BAB III METODE PENELITIAN
C. Pembahasan
1. Kemampuan Bahasa Peserta Didik Kelas A sebelum menerapkan permainan maze di Tk Pusat Padu Rallaya Desa Sapanang Bulukumba
Permainan maze adalah permainan yang bertujuan guna menentukan jalur yang tepat untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai pengaruh permainan maze Terhadap Kemampuan Bahasa Peserta Didik Kelas A di Tk Pusat Padu Rallaya, Desa Sapanang Bulukumba, yaitu pretest diperoleh dengan jumlah sampel 17 peserta
55
didik kelas A. 9 peserta didik perempuan dan 8 peserta didik laki-laki. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan bahasa peserta didik saat melakukan pretest berada pada kategori rendah dengan skor tertinggi adalah 8 sedangkan skor terendah adalah 5. Kemampuan bahasa peserta didik tergolong rendah dikarenakan terdapat beberapa peserta didik lebih memilih memisahkan diri dari temannya saat bermain seperti ketika bermain balok dan juga pada saat pembelajaran berlangsung terdapat peserta didik yang sama sekali tidak mengungkapkan apapun ketika ditanya oleh pendidik. Terdapat juga peserta didik yang mampu bertanya dan menjawab pertanyaan pendidik ketika ditanya tapi hanya mampu menjawab dan bertanya sekali ketika diulangi peserta didik tersebut kembali diam. Kemudian peneliti juga melihat masih terdapat peserta didik yang terbatas imajinasinya. Hal ini disebabkan kurangnya stimulasi yang diberikan pendidik melalui media pembelajaran yang kreatif. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa peserta didik yang kemampuan bahasanya belum berkembang sangat baik.
Kemampuan berbahasa peserta didik seringkali dikaitkan dengan faktor intelegensi namun sebenarnya bisa diatasi. Kemampuan bahasa peserta didik dapat dikembangkan dengan memberikan stimulasi yang tepat. Sejalan dengan penelitian Zahratul Qalbi bahwa pendidik dapat menstimulasi kemampuan bahasa peserta didik dengan bercerita menggunakan media pembelajaran yang kreatif, serta berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menstimulasi kemampuan bahasa peserta didik.4
4 Z Qalbi, S Marlina, Rf Putera, I Hidayati. “Pengaruh Permainan Maze Terhadap Kemampuan Bercerita Di Tk Negeri 1 Padang Baru. Jurnal Pelita PAUD, 4 (2), 287-294, 2020, P-
Kemudian Susanti Etnawati juga menjelaskan dalam jurnalnya bahwa pengembangan bahasa anak usia dini dapat digunakan oleh pendidik guna mengembangkan implementasi terhadap pengembangan bahasa peserta didik, yang dimana pendidik diharapkan mampu mencari dan membuat bahan pengajaran yang sesuai dengan tingkat usia peserta didik.5
Permaianan maze adalah salah satu permainan kreatif yang tepat diberikan pendidik untuk mentimulasi kemampuan bahasa peserta didik di sekolah yang dimana kegiatannya berkaitan dengan berkomunikasi langsung saat melakukan permainan.
Temuan peneliti dalam hal ini tidak hanya kemampuan bahasa peserta didik yang belum optimal, kemampuan kognitif pada kelas eksperimen juga belum berkembang sangat baik, hal ini ditandai masih terdapat peserta didik kurang akan pemahamannya terhadap simbol gambar yang terdapat pada suatu permainan ataupun simbol-simbol yang berada disekitarnya. Untuk mengembangkan kemampuan bahasa peserta didik, maka peneliti memberikan stimulasi berupa permainan maze pada peserta didik kelas A di TK pusat padu rallaya desa sapanang bulukumba.
