• Tidak ada hasil yang ditemukan

Desentralisasi Dalam Konteks

Dalam dokumen 8. Buku Hutan lestari.pdf (Halaman 80-88)

BAB II EKONOMIKA DAN HUTAN

2.5 Desentralisasi Dalam Konteks

62

sumber daya alam dan pelestarian fungsi

63

sasaran dan merusak tata ruang, tetapi juga menimbulkan kerusakan dan pencemaran lingkungan.

Tidak kurang proyek lahan sejuta hektar di Kalimantan Selatan sebagai proyek daerah yang diputuskan di pusat, mengalami kegagalan dan sulit untuk dikonservasi kembali. Masyarakat dihadapkan pula pada pengelolaan hutan melaui Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) tanpa kontrol yang optimal dari pemerintah sehingga yang terjadi adalah eksploitasi dan penggundulan hutan secara besar-besaran, dengan segala dampak ikutan lainnya berupa banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran silih berganti.

Realitas sosial juga menunjukkan bahwa sebagai akibat penangkapan ikan menggunakan bom ikan, potassium, dan zat-zat beracun lainnya, telah mengakibatkan kehancuran biota laut dan ekosistemnya.

Di Bali, mencuatnya kasus reklamasi Padanggalak pada akhir berkuasanya Orde Baru merupakan pula contoh konkret pengambilan keputusan terpusat (sentralistik) oleh Gubernur Provinsi Bali waktu itu tanpa dukungan dan partisipasi masyarakat, karena itu berakhir dengan kegagalan. Selain itu di era Orde Baru, lingkungan hidup diperlakukan sebagai komoditas dalam mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB) dengan berbagai peraturan yang belum menyelaraskan diri dengan Undang-Undang No.4 Tahun 1982 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Semuanya itu telah menjadi spirit pengelolaan sumber daya alam dalam konteks pertumbuhan ekonomi, dan bukan dalam konteks pelestarian daya dukung lingkungan. Cara pandang dan

64

kondisi tersebut sesungguhnya ingin diubah dalam era otonomi daerah ini, melalui pemberian wewenang di bidang lingkungan hidup secara desentralisasi kepada provinsi, kabupaten, dan kota sesuai dengan ketentuan Pasal 9, Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah berdasarkan Pasal 13 ayat (1) jo dan Pasal 14 ayat (1) jo Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Arus politik desentralisasi mendominasi wacana politik pembangunan di daerah diwarnai tarik menarik kepentingan atas pengelolaan sumber daya alam antara pusat dan daerah maupun antar berbagai kelompok kepentingan. Di sektor kehutanan, rencana pembentukan dan pengembangan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) sebagai lembaga pengelola hutan di tingkat tapak, tidak hadir dalam ruang politik yang masih kosong melainkan harus dapat mengisi ruas model institusi penelolaan hutan yang memungkinkan dalam format politik pembangunan daerah (Ridho, 2015).

Keputusan politik untuk menyerahkan sebagian kewenangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, hanya dapat terlaksana dengan baik jika pemerintah daerah memiliki kapsitas yang memadai dalam pengelolaan administrative, fiskal dan politik (Inman dan Rubinfield 1997 dalam Litvack et al. 1998).

Dampak dari relokasi kekuasaan dalam pengertian otonomi daerah tidak hanya dilaksanakan melalui fungsi konsultasi tugas-tugas pusat yang dilaksanakan oleh aparatur didaerah, melainkan transfer kewenangan dan tanggung jawab dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dan atau entitas di daerah.

65

Politik desentralisasi di Indonesia dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan terakhir diganti lagi dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 merupakan salah satu pijakan penting dalam perubahan system pemerintahan di Indonesia. Secara konseptual, kebijakan desentralisasi yang menjadi elemen implementasi otonomi daerah merupakan sistem pemerintahan yang lebih menghargai partisipasi, kemandirian, kesejahteraan sosial, demokratisme dan pemberdayaan masyarakat. Konsep desentralisasi dipandang lebih menjamin cita-cita penegakan asas – asas demokrasi yang menjunjung pluralitas, transparansi, akuntabilitas dan berbasis pada kemampuan lokal. Selain itu, kebijakan desentralisasi juga menjadi platform bagi pelaksanaan politik pembangunan yang adil dan mensejahterakan melalui sumber daya alam dan lingkungan yang berkelanjutan. Dengan adanya kebijakan desentralisasi yang mencakup empat (4) hal (Fisher et al, 2000) :

a. Pelaksanaan urusan kehutanan diberikan kepada kantor pusat yang berkedudukan di daerah

b. Pelaksanaan urusan didelegasikan kepada otoritas daerah

c. Kewenangan diberikan kepada otoritas pemerintahan di daerah atau kepada kelompok masayarakat lokal, dan

d. Kewenangan pengelolaan hutan diberikan kepada individu atau perusahaan

maka kerusakan sumber daya alam diharapkan dapat diminimalkan karena pergeseran politik ekonomi

