BAB II TINJAUAN TEORI
2.2 Motivasi Belajar
2.2.1 Definisi
Motivasi berasal dari kata “motif” yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat. Motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannyaUno (2009) dalam Yani M.F (2014)..
Motivasi menurut Arianto (dalam Wahyuni, 2009) adalah kesediaan untuk melakukan usaha dalam mencapai tujuan tertentu, yang disebabkan oleh adanya kebutuhan tertentu atau dorongan dan
semangat untuk melakukan sesuatu. Menurut Makmun (2007) motivasi merupakan Suatu kekuatan (power) atau tenaga (forces) atau daya (energy); atauSuatu keadaan yang kompleks (a complex state) dan kesiapsediaan (preparatory set) dalam diri individu (organisme) untuk bergerak (tomove, motion, motive) ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari. Menurut Mc.Donald dalam Sardiman (2010) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.
Menurut Agustiar (2010), diketahui bahwa tingkat motivasi belajar siswa kelas XII SMA Negeri “X” Jakarta Selatan memiliki motivasi belajar yang tinggi. Hal ini terjadi kemungkinan dikarenakan adanya syarat kelulusan untuk kelas XII pada tahun ajaran 2008/2009 adalah 5,50 untuk seluruh mata ajar.
Sebenarnya motivasi merupakan sebuah istilah yang lebih umum untuk menunjuk pada seluruh proses gerakan, termasuk memberikan dorongan kepada diri sendiri, perilaku yang ditimbulkan serta tujuan dan akhir dari perbuatan tersebut.
Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku akibat latihan dan pengalaman (Oemar Hamalik, 2009). Menurut Makmun (2007) adalah suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu. Hal senada juga diungkapkan Uno (2009) belajar adalah suatu proses usaha yang
19
dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.Pengertian belajar menurut Purwanto belajar dapat diartikan sebagai :
2.2.1.1 Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
2.2.1.2 Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman; dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar; seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada seorang bayi.
2.2.1.3 Untuk dapat disebut sebagai belajar, maka perubahan itu harus relative mantap; harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang. Beberapa lama periode waktu itu berlangsung ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan maupun bertahun - tahun. Ini berarti kita harus mengenyampingkan perubahan-perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman
perhatian atau kepekaan seseorang, yang biasanya hanya berlangsung sementara.
2.2.1.4 Tingkah laku yang megalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berfikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.
Dari beberapa pengertian belajar di atas, maka dapat diambil pengertian bahwa belajar adalah suatu proses seorang individu melakukan perubahan perilaku berdasar pengalaman dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Menurut Suardana, A.A dan Simarmata, N (2012) bila terjadi peningkatan motivasi belajar maka akan terjadi penurunan pada kecemasan, dengan nilai kolerasi (r) 0,30.
2.2.2 Jenis - Jenis Motivasi
Adapun jenis motivasi dapat dipandang dari segi sumber, maka dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
2.2.2.1 Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik timbul dari setiap individu sesuai kebutuhan, bakat, kemauan, minat, dan harapan yang terdapat pada diri seseorang. Sebagai misal,
21
seseorang yang gemar membaca tidak memerlukan orang lain yang memotivasinya tetapi ia sendiri butuh, berminat atau berkemauan untuk mencari sumber – sumber bacaan dan rajin membacanya.
2.2.2.2 Motivasi Ekstrinsik
Motivasi yang datang dari luar diri seseorang, timbul karena adanya stimulus (rangsangan) dari luar lingkungan.Sehingga dapat diartikan bahwa motivasi yang berasal dari diri sendiri (intrinsik) dan motivasi yang berasal dari luar (ekstrinsik), kedua hal tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar pada tindakan seseorang, maka seseorang dapat melakukan tindakan – tindakan atau perbuatan – perbuatan dengan baik sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Jenis motivasi menurut pembagian dari Wodworth dan Marquis sebagai berikut :
a) Motif atau kebutuan organis, meluputi misalnya:
kebutuuhan untuk minum, makan, bernapas, seksual, berbuat dan kebutuhan untuk beristirahat. Ini sesuai dengan jenis Physiological drives dari Frandsen seperti telah disinggung di depan
b) Motif-motif darurat. Yang termasuk dalam jenis motif ini antara lain: dorongan untuk menyelamatkan
diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu. Jelasnya motivasi jenis ini timbul karena rangsangan dari luar.
c) Motif-motif objektif. Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, unttuk menaruh minat. Motif-motif ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.
d) Motivasi jasmaniah dan rohaniah.Ada beberapa ahli yang mengggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis jasmaniah dan rohaniah. Yang termasuk motivasi jasmaniah misalnya: reflex, insting otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rohaniah adalah kemauan.