ISSN 2548-6284 E-ISSN 2615-0360.
http://jurnal.upmk.ac.id/index.php/pelitapaud/article/view/1013 (Diakses 22 Januari 2023)
5 Etnawati, S. (2021). „Teori Vygostsky Tentang Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini”.
Jurnal Pendidikan, 22 (2), 130-138, 2021, ISSN 1411-481 E-ISSN 2723-0503. https://e- journal.upr.ac.id/index.php/JPN/article/view/382
57
2. Kemampuan Bahasa Peserta Didik Kelas A setelah penerapan permainan maze di Tk Pusat Padu Rallaya Desa Sapanang Bulukumba
Hasil penelitian posttest menggunakan permainan maze menunjukkan hasil yang baik, sehingga dapat dikatakan bahwa dengan perlakuan menggunakan permainan maze terhadap kemampuan bahasa peserta didik mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat pada hasil posttest skor terendah yang diperoleh adalah 10 dan skor tertinggi adalah 14 dengan nilai rata-rata 12,13.
dari hasil nilai rata-rata tersebut sudah termasuk dalam kategori kemampuan bahasa peserta didik berkembang sangat baik. Hal ini dikarenakan peran pendidik dalam menstimulasi kemampuan peserta didik merupakan fasilitator yang memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk belajar.6
Tersedianya media pembelajaran yang bervariasi dan kreatif bisa membantu perkembangan peserta didik di beberapa tahapan pendidikan berikutnya. Kualitas kegiatan yang dilakukan pendidik dalam menerapkan beberapa media pembelajaran seperti permainan maze sangat berpengaruh terhadap setiap perkembangan peserta didik. Untuk itu media pembelajaran yang bervariasi penting diterapkan mengingat kebijakan pendidikan yang menekankan bahwa tidak hanya orang tua tetapi pendidik juga memiliki peran yang sangat penting bagi peserta didik dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangannya.
6 Astuti Abdurrahman. “Pengaruh Permainan Maze Terhadap Kemampuan Kognitif Di Tk Nurul Takalabbua Kabupaten Takalar”. Skripsi. (Prodi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar, 2021.
H-10). https://digilibadmin.unismuh.ac.id/upload/18861-Full_Text.pdf (Diakses 22 Januari 2023)
Pada saat penerapan permainan maze. Peserta didik terlihat sangat antusias karena adanya permainan baru yang peserta didik temukan sehingga dalam melakukan permainan tersebut terjalin komunikasi yang sangat aktif dan secara langsung dapat meningkatkan kemampuan bahasa peserta didik. Pengaruhnya terlihat setelah 6 kali perlakuan pada masing-masing peserta didik. hal tersebut dibuktikan dengan nilai data yang diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata kemampuan bahasa peserta didik pada setiap indikator.
Kemampuan bahasa yang diperoleh peserta didik sesuai yang terdapat pada indikator yakni: Pertama, Peserta didik dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman-temannya, hal tersebut terlihat pada saat peserta didik melakukan permainan maze yang dimana peserta didik memperhatikan temannya bermain sambil mengarahkan untuk sampai pada tujuan akhir permainan yang dimana cara mengarahkannya itu seperti “yah kekiri, kekanang, kedepan, mundur, pelan- pelan”.
Kedua, Peserta didik dapat berimajinasi dengan mengekspresikan dirinya membuat cerita sendiri menggunakan bahasanya hal tersebut terlihat pada saat peserta didik memainkan permainan maze peserta didik terus bercerita bahwa dengan melakukan permainan maze peserta didik tersebut mampu melakukan gerakan-gerakan tambahan yang tidak diarahkan pendidik yang membuat peserta didik sampai pada tujuan akhir permainan, tidak hanya itu peserta didik bercerita bahwa gambar yang terdapat dalam permainan maze bisa saja dapat membantunya menyelesaikan permainan.
59
Ketiga, melakukan permainan sesuai yang direncanakan, hal ini dapat dilihat pada semua peserta didik yang menyelesaikan permainan melalui cara berpikirnya sesuai yang telah diarahkan sebelumnya oleh pendidik.
Keempat, Peserta didik mengerti dan mampu menjawab pertanyaan pendidik, hal ini terlihat oleh peneliti pada saat pendidik mengajukan pertanyaan tentang apakah bermain menggunakan permainan maze ini menyenangkan?, semua peserta didik menjawab sangat menyenangkan ibu guru.
Kelima, Peserta didik mampu mengenal simbol hewan yang terdapat pada permainan, hal ini terlihat peserta didik mampu menyebutkan simbol hewan yang terdapat dalam permainan maze yakni gambar kucing, kupu-kupu dan keong.
