• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hal-hal yang harus dihadirkan pada setiap rukun dan syarat dari amal- amal salat

Kami berkata; “kewajibanmu jika kamu termasuk orang yang berkemauan ke akhirat, pertama-tama untuk tidak lalai dari peringatan- peringatan yang terdapat pada syarat-syarat dan rukun salat”.53 Diantaranya:

adzan, bersuci, menutup aurat, mengahdap kiblat, berdiri tegak dan niat. Ketika

51 Ibid, 161-162

52 Hawa, Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyat al-Nafs Terpadu, Jakarta: Robani Press, 1998), 41.

53 Ibid, 45

kamu mendengarkan adzan, hadirkanlah dalam hatimu bahwa itu panggilan yang mengejutkan pada hari kiamat. Maka bersegeralah kamu dan penuhilah panggilan itu dengan penuh kegembiraan, kesenangan dan penuh kegemaran, dan ketahhuilah bahwasanya panggilan itu membawa kabar gembira pada hari pengadilan nanti.54

Setelah memenuhi panggilan adzan, maka sucikanlah pakaiann, tempat dan badanmu, dan yang paling penting lagi adalah bersihkan juga hatimu. Maka bersungguh-sungguhlah kamu membersihkan dengan taubat danpenyesalan yang sesungguhnya atas kelalaianmu. Dan memusatkan kemauan („azam) untuk meninggalkan pada masa yang akan datang. Maka bersihanlah batinmu dengan taubat, karena sesungguhnya batin itu adalah tempat pandangan zat kamu sembah.55

Kemudian kita dianjurkan untuk menutup aurat, dan ketahuilah bahwasanya menutup aurat adalah menutupi keburukan-keburukan badanmu dari pandangan makhluk/manusia, karena badanmu adalah tempat pandangan makhluk. Tutuplah aurat batinmu dan terbukanya rahasia-rahasiamu yang tidak dilihat kecuali oleh Tuhanmu. Maka datangkanlah keterbukaan-keterbukaan dihatimu dan tuntutlah dirimu untuk menutupinya. Dan menghadap kiblatlah dengan mamalingkan zhahir wajahmu dari seluruh arah ke arah baitullah ta‟ala.

Begitu juga hatimu, maka kekanglah hatimu kesatu arah yaitu Allah Azza

54 Al-Ghaza>li>, Ih}ya’ Ulum al-Di>n, 165

55 Ibid, 165-166.

wajalla. dan ketahuilah bahwasanya pandanganmu tidak akan terpusatkan kepada satu arah baitullah jika kamu tidak berpaling dari selainya, begitu juga hatimu.56

Adapun i‟tidal adalah menggambarkan posisimu dihadapan Allah. Maka menunduklah kepalamu dengan maksud hati merendahkan diri, menghinakan dan melenyapkan perasaan sombonng dihadapan Allah. dan ketahuilah bahwasanya dalam keadaan itu Allah melihat dihadapanmu. Maka bersikaplah kamu seperti kamu berdiri didepan raja masa kini, dan perkirakanlah bahwa selama kamu shalat itu selalu dalam pengawasan-Nya yang tak pernah lengah sedikitpun.57Dan niyyatkanlah apa yang kamu kerjakan itu adalah sebuah perintah yang haris dilaksanakan seorang hamba dengan berusaha melaksanakan shalat secara sempurna, dan mengihklaskan semuanya hanya semata-mata karena mengharap ridho Allah Azza Wajalla, takut akan siksaan- Nya dan mencari pendekatan diri kepada-Nya dengan anugrah-Nya dan izin- Nya.58

Pada saat takbirat al-ihram, angaktlah kedua tangan sampai ke telinga (sebagai isyarat bahwa kita membuang kebelakang apa saja kecuali Allah Swt.) dan agungkanlah dalam hatimu ketika bertakbir,59 seyogyanya batinmu tidak mendustakanya. Jika hawa nafsumu itu lebih menang daripada perintah Allah,

56 Ibid, 166.

57 Ibid.

58 Hawa, Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyat al-Nafs Terpadu, 46.

59 Al-Kandahlawi, Himpunan Kitab Fadhilah Amal, 327.

maka kamu telah menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhanmu dan kamu telah membesarkannya. Alangkah besarnya bahaya itu seandainya tidak karena taubat, istigfar dan baik sangka kepada kemurahan Allah Ta‟ala dan kemanfaatan-Nya. Dan kemudian dilanjutkan dengan membaca do‟a iftitah maka awalnya:

ج ج ضراا ا مسلا رطف ىذ ل

Artinya: “saya menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi”60

Yang dimaksud dengan wajah (muka) bukanlah wajah dhahir, akan tetapi wajah hati yang kamu hadapkan kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi. Dan ketahuilah bahwa tanpa berpaling dari selain-Nya, kamu tidak akan bisa menghadapkan wajah hatimu kepada-Nya.61

Dan apabila kamu mengucapkan:

