• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efektivitas Project Based Learning Menggunakan Terrarrium terhadap Hasil Belajar Ekologi di SMA

38

Efektivitas Project Based Learning Menggunakan Terrarrium

39 Hasil penelitian Oktaviana, (2011) menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Hal ini selaras dengan hasil penelitian Jagantara et al. (2014), bahwa model pembelajaran berbasis proyek mampu meningkatkan hasil belajar siswa materi sistem pencernaan dan pernafasan. Siswa secara langsung dapat menggabungkan unsur pengetahuan dan keterampilan (soft skill) dalam pembelajaran. Siswa mampu untuk merencanakan suatu kegiatan, memecahkan masalah, dan mengkomunikasikan hasil kegiatan atau produk, selain siswa menguasai konten dari suatu mata pelajaran.

Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru biologi di MAN 1 Magelang, didapatkan hasil bahwa materi ekologi adalah materi yang diajarkan pada siswa kelas X semester genap dengan materi yang cukup sulit dipahami. Guru menyatakan hambatan dalam mengajarkan materi ekologi selama ini adalah terlalu luasnya cakupan materi ekologi dan model pembelajaran yang kurang bervariasi. Hambatan-hambatan ini menyebabkan menurunnya ketertarikan siswa untuk mempelajari materi ekologi. Hasil belajar kognitif (nilai UAS tahun pelajaran 2016/2017) menunjukkan bahwa ±70% siswa memperoleh nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan (KKM ≥ 75).

Melihat hal tersebut, guru menyatakan perlu adanya variasi model pembelajaran yang menyenangkan agar materi ekologi yang luas dan abstrak dapat dibelajarkan secara kontekstual sehingga siswa lebih tertarik dan lebih memahami materi, dan salah satu model yang cocok diterapkan adalah model pembelajaran berbasis proyek. Proyek yang dapat diterapkan dalam materi ekologi adalah pembuatan miniatur ekosistem berupa terrarium. Terrarium dapat diperuntukkan untuk beragam kebutuhan seperti untuk penelitian, media bercocok tanam, dekorasi ruangan juga untuk membelajarkan materi ekosistem di tingkat SMA (Pandia et al., 2017).

Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektivitas penerapan PjBL menggunakan Terrarium terhadap hasil belajar siswa materi ekologi. Penerapan PjBL menggunakan Terrarium diharapkan mampu memberikan pembelajaran bermakna bagi siswa sehingga siswa mampu menguasai materi dan juga mampu mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari.

METODE

Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experimental dengan pola penelitian nonequivalent control group design. Populasi adalah seluruh siswa kelas X MIA MAN 1 Magelang. Sampling menggunakan teknik purposive sampling diperoleh kelas X MIA 1 (34 siswa) sebagai kelompok eksperimen dan X MIA 4 (31 siswa) sebagai kelompok kontrol. Kelas eksperimen diberi pelakuan dengan PjBL menggunakan terrarium dan kelas kontrol dengan model diskusi sederhana. Data penelitian berupa hasil belajar kognitif yang diperoleh dari nilai posttest

40 dan nilai LKS (nilai akhir). Ketuntasan klasikal di kedua kelas sampel diuji signifikansinya melalui uji Chi Square dengan bantuan software SPSS versi 24. Peningkatan hasil belajar diuji beda rata-ratanya melalui uji Paired t-test dengan bantuan software SPSS versi 24.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian dilaksanakan dalam lima kali pertemuan. Hasil penelitian yang diperoleh dari kedua kelas sampel adalah data hasil belajar kognitif yang tersaji pada Tabel 1.