66

pengelolaan sumber daya alam ke daerah akan menambah rasa tanggung jawab dan rasa memiliki entitas lokal terhadap sumber daya alam di wilayahnya (Marwa, et al. 2010).

Dalam konteks mengatasi permasahan pergeseran politik ekonomi, diharapkan konsep kelembagaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dapat diformulasikan secara tepat dan terarah (Nurrochmat et al. 2012).

Terbitnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 juga berpotensi mengubah atau menggeser kewenangan alokasi sumber daya hutan terutama hasil hutan kayu dari kabupaten/kota ke provinsi (Nurrochmat et al. 2015).

Desentralisasi adalah salah satu pemikiran baru dalam sistem tata kelola kehutanan. Ada tiga tujuan yang ingin dicapai dari desentralisasi tata kelola hutan (Glueck, 1999) yakni : Pertama, meningkatkan rasionalitas kebiajkan kehutanan; kedua, menjamin tercapainya kebijakan kehutanan dalam jangka panjang; ketiga, mengimplementasikan kerja sama dan saling pengertian yang lebih baik di antara berbagai pihak yang berkepentingan.

Kerinduan daerah untuk mendapatkan domain politik dan ekonomi yang lebih besar banyak terpenuhi dengan dikeluarkannya Undang – Undang Pemerintahan Daerah yang membuka jalan terlaksananya otonomi daerah, sebagai perwujudan dari pelaksanaan sistem desentralisasi dalam skala yang cukup luas. Dengan dimulainya otonomi daerah, pada tataran nasional telah terjadi pergeseran redenifisi hubungan eksekutif, legislatif dan yudikatif di dalam sistem pemerintahan.

Penerapan sistem desentralisasi diharapkan dapat

67

membangun hubungan tata institusi yang lebih proporsional dan konstruktif dalam praktik kenegaraan.

Derasnya tuntutan terhadap implementasi otonomi daerah yang seluas-luasnya, sebenarnya adalah titik kulminasi kegundahan daerah terhadap pelaksanaan pemikiran pembangunan adil dan merata yang selama tiga puluh dua tahun dipatok sebagai falsafah pembangungan Orde Baru. Dalam implementasinya, pemikiran ini hanya menjadi alat legitimasi atas dominasi pemerintah pusat terhadap distribusi dan alokasi sumber – sumber ekonomi. Fakta ini sungguh mencederai rasa keadilan masyarakat lokal. Realitas pembangunan yang sentralistik sejatinya tidak lebih dari monopoli pusat atas penyedotan sumber daya alam dan mengalirnya arus kapital ke pusat pemerintahan. Praktik pembangunan bernafaskan keadilan dan pemerataan yang manipulatif dan diskriminatif akan melahirkan tuntutan pemikiran pembangunan yang baru yakni pembangunan yang adil dan proporsional. Sudah sewajarnyalah jika masyarakat lokal dan daerah penghasil sumber daya alam termasuk hutan memperoleh distribusi manfaat terbesar dari penegelolaan sumber daya ekonomi yang dimilikinya (Purwandari dan Nurrochmat, 2006). Hal tersebut dapat dimaknai bahwa perhatian terhadap aspirasi daerah yang berkeadilan harus menjadi dasar pondasi pemerintah di dalam mengimplementasikan kebijakan pembangunan yang lebih proporsional dan partisipatif termasuk memformulasikan konsep kelembagaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Pada umumnya ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam kebijakan desentralisasi pengelolaan sumber daya alam diantaranya :

68

1) Memperbaiki rantai pengambilan keputusan dalam pengelolaan sumber daya alam

2) Meningkatkan akuntabilitas pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam

3) Megurangi biaya transaksi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam

4) Mempekecil kesenjangan pelayanan dan kebutuhan dalam rangka optimalisasi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam

5) Menghargai pengetahuan lokal dalam pengelolaan sumber daya alam

6) Meningkatkan koordinasi sektoral dalam pengelolaan sumber daya alan, dan

7) Memberikan keadilan dalam pemanfaatan sumber daya alam

Pada kenyataannya tidak seluruh tujuan yang diharapkan dari adanya kebijakan desentralisasi sumber daya alam dapat terwujud. Beberapa hal yang perlu disaripatikan sebagai suartu diskursus dari praktik desentralisasi pengelolaan sumber daya alam antara lain :

1) Keunggulan desentralisasi yang banyak diucapkan dalam pustaka tidak selalu ditemukan secara faktual pada tatanan empiris

2) Desentralisasi tidak dapat sepenuhnya dijadikan jaminan bagi masyarakat lokal untuk mendapatkan lebih banyak profit dan lebih berkomitmen dalam menjaga sumber daya alam

3) Desentralisasi merupakan suatu proses yang kompleks dan bukan formula yang ajaib untuk menyelesaikan segenap problematika

69

4) Kepentingan daerah terhadap sumber daya alam sering non linier dengan kepentingan nasional 5) Desentralisasi sering memicu konflik vertikal

maupun horizontal terkait batawan kewenangan atas pengelolaan kepentingan nasional

Pengembangan kelembagaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) wajib mempertimbangkan trend pergeseran locus politik ke daerah yang berjalan seiring dengan menurunnya legitimasi pemerintah pusat.

Penurunan kredibilitas ini meruapakan sesuatu yang tidak dapat dihindari akibat dari : pertama, pola pengaturan politik pada masa Orde Baru yang dianggap melakukan marginalisasi, tidak hanya pada warga Negara dalam hubungan tata Negara, melainkan juga pada masyarakat lokal. Kedua, terjadinya fragmentasiyang luas pada semua arena institusi kenegaraan di era pasca - Orde Baru akibat tajamnya rivalitas antar aktor-aktor politik.

Loss of Legitimacy dari Negara akan menghasilkan sinisme dan anti kepercayaan yang meluas pada Negara dan institusi kenegaraannya, hal ini adalah catatan penting yang harus diberi perhatian dalam formulasi kelembagaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) agar nantinya lembaga yang terbentuk benar-benar meiliki legitimasi dan efektifitas dalam mencapai tujuan.

Kemauan politik di era otonomi daerah yang bertujuan menghapus keputusan-keputusan di bidang lingkungan hidup yang bersifat sentralistik, justru mewarisi dan melanjutkan keadaan yamg sama.

Kedekatan jarak secara fisik geografis antara pengambil keputusan di tingkat Kabupaten maupun Kota dengan rakyat, tidak pula diikuti dengan langkah membangun

70

komunikasi, transparansi dan partisipasi masyarakat secara optimal. Oleh karena itu, desentralisasi tidak serta merta memberikan jaminan bagi kelestarian lingkungan hidup. Hal ini berkaitan erat dengan berbagai faktor kriminogen bagi kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup.

Pertama, visi lingkungan dan orientasi para pengambil keputusan. Jika visinya lemah dan orientasi pembangunan semata-mata untuk pendapatan asli daerah (PAD), besar kemungkinannya lingkungan akan menjadi korban seperti yang terjadi pada era Orde Baru yang sentralistik tersebut. Kedua, tergantung pada kemauan dan itikad baik para pengambil keputusan apakah bersedia dan mampu memberikan ruang yang transaparan bagi pengambilan keputusan yang harus mengikutsertakan pihak-pihak terkait termasuk masyarakat. Ketiga, ada tidaknya koordinasi sebagai katakuni dalam pengelolaan lingkungan hidup di era reformasi sekarang ini. Karena itu setiap kebijakan atau peraturan yang akan diterbitkan hendaknya sejak dini mengikutsertakan stakeholders dan disusun secara transparan (Sudharto P. Hadi, 2002). Keempat, kemauan pemerintah untuk membangun good governance yang menyediakan ruang kondusif dan sekaligus dinamis bagi akuntabilitas publik atau kontrol sosial masyarakat terhadap kebijakan di bidang lingkungan hidup.

Dalam dokumen 8. Buku Hutan lestari.pdf (Halaman 80-88)