BAB II KAJIAN TEORI
D. Ekonomi Islam
43
yang lainnya. Tanah, mesin, modal, manajerial yang baik tidak akan bisa menghasilkan suatu barang atau jasa tanpa adanya tenaga kerja.
Faktor-faktor tenaga kerja/pekerja atau karyawan, bisa dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Tenaga kerja berdasarkan kualitasnya, terdiri dari:
1) Tenaga kerja terdidik 2) Tenaga kerja terampil 3) Tenaga kerja kasar
b. Tenaga kerja berdasarkan sifat pekerjaanya, adalah : 1) Tenaga kerja jasmani
2) Tenaga kerja rohani.34
Dalam al-Quran menyerukan kepada setiap muslim agar menginvestasikan tenaga, fikiran, dan waktu melakukan amal shaleh, amal yang produktif dan sangat merugi bagi orang-orang yang menyia- nyiakan waktu, yang malas dan berpangku tangan dan orang yang bekerja tapi tidak menghasilkan manfaat.35
44
sehari-hari, ekonomi sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, oleh karenanya ekonomi merupakan salah satu ilmu yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Selain itu, ekonomi sebagai alat untuk mengukur tingkat kemajuan dalam suatu negara, apakah keadaan ekonomi yang baik atau semakin memburuk. 36
Ekonomi secara umum didefinisikan sebagai hal yang mempelajari perilaku manusia dalam menggunakan sumber daya yang langka untuk memproduksi barang dan jasa yang dibutuhkan manusia.37
Ekonomi dapat diartikan sebagai ilmu tentang mengelola rumah tangga. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup melalui tiga kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi.38 Dari ketiga kegiatan utama tersebut produksi dapat diartikan sebagai pembuat atau penghasil, sedangkan distribusi adalah pemasaran atau penyalur, dan konsumen berarti pemakai atau yang membutuhkan suatu barang yang sudah jadi siap untuk digunakan sesuai kebutuhan.
2. Ekonomi Islam
Ekonomi Islam adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berupaya untuk memandang, menganalisis, dan akhirnya menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi dengan cara-cara yang Islami.
Menurut Abdul Mannan, ekonomi Islam (syariah) merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah ekonomi-ekonomi rakyat
36 Eko Suprayitno, Ekonomi Islam, ( Yogyakarta : GrahaIlmu, 2005), h. 4
37 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI), Ekonomi Islam, Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 2011, h. 14.
38 Lailatis Syarifah, Teori Dasar Ekonomi Mikro Dalam Literatur Islam Klasik, Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, h. 079.
45
yang diilhami oleh nilai-nilai Islam.39 Beberapa ahli mendefinisikan ekonomi syariah sebagai suatu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kerangka syariah Islam. Definisi lain merumuskan bahwa ekonomi syariah adalah ilmu yang memelajari perilaku seseorang muslim dalam suatu masyarakat islam yang dibingkai dengan syariah Islam.40
Dawam Raharjo memilah istilah ekonomi Islam dalam tiga kemungkinan pemaknaan berikut.
1. Ekonomi Islam adalah ilmu ekonomi yang berdasarkan nilai atau ajaran Islam.
2. Ekonomi Islam adalah suatu sistem. Sistem menyangkut pengaturan, yaitu pengaturan kegiatan ekonomi dalam masyarakat atau negara berdasarkan cara atau metode tertentu.
3. Ekonomi Islam dalam pengertian perekonomian umat Islam.41
Ekonomi syariah berbeda dengan ekonomi lainnya seperti ekonomi kapitalis, sosialisme, maupun negara kesejahteraan (Welfare State).
Berbeda dari kapitalisme karena Islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan.
Selain itu, ekonomi dalam kacamata Islam merupakan tuntutan kehidupan sekaligus anjuran yang memiliki dimensi ibadah.42
39 M. Abdul Manan, Teori dan Praktik Ekonomi Islam, (Yogyakarta : Dana Bhakti Prima Yasa, 1997), h.19
40 M. NurRianto Al arif, Teori Makroekonomi Islam,(Bandung: Alfabeta,2010), h. 6
41 M. Nur Rianto Al arif, Pengantar Ekonomi Syariah, (Bandung: Pustaka Setia,2015), h.19
42 Asdar Yusup, Paradigma Kontemporer Ekonomi Islam (Moh Abdul Mannan versus Syed Nawab Haedir Haqvi), Jurnal Universitas Muhammadiyah Allauddin Makasar, Vol. 11, No.
2, 2014, h.219
46
Ekonomi syariah berbeda dengan ekonomi konvensional. Dalam ekonomi Islam, kebutuhan (need) terbatas dengan sumber daya yang tidak terbatas. Sementara ekonomi konvensional menyatakan bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas dengan sumber daya terbatas. Pada dasarnya yang tidak terbatas bukan need (kebutuhan) tetapi want (keinginan). Hal ini menjadikan perbedaan yang mendasar antara ekonomi Islam dan ekonomi konvensional.43
Dalam Islam manusia adalah khalifah dimuka bumi ini. Islam memandang bumi dan segala isinya sebagai amanah dari Allah swt kepada khalifah agar dimanfaatkan sebaik-baik mungkin untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai kesejahteraan bersama. Untuk mencapai tujuan tersebut Allah swt memberikan petunjuk melalui rasul-Nya. Petunjuk tersebut yakni segala sesuatu yang dibutuhkan manusia seperti aqidah, akhlak dan syariah. Begitu juga dalam kegiatan berekonomi, manusia diperintahkan oleh Allah swt agar segala kegiatan ekonomi yang dilakukan dapat berdampak baik dan membawa mashlahah baik untuk dirinya maupun orang lain.