2.2.3 Indikator Motivasi Belajar
Motivasi belajar, pada umumnya memiliki beberapa indikator atau unsur yang mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar menurut Uno (2009) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
2.2.3.1 Adanya hasrat dan keinginan berhasil
2.2.3.2 Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar 2.2.3.3 Adanya harapan dan cita-cita masa depan 2.2.3.4 Adanya penghargaan dalam belajar
23
2.2.3.5 Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar 2.2.3.6 Adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga
memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik.
2.2.4 Faktor Motivasi
Faktor - faktor yang mempengaruhi motivasi adalah:
2.2.4.1 Self Efficacy
Siswa percaya pada kemampuan mereka sendiri untuk melakukan dengan baik dalamilmutugas–tugasbelajar.
2.2.4.2 Active Learning Strategies
Siswa mengambil peran aktif dalam menggunakan berbagai strategiuntuk membangun pengetahuan baru berdasarkan pemahaman mereka sebelumnya.
2.2.4.3 Learning Value
Membiarkan siswa memperolehpemecahan masalah secara kompetensi, pengalaman aktivitas penyelidikan, merangsang pemikirannya sendiri, dan menemukan relevansi ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Jika mereka bisamemahami nilai-nilai penting, mereka akan termotivasi untuk belajar.
2.2.4.4 Performance Goals
Untuk bersaing dengan siswa lain dan mendapatkan perhatian dari guru.
2.2.4.5 Achievements Goals
Siswa merasa puas karena mereka meningkatkan kompetensi merekadan prestasi selama belajar.
2.2.4.6 Learning Environment Stimulation
Di kelas, lingkungan sekitarnya belajarsiswa, seperti kurikulum, pengajaran guru, dan interaksi antar murid yang mempengaruhi motivasi siswa dalam pembelajaran.
2.2.5 Alat Ukur
Alat ukur yang digunakan dalam tingkat motivasi adalah kuesioner dengan sistem scoring yang akan diisi oleh responden dalam suatu penelitian. Alat ukur yang digunakan untuk mengetahui tingkat motivasi belajar pada siswa SMA dengan menggunakan Students Motivation Toward Sience Learning (SMTSL)terdiri dari 35pertanyaanyang diajukan kepada responden dengan skor 1 untuk jawaban dimana responden sangat tidak setuju, 2 untuk jawaban dimana responden tidak setuju, 3 untuk jawaban dimana responden tidak sependapat, 4 untuk jawaban dimana responden setuju, dan 5 untuk jawaban responden sangat setuju. Tingkat motivasi dikategorikan sebagai berikut:
2.2.5.1 Skor Kurang dari 35 : motivasi tingkat rendah 2.2.5.2 Skor 36 – 70 : motivasi tingkat sedang 2.2.5.3 Skor diatas 71 – 175 : motivasi tingkat tinggi
25
2.3 Remaja 2.3.1 Definisi
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescence (kata bendanya adolescence yang berarti remaja) yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Adolescence artinya berangsur – angsur menuju kematangan secara fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta emosional.Hal ini mengisyaratkan kepada hakikat umum, yaitu bahwa pertumbuhan tidak berpindah dari satu fase ke fase lainya secara tiba – tiba, tetapi pertumbuhan itu berlangsung setahap demi setahap (AlMighwar, 2006).
Masa remaja merupakan suatu periode transisi antara masa kanak – kanak dan masa dewasa.Waktu kematangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional yang cepat pada anak laki – laki untuk mempersiapkan diri menjadi laki – laki dewasa dan pada perempuan untuk mempersiapkan diri menjadi wanita dewasa.
Piaget secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua, melainkan berada di dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak.
