• Tidak ada hasil yang ditemukan

kalangan masyarakat di Desa Rato Rt 13 Dusun 05. Karena menurut salah satu warga, sebagaimana wawancara yang telah dilakukan, bahwa perekonomian masyarakat sangat terganggu baik untuk kebutuhan sehari-hari bahkan untuk kebutuhan pendidikan .

Dengan melihat hasil wawancara diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini sejalan dengan Teori yang dikemukakan oleh Dale W Adam, yang menyatakan bahwa rentenir adalah individu yang memberikan kredit jangka pendek, tidak menggunakan jaminan yang pasti, dan bunga relative tinggi serta selalu berusaha melanggengkan kredit dengan nasabah.59 Maksud tidak menggunakan jaminan yang pasti adalah masyarakat yang melakukan peminjaman uang terhadap rentenir tidak serta merta diberikan kepastiaan pelunasannya dilakukan.Yang pasti, kapanpun pihak rentenir ingin menagih uangnya diperbolehkan. Padahal dalam hukum perbankan tidak demikian.

Di samping itu, hasil ini sangat sejalan dengan penelitian dasar yang telah dibukukan bahwa praktek rentenir erat kaitannya dengan aspek sosial, budaya dan moral. Dikatakan erat kaitannya karena dalam praktek rentenir masyarakat terkadang kepercayaannya diabaikan oleh pihak rentenir.

permasalahan tersebut dikarenakan rentenir memberikan syarat kepada masyarakat yang ingin berutang, yaitu dengan syarat harus membayar bunga utang sebesar 5% perminggu dari utang pokok, sehingga hal ini membuat kerugian pada yang berhutang. Dampak yang terjadi setelah berhutang kepada rentenir bukanya mensejahterakan perekonomian keluarga tersebut tapi malah memperburuk dan malah membuat keluarga tersebut sering bertengkar.

2. Kerugian yang dialami masyarakat.

Masyarakat yang menambah modal untuk berdagang dengan harapan untuk mengembangkan usaha yang dijalankan tapi malah bangkrut lantaran tingginya bunga yang dibayar perminggunya dan terjualnya tempat tinggal lantaran untuk melunasi uang pinjaman kepada rentenir, terjadinya perceraian dalam satu keluarga. Adapaun penyebab dari dampak tersebut dikarenakan rentenir memberika syarat kepada masyarakat yang ingin berutang, yaitu dengan syarat harus membayar bunga hutang sebesar 5%

perminggu dari utang pokok, hal ini membuat usaha yang dijalankan malah bangkrut lanataran bunga hutang terlalu tinggi untuk dibayar.

3. Sulitnya memenuhi biaya kebutuhan makan keluarga sehari-hari.

Adapun penyebab dari dampak tersebut dikarenakan rentenir memberikan syarat kepada masyarakat yang ingin berutang, yaitu dengan syarat harus membayar bunga utang sebesar 5% perminggu dari utang pokok, hal ini membuat usaha yang dijalankan malah bangkrut lantaran bunga utang terlalu tinggi untuk dibayar. Kesejahteraan dalam konsep

dalam dunia modern adalah sebuah kondisi dimana seseorang dapat memenuhi kebutuhan pokok, baik itu kubutahan akan makanan, pakaian, tempat tinggal, air minum yang bersih serta kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan memiliki pekerjaan yang memadai yang dapat menunjang kualitas hidupnya sehingga mimiliki status sosial yang mengantarkan pada status sosial yang sama terhadap sesama warga lainnya.

50 BAB III

DAMPAK PRAKTEK RENTE DI MASYARAKAT DESA RATO

A. Bentuk Praktek Rente Di Desa Rato Kecamatan Bolo.

Rentenir adalah suatu jenis pekerjaan yang sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan bank dan lembaga keuangan non bank yang bergerak dibidang jasa pelayanan simpan pinjam uang.

Kegiatan rente adalah suatu bentuk aktivitas yang memberikan pinjaman kepada orang yang membutuhkan dengan bentuk imbalan bunga yang telah ditentukan oleh pihak rente tersebut dan sasaran dari rente antaran lain para pedagang kecil di pasar. Rentenir merupakan pihak penyedia hutang yang mengharapkan bunga disetiap pinjaman dana yang diberikanya. Besarnya bunga yang dibebankan pada peminjam terkadang melebih batas kewajaran. Bunga yang tetapkan rentenir juga berbeda-beda tergantung dari kebijakan rentenir, berbeda dengan bank yang mengikuti suku bunga Bank Indonesia.

