• Tidak ada hasil yang ditemukan

ix

x

BAB III METODE PENELITIAN ... 50 A. Pendekatan dan Jenis Pendekatan... 50 B. Lokasi Penelitian ... 51 C. Subyek Penelitian ... 51 D. Teknik Pengumpulan Data ... 53 E. Analisis Data... 55 F. Keabsahan Data ... 60 G. Tahap-Tahap Penelitian ... 61 BAB IV PENYAJIYAN DATA DAN ANALISIS ... 64 A. Gambaran Obyek Penelitian ... 64 B. Penyajian Data dan Analisis ... 72 C. Pembahasan Temuan ... 104 BAB V PENUTUP ... 110 A. Kesimpulan ... 110 B. Saran ... 112 DAFTAR PUSTAKA ... 115

Kedatangan Islam, merupakan rahmat bagi semesta alam raya. Islam menjadi cahaya baru yang menerangi manusia dalam menempuh jalan yang lurus menuju Tuhan. Sebagai agama yang memiliki misi untuk mengajak seluruh umat manusia mencapai titik pokok persamaan (kalimatun sawa’) dengan agama-agama langit yang diturunkan sebelumnya, maka ajakan Islam menyeru seluruh umat manusia kepada kalimat tauhid. Islam telah berkembang sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga sekarang. Semua kemajuan yang dicapai oleh Islam merupakan jasa dari para da’i sepanjang masa. Nabi Muhammad SAW sendiri sebagai Rasululllah adalah juga seorang da’i, begitu pula sahabat-sahabat dan penerus dakwah beliau hingga kini.

Mereka adalah para da’i yang menyeru seluruh umat penghuni alam raya kepada jalan Allah yang lurus, tugas suci yang tidak pernah pudar dari dulu sampai sekarang.1

Demikian al-Qur’an menegaskan betapa metode dan gaya dakwah para Nabi itu satu, bahwa cara mereka dalam melawan dan menghadapi kaumnnya itu serupa, dan bahwa faktor faktor, sebab dan fenomena-fenomena yang di hadapi dakwah adalah satu. Dalam sejumlah tempat, al-Qur’an menegaskan kebenaran ini, dan menunjukkan kesamaan dan keterlibatan (isytirak) para Nabi dalam berbagai persolan.

1 Makrifat, Kisah-Kisah Al Qur’an Antara Fakta dan Metafora (Jakarta: Citra, 2009), 42.

Di antaranya adalah firman-Nya :













































Artinya : “Dan betapa banyak Nabi, yang berperang bersama mereka sejumlah besar pengikut- pengikutnya yang baik, mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh).

Allah menyukai orang-orang yang sabar”. (QS. Ali Imran : 146).2

Kadang al-Qur’an berkisah secara umum tentang para Rasul, untuk mengukuhkan kesatuan (persamaan) di antara mereka dalam hal sarana dan gaya. Alasan di balik penegasan al-Qur’an atas fakta ini adalah menjelaskan kerasnya posisi-posisi tersebut, dan bahwa seluruhnya adalah kebenaran yang akan mengalami kemenangan di akhirnya.3

Islam sebagai ajaran mengalami aktualisasi dalam kehidupan pemeluknya maupun dalam masyarakat melalui proses Islamisasi dalam beragam bentuk. Islamisasi sebgai aktualisasi ajaran Islam dalam kenyataan hidup umat dan masyarakat ternyata tidaklah tunggal. Ketidak tunggalan itu di satu pihak menunjukkan keragaman Islam yang membuat agama ini terus berkembang sepanjang sejarah kehidupan manusia, sekaligus pada saat yang sama menimbulkan keragaman pemahaman dan model-model penerapan atau pelaksanaan ajaran Islam yang demikian heterogen yang kemudian menimbulkan lahirnya berbagai macam tafsir dan sekaligus pembentukan

2 Al-Qur’an, 3 :146

3 Makrifat, Kisah-Kisah Al Qur’an Antara Fakta dan Metafora (Jakarta: Citra, 2009), 47-49

aliran dan golongan Islam yang pusparagam di berbagai belahan dunia dan lingkungan dimana Islam itu hadir.