2.3.2 Tahap Perkembangan Remaja
Menurut Sarwono (2006) ada 3 tahap perkembangan remaja dalam proses penyesuaian diri menuju dewasa :
2.3.2.1 Remaja Awal (Early Adolescence)
Seorang remaja pada tahap ini berusia 10-12 tahun masih terheran– heran akan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan – perubahan itu. Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Dengan dipegang bahunya saja oleh lawan jenis, ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan yang berlebih-lebihan ini ditambah dengan berkurangnya kendali terhadap “ego”.Hal ini menyebabkan para remaja awal sulit dimengerti orang dewasa.
2.3.2.2 Remaja Madya (Middle Adolescence)
Tahap ini berusia 13-15 tahun.Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan.Ia senang kalau banyak teman yang menyukainya. Ada kecenderungan “narastic”, yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dirinya.
Selain itu, ia berada dalam kondisi kebingungan karena ia tidak tahu harus memilih yang mana: peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimis atau pesimis, idealis atau
27
meterialis, dan sebagainya. Remaja pria harus membebaskan diri dari Oedipoes Complex (perasaan cinta pada ibu sendiri pada masa kanak-kanak) dengan mempererat hubungan dengan kawan-kawan dari lawan jenis.
2.3.2.3 Remaja Akhir (Late Adolescence)
Tahap ini (16-19 tahun) adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal dibawah ini :
a) Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.
b) Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru.
c) Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
d) Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.
e) Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan masyarakat umum (the public).
2.3.3 Karateristik Perkembangan Remaja
Menurut Wong (2008), karakteristik perkembangan remaja dapat dibedakan menjadi :
2.3.3.1 Perkembangan Psikososial
Teori perkembangan psikososial menurut Erikson dalam Wong (2008), menganggap bahwa krisis perkembangan pada masa remaja menghasilkan terbentuknya identitas. Periode remaja awal dimulai dengan awitan pubertas dan berkembangnya stabilitas emosional dan fisik yang relatif pada saat atau ketika hampir lulus dari SMU.
Pada saat ini, remaja dihadapkan pada krisis identitas kelompok versus pengasingan diri.Pada periode selanjutnya, individu berharap untuk mencegah otonomi dari keluarga dan mengembangkan identitas diri sebagai lawan terhadap difusi peran. Identitas kelompok menjadi sangat penting untuk permulaan pembentukan identitas pribadi.Remaja pada tahap awal harus mampu memecahkan masalah tentang hubungan dengan teman sebaya sebelum mereka mampu menjawab pertanyaan tentang siapa diri mereka dalam kaitannya dengan keluarga dan masyarakat.
29
2.3.3.2 Perkembangan Kognitif
Teori perkembangan kognitif menurut Piaget dalam Wong (2008), remaja tidak lagi dibatasi dengan kenyataan dan aktual, yang merupakan ciri periode berpikir konkret;
mereka juga memerhatikan terhadap kemungkinan yang akan terjadi. Pada saat ini mereka lebih jauh ke depan. Tanpa memusatkan perhatian pada situasi saat ini, mereka dapat membayangkan suatu rangkaian peristiwa yang mungkin terjadi, seperti kemungkinan kuliah dan bekerja; memikirkan bagaimana segala sesuatu mungkin dapat berubah di masa depan, seperti hubungan dengan orang tua, dan akibat dari tindakan mereka, misalnya dikeluarkan dari sekolah. Remaja secara mental mampu memanipulasi lebih dari dua kategori variabel pada waktu yang bersamaan.Misalnya, mereka dapat mempertimbangkan hubungan antara kecepatan, jarak dan waktu dalam membuat rencana perjalanan wisata.Mereka dapat mendeteksi konsistensi atau inkonsistensi logis dalam sekelompok pernyataan dan mengevaluasi sistem, atau serangkaian nilai-nilai dalam perilaku yang lebih dapat dianalisis.
2.3.3.3 Perkembangan Moral
Teori perkembangan moral menurut Kohlberg dalam Wong (2008), masa remaja akhir dicirikan dengan suatu
pertanyaan serius mengenai nilai moral dan individu. Remaja dapat dengan mudah mengambil peran lain. Mereka memahami tugas dan kewajiban berdasarkan hak timbal balik dengan orang lain, dan juga memahami konsep peradilan yang tampak dalam penetapan hukuman terhadap kesalahan dan perbaikan atau penggantian apa yang telah dirusak akibat tindakan yang salah. Namun demikian, mereka mempertanyakan peraturan-peraturan moral yang telah ditetapkan, sering sebagai akibat dari observasi remaja bahwa suatu peraturan secara verbal berasal dari orang dewasa tetapi mereka tidak mematuhi peraturan tersebut.