Dari kelima capaian indikator tersebut kemampuan berbahasa peserta didik tidak terlepas dari faktor kebiasaan berbahasa peserta didik dalam lingkungan keluarga dan sekolah yang dimana dalam lingkungan keluarga dan sekolah peserta didik kelas A TK Pusat Padu Rallaya Desa Sapanang Bulukumba sudah terbiasa menggunakan bahasa indonesia sehingga peneliti mudah dalam menilai kemampuan bahasa peserta didik pada setiap indikator. Hasil posttest menunjukkan bahwa terdapat perubahan yang signifikan setelah menggunakan permainan maze pada Peserta Didik kelas A di Tk Pusat Padu Rallaya, Desa Sapanang Bulukumba.
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Siti Rukayah, dikemukakan bahwa kemampuan bahasa peserta didik meningkat setelah perlakuan berupa permainan maze dikarenakan pada saat perlakuan peserta didik sudah mulai mengerti tentang kegiatan permainan maze yang akan dilakukan, fokus
mendengarkan penyampaian peneliti dan mampu menjawab pertanyaan yang diajukan peneliti. Sehingga disimpulkan bahwa hasil setelah diberikan perlakuan posttest dari penelitian yang telah dilakukan sangat memberikan dampak yang baik bagi peserta didik dikarenakan dengan penerapan permainan maze sudah bisa dikatakan kemampuan bahasa peserta didik berkembang sangat baik jika dibandingkan sebelum diberikan perlakukan.7
Menstimulasi kemampuan bahasa peserta didik melalui berbagai media pembelajaran salah satunya dengan menggunakan permainan maze dapat menjadi acuan agar kemampuan bahasa peserta didik berkembang sesuai yang diharapkan pada tahap usia dan pendidikan selanjutnya.
Peneliti dalam melakukan posttest memperkenalkan permainan maze terlebih dahulu kemudian menjelaskan permainan maze itu apa, bagaimana aturan bermainnya lalu mencontohkan bagaimana cara memainkannya, setelah peneliti selesai peserta didik diminta untuk memainkan permainan maze dan terlihat peserta didik sangat tertarik pada permainan tersebut. Untuk menjawab aturan permainan tersebut hal ini di dukung oleh Musfiroh yang dimana perkembangan bahasa itu mengacu pada kemampuan untuk menyusun pikiran dengan jelas dan mampu menggunakan kemampuan tersebut secara kompeten melalui kata-kata untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran.8
Hasil dari penelitian yang disusun oleh peneliti menggambarkan bahwa dengan menerapkan permainan maze terhadap kemampuan bahasa peserta didik
7 Rukayah, S. (2022). Meningkatkan Aspek Perkembangan Bahasa Anak Melalui Permainan Maze (Mencari Jejak) Di Kelompok B PAUD Al Ikhwan Kab. Barito Kuala.
https://idr.uin-antasari.ac.id/18242/ (diakses 22 Juni 2023)
8 Musfiroh, Tadkiroatun. (2021) Materi pokok pengembangan kecerdasan majemuk (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka).
61
pada kelas A di TK Pusat Padu Rallaya, Desa Sapanang Bulukumba, dapat mempermudah kemampuan peserta didik berkembang sangat baik.
3. Deskripsi Pengaruh Penggunaan Permainan Maze Terhadap Kemampuan Bahasa Peserta Didik Kelas A di Tk Pusat Padu Rallaya Desa Sapanang Bulukumba
Hasil penelitian menggunakan pengujian hipotesis dengan rumus wilcoxon signed ranks test dengan bantuan program SPSS versi 26 dalam penggunaan permainan maze diperoleh nilai Signifikan yang dimana berdasarkan output statistic, Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000. Hasil tersebut menunjukkan nilai Signifikan (2-tailed) lebih kecil dari < 0.05, sehingga menolak H0 karena dari dasar pengambilan keputusan untuk Uji Wilcoxon adalah Jika nilai probability Asymp. Sig.< 0,05 maka terdapat perbedaan nilai rata-rata. dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh terhadap kemampuan bahasa peserta didik kelas A di Tk Pusat Padu Rallaya Desa Sapanang Bulukumba sebelum dan setelah perlakuan.