Krisis ekonomi global yang terdampak pada kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok membuat sebagian masyarakat Desa Rato berada pada posisi terjepit dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab untuk menggeruk keuntungan walaupun diatas penderitaan masyarakat dengan memberikan pinjaman tanpa jaminan dengan bunga selangit.

Praktek rente ini pada umumnya berkeliling kerumah-rumah penduduk

untuk memberikan pinjaman pada masyarakat kalangan ekonomi menengah kebawah. Hasil pinjaman tersebut ada yang dijadikan modal untuk merintis usaha tetapi ada pula yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Adapun kelebihan dan kekurangan rentenir yaitu:

1. Kelebihan Rentenir

Keunggulan rentenir dapat dilihat dari proses peminjamannya.

Pinjaman yang dikeluarkan oleh rentenir lebih mudah, cepat dan tidak perlu agunan (didasarkan rasa saling percaya). Peminjam yang baru biasanya diperlakukan dengan sangat baik, selanjutnya disesuaikan dengan prilaku dari masing-masing peminjam. Jumlah besar dan kecilnya pinjaman tidak dibatasi, tergantung kepada kemampuan pemberi pinjaman demikian juga kebutuhan peminjam. Peminjam tidak perlu repot mendatangi pemberi pinjaman untuk membayar cicilan pinjaman atau sekedar bunga pinjaman, karena biasanya pemberi pinjamanlah yang mendatangi para peminjam uang bahkan ke kios atau ke rumah mereka.60

2. Kekurangan Rentenir

Adapun rentenir memiliki kekurangan dimana hal ini yang dapat membuat peminjam mengeluh, bahkan kabur dari tanggung jawabnya.

Bunganya terlalu besar, biasanya rentenir menetapkan bunga dengan interval 10% sampai dengan 30%. Sementara kalau dibandingkan

60 Fakultas Hukum Universitas Sembilan Belas November Kolaka 2014

pinjaman dari Pegadaian, Koperasi Simpan Pinjam, BPR dan Bank Umun, yang mana kisaran bunganya tidak lebih dari 10% sampai dengan 15% (berpatokan pada suku bunga acuan Bank Indonesia) atau bahkan hanya 3% sampai dengan 4 % dalam menetapkan bunga.

Penagihan pinjaman dilakukan dengan tindakan sewenang-wenang kepada nasabah yang mulai telat dalam membayar cicilan. Karena tidak ada jaminan, banyak nasabah yang akhirnya melarikan diri, karena tidak sanggub membayar. Biasanya rentenir memiliki tukang pukul untuk mengejar nasabah yang melarikan diri dari tanggung jawabnya.

Rentenir disamping memudahkan masyarakat, juga sangat menyengsarakan masyarakat dalam segi pembayaran pinjaman dan cara penagihan hutang. Hal ini tentunya mengundang tindakan dari pemerintah untuk mengatasi perkembangan rentenir (bank illegal) di masyarakat.

Menurut undang-undang Nomor 13 tahun 1998 pengertian kesejahteraan yakni suatu tata kehidupan sosial material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilan, dan ketenteraman lahir batin, yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmani, rohani dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat sesuai dengan pancasila.61

61 Presiden Republik Indonesia, undang-undang republik indonesia Nomor 6 tahun 1974 tentang ketentuan-ketentuan pokok kesejahteraan sosial dengan rahmat tuhan yang maha esa, http://www.bphn.go.id/data (6 Maret 2018)

Dari teori tersebut nampak perbedaan dengan kasus yang terjadi di masyarakat. Dalam kasus ini bukanya memperbaiki kesejahteraan perekonomian tersebut tapi malah memperburuk, dari teori diatas untuk mencapai kesejahteraan itu harus terpenuhinya kebutuhan jasmanai dan rohani. Usaha yang dijalankan bangkrut, memberikan anak-anak uang jajan untuk sekolah kesulitan, lantaran orang tuannya tidak memilik uang, terjualnya rumah dikarenakan harus membayar bunga utang dan hutang pokok pada rentenir.

Adapun penyebab dari permasalahan tersebut dikarenakan rentenir memberikan syarat pada masyarakat yang ingin berutang, yaitu dengan syarat harus membayar bunga utang sebasar 5% perminggu dari utang pokok, hal ini membuat usaha yang dijalankan malah bangkrut lantaran bunga utang terlalu tinggi untuk dibayar. Hal tersebut bukanya mensejahterakan perekonomian keluarga tersebut tapi malah memperburuk perekonomian keluarga tersebut.