2.3.3.4 Perkembangan Spiritual
Pada saat remaja mulai mandiri dari orang tua atau otoritas yang lain, beberapa diantaranya mulai mempertanyakan nilai dan ideal keluarga mereka. Sementara itu, remaja lain tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ini sebagai elemen yang stabil dalam hidupnya seperti ketika mereka berjuang melawan konflik pada periode pergolakan ini. Remaja mungkin menolak aktivitas ibadah yang formal tetapi melakukan ibadah secara individual dengan privasi dalam kamar mereka sendiri.Mereka mungkin memerlukan eksplorasi terhadap konsep keberadaan Tuhan.
Membandingkan agama mereka dengan orang lain dapat
31
menyebabkan mereka mempertanyakan kepercayaan mereka sendiri tetapi pada akhirnya menghasilkan perumusan dan penguatan spiritualitas mereka.
2.3.3.5 Perkembangan Sosial
Untuk memperoleh kematangan penuh, remaja harus membebaskan diri mereka dari dominasi keluarga dan menetapkan sebuah identitas yang mandiri dari wewenang orang tua.Namun, proses ini penuh dengan ambivalensi baik dari remaja maupun orang tua.Remaja ingin dewasa dan ingin bebas dari kendali orang tua, tetapi mereka takut ketika mereka mencoba untuk memahami tanggung jawab yang terkait dengan kemandirian.
2.3.4 Stress pada remaja
Pada saat menjelang ujian nasional, siswa dapat saja mengalami stress, baik yang di sadari maupun yang tidak di sadari.
Masa dimana siswa menjelang ujian nasional dapat menimbulkan stimulus yang menstimulasi munculnya stress, seperti waktu belajar yang melampaui batas jenuh, latihan soal yang melampaui kapasitas tubuh siswa, dan sebagainya. Perkembangan usia pada siswa SMA, termasuk dalam kelompok usia remaja akhir. Siswa mulai mencoba menempatkan dirinya sebagai orang dewasa di lingkungan sosial.Siswa menyelesaikan masalahnya sendiri dan menganggap
dirinya mampu mengatasi masalah tersebut tanpa bimbingan orang dewasa (Hurlock, 1980).
2.4 Ujian Nasional 2.4.1 Definisi
Ujian nasional menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 77 tahun 2008 tentang ujian nasional sekolah menengah atas/ madrasah aliyah pasal 1 ujian nasional adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan menengah. Pada pasal 2 ujian nasional bertujuan menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata ajar ilmu pengetahuan dan teknologi. Ujian nasional dapat diartikan juga dengan puncak dari segala proses belajar dibangku sekolah yang sangat menentukan bagaimana dan apa yang telah diperoleh selama peserta didik belajar dan menerima pelajaran dari para pendidik.
Menurut H. A. R. Tilaar (2006), ujian nasional adalah upaya pemerintah untuk mengevaluasi tingkat pendidikan secara nasional dengan menetapkan standarisasi nasional pendidikan. Hasil dari ujian nasional yang diselenggarakan oleh negara adalah upaya pemetaan masalah pendidikan dalamrangka menyusun kebijakan pendidikan nasional.
33
Berdasarkan pendapat diatas tentang ujian nasional maka dapat disimpulkan bahwa ujian nasional merupakan sebuah sistem yang dilakukan untuk mengevaluasi dan menilai standard pendidikan yang dilakukan secara nasional, juga sebagai sarana untuk pemetaan mutu pendidikan diberbagai daerah di Indonesia.
Ujian nasional adalah standard nasional yang tidak dapat ditolak oleh siswa. Pada saat menjelang ujian nasional, siswa dapat saja mengalami stress, baik yang di sadari maupun yang tidak di sadari.Masa dimana siswa menjelang ujian nasional dapat menimbulkan stimulus yang menstimulasi munculnya stress, seperti waktu belajar yang melampaui batas jenuh, latihan soal yang melampaui kapasitas tubuh siswa, dan sebagainya.