ن كرشملا نم نا م م سم نح Artinya: dengan condong dan berserah diri, dan tidaklah saya termasuk

golongan orang-orang mushrik”

Maka seyogyanya seorang muslim itu orang yang selamat dari lidah dan tanganya. Jika kamu tidak demikian, maka kamu adalah dusta dalam bersungguh-sungguh berazam kepada-Nya. Dan jadilah kamu orang yang berhati-hati dan takut terhadap syirik ini, merasa malu dalam hatimu jika kamu

60 Al-Ghaza>li>, Ih}ya’ Ulu>m al-Di>n, 167.

61 Ibid.

telah mensifati bahwa dirimu bukan termasuk golongan orang-orang musyrik, dimana kamu tidak terbebas dari syirik ini.62

Dan apabila kam mengucapkan:

حم ه ت مم Artinya:hidupku dan matiku bagi Allah”

Maka ketahuilah bahwasanya ini adalah keadaan hamba yang hilang bagi dirinya, namun maujud (ada) bagi Tuan-Nya. Maka jika ucapan itu muncul dari orang yang kerid>o’an, kemarahan, berdiri, duduk dan semangat hidup karena dunia, maka hal itu sama sekali tidak sesuai dengan apa yang diucapkanya.63 7. Makna-makna dalam membaca surat al-Fa>tih}ah

Apabila kamu mengucapkan:

م مسب Artinya: dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

(QS. al-fa>tih}ah: 1)

Maka niatkanlah untuk mendapatkan berkah sebagai permulaan membaca firman Allah yang Maha Suci. Dan fahamilah bahwasanya segala urusan itu dengan Allah Yang Maha Suci. Dan apabila urusan-urusan itu melibatkan Allah, maka pastilah:

ه دمحلا Artinya: “segala puji bagi Allah”. ( QS. al-Fa>tih}ah: 2)

62 Ibid.

63 Hawa, Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyat al-Nafs Terpadu, 47-48.

Segala puji bagi Allah, karena segala ni‟mat itu dari Allah. dan barang siapa yang berpendapat bahwa ni‟mat itu datang dari selain Allah, maka dalam membaca tasmiyah dan hamdalah itu kurang menurut kadar berpalingnya dari selain Allah.64

Apabila kamu membaca :

حرلا نمحرلا Artinya: “yang maha pemurah lagi maha penyayang”. (QS. al-fa>tih}ah: 3) Maka hadirkanlah didalam hatimu akan belas kasihan-Nya agar jelas rahmat- Nya bagimu, dan terbangkitlah harapanmu karena-Nya. Kemudian kobarkanlah dalam hatimu dengan pengagungan dan takut dengan ucapanmu :

ن دلا م Artinya: yang merajai/memiliki hari pembalasan”. (QS. al-fa>tih}ah: 4)

Penghayatan dan peagungan karena tidak ada kerajaan kecuali bagi-Nya.

Sedangkan rasa takut perlu ditumbuhkan karena dahsyatnya hari pembalasan dan perhitungan yang ada dalam kekuasaan-Nya. Kemudian perbaharuilah keihklasan dengan ucapan:

دبعن ا Artinya: hanya kepadamu kami menyembah” (QS. al-fa>tih}ah: 5)

Dan perbaharuilah kelemahan, kekosongan dan kebutuhan dari daya kekuatan dengan mengucapkan:

ن عتسن ا

64 Al-Ghaza>li>, Ih}ya’ Ulu>m al-Di>n, 168.

Artinya: hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan (QS. al-Fa>tih}ah: 5) Dan sadarilah bahwasanya keta‟atanmu tidak akan terwujudkan tanpa pertolongan-Nya. Bagi-Nya segala karunia, karena telah memperkenankanmu untuk menta‟ati-Nya, memintamu untuk berkhidmad menyembah-Nya dan menjadikanmu berhak untuk melakukan munajat kepada-Nya. Seandainya Dia tidak memperkenankanmu, maka kamu akan menjadi orang yang terusir bersama syetan yang terkutuk.65

Setelah ta‟awwud, tasmih, tahmid dan dari menampakkan kebutuhan dan pertolongan secara mutlak, maka tentukaknlah permohonanmu dan janganlah kamu memohon kecualli sepenting-penting kebutuhanmu, dan bacalah:

ندها تسملا طارصلا Artinya: “tunjukilah kami jalan yang lurus(QS. al-Fa>tih}ah: 6)

Yang menuntun kami kesisi-Mu dan menyampaikan kami kepada keridhoan- Mu. Dan tambahlah dengan kelapangan, penguatan, kesaksian dengan orang- orang yang telah mendapatkan ni‟mat, hidayah (petunjuk) dari para Nabi, shiddiqin, suhadaq dan sholikhin, bukan orang-orang yang dimurkai (yaitu orang kafir) orang-orang yang menyimpang dari yahudi dan nasrani.66 Kemudian mohonkanlah dengan bacaan :

