BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
5. Dampak Kecanduan Tiktok dan Cara Mengatasinya
29
yang mutakhir. Terlebih orang tua yang diharapkan sebagai sarana awal yang mewariskan kebudayaan lokal kepada para anak-anaknya, malah ikut terbawa arus oleh tampilan media sosial di gadget terutama tiktok, ini yang menjadikan identitas bangsa Indonesia yang penuh ragam budaya dari nenek moyang lama-kelamaan tergeser oleh kebudayaan barat.57
30
berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu kamu mengurangi kecenderungan kecanduan menggunakan tiktok:
a) Mematikan Notifikasi. Mematikan tombol notifikasi agar tidak mengganggu kegiatan sehari-hari seperti belajar dan bekerja.
b) Batasi Waktu Bermain Tiktok. Beri peringatan pada diri sendiri dengan membuat aturan seperti hanya boleh bermain selama satu jam sehari atau tujuh jam per minggu.
c) Cari Hobi Baru. Kamu dapat mempelajari keterampilan baru atau melakukan sesuatu yang selalu diinginkan.
d) Bersihkan Daftar teman dan follows (pengikut) di Akun tiktok membatasi dafar follow kamu hanya dengan hal-hal yang kamu senangi saja. Kurangi mengikuti akun yang terlihat kurang menarik untuk kamu.
e) Perbanyak bersosialisasi dengan teman atau keluarga
f) Puasa Menggunakan tiktok. Jika kamu merasa gejala kecanduan menggunakan tiktok kamu semakin parah maka puasa bermain media sosial bisa kamu lakukan.
g) Menerapkan aturan Memegang Handphone Matikan handphone atau coba ubah pengaturan handphone ke mode pesawat agar kamu tidak mendapat notifikasi apapun selama bekerja yang mengembalikan perhatian kamu ke handphone.59
6. Pembentukan Perilaku Keagamaan Anak
Perilaku keagamaan adalah suatu pola keyakinan yang ditunjukkan seseorang pada kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang baik jasmani, rohani, emosional, dan sosial.60
Perilaku keagamaan adalah perilaku yang didasarkan atas dasar kesadaran tentang adanya aktifitas keagamaan.61
Perilaku keagamaan diartikan sebagai seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa sering pelaksanaan ibadah dan kaidah
59 https://www.cermati.com/artikel/tiktok-bikin-candu-lakukan-7-hal-ini-bisa-kurangi-ketagian- main-tiktok, diakses pada tanggal 7 Desember 2022, pukul: 20:20
60 Imam Sukardi, Pilar Islam bagi Pluralisme Modern. (Solo: Tiga Serangkai, 2003), hlm. 131-132.
61 Muhammad Sholikin, Filsafat dan Metafisika dalam Islam, Sebuah penjelajahan Nalar, Pengalaman Mistik, dan Pelajaran Aliran Manunggaling Kawula-Gusti, (Jakarta: PT Buku Kita, 2018), hlm. 75.
