan baru dalam masyarakat, sementara disisi, hukum Islam merupakan alat kontrol sosial yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan dengan alam sekitarnya.
Secara umum tujuan dari adanya hukum islam adalah terciptanya kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) dan kedamaian di dunia maupun di akhirat. (hasah fiddunya wal akhirah). Tujuan tersebut merupakan manifestasi dari sifat Maha Pengasih (rahman) dan Maha Penyayang (rahim) Allah kepada semua makhuknya.
Oleh karena itu, Rahmatan Lil’alamin merupakan inti syariah atau hukum Islam.27
26Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Dan Terjemahnya Al-Hikmah, h. 31
27Faturrahman Djamil, Hukum Ekonomi Islam Sejarah, Teori dan Konsep (Jakarta: Sinar Grafika, 2015), h. 44
Tujuan hukum dari suatu kebijakan biasanya tidaklah berdiri sendiri dan langsung dipahami dari sumber hukum, tetapi harus dikaji dan dilaborasi oleh mujtahid sesuai dengan zamannya. Dalam rangka mengembangkan pemikiran hukum dalam islam, peran mujtahid dalam berbagai disiplin ilmu dapat memberikan jawaban terhadap persoalan hukum kontemporer yang kasusnya tidak diatur secara eksplisit oleh Al-Qur’an dan Hadis.
c. Asas-asas Hukum Ekonomi Syariah
Pada Hukum Ekonomi Syariah (fiqih muamalah), terdapat beberapa asas yang terdiri dari:
1) Asas Mu’awanah, asas mu’awanah mewajibkan seluruh muslim untuk tolong menolong dan membuat kemitraan dengan melakukan muamalah, yang dimaksud dengan kemitraan adalah suatu startegi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan.
2) Asas Musyarakah, asas musyarakah menghendaki bahwa setiap bentuk muamalah kerjasama antar pihak yang saling menguntungkan bukan saja bagi pihak yang terlibat melainkan bagi keseluruhan masyarakat, oleh karena itu ada harta yang dalam muamalat diperlakukan sebagai milik bersama dan sama sekali tidak dibenarkan dimiliki perorangan.
3) Asas Manfaah (tabadulul manafi’), asas manfaah berarti bahwa segala bentuk kegiatan muamalat harus memberikan keuntungan dan manfaat bagi pihak yang terlibat, asas ini merupakan kelanjutan dari prinsip atta’awun (tolong menolong /gotong royong) atau mu’awanah (saling percaya) sehingga asas ini bertujuan menciptakan kerjasama antar
19
individu atau pihak-pihak dalam masyarakat dalam rangka saling memenuhi keperluannya masing-masing dalam rangka kesejahteraan bersama. Asas manfaah adalah kelanjutan dari prinsip pemilikan dalam hukum Islam yang menyatakan bahwa segala yang dilangit dan di bumi pada hakikatnya adalah milik Allah SWT, dengan demikian manusia bukanlah pemilik yang berhak sepenuhnya atas harta yang ada di bumi ini, melainkan hanya sebagai pemilik hak memanfaatkannya.
4) Asas Antarodhin, asas antaradhin atau suka sama suka menyatakan bahwa setiap bentuk muamalat antar individu atau antar pihak harus berdasarkan kerelaan masing-masing, Kerelaan disini dapat berarti kerelaan melakukan suatu bentuk muamalat, maupun kerelaan dalam arti kerelaan dalam menerima dan atau menyerahkan harta yag dijadikan obyek perikatan dan bentuk muamalat lainnya.
5) Asas ‘Adamul Gharar, Asas ‘adamul gharar berarti bahwa pada setiap bentuk muamalat tidak boleh ada gharar atau tipu daya atau sesuatu yang menyebabkan salah satu pihak merasa dirugikan oleh pihak lainnya sehingga mengakibatkan hilangnya unsur kerelaan salah satu pihak dalam melakukan suatu transaksi.
6) Al Musawah, asas ini memiliki makna kesetaraan atau kesamaan, artinya bahwa setiap pihak pelaku muamalah berkedudukan sama.