ن ما Artinya: “perkenankanlah”

65 Hawa, Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyat al-Nafs Terpadu, 49.

66 Al-Ghaza>li>, Ih}ya’ Ulu>m al-Di>n, 168.

Seyogyanya setelah selesai membaca syrat al-fatihah, maka kamu memahami suart yang kamu baca sebagaimana akan datang didalam kitab membaca al-Qur‟an. maka janganlah kamu lalai dengan ancaman-Nya, nasihat- nasihat dan berita-berita para nabi-Nya. Mengingat anugrah-anugrah dan kebaikan-Nya. Dan shalat merupakan kunci hati. Padanyalah terbuka rahasia- rahasia kalimat ini.67

Salat adalah kunci hati. Di dalam salat terungkap berbagai rahasia kalimat. Ini adalah hak bacaan zhikir, dan tasbih. Kemudian hendaknya di jaga suasana haibah dengan bacaan tartil dan tidak terlalu cepat, karena dengan membaca yang demikian akan memudahkan kita untuk perenungan.

Hendakknya dibedakan antara intonasi dalam ayat rahmat, adzab, janji, ancaman, pujian, ta’d}i>m dan sanjungan.68

Lazimkanlah khushu>’ bagi hati. Sesungguhnya terlepas dari berpaling zhahir dan batin itu adalah buah khushu>‟. Manakala batin itu khushu>, maka zhahirpun khushu>‟. Nabi bersabda ketika beliau melihat orang yang shalat bermain-main dengan jenggotnya:

عسخل هب ق عسخ ل اذه ما هحرا ج

Artinya: “adapaun orang ini, seandainya hatinya khushu>’, niscaya anggota- anggota badanya khushu>“.69

67 Ibid, 168.

68 Hawa, Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyat al-Nafs Terpadu, 50.

69 Al-Ghaza>li>, Ih}ya’ ‘Ulu>m al-Di>n, 169.

Adapun ruku‟, sujud dan duduk, seyogyanya untuk memperbaharui ketika itu akan peringatan akan kebesaran Allah Yang Maha Suci. Kemudian kamu mulai lagi menghinakan dan merendahkan diri dengan ruku‟mu dan kamu bersungguh-sungguh dalam melunakkan hatimu, memperbaharui kekhushu>’anmu dan merasakan kemuliaan-Nya serta ketinggian-Nya. Untuk menetapkan hal itu maka minta tolonglah kepada lidahmu untuk mensucikan Tuhanmu, kamu saksikan kebesaran-Nya, sesungguhnya Dia Maha Besar dari setiap yang besar. Dan ulang-ulanglah didalam hatimu untuk menguatkanya dan kamu bangun dari ruku‟ dengan membaca:

هدمح نمل ه عمس Artinya: “semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya”, yakni Dia

memperkenankan orang yang bersyukur kepada-Nya”.

Kemudian diiringi dengan membaca:

دمحلا ل نبر Artinya: “wahai Tuhan kami, bagimulah segala pujian”

Dan memperbanyak pujian itu dengan ucapan:

ضراا ءلم ا مسلا ءلم Artinya: “sepenuhlangit dan sepenuh bumi”.70

Setelah memperanyak puian kepada Allah, kemudian ia bersujud sambil membaca takbir, dan itu adalah setinggi-tingginya tingkat kehina‟an dimana kamu tempatkan semulia-mulia anggota badanmu pada sehina-hinanya sesuatu

70 Ibid.

yaitu tanah, yang mana itu adalah bahan dari penciptaan manusia. Maka kerjakanlah dengan khushu>’ dan perbaharuilah dalam hatimu akan kebesaran tuhanmu dengan mengucapkan:

عاا بر ن حبس Artinya: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi”.

Dan kuatkanlah dengan ulangan karena sekali bacaan itu lemah pengaruhnya.71 Apabila hatimu telah lunak dan hal itu telah jelas, maka hendaklah kamu benarkan harapanmu terhadap rahmat Allah. Lalu duduklah dan memohon kepada Allah dengan mengucap:

ت حرا ر غا ر ج

عت مع خ

Artinya: “wahai Tuhan, ampunilah, sayangilah, dan lewatilah (jangan engkau tuntut) dari sesuatu yang engkau ketahui”

Atau do‟a yang kamu kehendaki. Kemudian kuatkanlah perendahan diri dengan ulangan dan kembalilah sujud yang kedua.72

Adapun tasyahud, apabila kamu duduk untuknya maka duduklah dengan sopan dan jelaskanlah bahwa seluruh shalawat dan kebaikan-kebaikan yaitu akhlak yang suci adalah bagi Allah. itulah ma‟na Attahiyat (penghormatan).

Dan bacalah do‟a:

هت كرب ه محر بنا ا ع اس Artinya: “semoga kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah atasmu wahai Nabi”.

71 Ibid.

72 Ibid.

Dokumen terkait