BAB IV BAB IV
D. Doktrin Dapat Dihukumnya Korporasi
Korporasi sebagai subjek hukum pidana telah diakui dan diterima secara universal. Sebagian besar negara di dunia ini telah menjadikan korporasi sebagai subjek hukum pidana. Dasar pengakuan ini, didasarkan pada beberapa doktrin atau ajaran yang telah diterima secara luas dalam ilmu hukum. Doktrin atau ajaran- ajaran tersebut di antaranya:
1. Doctrin of Strict Liability
Menurut doktrin/ ajaran ini pertanggung jawaban pidana dibebankan kepada yang bersangkutan dengan tidak perlu dibuktikan adanya kesalahan (kesengajaan atau kelalaian) pada pelakunya. Karena menurut doktrin strict liability ini pertanggung jawaban pidana bagi pelakunya tidak dipermasalahkan apakah perbuatan pidana itu dilakukan dengan terdapat pada pelakunya unsur pertanggungjawaban pidana yang berupa kesalahan (mens rea), maka strict liability disebut juga absolute liability atau dalam bahasa Indonesia pertanggungjawaban mutlak.
Menurut Sutan Remi Sjahdeini bahwa, ajaran strict liability ini hanya diberlakukan terhadap tindak pidana tertentu saja, yaitu tindak pidana atau perbuatan pidana berupa tindak pidana pelanggaran, atau tindak pidana kejahatan yang telah mengakibatkan kerugian terhadap keuangan atau perekonomian negara; telah menimbulkan gangguan ketertiban umum (ketentraman publik);
telah menimbulkan kematian massal, atau telah menimbulkan derita jasmaniah secara masal yang bukan berupa kematian;
telah menimbulkan kerugian keuangan secara masal, atau telah menimbulkan kerusakan atau pencemaran lingkungan; atau tindak pidana yang berkaitan dengan kewajiban pembayaran pajak.72
Muladi menyatakan bahwa perumusan pertanggung jawaban pidana korporasi dilakukan berdasarkn atas kepentingan masyarakat dan tidak atas dasar tingkat kesalahan subjektif. Dalam
72 Ibid, hlm. 141.
hal ini strict (absolute) liability yang meninggalkan asas mens rea merupakan refleksi kecenderungan untuk menjaga keseimbangan kepentingan sosial.
Doctrin of Vicarious Liability 2.
Teori atau ajaran atau doktrin ini diambil dari hukum perdata dalam konteks pertanggungjawaban perbuatan melawan hukum (tortious liability) yang diterapkan pada hukum pidana. Vicarious liability biasanya berlaku dalam hukum pidana tentang perbuatan melawan hukum (the law torts) berdasarkan doctrine of respondeat superior. Dalam perbuatan-perbuatan perdata seorang majikan bertanggung jawab untuk kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh bawahanya sepanjang hal itu terjadi dalam rangka pekerjaan.
Hal ini memberikan kemungkinan kepada pihak yang dirugikan karena perbuatan-perbuatan melawan hukum dari mereka itu untuk menggugat majikannya agar membayar ganti rugi apabila dapat dibuktikan pertanggungjawabanya.
Ajaran vicarious liability (ajaran pertanggung jawaban vikarius) merupakan pengembangan yang terjadi dalam hukum pidana , karena ajaran ini menyimpang dari asas umum yang berlaku dalam sistem hukum comman law bahwa seseorang tidak dapat dipertanggung-jawabkan atas perbuatan yang dilakukan tanpa sepengetahuanya atau tanpa otorisasi. Maka berdasarkan ajaran vicarious liability ini pihak lain dapat dipertanggungjawabkan secara pidana atas perbuatan pihak lain. Dalam common law seorang majikan (empoloyer) bertanggung jawab secara vikarius (liable vicariously) atas perbuatan-perbuatan dari bawahanya yang telah menimbulkan gangguan publik (public nuisance) atau dalam hal membuat pernyataan yang dapat merusak nama baik orang lain (criminal libel).73
73 Ibid, hlm. 142.
Berkaitan dengan korporasi, maka suatu korporasi dimungkinkan bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh pegawainya, kuasanya, atau mandatarasinya atau siapa pun yang bertanggung jawab kepada korporasi tersebut.
Penerapan doktrin ini hanya dilakukan setelah dapat dibuktikan bahwa memang terdapat hubungan subordinasi antara majikan (employer) dan orang yang melakukan tindak pidana tersebut. Harus dapat dipastikan apakah seorang pegawai atau kuasa dari korporasi yang bukan merupakan pegawai dalam arti yang sebenarnya, dalam melakukan tindak pidana itu telah bertindak dalam rangka tugasnya apabila korporasi itu memang harus memikul tanggung jawab atas perbuatanya.