Tabel 1. Data Hasil Belajar Kognitif

No Eksperimen Kontrol

1 Rata-rata Skor N-gain 0,60 0,34

2 Rata-rata Nilai Akhir 80 75

3 Siswa yang tuntas KKM* 26 16

4 Ketuntasan Klasikal 76,5% 51,6%

*) KKM = 75

Tabel 2. Data Uji Chi-Square Ketuntasan Belajar Klasikal

X2 hitung X2 tabel Keterangan

Nilai

Chi-Square 4,382 3,841 Terdapat perbedaan ketuntasan belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol

Berdasarkan Tabel 1, ketuntasan klasikal kelas eksperimen adalah 76,5%, sedangkan ketuntasan klasikal kelas kontrol adalah 51,6%. Untuk menguji apakah ketuntasan klasikal di kedua kelas berbeda secara signifikan, maka dilakukan uji Chi-Square (Tabel 2) yang menunjukkan adanya perbedaan ketuntasan belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Tabel 3 menunjukkan nilai sig (2-tailed) < 0,05 yaitu sebesar 0,000 sehingga Ho ditolak dan dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara peningkatan hasil belajar siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Tabel 3. Hasil Uji Independent t-test skor N-gain Levene's Test

for Equality of Variances

t-test for Equality of Means

F Sig. t df Sig.

(2- tailed)

Mean Difference

Std. Error Difference

95% Confidence Interval of the

Difference Lower Upper Equal variances

assumed

,106 ,746 5,353 63 ,000 ,25406 ,04746 ,15922 ,34890 Equal variances not

assumed

5,358 62,634 ,000 ,25406 ,04742 ,15929 ,34883

41 Perbedaan yang signifikan ini dapat terjadi karena penerapan pembelajaran Project Based Learning (PjBL) menggunakan terrarium memberikan dampak posistif terhadap hasil belajar siswa. PjBL menggunakan terrarium termasuk pembelajaran yang berpusat pada siswa, sehingga membuat siswa terlibat aktif dalam belajar dan bekerja secara mandiri atau kelompok untuk menghasilkan produk sebagai bentuk pemecahan atas masalah nyata yang diberikan guru.

Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, akan membuat siswa terinspirasi dan termotivasi untuk memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam (Oktavian dan Maryani, 2015). Apabila motivasi belajar siswa tinggi maka secara tidak langsung akan memperoleh hasil belajar yang tinggi pula.

Dalam pembelajaran PjBL menggunakan terrarium, motivasi timbul karena adanya tantangan bagi siswa untuk dapat mengerjakan proyek dan bertanggung jawab terhadap keberhasilan proyek terrarium tersebut. Motivasi belajar siswa di kelas eksperimen meningkat seiring dengan meningkatnya kerjasama antar siswa. Model pembelajaran PjBL menggunakan terrarium yang diberikan mengharuskan siswa untuk dapat berlatih kerja sama dalam sebuah kelompok. Kerjasama merupakan salah satu unsur untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Bekerjasama akan membuat seseorang mampu melakukan lebih banyak hal daripada jika bekerja sendirian. Dengan adanya kerjasama secara kelompok, akan mengarah pada efisiensi dan efektivitas pembelajaran yang lebih baik (Nurwahidah et.al., 2014). Pentingnya kerja kelompok dalam keberhasilan kegiatan proyek membuat siswa perlu mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan berkomunikasi. Selain keterampilan komunikasi, siswa juga dituntut untuk siswa memiliki keterampilan negosiasi, organisasi, mengendalikan diri, dan toleransi agar pembuatan terrarium berhasil.

Model pembelajaran PjBL menggunakan terrarium membuat siswa mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera melalui proses pembuatan terrarium dan beberapa percobaan sederhana daripada hanya mendengarkan penjelasan guru.

Selain itu karena terrarium adalah miniatur atau gambaran asli mengenai suatu ekosistem yang ada di muka bumi, maka dengan terrarium guru dapat menghadirkan gambaran dunia nyata ke dalam kelas untuk menjadi sumber belajar materi ekologi dan mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan ekologi dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Belajar materi ekologi dengan cara ini membuat siswa lebih mudah memahami materi yang dipelajari, mendukung dikuasainya konsep dengan lebih tepat dan bertahan lama dalam ingatan siswa, serta menjadikan pembelajaran lebih bermakna.

Model pembelajaran PjBL menggunakan terrarium menjadikan pembelajaran lebih bermakna karena menurut Khamdi (dikutip dalam Jagantara et al., 2014), pembelajaran proyek berangkat dari pandangan konstruktivisme. Pandangan kontruktivisme menekankan pada peran

42 siswa untuk menyusun sendiri pengetahuannya melalui pembelajaran yang dilakukan (Santoso, 2010).