Sudah saatnya lembaga-lembaga Islam menegakkan pola dan sistem Islam di sertai gerakan dakwah Bil-haq (dakwah membawa kebenaran Islam) dan mengakomodasikan pelaksanaan serta pembinaannya terhadap umat Islam pada semua aspek kehidupan. Hendaknya disadari bahwa tatanan Islam akan memberikan kebahagiaan dan kehormatan hidup secara menyeluruh bukan hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi umat manusia sebagaimana fakta yang berkembang di arab Saudi, Malaysia, Brunei Darussalam, dan lain-lain.4

Wadah yang efektif menjadi tempat penyelenggaraan dakwah Islam sejak zaman Nabi hingga sekarang adalah majelis taklim. Wadah tersebut tumbuh dalam masyarakat seiring dengan perkembangan agama Islam ke seluruh penjuru dunia. Sebagai salah satu lembaga pendidikan non-formal yang bergerak dalam bidang penyiaran agama Islam, kehadiran majelis taklim ditengah-tengah masyarakat dapat diumpamakan ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Di mana kaum muslimin tinggal, di sana pula kita dapati majelis taklim berdiri sebagai salah satu pilar penyampai syiar Islam ke tengah-tengah kehidupan sosial mereka.

Sebagian besar para pembaca tentu telah akrab dengan istilah yayasan.

Namun, barangkali hanya sedikit orang yang memahami apa itu yayasan serta seberapa baik sistem pengelolaan dan akuntabilitas yayasan tersebut.

4 Haedar Nashir, Islam Syari’at: Reproduksi Salfiyah Ideologis di Indonesia (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2013), 388- 390

Yayasan termasuk organisasi non profit, yang berarti bahwa organisasi tersebut tidak di perbolehkan melakukan aktivitas untuk mencari keuntungan.

Yayasan merupakan organisasi non profit (badan hukum) yang kekayaan yang dipisahkan dan di peruntukan untuk mencapai tujuan terentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, serta tidak mempunyai anggota. Namun, tanpa disadari, saat ini banyak yayasan yang melakukan aktivitas untuk mencari keuntungan. Bagi mereka yang terlibat dalam kepengurusan yayasan dan bagi masayarakat umum yang menjadi kelompok sasaran yayasan, yang mana memberikan pemahaman tentang cara pengelolaan yayasan dan kewajiban apa saja yang harus dipenuhi oleh yayasan.

Berdasarkan konsep mutakhir dan berisi persoalan-persoalan terkini dengan pendekatan step by step. Yang mana konsep utama, yaitu (1) konsep mengenai karakteristik dan lingkugan yayasan, (2) konsep tentag cara pengelolaan yayasan, (3) konsep yang terkait dengan system akuntabilitas yayasan serta cara berinvestasi.

Yayasan memilki berbagai kegiatan di dalamnya, salah satunya adalah majelis taklim. majelis taklim merupakan lembaga pendidikan diniyah non formal yang keberadaannya di akui dan di atur dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendikan nasional, peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan dan keputusan MA Nomor 3 tahun 2006 tentang struktur departemen agama tahun 2006.

Bila dilihat sruktur organisasinya, majelis taklim termasuk organisasi pendidikan luar sekolah atau lembaga pendidikan Islam yang bersifat non formal.5 Keberadaan majelis taklim cukup penting, mengingat sumbangsihnya yang sangat besar dalam menanamkan akidah dan akhlak yang luhur (al- Karimah), meningkatkan kemajuan ilmu pengetahuaan dan keterampilan jamaahnya, serta memberantas kebodohan umat Islam agar dapat meningkatkan pengalaman agama serta memperoleh kebahagiaan dan ridha Allah SWT. Bila dilihat dari tujuannya, majelis taklim termasuk lembaga atau sarana dakwah Islamiah yang secara self standing (kedudukan sendiri) dan self disciplined (disiplin diri) dapat mengatur dan melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam bentuk pembinaan, pendidikan, pengarahan dan bimbingan.

Berdasarkan sejarah kelahirannya, majelis taklim merupakan lembaga pendidikan tertua dalam Islam.6 sebab telah dilaksanakan sejak zaman Nabi Muhammad SAW, meskipun pada waktu itu tidak disebut dengan istilah majelis taklim. Namun pengajian-pengajian Nabi Muhammad SAW yang berlangsung secara sembunyi-sembunyi di rumah Arqam ibnu Abu al-Arqam, dapat dianggap sebagai majelis taklim dalam konteks pengertian sekarang.