7) Ash shiddiq, dalam Islam, manusia diperintahkan untuk menjunjung kejujuran dan kebenaran, jika dalam bermuamalah kejujuran dan kebenaran tidak dikedepankan, maka akan berpengaruh terhadap keabsahan perjanjian. Perjanjan yang didalamnya terdapat unsur kebohongan menjadi batal atau tidak sah.
8) Asas Hak Milik, Islam mengakui hak milik perorangan. Oleh karena itu Islam mewajibkan kepada umatnya untuk selalu berusaha. Dengan kepemilikan harta maka seorang muslim bisa membantu saudaranya yang lain dan memberikan hak orang lain yang ada pada hartanya sehingga dengan hartanya seorang muslim bisa mendapatkan kebahagiaan diakhirat kelak.
9) Asas Pemerataan, asas pemerataan adalah penerapan prinsip keadilan dalam bidang muamalah yang bertujuan agar harta tidak hanya dikuasai oleh segelintir orang saja, tetapi harus didistribusikan secara merata di antara masyarakat, baik kaya maupun miskin, dengan dasar tujuan ini maka dibuatlah hukum zakat, shadaqah, infaq.
10) Asas al-Bir wa al-Taqwa, Al-bir artinya kebajikan dan berimbang atau proporsional maksudnya keadilan atau perilaku yang baik. Sedangkan al- taqwa berarti takut, hati-hati, jalan lurus, dan meninggalkan yang tidak berguna, melindungi dan menjaga diri dari murka Allah SWT. Asas ini yang mewadahi seluruh asas fiqih muamalah. Artinya segala asas dalam lingkup fiqih muamalah dilandasi dan diarahkan untuk Al-Bir wa al- Taqwa.
d. Prinsip Hukum Ekonomi Islam
Manusia sebagai agen perubahan sosial dalam Islam pada saat melaksanakan aktivitas ekonomi harus dilandasi oleh kode etik dan nilai-nilai humanitas. Nilai tersebut sangat diperlukan sebagai penompang langkah dan pandangan manusia dalam rangka membangun sumber daya ekonomi dan sumber daya manusia agar sejalan dengan misi dasarnya sebagai khalifah Allah.28
28Nur Rianto, Teori Mikro Ekonomi (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), h. 8
21
Prinsip-prinsip ini dijadikan sebagai aturan dalam melakukan aktivitas ekonomi yang mana secara umum, prinsip-prinsip Hukum Ekonomi Syariah/Hukum Ekonomi Islam adalah sebagai berikut:29
Prinsip Tauhid, Islam melandaskan kegiatan ekonomi sebagai suatu usaha untuk bekal ibadah kepada Allah swt. sehingga tujuan usaha bukan semata-mata mencari keuntungan atau kepuasan materi dan kepentingan pribadi melainkan mencari keridhaan Allah swt. dan kepuasan spiritual dan sosial. Prinsip tauhid dalam usaha sangat esensial sebab prinsip ini mengajarkan kepada manusia agar dalam hubungan kemanusiaan, sama pentingnya dengan hubungan dengan Allah swt. Islam melandaskan ekonomi sebagai usaha untuk bekal beribadah kepada-Nya.
Sebagaimana dalam Q.S. Al-Luqman/31:12-13.