Dari dampak yang terjadi tidak sesuai dengan teori indikator kesejahteraan ekonomi yaitu terpenuhi kebutuhan spiritual dan material yang layak. Dari teori yang ada sudah jelas bahwa untuk mencapai kesejahteraan perekonomian dalam satu keluarga harus terpenuhi kebutuhan spritual dan material yang layak.62

Bentuk praktek rente ini juga memanfaatkan kepolosan orang- orang tersebut untu merauk keuntungan yang lebih besar. Mereka

62 Prijono Tjiptoherijanto, prospek perekonomian Indonesia dalam rangka globalisasi, (jakarta: PT Rinika Cipta, 2002)., hlm. 113-114

menawarkan kemudahan dalam mendapatkan pinjaman tampa jaminan apapun. Kemudahan inilah yang menjadi alasan mayoritas warga Desa Rato khususnya Dusun Dorowila menerima tawaran rentenir dan meminjam uang kepada mereka meskipun mereka telah mengetahui besarnya bunga yang harus mereka bayar dan mengakibatkan hutang semakin banyaknya.

Misalnya peminjam gagal membayar pinjaman sebanyak dua bulan, maka pada bulan ketiga dia harus membayar bunga sebanyak tiga kali. Semakin lama penundaan pembayaran semakin besar pula bunga yang harus ditanggung oleh peminjam. Contohnya: hutang yang semula hanya Rp 1.000.000,00 dalam satu tempo satu bulan menjadi Rp 1.200.000,00 ini dikenal dengan sistem rolasan. Jika ketika jatuh tempo tidak bisa membayar maka bulan berikutnya hutang beserta bunganya akan dibungakan kembali, jadi dari Rp 1.200.000,00 menjadi Rp 1.400.000,00.

Sistem pinjaman yang diberikan para rentenir adalah bank keliling/bank harian/pinjaman paket, hutang bayar bunga mingguan/bunga bulanan dan gadai sewa.

Proses peminjaman uang yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Desa Rato cukup lama. Praktek peminjaman uang ini diperkasai oleh beberapa orang lain yang mempunyai modal yang bersedia untuk dipinjamkan kepada orang lain yang mebutuhkan, dengan ketentuan harus ada perubahan yang berupa persen dari jumlah uang yang dipinjamkan

semula. Pada dasarnya peminjaman uang dengan para rentener ini didasarkan pada tolong menolong dan rasa kepercayaan untuk menggunakan uang yang dipinjam tampa ada jaminan apapun.

Proses peminjaman uang dari para rentenir apabila tidak dipergunakan untuk kebutuhan dagang atau produksi, peminjam akan merasa kesulitan dalam mengembalikanya.

Keberadaan para rentenir banyak dirasakan manfaat oleh sabagian orang yang pernah meminjam, bahwa mereka sangat tertolong didalam memenuhi kebutuhan baik untuk kebutuhan konsumtif atau kebutuhan tambahan modal berdagang (produktif). Sebab bila dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya Bank misalnya, bila ingin meminjam di lembaga ini harus memenuhi persayaratan yang lengkap dan harus ada barang jaminan untuk dipakai sebagai boroh.

Sistem kerja rentenir yang berada pada Desa Rato Kecamatan Bolo mempunyai cara yang sangat mudah dan cepat biasanya kegiatan rentenir inilah pekerjaan utama mereka. Rentenir biasanya mengeluarkan modal mereka berupa uang untuk dipinjamkan kepada masyarakat yang membutuhkannya dengan mengambil keuntungan berupa hasil dari bunga peminjaman uang tersebut. Sistem yang diatur oleh rentenir ini, dimana seseorang yang meminjam uang langsung saja meminta permohonan seacara lisan bahwa ingin menggunakan dana untuk keperluan yang diinginkan. Kemudian sih kreditur melihat atau layak tidaknya usaha yang hendak peminjam jalankan atau dengan alasan apapun pihak debitur

meminjamankan uang tersebut, karena pihak kreditur harus menilai sanggup tidaknya debitur untuk mengembalikan uang tersebut setiap hari beserta bunganya. Oleh karena itu, pihak debitur harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh para rentenir. Selain itu, rentenir juga tak segan untuk mengacam nasabah atau peminjam yang gagal membayar cicilan beserta bunga pinjaman. Rentenir tidak akan segan menggunakan jasa debtcollector, bahkan menggunakan kata-kata kasar dan mengitimidasi setiap peminjam yang melakukan kredit macet.

B. Dampak Praktek Rente Terhadap perekonomi masyarakat di Desa

Dokumen terkait