31
serta seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianutnya. Perilaku keagamaan tersebut ditunjukkan dengan melakukan ibadah sehari-hari, berdoa, dan membaca kitab suci.62
Perilaku keagamaan adalah banyak atau sedikitnya kepercayaan seseorang kepada Tuhan, kepercayaan akan keberadaan Tuhan tersebut membuktikan bahwa seseorang memiliki keyakinan beragama, terdorong untuk melaksanakan perintah dalam agama, berperilaku moral sesuai tuntunan agama, dan aktifitas keagamaan lainnya.63
Prosedur pembentukan perilaku keagamaan bisa bermula dari gejala-gejala beragama yang dialami oleh individu dalam melintasi suatu proses keberagamaan. Ini senada dengan apa yang telah dikatakan oleh Muslim A. Kadir bahwa menjelaskan gejala berarti kemampuan untuk merumuskan. Mengenai prosedur terbentuknya perilaku beragama menurut A. Kadir ada dua yang pertama Terbentuknya kesadaran beriman dan yang kedua pengalaman nilai- nilai yang terkandung dalam beragama.64
Perkembangan perilaku keagamaan pada anak, terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil, dalam keluarga, di sekolah dan dalam masyarakat. Semakin banyak pengalaman yang bersifat agama (sesuai ajaran agama) akan semakin banyak unsur agama, maka sikap, tindakan, kelakuan dan caranya menghadapi hidup akan sesuai dengan ajaran agama. Dengan demikian, penerapan perilaku keagamaan yang dilakukan sejak kecil akan lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan penerapan yang dilakukan waktu remaja atau dewasa.65
Mengenai perkembangan beragama, pada dasarnya manusia dilahirkan sudah dalam keadaan mempunyai fitrah. Pada teori Netral Pasif beranggapan bahwa anak lahir dalam keadaan suci, utuh, dan sempurna, suatu keadaan kosong sebagaimana adanya, tanpaa kesadaraan akan iman dan kufur, baik atau jahat. Kemampuan individu untuk berkembang adalah
62 Didin Hafidhuddin, Islam Aplikatif, (Jakarta: Gema Insani Press, 2003), Hlm. 24.
63 Said Aqil Siroj, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi., (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2006), Hlm. 332
64 Muslim A. Kadir, Ilmu Islam Terapan, (Kudus: STAIN Kudus, 2003), hlm. 261
65 Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman,
Vol. 1 No.1, Maret 2018, hlm. 221
32
pasif pasif dan sangat tergantung dari pengaruh lingkungan, terutama pendidikan. Sebagaimana pendidikan merupakan sebuah proses dalam upaya mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia agar menjadi pribadi yang seimbang jasmani maupun rohani. 66
Tokoh dari teori ini adalah Ibnu Abd Al-Barr. Dia beranggapan bahwa manusia berpotensi manjadi baik dan aktif bila pengaruh luar, terutama keluarga dalam hal ini orang tuanya, mengajarkan demikian. Sebaliknya, berpotensi manjadi buruk bila lingkungan mengabaikan nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keadilan terhadap anak atau justru mengajarkan keburukan dan kejahatan terhadap anak. Prinsipnya adalah bahwa mana yang lebih dominan dan intensif, itulanh yang menentukan kepribadiannya.67
Pada dasarnya, menurut tabiat dan bentuk kejadiannya, manusia diberi bekal kebaikan dan keburukan, serta petunjuk dan kesesatan. Ia mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan. Kemampuan ini secara potensial telah ada pada diri manusia. Melalui bimbingan-bimbingan dan berbagai faktor lain, bekal tersebut dibangkitkan dan dibentuk. Ia adalah ciptaan yang fitri, makhluk yang i (pembawaan) dan misteri yang diilhamkan.68 Dalam sebuah hadist Nabi saw menjelaskan:
yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana binatang ternak menghasilkan binatang ternak yang lain apakah kamu
lihat ada kelahiran anak 69
Orang tua yang memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan potensi yang dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi dan berperan sebagaimana hakikat kejadiannya, tentu sangat perlu memahami secara serius perkembangan jiwa agama anak usia dini, sebagaimana yang dikemukakan oleh Jalaluddin bahwa pengaruh
66 Mohammad Salik,
El-Qudwah, vol. 4. No. 1 (Malang: Uin Malang, 2014), hlm. 1.
67 -
(Skripsi, PAI FTK, STAIN Jurai Siwo Metro, Lampung, 2020), hlm. 7.
68 Abdul Hamid Mursi, SDM yang Produktif: Pendekatan al- , (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm.57.
69 Shahih Imam Bukhari, dalam kitab al-Janaiz, hadits. 1296, lalu bandingkan dengan, Shahih Imam Muslim, dalam kitab al-qadr,hadits. 4803, Shahih Imam Abu Dawud, dalam kitab Al-Sunnah, hadits. 4091.