Hasil penelitian tersebut menggambarkan bahwa penggunaan permainan maze berpengaruh signifikan terhadap kemampuan bahasa peserta didik kelas A di TK Pusat Padu Rallaya Desa Sapanang Bulukumba. Selain kemampuan peserta didik dalam berinteraksi dan berkomunikasi terhadap teman-teman sekitarnya berkembang dengan baik, mampu memahami dan menjawab pertanyaan pendidik, peserta didik yang mengekspresikan dirinya dengan bahasa yang peserta didik kuasai, peserta didik juga dapat melatih kemampuan motorik halusnya dengan menggerak-gerakkan tangannya saat melakukan permainan maze, juga dapat melatih kemampuan kognitifnya dengan menyebutkan simbol hewan yang
terdapat dalam permainan. hal ini secara tidak langsung kemampuan bahasa peserta didik berkembang karena peserta didik mengungkapkan bahasanya. Hal ini di dukung oleh hasil penelitian Mutmainnah Nurialistiyawati, menjelaskan bahwa minat peserta didik dalam pembelajaran mengembangkan kemampuan literasi/bahasa menggunakan permainan maze cukup signifikan dikarenakan peserta didik menunjukkan simbol-simbol huruf yang dikenal, menyebutkan huruf awal-akhir dari nama-nama benda yang ada disekitarnya serta mengelompokkan bunyi atau huruf awal dan akhir yang sama, dengan demikian kemampuan bahasa peserta didik diungkapkan melalui berbicara.9
Presentase perbandingan kemampuan bahasa peserta didik sebelum dan setelah diberikan perlakuan berupa permainan maze yaitu pada saat sebelum perlakuan diperoleh 41% peserta didik berada pada kategori rendah, 29% peserta didik berada pada kategori sedang, 29% peserta didik berada pada kategori tinggi.
Sedangkan setelah diberikan perlakuan berupa permainan maze terdapat 12%
peserta didik berada pada kategori rendah, 41% peserta didik berada pada kategori sedang dan 47% berada pada kategori tinggi.
Kemampuan bahasa dalam teori Trimantara, adalah suatu alat verbal untuk berbicara terhadap orang lain yang berfungsi untuk memberikan informasi yang berupa simbol visual dan verbal. Antara lain, simbol visual dapat dilihat, ditulis dan dibaca sedangkan verbal ditandai denga pengucapan dan pendengaran. Oleh karena itu, pendidik tidak seharusnya mengabaikan tentang pemahaman
9 Kurnia, R., Nurialistiawati, M., Syamsuardi, S., & Herman, H. (2022). Pengaruh Permainan Mencari Jejak (Maze) Terhadap Kemampuan Literasi Anak Usia 5-6 Tahun. Jurnal
Kumara Cendekia, 10(4), 291-301. http://e-
prints.unm.ac.id/id/eprint/259/1/Peer%20Review%20Pak%20Herman.pdf (diakses 23 Juni 2023)
63
perkembangan bahasa peserta didik.10 Sejalan dengan pendapat Rahayu dalam jurnal Mery Zusanti, menjelaskan bahwa hakikat bahasa merupakan ucapan pikiran dan perasaan manusia secara teratur dan bunyi sebagai alatnya. Melalui bahasa peserta didik dapat saling bertegur sapa dan dapat bertukar pikiran antara satu dengan teman yang lainnya. Salah satu alat komunikasi yang digunakan untuk berinteraksi sesama manusia.11
Kemampuan bahasa peserta didik dalam teori Puspita menjelaskan bahwa kemampuan berbahasa peserta didik sangat penting karena suatu dasar bagi peserta didik untuk belajar berbahasa pada tahap perkembangan bahasa berikutnya. Oleh karena itu pengalaman dalam mengembangkan kemampuan bahasa peserta didik harus optimal.12 Sejalan dengan teori Vygotsky, memberi banyak peranan dalam implementasi terhadap perkembangan bahasa peserta didik, bagaimana bahasa diperoleh dan bagaimana bahasa dikembangkan pada anak usia dini. Hal ini tidak hanya orang tua tetapi pendidik menjadi fasilitator bagi peserta didik dalam belajar, memberi bantuan serta dukungan kepada peserta didik ketika dibutuhkan agar dapat mencapai perkembangan yang maksimal dari dalam diri setiap peserta didik.13
10 Trimantara, H., & Mulya , N. (2019). Pengembangan Bahasa Pada Anak Usia 4-5 Tahun Melalui Alat Permainan Edukatif Puzzle. Al-Athfaal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini, 2(1), 25-34. https://doi.org/10.24042/ajipaud.v2i1.4553 (Diakses 2 Agustus 2023)
11 Zusanty, M., Masitoh, S., & Setyowati, S. (2022). Pengaruh media puzzle education game terhadap perkembangan kognitif dan bahasa anak tk. Journal of education and instruction (JOEAI), 5(1), 52-64. https://journal.ipm2kpe.or.id.index.php/JOEAI/article/view/3307 (Diakses 2 Agustus 2023)
12 Jaya, M. P. S., & (2023). THE Effect of Labirin media on the ABILITY OF Children‟s problem Solving in Early Childhood Education Barokah Citra in talang Cempedak Ogan
Komering Ilir. Journal on Education, 5(3), 7230-7244.