Doctrin of Delegation
3. Doktrin ini merupakan salah satu alasan untuk dapat membebankan pertanggungjawaban pidana secara vikarius, karena adanya pendelegasian wewenang dari seseorang kepada orang lain untuk melaksanakan kewenangan yang dimilikinya. Pendelegasian wewenang oleh majikan kepada bawahanya ini merupakan alasan pembenar bagi dapat dibebankannya pertanggungjawaban pidana kepada majikanya atas perbuatan pidana yang dilakukan oleh bawahannya yang memperoleh pendelegasian wewenang itu74.
Doktrin of Identification
4. Teori atau doktrin ini mengajarkan bahwa untuk dapat mempertanggung jawabkan pidana kepada suatu korporasi harus mampu diidentifikasi siapa yang melakukan tindak pidana tersebut. Dan apabila tindak pidana itu dilakukan oleh mereka yang merupakan directing mind dari korporasi tersebut , maka baru pertanggungjawabkan dari tindak pidana itu dapat dibebankan kepada korporasi. Teori atau doktrin ini memberikan alasan pembenar bagi pembebanan pertanggungjawaban pidana kepada
74 Ibid, hlm. 142.
korporasi yang notabene tidak dapat berbuat dan tidak mungkin memiliki mens rea karena tidak memiliki kalbu. Perbuatan yang tidak dianggap sebagai tindak pidana yang dilakukan oleh personil korporasi adalah hanya apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh personil korporasi yang memiliki kewenangan untuk dapat bertindak sebagai directing mind dari korporasi tersebut.75
Secara formal yuridis directing mind dari korporasi dapat diketahui dari anggaran dasar korporasi tersebut. Selain itu dapat pula diketahui dari surat-surat keputusan pengurus pengangkatan pejabat-pejabat atau manager untuk mengisi jabatan- jabatan tertentu (misalnya untuk menjadi kepala kantor cabang atau kepala divisi dari korporasi yang bersagkutan).dan pemberian wewenang untuk melaksanakan tugas dan kewajiban terkait dengan jabatan tersebut. Namun sering juga terjadi bahwa pengurus formal korporasi (dalam hal korporasi adalah suatu perseroan terbatas, pengurus yang dimaksud adalah direksi perseroan) berada dibawah pengaruh kendali formal yang sangat kuat dari orang-orang yang secara yuridis formal bukan pengurus. Orang-orang tertentu yang sekalipun menurut anggaran dasar korporasi tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan tindakan kepengurusan dari sutu perseroan, tetapi kenyataan orang itulah yang mengendalikan orang- orang secara formal yuridis adalah pengurus perseroan (seperti pemegang saham). Oleh karena itu penentuan pidana bukan saja dapat dilakukan terhadap direksi, tetapi juga terhadap pemegang saham pengendali suatu korporasi.
Doctrin of Aggregation
5. Doktrin atau ajaran aggregasi ini mengajarkan bahwa seseorang dianggap mengagregasikan (mengkombinasikan) semua perbuatan dan semua unsure mental (sikap kalbu) dari berbagai orang yang terkait secara relevan dalam lingkungan perusahaan untuk dapat memastikan bahwa semua perbuatan dan unsur mental tersebut adalah suatu tindak pidana seperti seakan-akan semua
75 Ibid, hlm. 143.
perbuatan dan unsur mental itu telah dilakukan oleh satu orang saja.
Dalam korporasi dapat saja seorang melaksanakan perintah atasanya tanpa tahu latar belakang yang melakukan perbutana pidana yang dilakukanya. Karena pelaku actus reus (unsur perbuatan) ini tidak memiliki men rea (unsur kesalahan) ,maka pelaku sesungguhnya tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatan tersebut. Namun demikian korporasi harus tetap bertanggungjawab atas perbuatan pidana yang dilakukan karena terpenuhi syarat adanya actus reus dan adanya mens rea sebagai hasil agregasi (gabungan) dari beberapa orang (pelaku).
Doctrin Reactive Corporate Fault
6. Doktin atau ajaran ini mengajarkan bahwa, korporasi yang menjadi terdakwa diberi kesempatan oleh pengadilan untuk melakukan sendiri pemeriksaan, siapa yang dianggap paling bersalah dan tindakan apa yang telah diberikan kepada orang yang dianggap bersalah tersebut. Apabila laporan perusahaan atau korporasi ini dianggap cukup memadai, maka korporasi dibebaskan dari pertanggungjawaban tersebut. Namun apabila laporan korporasi tersebut dianggap tidak memadai oleh pengadilan, maka baik korporasi maupun para pemimpin akan dibebani pertanggungjawaban pidana atas kelalaian tidak memenuhi perintah pengadilan itu. Hukum yang dapat diberikan pengadilan kepada korporasi dapat berupa publisitas yang tidak menguntungkan bagi korporasi (court ordered adverse publicity ), korporasi harus melakukan kegiatan-kegiatan pelayanan tertentu kepada masyarakat (community service), dan hukumsn berupa tindakan disiplin terhadap korporasi yang bersngkutan (punitive injunctive sentence).