33
bimbingan Ibu Bapak memiliki peran strategis dalam membentuk jiwa agama pada diri anak.70
Selain orang tua masyarakat juga berperan dalam mendidik jiwa beragama pada anak. Masyarakat memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pendidikan. Masyarakat bertanggung jawab memberikan arah terhadap pendidikan anak. Hal ini berlaku terutama bagi para pemimpin, penguasa dan orang-orang dewasa. Karena tanggung jawab pendidikan pada hakekatnya merupakan tanggung jawab orang dewasa baik secara perorangan maupun sebagai kelompok.71
Menurut Hamka, eksistensi adat dalam sebuah komunitas sosial dan kebijakan politik negara, cukup berpengaruh bagi proses perkembangan kepribadian peserta didik pada masa selanjutnya. Oleh karena itu, seluruh sistem sosial di mana peserta didik itu berada hendaknya bersifat kondusif dan proporsional bagi menopang perkembangan dinamika fitrah yang dimiliki setiap anak didik. Masyarakat maupun negara seyogyanya melihat adat dan kebijaksanaan pemerintah sebagai sesuatu yang fleksibel, serta menghargai setiap pendapat sebagai sebuah keberagaman. Sikap yang demikian akan menumbuhkan dinamika berpikir kritis dan menghargai kemerdekaan yang dimiliki setiap orang, tanpa menyinggung kemerdekaan yang lain.72
menurut pandangan al-Mawardi, Perilaku dan kepribadian seseorang terbentuk melalui kebiasaan yang bebas dan akhlak yang lepas (akhlak mursalah). Oleh karena itu, selain menekankan tindakan-tindakan yang terpuji, ia lebih menekankan proses pembentukan kepribadian melalui pendidikan budi pekerti (al- ). Hal itu dilakukan, karena menurutnya didalam jiwa seseorang didalamnya terdapat sisi negatif suatu dorongan kejiwaan mengikuti perintah nafsu (hawa) dan syahwat yang selalu mengancam keutuhan kepribadian tersebut. Maka proses pembentukan jiwa dan tingkah laku seseorang, tidak saja cukup
70 Jalaludin,Psikologi Agama,(Jakarta: Rajawali Press, 2004), hlm. 62.
71 Zakiah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 45.
72 Ibid, hlm. 46-47.
34
diserahkan kepada akal dan proses alamiah, akan tetapi diperlukan pembiasaan melalui normativitas keagamaan.73
Pendapat Piaget mengenai tahapan pemahaman seorang anak terhadap Tuhan adalah sebagai berikut:
a. Tahap pertama, pemahaman anak tentang Tuhan masih abstrak atau belum jelas, mereka lebih cenderung memahami suatu obyek sebagai pemahaman akan Tuhan. seperti: rumah peribadahan dan perlengkapan untuk ibadah.
b. Tahap kedua, Tuhan sudah dianggap sebagai pencipta (Yang Maha Pencipta). Pada masa ini pemikiran tentang konsep Tuhan sedang pada tahap dibentuk seperti anak sering memikirkan Tuhan awalnya dalam bentuk fisik, karena bagi mereka sulit untuk mengimajinasikan bentuk Tuhan ke dalam non fisik.74
Pada pembentukan perilaku keagamaan, ada beberapa unsur yang bisa diterapkan pada seseorang, antara lain;
a. Penerapan kebiasaan jujur
menjelaskan mengenai konsep atau narasi tentang kejujuran saja belum cukup untuk mengembangkan perilaku jujur pada diri seorang anak, perlu adanya pembiasaan serta praktek yang dilakukan berulang-ulang setiap harinya. Karena anak-anak lebih memerlukan sesuatu yang konkrit dalam pandangan mereka, sehingga teori tentang kejujuran bukan lagi terlihat abstrak bagi mereka. Maka dari itu mulaiah membuat kebiasaan dalam berprilaku jujur pada kehidupan setiap harinya, seperti mengaplikasikan ke dalam bentuk kalimat maupun ucapan. Tentu, apapun yang dikatakan messti selaras dengan apa yang diperbuat. Karena terkadang memegang suatu ucapan adalah hal yang sulit.75
Salah satu hal yang paling berpengaruh adalah adanya kebiasaan dan penerapan yang dilakukan sejak kecil. Karena anak-anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan
73 Suparman Sukur, Etika Religius, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 262.
74 an Nilai-
http://paxdhmboxdhe.blogspot.com/2014/04/kegiatan-pengembangan-nilai-nilaiagama.html
75 Abdul Aziz, tukan Perilaku Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman, Vol. 1 No.1, Maret 2018, hlm. 220.
35
yang berasal dari lingkungannya. Setiap anak yang lahir normal, baik fisik maupun mentalnya berpotensi menjadi cerdas. Hal yang demikian terjadi, karena secara fitrah manusia dibekali potensi kecerdasan oleh Allah SWT. Dalam rangka mengaktualisasikan
bumi.76 Sebagaimana dalam firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 30:
Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau Salah satu hal yang paling berpengaruh adalah adanya kebiasaan dan penerapan yang dilakukan sejak kecil. Karena anak-anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungannya.77
Demikian pula dengan pendapat Al-Ghazali sebagaimana yang dikutip oleh Nur Alimah bahwa:
Anak dilahirkan dengan membawa fitrah yang seimbang dan sehat. Kedua orang tuanyalah yang memberikan agama kepada mereka. Demikian pula anak dapat terpengaruhi sifat- sifat yang buruk. Ia mempelajari sifat- sifat yang buruk itu dari lingkungan yang dihadapinya. Dari corak hidup yang memberikan peranan kepadanya dan dari kebiasaan- kebiasaan yang dilakukanya. Ketika dilahirkan, keadaan tubuh anak belum sempurna, kekurangan ini diatasinya dengan latihan dan pendidikan yang ditunjang dengan makanan. Demikian pula halnya dengan tabiat yang
76 Suharsono. Melejitkan IQ, IE dan IS, (Jakarta: Inisiasi Press, 2002), hlm. 13.
77 Shabban Shodaq, E. kusman, Al- mahan,
(Bandung: Cordoba, 2019), hlm. 6.
36
difitrahkan kepada anak yang merupakan kebajikan yang diberikan al-Khalik kepadanya.78
b. Adanya motivasi dan penghargaan.
Motivasi menurut I.L. Pasaribu dan B. Simanjuntak berarti suatu tenaga (dorongan, kemauan) dari dalam yang menyebabkan seseorang berbuat atau bertindak yang mana tindakan itu diarahkan kepada tujuan tertentu yang hendak dicapai.79
Motivasi disampaikan kepada anak melalui lingkungan yang di sekitar untuk melakukan perbuatan jujur. Motivasi merupakan kemauan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individu. Motivasi dapat diterapkan dengan pemberian reward atau penghargaan. Misalnya, seorang anak yang bersikap jujur, diberikan pujian atau hadiah, sehingga adanya penguatan untuk melakukan tindakan jujur.80
7. Perkembangan Perilaku Keagamaan Pada Anak
Pandangan Zakiah tentang masa tumbuh kembang pertama (masa anak-anak) terjadi pada usia 0 sampai 12 tahun. Bahkan, menurutnya bisa di bilang sejak dalam masa kandungan kondisi dan sikap orang tua punya peran dalam mempengaruhi pertumbuhan jiwa keagamaan seorang anak walaupun sebagian ahli berpendapat bahwa pada saat anak dilahirkan, ia belum termasuk diikategorikan sebagai makhluk yang religius.81
Memahami konsep keagamaan pada anak berarti memahami sifat agama pada anak-anak. Sesuai dengan ciri yang mereka miliki, maka sifat
keagamaan pada anak- ideas concept on
authority keagamaan pada anak hampir sepenuhnya authoritarius maksudnya konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh unsur dari luar diri mereka. Mereka telah melihat dan mengikuti apa-apa yang
78 Nur Alimah, Metode Melatih Kecerdasan Emosional Pada Anak; Studi Pada Ketrampilan Guru Melatih Kecerdasan Emosional Siswa SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta, (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2004).