Https://www.Jonedu.Org/index.php/joe/article/View/1166 (Diakses 2 Agustus 2023)
13 Etnawati , S. (2021). Implementasi Teori Vygotsky Terhadap Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan, 22(2), 138. https://e- journal.upr.ac.id/index.php/JPN/article/view/3824
Penggunaan permainan maze dalam mengembangkan kemampuan bahasa sangat baik dikarenakan peserta didik terlibat langsung dalam proses pembelajaran, dimana setelah diberitahu oleh pendidik atau peneliti cara memainkannya peserta didik memainkan permainan maze secara bergantian yang dimana pada saat memainkannya terjalin interaksi dan komunikasi dikarenakan teman-teman yang lain juga ikut melihat, saling mengarahkan bagaimana agar sampai pada tujuan akhir permainan dan peserta didikpun menyebutkan simbol- simbol hewan berupa (gambar kucing, kupu-kupu dan keong) yang terdapat dalam permainan maze. Selama proses pembelajaran menggunakan permainan maze peserta didik tidak merasa bosan karena semua sangat tertarik dengan permainan tersebut bahkan jika semua sudah mendapat giliran semuanya meminta agar bermain lagi secara bergantian hingga beberapa kali. Sejalan dengan teori yang di kemukakan Hadiyati, permainan maze dapat menstimulasi kecerdasan peserta didik dalam belajar terutama dalam berkomunikasi. Dengan bermain maze peserta didik saling memberi semangat sehingga secara tidak langsung terjadi komunikasi. Jadi, pendidik dapat menggunakan media pembelajaran seperti permainan maze sebagai alternatif dalam mengajar.14
Kemampuan peserta didik sudah dapat dikatakan masuk dalam kategori mampu melakukan semua indikator capaian perkembangan bahasa. Sehingga penggunaan permainan maze memberikan pengaruh terhadap Kemampuan Bahasa
14 Hadiyati, N., & Hartati, E. (2020). Permainan „Maze Eksplorer”. Sebuah Media Untuk Mengajar Keterampilan Membaca-Menulis Anak-Anak. Kopen: Konferensi Pendidikan Nasional,
2(1), 184-189. https://ejurnal.mercubuana-
yogya.ac.id/index.php/prosiding_koPen.article/view/1098 (Diakses 2 Agustus 2023)
65
Peserta Didik Kelas A di Tk Pusat Padu Rallaya, Desa Sapanang, Kec. Kajang, Kab. Bulukumba. Dengan tingkat signifikan
Adapun faktor pendukung dari penelitian yang telah dilakukan yaitu pemberian izin dari kepala sekolah Tk Pusat Padu Rallaya untuk melaksanakan penelitian, kesediaan Pendidik Kelas A untuk mengizinkan peneliti menjadikan kelas A sebagai sampel penelitian, serta peserta didik kelas A yang bersedia menjadi sampel penelitian.
Beberapa faktor penghambat yang dihadapi peneliti selama penelitian, diantaranya: 1) Terdapat peserta didik yang bukan merupakan subjek penelitian yakni (kelas B) selalu mengganggu jalannya penelitian seperti merebut permainan yang dimainkan. 2) lokasi penelitian yang berdekatan dengan rumah peserta didik sehingga peserta didik sulit dikontrol karena bergantian kembali kerumahnya dengan alasan pulang kerumah minum padahal masing-masing peserta didik membawa air minum kesekolah.