ق ل و ه لِل ر ك شا ن ا ة م ك ح لا ن ٰم ق ل ا ن ي تٰا د ه س ف ن ل ر ك ش ي ا مَّن ا ف ر ك شَّي ن م و ْۗ
د ي م ح ى ن غ هاللّٰ َّن ا ف ر ف ك ن م و ۚ
( ١٢
َّن ا ْۗ هلِلا ب ك ر ش ت لا َّى ن بٰي ٗه ظ ع ي و ه و ه ن ب لا ن ٰم ق ل لا ق ذ ا و
)م ي ظ ع م ل ظـ ل ك ر ّشلا
( ١٣ ) Terjemahnya:
Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu:
"Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.30
29Muhammad Kholid, “Prinsip-Prinsip Hukum Ekonomi Syariah Dalam Undang-Undang Tentang Perbankan Syariah,” Asy-Syari’ah, 20.2 (2018), h. 148-149
30Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Dan Terjemahnya Al-Hikmah, h. 412
Prinsip Keadilan, Keadilan adalah suatu prinsip yang sangat penting dalam mekanisme perekonomian Islam. Bersikap adil dalam ekonomi tidak hanya didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunah Nabi tetapi juga berdasarkan pada pertimbangan hukum alam. Alam diciptakan berdasarkan atas prinsip keseimbangan dan keadilan. Adil dalam ekonomi bisa diterapkan dalam penentuan harga, kualitas poduksi, perlakuan terhadap pekerja, dan dampak yang timbul dari berbagai kebijakan ekonomi yang dikeluarkan. Penegakan keadilan dalam rangka menghapus diskriminasi yang telah diatur dalam Al-Qur’an bahkan menjadi satu tujuan utama risalah kenabian yaitu untuk menegakan keadilan. Sebagaimana dalam Q.S. An- Nisa:4/58.
َّن ا عۡلا ب ا ۡو م ك ۡح ت ۡن ا ساَّنلا نۡي ب ۡم ت ۡم ك ح ا ذ ا و ۙ ا ه ل ۡه ا ىٰٓل ا تٰن ٰم ۡلاا او د ؤ ت ۡن ا ۡم ك ر مۡا ي هاللّٰ
لۡد اَّم ع ن هاللّٰ َّن ا
ه ب ۡم ك ظ ع ي اًرۡي ص ب اًًۢعۡي م س نا ك هاللّٰ َّن ا
( ٥٨ )
Terjemahnya:
Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.31
Prinsip Al-Maslahah, kemaslahatan adalah tujuan pembentukan Hukum Islam yaitu mendapatkan kebahagiaan didunia dan akhirat dengan cara mengambil manfaat dan menolak kemadharatan. Kemaslahatan memiliki 3 sifat, yaitu; (a) Dharuriyyat, adalah sesuatu yang harus ada demi tegaknya kebaikan di dunia dan akhirat dan apabila tidak ada maka kebaikan akan sirna. Sesuatu tersebut terkumpul dalam maqasid alsyari’ah,yaitu memelihara agama, jiwa, keturunan, kekayaan, dan akal.
31Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Dan Terjemahnya Al-Hikmah, h. 87
23
Mencari rizki termasuk pada dharuriyyat karena bertujuan memelihara keturunan dan harta. Pencarian nafkah dapat dilakukan melalui jual beli (murabahah, istisna’ dan salam), wadi’ah, musyarakah, ijarah, mudharabah, qardh, wakalah, dll. (b) Hajiyyat, adalah sesuatu yang dibutuhkan masyarakat untuk menghilangkan kesulitan tetapi tidak adanya hajiyyat tidak menyebabkan rusaknya kehidupan. Pada bidang muamalah seperti jual-beli salam, murabahah, istisna’. (c) Tahsiniyyat, adalah mempergunakan sesuatu yang layak dan dibenarkan oleh adat kebiasaan yang baik.
Pada bidang muamalah seperti larangan menjual barang najis. Hukum Islam menyempurnakan hajiyyat dengan akhlak yang mulia yang merupakan bagian dari tujuan hukum Islam. Sebagaimana dalam Q.S. Al-A’raf:7/31.
م ك ت ني ز ۟او ذ خ م دا ء ٓى ن بٰ ي ني ف ر س م لٱ ب ح ي لا ۥ هَّن إ ۚ ۟ا ٓو ف ر س ت لا و ۟او ب ر شٱ و ۟او ل ك و ٍد ج س م ّل ك دن ع
( ٣١ )
Terjemahnya:
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.32
Prinsip Perwakilan (Khalifah), manusia adalah khilafah (wakil) Tuhan di muka bumi. Manusia telah dibekali dengan semua karakteristik mental dan spiritual serta materi untuk memungkinkan hidup dan mengemban misinya secara efektif.
Kehidupan manusia senantiasa dibarengi pedoman-pedoman hidup dalam bentuk kitab-kitab suci dan shuhuf dari Allah SWT. yang berfungsi untuk mengatur kehidupan manusia guna kebaikannya sendiri selama di dunia maupun di akhirat.