Pengetahuan dalam pandangan konstruktivisme tidak dianggap sebagai sesuatu yang ditransfer dari guru ke siswa, tetapi adalah sebuah gagasan yang diperoleh melalui proses aktif dari keterlibatan dan interaksi dengan lingkungan (Nassir, 2014). Siswa harus menganggap bahwa pengetahuan yang sedang dipelajari merupakan tantangan yang harus dipecahkan dan dikuasai.

Implikasi dari teori ini, guru harus menyediakan fasilitas atau kegiatan yang memungkinkan siswa melakukan eksplorasi untuk membangun pengetahuannya. Dalam pembelajaran PjBL menggunakan terrarium, proses ekplorasi dilakukan ketika siswa melakukan pengamatan di sekitar lingkungan sekolah dalam rangka memilih jenis terrarium, jenis tanaman dan media tanam, serta ketika melakukan serangkaian percobaan sederhana sesuai dengan panduan dalam LKS.

Menurut Khamdi (dikutip dalam Jagantara et al., 2014), selain berangkat dari pandangan konstruktivisme, model pembelajaran PjBL menggunakan terrarium juga mengacu pada pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Selaras dengan penyataan Bern dan Erickson (dikutip dalam Jamaludin, 2017) yang menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual seperti pembelajaran proyek dapat membantu guru dalam menghubungkan konten materi dengan situasi dunia yang sesungguhnya dan memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan dan aplikasi dalam kehidupan, sehingga siswa dapat menemukan makna dalam proses belajar.

Larmer dan Mergendoller (2012) mengatakan bahwa pembelajaran proyek akan bermakna jika memenuhi dua kriteria. Pertama, siswa harus merasakan bekerja dengan penuh makna sebagai tugas yang penting dan siswa ingin melakukannya dengan baik. Kedua, pembelajaran proyek memenuhi tujuan pendidikan. Pembelajaran proyek yang dirancang dengan baik dan diterapkan dengan baik maka akan bermakna bagi siswa.

Model pembelajaran PjBL menggunakan terrarium yang bermakna membuat siswa kelas eksperimen memperoleh dan menyimpan pengetahuan lebih mendalam serta lebih lama dibandingkan kelas kontrol. Proyek memiliki potensi untuk meningkatkan pemahaman mendalam siswa karena siswa perlu memperoleh dan menerapkan informasi, konsep, dan prinsip, serta proyek memiliki potensi untuk meningkatkan kompetensi berpikir (belajar dan metakognisi) karena siswa butuh untuk menyusun rencana, merekam kemajuan, dan mengevaluasi solusi (Blumenfeld et al., 1991). Hasil penelitian Setyaningrum et al. (2015) menunjukkan bahwa pemahaman konsep siswa tertanam lebih kuat ketika melakukan kegiatan proyek pembuatan miniatur ekosistem sehingga hasil nilai posttest siswa pada kelas eksperimen lebih baik

43 dibandingkan kelas kontrol. Hal ini selaras dengan hasil penelitian Thomas (2000) bahwa pembelajaran proyek dapat meningkatkan pencapaian prestasi akademik, pemahaman yang mendalam terhadap bahan ajar, dan meningkatkan motivasi belajar.

Model pembelajaran PjBL menggunakan terrarium pada akhirnya membuat siswa mampu dan terbiasa untuk melakukan analisis dan sintesis suatu konsep, melakukan proses belajar dan bekerja secara sistematis, melakukan proses berpikir secara kritis untuk memecahkan suatu masalah yang nyata, serta menumbuhkan kemandirian siswa dalam belajar dan bekerja yang nantinya meningkatkan produktivitas siswa. Selain itu, setelah menyelesaikan proyek siswa memiliki pemahaman yang lebih mendalam akan materi, mengingat apa yang mereka pelajari, dan menyimpan pengetahuan lebih lama dibandingkan apabila pembelajaran dilakukan secara biasa (Renaissance Secondary School, tanpa tahun) sehingga siswa menjadi pribadi yang dewasa dan siap memasuki perguruan tinggi ataupun dunia kerja.