Doktrin Peniadaan Pembebanan Pertanggungjawaban 7. Korporasi
Dalam sistem hukum pidana berlaku alasan yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana yaitu adanya alasan
pembenar dan alasan pemaaf. Apakah alasan pembenar dan alasan pemaaf ini dapat diterapkan pada sebuah korporasi?. Menurut Sutan Remy Sjahdeini, alasan penghapusan pemidanaan tersebut yang terdapat pada orag yang merupakan directing mind korporasi ketika perbuatan itu dilakukan oleh orang itu bukan saja akan meniadakan pertanggungjawaban pidana orang itu, tetapi juga meniadakan pertanggungjawaban korporasi perbuatan orang yang menjadi directing mind korporasi diatribusikan kepada korporasi (dianggap sebagai perbuatan perbuatan korporasi itu sendiri), maka logikanya adalah bahwa alasan peniadaan pertanggungjawaban yang dimiliki oleh orang tersebut harus juga diatribusikan kepada korporasi.
Artinya , bila orang itu dibebaskan dari pertanggungjawaban pidana maka dengan sendirinya korporasi juga harus dibebaskan dari pertanggungjawaban pidana.76
Menetapkan badan hukum sebagai pelaku tindak pidana, dapat dengan berpatokan pada kreteria pelaksanaan tugas dan/atau pencampaian tujuan-tujuan badan hukum tersebut. Badan hukum diperlukan sebagai pelaku jika terbukti tindakan yang bersangkutan dilakukan dalam rangka pelaksanaan tugas dan/atau pencapaian tujuan badan hukum, juga termasuk dalam hal orang (karyawan perusahaan) yang secara faktuil melakukannya atas inisiatif sendiri serta bertentangan dengan instruksi yang diberikan. Namun dalam hal yang terakhir ini, tidak menutup kemungkinan badan hukum mengajukan keberatan atas alasan tiadanya kesalahan dalam dirinya.
Selanjutnya juga mentapkan badan hukum sebagai pelaku tindak pidana , dapat dilihat dari kewenangan yang ada pada badan hukum tersebut. Secara faktuil badan hukum mempunyai wewenang mengatur/menguasai dan/atau memerintah pihak dalam Kenya-taannya kurang/tidak melakukan dan/atau mengupayakan kebijakan atau tindak pengamanan dalam rangka mencegah dilakukanya tindakan terlarang tersebut, sehingga badan hukum dinyatakan bertanggungjawab atas kejadian tersebut.
76 Ibid, hlm. 144.
Pengakuan terhadap korporasi sebagai subjek hukum pidana sebenarnya telah diakui di Indonesia sejak dibentuknya Undang- Undang Nomor 5 Drt. Tahun 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi, yang mana dalam undang-undang ini, telah diatur bahwa korporasi dapat dipidana. Demikian pula dalam beberapa Undang-undang yang dibentuk kemudian seperti Undang-undang pemberantasan Korupsi, Undang-undang Pemberantasan Terorisme, Undang- undang Narkotika, Undang-undang Perlindungan dan Pengelolaan Ling-kungan Hidup, telah menjadikan korporasi sebagai subjek hukum yang dapat pidana.
Korporasi sebagai subjek hukum juga telah diatur dalam RUU KUHP draf 2012 Pasal 47, yang menentukan bahwa korporasi merupakan subjek hukum pidana. Dalam Pasal 48 ditentukan pula bahwa tindak pidana dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kedudukan fungsional dalam struktur organisasi korporasi yang bertindak untuk dan atas nama korporasi atau demi kepentingan korporasi, berdasarkan hubungan lain, dalam lingkup usaha korporasi tersebut, baik sendiri-sendiri atau bersama-sama.
Sedangkan dalam Pasal 49 bahwa, jika tindak pidana dilakukan oleh koperasi, pertanggungjawaban pidana dikenakan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya. Lebih lanjut dalam Pasal 50 ditentukan bahwa korporasi dapat dipertanggungjawabkan secara pidana terhadap suatu perbuatan yang dilakukan untuk dan/atau atas nama korporasi, jika perbuatan tersebut termasuk dalam lingkup usahanya sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasar atau ketentuan lain yang berlaku bagi korporasi yang bersangkutan.77
Meskipun ketentuan dalam RUU KUHP belum mempunyai kekuatan hukum mengikat, akan tetapi hal tersebut sudah dapat dijadikan pedoman bahwa sistem hukum pidana Indonesia telah mengakui korporasi sebagai sebagai subjek hukum pidana.
Pengaturan ini sebenarnya hanyalah memperkuat dan mempertegas bahwa korporasi merupakan subjek hukum pidana, karena di
77 Lihat RUU KUHP Tahun 2012.
dalam berbagai Undang-undang pidana di luar kodifikasi (KUHP), korporasi sudah dijadikan sebagai subjek hukum pidana yang apabila terbukti melakukan tindak pidana, maka korporasi itu dapat dipidana.