79Lia Nur
SLTPN 3 Kuningan Jawa Barat (Skripsi, FTK PAI, UIn Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2002), hlm. 23.
80 . Jurnal Pemikiran dan Pemikiran Islam
vol.1 No.1 Maret 2018. hlm. 201-202.
81 Bambang Samsul Arifin, Psikologi Agama, (CV. Pustaka Setia: Bandung, 2008). hlm. 7.
37
dikerjakan dan diajarkan orang dewasa dan orang tua mereka tentang sesuatu hingga masalah agama.82 Kesimpulannya ketaatan pada ajaran agama merupakan kebiasaan yang terimplementasi pada jiwa anak, yang dipelajari dari para orang tua maupun guru. Berdasarkan penjelasan tersebut maka bentuk dan agama pada diri seorang anak terbagi menjadi beberapa bagian antara lain:
a. Orientasi Egosentris
Sifat keagamaan pertama yang paling jelas ada pada masa anak- anak adalah orientasi egosentris. Pada tahap ini seorang anak mempunyai kesadaran akan diri sendiri. Sejak pada tahun pertama dalam pertumbuhannya dan akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalamanya.83
b. Ciri Kedua Keagamaan Anak-anak
Lalu ciri yang kedua mendeskripsikan terkait keagamaan dalam bentuk kata-kata maupun gambaran-gambaran yang diterjemahkan pada pengalaman-pengalaman yang dilakukan maupun dijalani oleh orang- orang yang sudah dikenal.84
c. Eksperimentasi, inisiatif, spontanitas (experimentation, intiative, spontaneity)
Ciri yang ketiga, agama masa anak-anak itu tumbuh dengan eksperimentasi dengan individualitas, inisiatif, dan spontanitas.85
d. Kurang mendalam/tanpa kritik (Unreflective)
Pada Ciri ini pemahaman anak-anak terhadap ajaran agama masih dalam bentuk penerimaan semata tanpa adanya pemikiran yang mendalam tentang hal tersebut. Dalam kata lain mereka menerima ajaran tentang agama tanpa adanya kritik. Berdasarkan penelitian Machion tentang sejumlah konsep ketuhanan pada diri anak. 73% anak- anak menganggap Tuhan itu bersifat seperti manusia.86 Penelitian proff mengemukakan salah satu contoh tentang hal itu: Suatu peristiwa
82 Rama Yulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Radar Jaya, 2011), hlm.56.
83 , Jurnal Al
Fitrah, Vol.2, No. 1, Maret 2018, hlm. 6.
84 Ibid, hlm. 7.
85 Ibid , hlm. 7.
86 Ibid, hlm. 8.
38
seorang anak mendapat keterangan dari ayahnya bahwa tuhan selalu mengabulkan permitaan hambanya. Kebetulan seorang anak berjalan di depan sebuah toko mainan sang anak tertarik dengan sebuah tapi berbentuk kerucut, sekembalinya ia ke rumah langsung berdoa kepada Tuhan untuk apa yang diinginnya itu karena hal itu diketahui oleh ibunya. Maka ia tergiur. Ibunya berkata bahawa dalam berdoa tak boleh seseorang memaksakan Tuhan untuk mengabulkan barang yang diinginnya itu. Mendengar hal tersebut anak tadi langsung Contoh di atas menunjukan, bahwa anak itu sudah menunjukan pemikiran yang kritis, walaupun bersifat sederhana, menurut penelitian pikiran kritis baru timbul pada usia 12 tahun sejalan dengan pertumbuhan moral. Di usia tersebut, bahkan anak kurang cerdaspun menunjukan pemikirian yang korektif.