5 Tuty Alawiyah, Strategi Dakwah Lingkungan Taklim (Bandung: Mizan, 1887), 1-2

6 M. arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), 118

Kemudian setelah adanya perintah Allah SWT untuk menyiarkan agama Islam secara terang-terangan, sebagaimana firman Allah:















Artinya : “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”.(QS. Al- Hijr : 94).7

Pengajian seperti itu segera berkembang di tempat-tempat lain yang diselenggarakan terbuka dan tidak lagi dilaksanakan secara diam-diam. Pada periode Madinah, ketika Islam telah menjadi kekuatan politik praktis dalam masyarakat waktu itu, penyelenggaraan majelis taklim dalam bentuk pengajian dan dakwah Rasulullah SAW berlangsung lebih pesat. Rasululah SAW duduk di masjid Nabawi untuk memberikan pengajian kepada para sahabat dan kaum Muslimin.

Di Indonesia, kegiatan pengajian sudah ada sejak pertama Islam datang. Ketika itu pun dilaksanakan dari rumah ke rumah, surau ke surau, dan masjid ke masjid. Para wali dan penyiar Islam ketika itu telah menjadikan pengajian untuk menyebarkan dakwah Islam dalam masyarakat. Kegiatan semacam inilah yang pada gilirannya pula telah menjadi cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya melalui sejarah dapat dilacak asal mula situasi yang melahirkan pemikiran, pendapat, atau sikap mengenai Ahl al- Sunnah wa al-Jama’ah dari seorang tokoh kyai Hasyim.8 Muhammadiyah di

7 Al-Qur’an, 15: 94

8 Acmad Muhibbin Z, Pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari Tentang Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah (Surabaya: Khalista, 2010), 18

Yogyakarta, Persatuan Islam di Bandung, dan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam lainnya.

Ajaran Islam yang paling penting dan berorientasi praksis dan strategis adalah ajakan kepada manusia agar berada dan tetap berada dalam jalan yang benar yang populer disebut dengan dakwah.9 Dakwah merupakan salah satu aktivitas keberagaman yang sangat urgen dalam Islam, memiliki posisi strategis, sentral, dan menentukan.10 Sedangkan, aktivitas dakwah pada hakikatnya adalah satu bentuk aktivitas penyampaian materi ajaran agama (mengajak, mengajar, mendengarkan, memperlihatkan dan sebagainya) kepada obyek untuk mencapai kebahagiaan dalam ridha Ilahi.

Keseimbangan hidup (life harmony) boleh jadi merupakan kata paling ringan untuk disebut sebagai arah dan tujuan dakwah. Aktivitas dakwah sebagai misi Agama adalah cara universal. Sehingga diperlukan upaya-upaya reduksi dan menurunkannya ke dalam tema-tema yang lebih familiar.

Dakwah hadir tidak semerta–merta untuk kehidupan sosial masyarakat, ada sejarah yang melahirkan dakwah. Sejarah dakwah berasal dari dua kata, yaitu “Sejarah” dan “Dakwah”, sejarah berasal dari bahasa arab “Syajarah”

yang berarti “Pohon”. Salah satu yang menjadi alasan terpilihnya kata yang bermakna pohon ini, barangkali karena sejarah mengandung konotasi genealogi, yaitu pohon keluarga, yang menunjuk pada asal usul sesuatu marga.

9 Acep Arifudin, Sosiologi Dakwah (Bandung: Rosda karya, 2013), 47

10 Yunus Hani Syam, Kiat Menjadi Da’i Andal (Yogyakarta: Cahaya Hikmah, 2004), 4

Sejarah” disebut “tarikh” yang berarti kejadian atau penanggalan berdasarkan urutan tanggal atau waktu. Orang inggris menyebutnya “history”

yang berasal dari bahasa yunani “istoria”. Istoria berarti ilmu untuk semacam ilmu pengetahuan tentang gejala alam, baik yang disusun digunakan untuk ilmu pengetahuan, kata istoria, hanya khusus digunakan untuk ilmu pengetahuan yang disusun secara kronologis, terutama yang menyangkut hal ikhwal manusia. Sedangkan untuk pengetahuan yang disusun secara tidak kronologis digunakan kata “scientia” yang berasal dari bahasa latin.11