Prinsip Amar Ma’ruf Nahy Munkar, Amar Ma’ruf yaitu keharusan mempergunakan prinsip Hukum Islam dalam kegiatan usaha sedangkan Prinsip Nahy
32Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Dan Terjemahnya Al-Hikmah, h. 154
Munkar direalisasikan dalam bentuk larangan dalam kegiatan usaha yang mengandung unsur riba, gharar, maisyir, dan haram. Sebagaimana dalam Q.S. Al- Imran/3:104.
ر كۡن مۡلا ن ع ن ۡو هۡن ي و ف ۡو رۡع مۡلا ب ن ۡو ر مۡا ي و رۡي خۡلا ى ل ا ن ۡو عۡدَّي ةَّم ا ۡم كۡن ّم ۡن ك تۡل و ن ۡو ح ل ۡف مۡلا م ه كِٕٮٰٓلو ا و
( ١٠٤ ) Terjemahnya:
Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.33
Prinsip Tazkiyah, tazkiyah berarti penyucian, dalam konteks pembangunan, proses ini mutlak diperlukan sebelum manusia diserahi tugas sebagai agent of development. Apabila ini dapat terlaksana dengan baik maka apapun pembangunan dan pengembangan yang dilakukan oleh manusia tidak akan berakibat kecuali dengan kebaikan bagi diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan.
Prinsip Falah, merupakan konsep tentang kesuksesan manusia. Pada prinsip ini, keberhasilan yang dicapai selama di dunia akan memberikan kontribusi untuk keberhasilan di akhirat kelak selama dalam keberhasilan ini dicapai dengan petunjuk Allah SWT. Oleh karena itu, dalam Islam tidak ada dikotomi antara usaha-usaha untuk pembangunan di dunia (baik ekonomi maupun sektor-sektor lainnya) dengan persiapan untuk kehidupan di akhirat nanti.
Prinsip Kejujuran dan Kebenaran, prinsip ini tercermin dalam setiap transaksi harus tegas, jelas, dan pasti baik barang mapun harga. Transaksi yang merugikan dilarang; Mengutamakan kepentingan sosial. Objek transaksi harus memiliki
33Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Dan Terjemahnya Al-Hikmah, h. 63
25
manfaat. Transaksi tidak mengandung riba, transaksi atas dasar suka sama suka; dan Transaksi tidak ada unsur paksaan. Sebagaimana dalam Q.S.Al-Syu’ara:26/181-183.
ۚ ن ي ر س خ م لا ن م ا و ن و ك ت لا و ل ي ك لا او ف و ا
( ١٨١
ۚ م ي ق ت س م لا سا ط س ق لا ب ا و ن ز و
) (١٨٢
او س خ ب ت لا و
)ۚ ن ي د س ف م ض ر لاا ى ف ا و ث ع ت لا و م ه ءۤا ي ش ا ساَّنلا
( ١٨٣ ) Terjemahnya:
Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu merugikan orang lain. Dan timbanglah dengan timbangan yang benar. Dan janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah membuat kerusakan di bumi.34
Prinsip Kebaikan (Ihsan), prinsip ini mengajarkan bahwa dalam ekonomi, setiap muslim diajarkan untuk senantiasa bermanfaat untuk orang banyak, baik seagama, senegara, sebangsa, maupun sesama manusia.
Prinsip Pertanggungjawaban (al-Mas’uliyah), prinsip ini meliputi pertanggungjawaban antara individu dengan individu, pertanggungjawaban dalam masyarakat. Manusia dalam masyarakat diwajibkan melaksanakan kewajibannya demi terciptanya kesejahteraan anggota masyarakat secara keseluruhan, serta tanggungjawab pemerintah, tanggung jawab ini berkaitan dengan pengelolaan keuang negara atau kas negara (bait al-maal) dan kebijakan moneter serta fiskal
Prinsip Kifayah, prinsip ini terkait kewajiban setiap muslim untuk peduli terhadap sesamanya. Tujuan prinsip ini adalah untuk membasmi kefakiran dan mencukupi kebutuhan primer seluruh anggota masyarakat agar terhindar dari kekufuran.