2.4.2 Tujuan Ujian Nasional
Menurut Ki Supriyoko dalam Notodiputro, Kahiril Anwar (2012), ujian nasional untuk jenjang pendidikan dasar danmenengah perlu dilaksanakan dengan berbagai pertimbangan, yaitu :
2.4.2.1 Tolak ukur kualitas pendidikan antar daerah.
2.4.2.2 Upaya standarisasimutu pendidikan secara nasional.
2.4.2.3 Sarana memotivasi peserta didik, orang tua, guru, dan pihak-pihak terkait untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik dalam menghadapi standar pendidikan.
Menurut Furqon dkk, alasan atau tujuan pentingnya diadakannya ujian nasional adalah sebagai berikut :
2.4.2.1 Untuk mendorong guru meningkatkan kualitas mengajar.
2.4.2.2 Untuk meningkatkan upaya-upaya bimbingan terhadapsiswa yang berkesulitan belajar.
2.4.2.3 Untuk mendorong guru menerapkan berbagai metode untuk memperbaiki pembelajaran.
2.4.2.4 Supaya siswa lebih rajin dan giat belajar.
2.4.2.5 Supaya orang tua lebih memperhatikan belajar anaknya.
35
2.5 Kerangka Teori
Keterangan :
: Variable yang tidak di teliti : Variable yang diteliti
: Hubungan yang diteliti Stres
Stress adalah suatu tuntutan yang mendorong
organism untuk
beradaptasi atau
menyesuaikan diri.
Tingkatan dari stress : 1. Stress Normal 2. Stress Ringan 3. Stress Sedang 4. Stres Berat
5. Stres Sangat Berat
Motivasi Belajar Motivasi Belajar adalah suatu keinginan dan proses dari seorang individu melakukan
perubahan perilaku
berdasarkan pada pengalaman dengan serangkaian kegiatan yang dilakukannya.
Factor Motivasi : 1. Self – Efficacy 2. Active Learning
Strategies
3. Science Learning Value
4. Performance Goal 5. Achievement Goal 6. Learning Environment
Stimulation
Ujian Nasional 1. Definisi ujian
nasional 2. Tujuan ujian
nasional
36 BAB III
KERANGKA PENELITIAN, HIPOTESIS PENELITIAN, dan DEFINISI OPERASIONAL
Bab ini membahas kerangka penelitian, hipotesis penelitian, dan definisi operasional penelitian. Kerangka konsep terdiri dari konsep – konsep yang akan diteliti oleh peneliti. Hipotesis penelitian berisi tentang pernyataan yang harus dibuktikan dalam penelitian. Sedangkan definisi oprasional terdiri dari bagaimana penggunaan alat ukur beserta hasil ukur yang akan digunakan pada saat penelitian.
3.1 Variabel
3.1.1 Variabel Independen adalah variabel yang diduga menjadi penyebab atas beberapa perubahan dalam variabel dependen (Robbins P.
Stephen, Judge A. Timothy, 2008). Variabel independen pada penelitian ini adalah tingat stress.
3.1.2 Variabel Dependen adalah respons yang dipengaruhi oleh sebuah variabel independen (Robbins P. Stephen, Judge A. Timothy, 2008).
Variable dependen pada penelitian ini adalah tingkat motivasi belajar dalam persiapan ujian nasional.
37
3.1.3 Skema Kerangka Penelitian
Variable Independen Variabel Dependen
3.2 Variabel dan Definisi Operasional
Penelitian ini terdiri dari dua variable yaitu Ujian Nasional sebagai variable independen sedangkan Stres dan Motivasi Belajar Remaja sebagai variable dependen. Agar variable dapat diukur dengan menggunakan instrument atau alat ukur, maka variable harus diberi batasan atau definisi operasional. Definisi operasional adalah uraian tentang batasan variabel yang dimaksud, atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan (Notoadmodjo, 2010).
Stress remaja
Tingkat strees remaja kelas XII dalam menghadapi Ujian Nasional 1. Stress normal
2. Stress ringan 3. Stress sedang 4. Stress berat 5. Stress sangat berat
Motivasi Belajar Siswa
Tingkat Motivasi Belajar remaja kelas XII dalam menghadapi Ujian Nasional.