Akselerasi penyebaran Islam di Indonesia tidak bisa di pisahkan dari peran dan kemampuan para mubaligh dalam menyampaikan pesan-pesan islam, baik para mubaligh tahap awal maupun penerusnya saat ini. Pada tahap awal, Uka Tjandrasasmita menyebut sejumlah jalur yang digunakan para mubaligh untuk menyebarkan islam, yaitu jalur perdagangan, perkawinan, tasawuf, kesenian, politik, dan pendidikan. Peran muballigh sangat penting dalam penyebaran islam, karena bertugas sebagai pemberi penjelasan pesan- pesan tentang Islam secara kaaffah sempurna.12

“Dakwah” artinya seruan, panggilan dan ajakan. Dakwah Islam dapat dipahami sebagai seruan, panggilan, dan ajakan kepada umat Islam. Dan penulis sendiri mendefinisikan dakwah sebagai; kegiatan mengajak, mendorong dan memotivasi orang lain berdasarkan bashirah untuk meniti jalan Allah dan istiqomah di jalan-Nya, serta berjuang bersama meningkatkan agama Allah.

11 Wahyu ilahi, Pengantar Sejarah Dakwah (Jakarta: Putra Grafika, 2007), 1

12 Al-Adalah, Jurnal kajian keislaman dan kemasyarakatan (Jember: IAIN Jember Press, 2016), 192

Sejarah dakwah” dapat di artikan sebagai peristiwa masa lampau umat manusia dalam upaya mereka menyeru, memanggil dan mengajak umat manusia kepada Islam serta bagaimana reaksi umat yang diseur dan perubahan-perubahan apa yang terjadi setelah dakwah digulirkan, baik langsung maupun tidak langsung.

Makna Islam, yaitu makna umum dan makna khusus. Jika kata

“dakwah” tidak dikaitkan dengan kata lain, maka sejarah dakwah yang dimaksud adalah umum, mencakup dakwah seluruh Rasul, dan dimulai sejak Rasul pertama diutus untuk manusia. Apabila kata “dakwah” dihubungkan dengan kata “Islamiah” (menjadi “dakwah Islamiah”), maka yang dimaksud adalah “sejarah dakwah” yang dimulai sejak diutusnya Nabi Muhammad SAW.13

Bagi peneliti yang berpendapat bahwa “sejarah dakwah” Islam dimulai sejak adanya Rasul, mereka memulai kajiannya dari dakwah Nabi Nuh as.

Alasannya adalah karena Nuh merupakan Rasul pertama yang diceritakan oleh al-Qur’an tentang aktivitas dakwahnya. Sedangkan Adam as. Tidak diutus kepada seseorang. Dia diturunkan kemuka bumi ini untuk memulai sejarah panjang kehidupan anak manusia dan menjadikannya sebagai kholifah di muka bumi. Tidak ada atsar yang menjelaskan tentang keNabian Adam as. Yang ada hanyalah cerita dalam al-Qur’an tentang anaknya Qabil dan Habil yang melakukan kurban. Dalam cerita itu dikisahkan tentang perbincangan diantara mereka berdua. Dari cerita itu kita mengetahui tentang keimanan dan kesalehan salah satu di antara dua saudara tersebut, dan yang satunya lalai dan merugi.14

13 Wahyu ilahi, Pengantar Sejarah Dakwah (Jakarta: Putra Grafika, 2007), 2

14 Ibid., 3

Allah berfirman dalam surat al-Ahqaf 46:35

























































Artinya : Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-Rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari.

(inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.15

Kedudukan dan fungsi sejarah dakwah, sangat penting di ketahui oleh para da’i yang ingin mengemban risalah keNabian. Dengannya para da’i bercermin. Adapun fungsi mempelajari sejarah dakwah antara lain;16

1. Untuk mengetahui bagaimana strategi perjuangan para rosul dan kegigihan mereka dalam menyebarkan dakwah tauhid.

2. Mengidentifikasi penyakit umat setiap jaman dan bagaimana mencari jalan keluar dari penyakit tersebut.

3. Menentukan sikap dalam berdakwah dengan bercermin dari sejarah yang benar.

4. Mengetahui faktor kemajuan dan kemunduran dakwah dari masa ke masa.

5. Untuk memupuk semangat para da’i.

15 Al-Qur’an, 46:35

16 Wahyu ilahi, Pengantar Sejarah Dakwah (Jakarta: Putra Grafika, 2007), 4

6. Mengetahui sejauh mana dakwah Islam telah dapat mempengaruhi dan merombak jalannya sejarah, atau telah berhasil menciptakan realitas sosiokultural baru.