Di sini terlihat bahwa anak meragukan kebenaran ajaran agama itu secara konkrit saja.87
e. Ucapan dan praktik (verbalis dan ritualis)
Ciri keagamaan anak yang kelima yaitu ucapan dan praktik. Pada kenyataan yang dialami bahwasannya kehidupan tentang agama pada masa anak-anak awal mulanya masih berbentuk kalimat-kalimat verbal (ucapan). Seringkali semasa anak-anak, mereka disuruh menghafal doa- doa tentang agama dan praktik amaliah yang mereka kerjakan berdasarkan tuntunan dari pengalaman yang diajarkan.88
f. Suka meniru (imitatif)
Ciri agama anak-anak dikenal dengan suka meniru. Contohnya seperti sholat dan berdoa. Mereka melakukan solat dan berdoa merupakan hasil dari melihat kebiasaan yang ada pada lingkungan sekitar. Baik kebiasaan tersebut merupakan perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang atau diajarkan secara intensif. Sifat suka meniru dalam diri anak-anak merupakan modal penting dalam pendidikan keagamaan pada anak-anak.89 Menurut penelitian Gilsephy dan young
87 Rama Yulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Radar Jaya, 2011), hlm. 59.
88 Ibid, hlm. 60.
89 , Jurnal Al
Fitrah, Vol.2, No. 1, Maret 2018, hlm. 10.
39
terhadap sejumlah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Solo menyatakan bahwa seorang pelajar yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan dalam keluarga mempunyai peluang untuk tidak memiliki kematangan dalam beragama pada kehidupannya.90
g. Rasa heran atau kagum (Numinous)
Ciri keagamaan selanjutnya pada anak yaitu rasa heran. Perasaan heran serta kagum pada jiwa anak merupakan sifat keagamaan yang terakhir pada diri anak. Perasaan kagum tersebut muncul ketika adanya rangsangan keindaan lahiriah itu hadir. Hal tersebut menjadi cikal bakal pertama untuk mendorong kebutuhan anak tentang mengenal pengalaman baru (new experience).91
Dalam agama islam perasaan kagum tersebut hadir ketika manusia mempelajari serta mendalami sifat-sifat Allah seperti ar-rahman dan ar-rahim yang terhimpun dalam al-asma al-husna (nama-nama Tuhan yang baik) yang berjumlah 99 nama sifat). Uraian di atas mengisyaratkan betapa pentingnya memberi keluasan kepada anak untuk bebas dalam emosi dan fantasinya tanpa ancaman dan teguran.92
Tahap perkembangan jiwa keberagamaan anak dimulai semenjak usia 3 sampai 12 tahun.93 Adapun fasenya menurut Ernes Hermar terbagi menjadi beberapa yaitu:
a. The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng).
Tahap ini dimulai sejak usia anak baru menginjak 3 sampai 6 tahun. Pada fase ini persepsi tentang Tuhan lebih dominan dipengaruhi oleh imajinasi serta emosi. Pada tahap perkembangan ini anak masih meresapi konsep ketuhanan kedalam bentuk yang masih kurang masuk akal. seiring dengan perkembangan intelektual yang meningkat secara bertahap. Pada masa kehidupan tersebut masih banyak dipengaruhi dengan unsur fantasi bahkan dalam menggapai agamapun konsep fantasi
90 Rama Yulis, Psikologi Agama, (Jakarta: Radar Jaya, 2011), hlm. 61.
91 , Jurnal Al
Fitrah, Vol.2, No. 1, Maret 2018, hlm. 11.
92 Samsul Arifin, Psikologi Agama, (CV. Pustaka Setia: Bandung, 2008), hlm. 49.
93Ibid, hlm. 49.