1. Self Efficacy
2. Active Learning Strategies 3. Science Learning Value 4. Performance Goals 5. Achievements Goals
6. Learning Environment Stimulation
Variabel Definisi Operasional Cara Ukur
Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Ukur Stress Stress adalah suatu
tuntutan yang mendorong
organisme untuk
beradaptasi atau
menyesuaikan diri.
Responde n mengisi lembar kuesioner
Kuesioner (A). No. 1 s/d 42
Skor 0 – 14 :stress tingkat normal.
Skor 15 – 18 : stress tingkat ringan.
Skor 19 – 25 :stress tingkat sedang.
Skor 26 – 33 :stress tingkat berat.
Skor >34 : stress tingkat sangat berat.
(DASS 21
By Fernando Gomez – Consultant Clinical
Psychologist)
Ordinal
Motivasi Belajar
Motivasi diartikan sebagai factor – factor yang mengarahkan dan mendorong perilaku atau keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu kegiatan yang dinyatakan dalam usaha yang keras atau lemah (Hariandja, 2002:321)
Responde n mengisi lembar kuesioner
Kuesioner (B) No. 1 s/d 35
Skor <35 = motivasi tingkat rendah.
Skor 36 – 70 = tingkat sedang. Skor
> 71 – 175 : tingkat tinggi.
Ordinal
39 BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian
Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif korelasi.
Studi korelasi ini pada hakikatnya merupakan suatu penelitian atau penelahaan hubungan antara dua variabel pada suatu situasi atau sekelompok subjek (Notoadmojdo, 2010). Hubungan korelatif mengacu pada kecenderungan bahwa variasi suatu variabel diikuti oleh variasi variabel yang lain. Dengan demikian, dalam studi korelasi peneliti melibatkan paling tidak dua variabel (Nursalam, 2003).
Pada penelitian ini, akan melihat adanya pengaruh antara variabel satu dengan yang lainnya. Untuk mengetahui adanya hubungan antara tingkat stress terhadap motivasi belajar remaja kelas XII dilakukan dengan mengidentifikasi melalui persiapan Ujian Nasional. Setelah itu, dapat dilihat apakah ada pengaruh diantara keduanya.
4.2 Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan dari suatu variabel yang menyangkut masalah yang akan diteliti (Nursalam, 2003). Populasi dalam penelitian ini adalah remaja yg duduk di kelas XII di SMA St. Maria Monica. Sedangkan sampel adalah bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian karakteristik yang akan dimiliki oleh populasi (Arikunto, 2003).
Sampel dalam penelitian ini remaja yg duduk di kelas 12 di SMA St.
Maria Monica dengan kriteria sebagai berikut : Kriteria Inklusi : Masih menjadi siswa di kelas XII SMA, Remaja usia 16 – 19 Tahun yang duduk di bangku SMA, Mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Nasional, Jenis kelamin laki-laki dan perempuan, Remaja tersebut dalam keadaan sehat baik secara fisik atau mental dan Bersedia menjadi reponden. Kriteria Eksklusi : Remaja yg duduk di kelas kelas XII yang sudah memasuki masa untuk Ujian Nasional, remaja dalam keadaan kurang sehat (jasmani dan rohani), dan tidak bersedia menjadi responden.
4.2.1 Teknik Pengambilan Sampel
Pada penelitian ini, teknik pengambilan sample yang digunakan yaitu metode klaster. Pada pengambilan sampel dengan metode ini, peneliti akan memilih kumpulan unit sample dengan kriteria tertentu sebagai sample. Kumpulan unit sampel ini di sebut klaster. Setelah itu peneliti dapat memilih seluruh unit elementer atau peneliti dapat memilih n unit sample secara acak sederhana. Menurut Sugiarto (2001) sampel adalah sebagian anggota dari populasi yang dipilih dengan menggunakan prosedur tertentu sehingga diharapkan dapat mewakili populasinya. Sampel dalam penelitian ini yang dijadikan sebagai objek pengamatan dalam penelitian ini adalah remaja kelas XII di SMA St. Maria Monica, Bekasi. Dalam proses pengambilan sampel, peneliti membagi alat ukur kepada sampel untuk