7. Memprediksi apa yang bakal terjadi dengan peran Islam di masa mendatang dalam rangka penataan kehidupan masyarakat baru.

al-Qur’an banyak sekali diungkap kisah yang penuh “ibrah”.

Setelah menceritkan kisah Nabi Yusuf, Allah SWT. Berfirman :

”Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al –Qur’an itu bukanlah cerita yang di buat – buat, akan tetapi membenarkan (kitab – kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebgai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (Q.S Yusuf : 12;

111)17

Sejarah dalam al-Qur’an adalah sejarah yang megungkap tentang siklus kehidupan dan sunnatullah yang tidak pernah berubah. al-Qur’an selalu mengungkap pertarungan antara hak dan batil, yang pada akhirnya kemenangan akan selalu berada pada pihak yang membela kebenaran. al- Qur’an juga mengubah persepsi manusia tentang kemenangan yang lebih diartikan dengan kesuksesan meraih sesuatu yang di cita – citakan di dunia.

Kemenangan menurut al-Qur’an adalah kekuatan mempertahankan keistikomahan dan ketegaran prinsip tauhid sampai ajal menjemput. Dalam al-Qur’an banya bercerita kepada kita tentang tingkah polah umat manusia terdahulu yang akhirnya mendapatkan azab dari Allah, dan bagaimana kiat – kiat para muhilun (reformis) pada zamannya untuk menyelamatkan masyarakat dari azab Allah.

17 Al-Qur’an, 12: 111

Allah mengungkapkan cerita tersebut dengan redaksi singkat, dalam waktu yang lain di ungkap dengan redaksi sedang dan kadang–kadang dengan redaksi yang panjang. Tujuannya adalah agar sunnatullah tersebut (Kemenangan pasti ditangan pejuang kebenaran) tertanam kokoh didalam diri dan terhujam di dalam hati, sehingga keputusasaan tidak mendapatkan celah untuk menyelinap masuk ke hati para da’i dan reformis.18

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam berdakwah di kehidupan sosial masyarakat yang mana mulai dari persiapan sebelum berdakwah (perencanaan) yang betul – betul di matengkan, setelah itu ada pelaksansanaa yang sudah terkonsep dengan rapi. Apa yang menjadi materi dasar dalam dakwah yakni al-Qur’an dan hadits, ada da’i yang menyampaikan atau seruan, yag dikenal dengan sebutan juru dakwah, muballig, atau bisa pengelola dakwah, ada sasaran dakwah, atau mad’u dalam terminology lain ialah peserta dakwah, perseorangan atau kolektif, laki-laki atau perempuan, anak-anak atau orang dewasa, demikian seterusnya. Ada cara yang menunjukkan metode yang digunakan untuk berdakwah yang bisa disamakan dengan alat berdakwah yang menjadi kelengkapan dalam metode dakwah.

Ada aluran yang merupan media yang digunakan saat berdakwah. Ia dapat berupa saluran langsung tatap muka (face to face). Ada rumusan tujuan yang menyebutkan tujuan yang sangat spesifik sampai tujuan yang umum. Dalam

18 Wahyu ilahi, Pengantar Sejarah Dakwah (Jakarta: Putra Grafika, 2007) 5

bahasa inggris tujuan itu didapat dipilah dengan istilah target, objective, purpose, aim, dan goal (inter-mediate goal dan ultimate goal).19

Dakwah adalah aktivitas menyeru manusia kepada Allah SWT dengan hikmah dan pelajaran yang baik denan harapan agar objek dakwah (mad’u) yang kita dakwahi beriman kepada Allah SWT dan mengingkari taghut (semua yang abadi selain allah) sehingga mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya islam.

Ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah SAW, kita akan banyak menemukan fadhail (keutamaan) dakwah yang luar biasa. Dengan mengetahui, memahami, dan menghayati keutamaan dakwah ini seorang muslim akan termotivasi secara kuat untuk melakukan dakwah dan bergabung bersama khafilah dakwah dimanapun ia berada.20

Arah dan tujuan dari dakwah yang diemban oleh para da’i dalam proses perkembangan dakwah. Pertama, konsep dar- al-salam yang merupakan konsep yang berakar dari “Islam” sendiri, yang merupakan dan tujuan dakwah.21