Di masa depan, siswa harus memasuki dunia kerja dimana mereka akan dinilai berdasarkan performa mereka. Siswa akan dievaluasi tidak hanya pada apa yang dihasilkan, tetapi juga pada kemampuan kolaborasi, negosiasi, perencanaan dan kemampuan organisasi mereka.

Dengan menerapkan pembelajaran proyek, guru menyiapkan siswa untuk menghadapi abad ke-21 dengan siap siaga karena dibekali beberapa keterampilan yang dapat mereka gunakan secara sukses (Bell, 2010). Hasil ini juga selaras dengan pernyataan Larmer dan Mergendoller (2012) bahwa pada pembelajaran proyek, proyek yang ditugaskan harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun keterampilan abad ke-21 seperti keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas/inovasi yang akan membuat mereka bisa bertahan di dunia kerja dan kehidupan mereka selanjutnya.

SIMPULAN

Penerapan Model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) menggunakan terrarium efektif meningkatkan hasil belajar materi ekologi siswa di kelas eksperimen.

DAFTAR PUSTAKA

Bell, S. (2010). Project-Based Learning for the 21st century: skills for the future. The Clearing House, 83(2), 39-43.

Blumenfeld, P.C., Soloway, E., Marx, R.W., Krajcik, J.S., Guzdial, M. and Palincsar, A. (1991).

Motivating project-based learning : sustaining the doing, supporting the learning. Educational Psychologist, 26(3-4), 369-398.

Jagantara, I.M.W., Adnyana, P.B., dan Widiyanti, N.L.P.M. (2014). Pengaruh model pembelajaran berbasis proyek (project based learning) terhadap hasil belajar biologi ditinjau dari gaya belajar siswa SMA. E-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha

44 Program Studi IPA, 4.

Jamaludin, D.N. (2017). Pengaruh pembelajaran berbasis proyek terhadap kemampuan berpikir kritis dan sikap ilmiah pada materi tumbuhan biji. Genetika (Jurnal Tadris Biologi), 1(1), 17- 41.

Larmer, J. dan Mergendoller, J.R. (2012). 8 essential for project-based learning. USA: Buck Institute for Education.

Nassir, S.M.S. (2014). The Effectiveness of project-based learning strategy on ninth graders’

achievement level and their attitude towards English in governmental schools-North Governorate. Gaza: The Islamic University of Gaza.

Nurwahidah, Andayani, Y., dan Loka, I.N. (2014). Pengaruh model pembelajaran proyek terhadap hasil belajar kimia materi pokok sistem periodik unsur pada siswa kelas X SMAN 1 Mataram Tahun Ajaran 2013/2014. Pijar MIPA, 9(2), 68-72.

Oktavian, C.N. dan Maryani, E. (2015). Penerapan model pembelajaran berbasis proyek untuk mengembangkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan. Pendidikan Geografi, 15(2), 15-30.

Oktaviana, E. (2011). Pengaruh model pembelajaran berbasis proyek dalam pendekatan jelajah alam sekitar terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar materi pengelolaan lingkungan. Skripsi. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Pandia, E.S., Mawardi, dan Sarjani, T.M. (2017). Pelatihan pembuatan terrarium sebagai media belajar miniatur ekosistem bagi guru MGMP SMA Kota Langsa. Proceeding Seminar Nasional Politeknik Negeri Lhokseumawe. 1(1), 285-287.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016. (2016), 1-15.

Santoso, H. (2010). Pembelajaran konstruktivistik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMA, Bioedukasi, 1(1), 1-7.

Setyaningrum, T.W., Rahayu, E.S., dan Setiati, N. (2015). Pembelajaran berbasis proyek pembuatan miniatur ekosistem untuk mengoptimalkan hasil belajar ekologi pada siswa SMA.

Unnes Journal of Biology Education, 4(3), 290-297.

Thomas, J.W. (2000). A Review of Research on Project-Based Learning. http://www.bie.org/

research/study/review_of_project_based_learning_2000.

45

Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning Berbasis Reading-Concept

Garis besar

Dokumen terkait