Prinsip Keseimbangan (wasathiyah/i’tidal), syariat Islam mengakui hak-hak pribadi dengan batas-batas tertentu. Hukum Islam menentukan keseimbangan
34Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Dan Terjemahnya Al-Hikmah, h. 526
kepentingan individu dan kepentingan masyarakat. Islam mengakui kepemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu termasuk kepemilikan alat produksi dan faktor produksi.
Prinsip Manfaat, objek transaksi harus memiliki manfaat, transaksi terhadap objek yang tidak bermanfaat menurut syariat dilarang.
Prinsip Tiada Paksaan. Setiap orang memiliki kehendak yang bebas dalam menetapkan akad, tanpa tunduk kepada paksaan transaksi apapun, kecuali hal yang diharuskan oleh norma keadilan dan kemaslahatan masyarakat.
C. Kerangka Konseptual
Untuk menghindari terjadinya kesalahan interpretasi atau pandangan dalam penelitian yang berjudul Distribusi Bantuan Sosial Pandemi Covid-19 Bagi Masyarakat Kurang Mampu di Kelurahan Manorang Salo Kabupaten Soppeng (Analisis Hukum Ekonomi Islam). Judul tersebut mengandung unsur-unsur pokok yang perlu dibatasi pengertiannya agar pembahasan dalam penelitian ini lebih fokus dan lebih spesifik. Di samping itu, tinjauan konseptual adalah pengertian judul yang memudahkan pembaca untuk memahami isi pembahasan serta dapat menghindari kesalapahaman. Oleh karena itu, dibawah ini akan di uraikan tentang pembahasan makna dari judul tersebut:
1. Konsep Distribusi
Distribusi merupakan kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen ke konsumen, sehingga penggunannya sesuai dengan yang diperlukan( jenis, harga, tempat dan saat yang dibutuhkan).35
35Saifullah Abdusshamad, Pengertian Distribusi Fungsi-Fungsi Kegiatan (Kalimantan:
2014) h. 63. http://www.artikelsiana.com.
27
2. Konsep Bantuan Sosial
Bantuan sosial (bansos) merupakan transfer uang atau barang yang diberikan kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.36
3. Konsep Covid-19
Covid merupakan penyakit zoonosis yang memiliki kemampuan menularkan dari hewan kepada manusia dan penularan terjadi melalui droplets, maka dari itu pemerintah menghimbau masyarakat untuk melakukan social distancing dan karantina.37 Tujuan dari kegiatan ini adalah membantu mencukupi kebutuhan pangan dan memfasilitasi masyarakat yang terdampak Covid–19 untuk dapat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara mandiri sebagai upaya mencegah peningkatan kasus Covid–19
4. Konsep Masyarakat Kurang Mampu
Masyarakat Desa adalah sebagai masyarakat yang memiliki hubungan yang lebih mendalam dan erat dan sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan. Sebagian besar warga masyarakat hidup dari pertanian. seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat-istiadat dan sebagainya.38 Mayarakat yang dimaksud di dalam penelitian ini adalah masyarakat yang berada di kelurahan manorang salo kabupaten soppeng.
36Sri Lestari Rahayu, Bantuan Sosial Indonesia (Bandung: Fokus Media, 2012), h. 2-3
37Hanifah Puspita Nurul H., et al., ed., “Pembagian Paket Sembako Sebagai Bentuk Bantuan Sosial Kepada Pekerja Jalanan Di Wilayah Kelurahan Cilendek Dalam Masa Transisi Pandemi Covid- 19,” Jurnal Layanan Masyarakat, 4.2, (2020), h. 486
38David Pasaribu, “Peranan Kepala Desa Dalam Mengkoordinir Bantuan Sosial (Bansos) Secara Tepat Sasaran kepada Masyarakat yang Terdampak Covid-19 (Studi Kasus Di Desa Sipultak Dolok, Kec. Pagaran, Kab. Tapanuli Utara)” (Skripsi Sarjana; Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas HKBP Nommensen: Medan, 2020).