Problematika masyarakat merupakan sebuah permasalahan yang muncul dan hangat di perbincangkan oleh khalayak ramai, sehingga menjadi sebuah hal yang sifatnya penting sekali dalam kehidupan ini dan menuntut untuk segera di selesaikan. Oleh karena itu, semua problematika yang ada harus di sikapi dengan sebaik mungkin, penuh pemikiran dan pertimbangan

19 Asep Muhiyiddin, Dakwah Dalam Prespektif al – Qur’an , (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2002), 24

20 Abdul Wadud Nafis, Metode Dakwah Teori dan Praktek (Jakarta: Mitra Abadi Press, 2009), 9

21 Asep Muhyiddin, Kajian Dakwah Multi Perspektif (Bandung: Rosda Karya, 2014), 28-29

khususnya problematika yang menyangkut aspek kehidupan. Dengan demikian baik buruknya seorang manusia tergantung bagaimana orang tersebut menyikapi segala problematika yang terjadi saat ini.

Problematika masyarakat itu banyak sekali. Problematika tersebut senantiasa berubah-ubah, baik ragam, besar kecilnya, maupun gejala-gejala suatu masyarakat lain, dari satu masa kemasa lainnya, dalam masyarakat itu sendiri atau pada masa itu juga dan di dalam masyarakat yang sama, sekalipun sesuai dengan perubahan situasi maupun kondisi dan hal ikhwal lainnya. Akan tetapi, problematika masyarakat tersebut pada garis besarnya berupa masalah ekonomi ini bisa di hadapi oleh sebagian besar anggota masyarakat manapun.

Segi segi perekonomian suatu masyarakat itu secara langsung mempengaruhi kehidupan anggota masyarakat dengan cepat sekali. Begitu pula masalah ekonomi, akan mempengaruhi pola/gaya hidup masyarakat maupun aspek- aspek bangunan struktur masyarakat secara keseluruhan. Juga akan mempengaruhi penentun anggaran belanja/ dana pendidikan maupun dana berbagai bidang kemasyarakatan lainnya seperti bidang kesehatan, politik, kebudayaan dan lain sebagainya.22

Pendidikan dalam pandangan masyarakat tradisional selama ini seringkali dipahami sebagai bentuk pelayanan social yang harus di berikan pada masyarakat, dalam konteks ini pelayanan pendidikan sebagai bagian dari public service atau jasa layanan umum dari negara kepada masyarakat yang tidak memberikan dampak langsung bagi perekonomian masyarakat, sehingga

22 Nazili Shaleh Ahmad, Pendidikan Dan Masyarakat,(Yogyakarta: Sabda Media, 2011), 100

pembangunan pendidikan tidak menarik untuk menjadi tema perhatian, kedudukannya tidak mendapat perhatian menarik dalam gerak langkah pembangunan.23

Pemikiran ilmiah ini secara tegas hendak mengungkapkan bahwa pengetahuan yang selama ini di dapat melalui jalur pendidikan sebenarnya bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata-mata, namun juga merupakan investasi yang sangat menguntungkan nantinya. Pada titik inilah, sangat terasa penting adanya jalinan harmonis antara bidang ekonomi dan pendidikan.24

Angkutan umum misal di Indonesia, angkutan umum tradisional yang digerakkan dengan tenaga manusia masih bertahan dengan susah payah, Yaitu becak. Di Jember menurut kepala Dinas Perhubungan (Dishub) kota Jember, saat ini total becak mencapai sekitar 5.229 unit.25 Dari jumlah total terebut, baru sekitar 1.936 unit yang terdaftar di kantornya. Selebihnya 3.293 unit lainnya bisa dikatakan becak illegal. Eksis namun tak terdaftar. Terlepas dari legal atau tidak, dilarangya angkutan ini di sejumlah daerah seperti Jakarta, konon turut memicu pertumbuhan jumlah becak. Becak memang ajaib, angkutan yang satu ini banyak di caci maki oleh kebanyakan orang, tapi sekaligus juga banyak dicari oleh kalangan orang yang hobi naik becak.

Kadang orang ingin mencaci karena seolah-olah becak hanya punya satu aturan, yaitu : “Tidak ada aturan”. Becak kerap kali melanggar traffic light.

Saat lampu merah menyala, becak tetap jalan tanpa mematuhi peraturan lampu

23 Ibid., 101

24 Ibid., 102

25 Isman Sutomo , Wawancara Dan Obsevasi. Jember, 10 Januari 2018