40
yang tertuang pada kisah-kisah dongeng masih terbilang kurang masuk akal.
b. The Raelistic Stage (Tingkat Kenyataan).
Fase ini diawali semenjak anak sudah menginjak usia sekolah dasar hingga ke usia (masa usia) adolonsense. Pada tahap ini gagasan tentang ketuhanan, telah mencerminkan persepsi yang berdasarkan kepada realistis (kenyataan). Gagasan ini muncul melalui lembaga formal keagamaan dan pendidikan tentang ajaran agama serta orang dewasa lainnya. Pada fase tersebut persepsi keagamaan pada anak didasarkan atas emosional, oleh sebab itu pada masa ini anak-anak sudah memunculkan konsep tentang ketuhanan ke dalam bentuk formalis. Berdasarkan penjelasan ini pada masa tersebut anak- anak lebih tertarik dan senang pada lembaga yang bernuansa keagamaan yang orang dewasa lakukan ke dalam bentuk tindakan amal baik sehingga memicu dorongan untuk mengikuti serta mempelajarinya.
c. The Individual Stage (Tingkat Individu).
Fase ini anak sudah mempunyai kepekaan yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang individualistik ini terbagi atas tiga, yaitu;
pertama, konsep ketuhanan yang Conversial dan formatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh luar; kedua, konsep ke-tuhanan yang lebih murni dengan dinyatakan dengan pandangan yang bersifat persoanal (perorangan); ketiga, konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi ethos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini setiap tingkatan dipengaruhi oleh faktor intern yaitu perkembangan usia dan faktor ekstern pengaruh luar yang dialamainya.94
Dengan ini sampailah manusia itu kepada keyakinan tentang adanya Tuhan, pencipta alam semesta. Dia telah menemukan Tuhan dan
94 Ibid, hlm. 50.
41
keyakinannya ini bertambah kuat lagi setelah ia menyelidiki dirinya sendiri. Dikatannya bahwa ia sebelum lahir ke dunia ini ia telah tumbuh dan berkembang di kandungan ibunya selama beberapa bulan, kemudian lahir ke dunia dan menjadi besar. Dirinya terdiri dari dua unsur yaitu tumbuh, besar jasmani yang terdiri dari tulang-tulang, daging, darah, dan perlengkapan lainnya yang sangat menakjubkan, dan unsur yang kedua adalah roh atau jiwa yang hakekatnya tidak dapat diketahui oleh manusia.95
Untuk mengukur dan melihat bahwa sesuatu itu menunjukkan prilaku keagamaan atau tidak, dapat dilihat dari karakteristik prilaku keagamaan. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan indikator prilaku keagamaan seseorang, yakni :
a) Komitmen terhadap perintah dan larangan Allah b) Bersemangat mengkaji ajaran agama
c) Aktif dalam kegiatan agama
d) Menghargai simbol-simbol keagamaan e) Akrab dengan kitab suci
f) Mempergunakan pendekatan agama dalam menentukan pilihan g) Ajaran agama dijadikan sebagai sumber pengembangan ide.96
Adapun bentuk-bentuk perilaku keagamaan pada anak dikategorikan sebagai berikut:
a. Aspek Ibadah
pengertian Ibadah secara istilah (terminologi) adalah penghambaan seorang manusia kepada Allah untuk dapat mendekatkan diri kepadaNya sebagai realisasi dari pelaksanaan tugas hidup selaku makhluk yang diciptakan Allah.Sedangkan pengertian ibadah secara bahasa (etomologis) berasal dari bahasa Arab
, berarti hamba atau budak, yakni seseorang yang tidak memiliki apa-apa, harta dirinya sendiri milik tuannya, sehingga karenanya seluruh aktifitas hidup hamba
95 S. Prodjaditoro, Pengantar Agama dalam Islam, (Yogyakarta: Sumbangsih Offset, 2002), hlm.
17.
96 Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 12.