66 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan Hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa 1. Berdasarkan hasil observasi sebelum pemberian perlakuan, kemampuan
bahasa peserta didik Kelas A Sebanyak 17 peserta didik di TK Pusat Padu Rallaya, Desa Sapanang, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba.
berada pada kategori rendah dengan skor nilai terendah terdapat pada angka 5 dan skor nilai tertinggi berada pada angka 8 dengan nilai rata-rata 6,1%.
2. Setelah perlakuan, Kemampuan bahasa peserta didik Kelas A di TK Pusat Padu Rallaya, Desa Sapanang, Kecamatan Kajang, Kabupaten.
Bulukumba. Menunjukkan hasil yang baik. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya peningkatan setelah diterapkan permainan maze yang dimana diperoleh nilai tertinggi yang terdapat pada angka 14 dan nilai terendah terdapat pada angka 10 dengan nilai rata-rata 12,13%.
3. Terdapat pengaruh Permainan Maze Terhadap Kemampuan Bahasa Peserta Didik Kelas A di Tk Pusat Padu. Rallaya, Desa Sapanang Bulukumba. Pengujian dilakukan dengan uji wilcoxon menggunakan program SPSS berdasarkan output statistic, Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000. Hasil tersebut menunjukkan nilai Signifikan (2-tailed) lebih kecil dari < 0.05, sehingga menolak H0 karena dari dasar pengambilan keputusan untuk Uji Wilcoxon adalah Jika nilai probability Asymp. Sig.<
67
0,05 maka terdapat perbedaan nilai rata-rata sebelum dan setelah perlakuan.
B. Implikasi Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan pada peserta didik Kelas A di TK Pusat Padu Rallaya, Desa Sapanang Bulukumba. Beberapa implikasi penelitian yang dapat peneliti sampaikan sebagai berikut:
1. Bagi Peserta Didik
Untuk selalu meningkatkan kemampuan belajar peserta didik, maka peserta didik hendaknya menambah keaktifan dalam proses pembelajaran.
2. Bagi pendidik
Diharapkan lebih kreatif dalam menciptakan media pembelajaran agar tercipta pembelajaran yang menyenangkan sehingga seluruh aspek perkembangan peserta didik berkembang dengan baik.
3. Bagi sekolah
Pemanfaatan media pembelajaran yang kreatif seperti permainan maze diharapkan dapat menjadi media pembelajaran yang dapat membantu pendidik dalam proses pembelajar an.
4. Bagi masyarakat
Diharapkan untuk mendukung kegiatan yang dilakukan oleh sekolah selama kegiatan yang dilakukan bersifat positif dan memberikan manfaat bagi orang lain.
5. Bagi peneliti selanjutnya
Untuk peneliti selanjutnya jika ingin melakukan penelitian yang serupa hendaknya melakukan penelitian yang berbeda terkait dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi perkembangan peserta didik dengan menggunakan permainan maze yang lebih bervariasi.
69
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto. Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta:
Rineka Cipta, 2019. h. 109.
http://202.70.136.141:8080/handle/123456789/62880
Astuti Abdurrahman. “Pengaruh Permainan Maze Terhadap Kemampuan Kognitif Di Tk Nurul Takalabbua Kabupaten Takalar”. Skripsi. (Prodi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar, 2021).
https://digilibadmin.unismuh.ac.id/upload/18861-Full_Text.pdf (Diakses 22 Januari 2023)
Astuti, Sri, “Metode Pengembangan Anak Usia Dini”, (Prosiding Seminar Internasional Pengasuhan dan Pendidikan Anak Usia Dini, 2018), h. 396- 410.
Badru Zaman., dkk. 2017. Media dan Sumber Belajar TK. Jakarta: Universitas Terbuka.