3. Dasar Hukum Ekonomi Islam
Ajaran Islam memberikan jalan tengah yang adil untuk berbagai pasangan, antara dunia dan akhirat, antara idealisme dan fakta, antara rasio dan hati, antara individu dan masyarakat. Ajaran Islam mengacu pada berbagai sumber yang telah ditetapkan. Dasar hukum ekonomi Islam ialah
43 Abdul Ghofur, Pengantar Ekonomi Syariah, (Depok : PT. RajaGrafindo Persada, 2017), h.17
47
berlandaskan pada al-Qur’an dan As-sunah (hadits). Al-Qur’an merupakan sumber utama pengetahuan sekaligus sumber hukum yang memberi inspirasi pengaturan segala aspek kehidupan, sedangkan, as-sunah atau sunnah Rasulullah Saw berarti cara atau kebiasaan yang merujuk pada perbuatan, ucapan dan ketetapan dari Rasulullah Saw.
Ada pun beberapa surat dalam al-Qur’an yang menjadi dasar hukum ekonomi Islam yaitu ali-Imran ayat 32 yaitu:
ٍَيِشِف ََٰكۡنٱ ُّتِحُي َلَ َ َّللَّٱ ٌَِّئَف ْا ۡىَّنَىَت ٌِئَف ََۖلىُسَّشنٱَو َ َّللَّٱ ْاىُعيِطَأ ۡمُق ٢٩
Artinya: Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".44(Q.S. ali-Imran: 32)
Serta ada pula dijelaskan dalam al-Quran surah an-Nissa ayat 29 yang menjadi dasar kegiatan ekonomi Islam.
ىُكَُ ۡيَث ىُكَن ََٰى ۡيَأ ْآىُهُكۡأَت َلَ ْاىَُُياَء ٍَيِزَّنٱ بَهُّيَأ ٰٓ َٰٰ َٰ
ًحَش ََٰجِت ٌَىُكَت ٌَأ ٓ َّلَِإ ِمِطََٰجۡنٱِث
ب ًٗيِحَس ۡىُكِث ٌَبَك َ َّللَّٱ ٌَِّإ ۡۚۡىُكَسُفََأ ْآىُهُتۡقَت َلََو ۡۚۡىُكُِّي ٖضاَشَت ٍَع ٩٢
Artinya: ―Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta-harta kalian di antara kalian dengan cara yang batil, kecuali dengan perdagangan yang kalian saling ridha. Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah itu maha kasih sayang kepada kalian.‖45 (Q.S. an-Nissa’: 29)
Selain itu adapun hadist yang berkaitan dengan hal tersebut yaitu;
44 Al-Qur’an..., h. 42.
45 Departemen Agama RI, al-Qur’an, (Bandung: Alfabeta, 2013), 4
48
Sabda Rasulullah yang Artinya : “Telah aku Tinggalkan untuk kamu semua dua hal yang mana kamu tidak akan tersesat manakala berpegang teguh kepadanya, yaitu kitab Allah dan sunahku‖ (HR. Imam Malik).46 4. Tujuan Ekonomi Islam
Tujuan ekonomi Islam atau syariah ini tidak terlepas dari tuntutan utama kehidupan manusia, yakni menggapai kebahagiaan. Manusia akan memperoleh kebahagiaan ketika seluruh kebutuhan dan keinginannya terpenuhi, baik dari segi aspek material maupun spritual, dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. Terpenuhi kebutuhan yang bersifat material, seperti pangan, sandang dan papan serta kekayaan lainnya.
Terpenuhinya kebutuhan material inilah yang disebut dengan sejahtera.
Dalam upaya mewujudkan kesejahteraan manusia menghadapi kendala pokok yaitu, kurangnya sumber daya yang bisa digunakan untuk mewujudkan kebutuhan tersebut.47
Tujuan ekonomi Islam berdasarkan konsep dasar agama Islam, yaitu seperti tauhid dan berdasarkan rujukan pada Al-qur’an dan Sunnah adalah :
1. Pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang papan, sandang, pangan kesehatan dan pendidikan untuk setiap lapisan masyarakat.
2. Memastikan kesamaan kesempatan bagi semua orang
3. Agar mencegah terjadi pemusatan kekayaan dan meminimalkan ketimpangan dana distribusi pendapatan dan kekayaan dimasyarakat.
46 Rozalinda, Ekonomi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016), h. 8
47 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) UII, Ekonomi Islam, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada,2012), h.1
49
4. Memastikan untuk setiap orang kebebasan untuk mematuhi nilai-nilai moral.
5. Memastikan stabilitas dan juga pertumbuhan ekonomi.48
48 Abdul Ghofur, Pengantar Ekonomi Syariah, (Depok: PT. Rajagrfindo,2017), h. 12-14
50