Cikal. 2022. https://123dok.com/article/kelebihan-kelemahan-alat-permainan- edukatif-maze-bangun-datar.yr3l0g5o (diakses pada 9 februari 2023)
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 10. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Departement Pendidikan Nasional.
https://pusdiklat.perpusnas.go.id/regulasi/download/6
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 1. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Departement Pendidikan Nasional.
https://pusdiklat.perpusnas.go.id/regulasi/download/6
Djama‟an Satori & Aan Komariah. 2014. Metodologi Penelitian Kuantitatif, (Bandung:Alfabeta, h. 148. https://inlislite.uin-suska.ac.id/opac/detail- opac?id=2609
Etnawati , S. (2021). Implementasi Teori Vygotsky Terhadap Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan, 22(2), 138. https://e- journal.upr.ac.id/index.php/JPN/article/view/3824
Fairus Fathiya Khansa. “Pengaruh Media Pembelajaran Maze Game Pada Pembelajaran Geografi Terhadap Hasil Belajar Siswa di SMA Muhammadiyah 25 Pamulang Tangerang Selatan”. Skripsi. (Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan, UniversitAS Islsm Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2020).
Fadillah, M. Bermain dan Permainan, ( Jakarta: Kencana, 2017), h. 7.
https://books.google.co.id/books?id=fja2DwAAQBAJ&printsec=frontcover
&hl=id
Etnawati, S. (2021). „Teori Vygostsky Tentang Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini”. Jurnal Pendidikan, 22 (2), 130-138, 2021, ISSN 1411-481 E-ISSN 2723-0503. https://e-journal.upr.ac.id/index.php/JPN/article/view/382 Hardianti, “Pengaruh Penerapan Metode Demonstrasi Terhadap Keterampilan
Salat Peserta Didik Pada Kelompok B Tk Pusat Padu Tunas Inti Baturappe Kabupaten Gowa”. Skripsi. Makassar: Jurusan Pendididikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Alauddin Makassar, 2020.
https://journal.uin-
alauddin.ac.id/index.php/nanaeke/article/view/18116/14001 (Diakses 25 Februari 2023).
Hadiyati, N., & Hartati, E. (2020). Permainan „Maze Eksplorer”. Sebuah Media Untuk Mengajar Keterampilan Membaca-Menulis Anak-Anak. Kopen:
Konferensi Pendidikan Nasional, 2(1), 184-189. https://ejurnal.mercubuana- yogya.ac.id/index.php/prosiding_koPen.article/view/1098 (Diakses 2 Agustus 2023)
Jaya, M. P. S., & (2023). THE Effect of Labirin media on the ABILITY OF Children‟s problem Solving in EARLY Childhood Education Barokah Citra in talang Cempedak Ogan Komering Ilir. Journal on Education, 5(3), 7230- 7244. Https://www.Jonedu.Org/index.php/joe/article/View/1166 (Diakses 2 Agustus 2023)
Kurnia, R., Nurialistiawati, M., Syamsuardi, S., & Herman, H. (2022). Pengaruh Permainan Mencari Jejak (Maze) Terhadap Kemampuan Literasi Anak Usia 5-6 Tahun. Jurnal Kumara Cendekia, 10(4), 291-301. http://e- prints.unm.ac.id/id/eprint/259/1/Peer%20Review%20Pak%20Herman.pdf (diakses 23 Juni 2023)
Kuswanto, A. V., and Suyadi, S. (2020). Sistematika literatur review: permainan maze dalam mengembangkan perkembangan anak usia taman kanak-kanak.
Yaa Bunayya: Jurnal Pendiikan Anak Usia Dini, 4 (2), 119-125.
https://jurnal.umj.ac.id/index.php/YaaBunayya/article/view/7377 (Diakses 11 Februari 2023).
Kusyairy, U., Qalbi, N., & Prihatin, S. (2020). Penerapan Bermain Puzzle Gambar Melalui Metode Kerja Kelompok Dalam Meningkatkan Sikap Mau Membantu Pada Sikap Mau Membantu Pada Anak Usia 4-5 Tahun Di Tk Aisyiyah 1 Tidung. Khidmah: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 2(2),
175-184. https://journal3.uin-
alauddin.ac.id/index.php/khidmah/article/view/30213 (Diakses 11 Februari 2023).
MierEdu. (2023, Februari 09). 6 important benefits of educational toys [Web Post]. Retrieved from https://mieredu.com.au/blogs/news/6-important- benefits-of-educational-toys.