XVIII
B. Tinjauan Teori 1. Minat
3. Ekonomi Islam
23
2) Perspektif proses bisnis: E-commerce merupakan aplikasi teknologi menuju otomisasi transaksi dan aliran kerja perusahan
3) Perspektif layanan: E-commerce merupakan salah satu alat yang mememnuhi keinginan perusahaan, konsumen dan manajemen dakam memangkas service cost ketika meningkatkan mutu barang dan kecepatan pelayanan.
4) Perspektif layanan: E-commerce berkaitan dengan kapasitas jual beli produk dan informasi di internet dan jasa online lainnya.19
Menurut Chapra, ekonomi Islam adalah sebuah pengetahuan yang membantu upaya relisasi kebahagian manusia melalui alokasi dan distribusi sumber daya yang terbatas dan berada dalam koridor yang mengacu pada pengajaran Islam tanpa memberikan kebebasan individu atau tanpa perilaku makro ekonomi yang berkesinambungan dan tanpa ketidakseimbangan lingkungan.21
Menurut Syed Nawab Haider Naqvi, Ilmu ekonomi Islam, singkatnya merupakan kajian tentang perilaku ekonomi orang Islam representif dalam masyarakat muslim moderen.22
Berdasarkan uraian diatas, disimpulkan bahwa ekonomi Islam merupakan suatu ilmu yang mempelajari serta menganalisis perilaku manusia dalam menyelesaikan permasalahan ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Islam merupakan ajaran Ilahi yang bersifat integral (menyatu) dan komprehensif (mencakup segala aspek kehidupan). Oleh karena itu, Islam harus dilihat dan diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari secara komprehensif pula.
Semua pekerjaan atau aktivitas bisnis dalam Islam, termasuk aktivitas ekonomi, harus tetap dalam bingkai akidah dan syariah. Aktivitas ekonomi dalam bingkai akidah dimaksudkan sebagai usaha yang dilakukan oleh seorang muslim harus diniatkan dalam rangka beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan, kesabaran, serta isti’nah (memohon pertolongan Allah).
Pemahaman Islam mengajarkan bahwa bekerja merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk berusaha semaksimal mungkin melaksanakan semua aturan Islam di segala aspek kehidupan. Demikian puala aspek ekonomi Islam yang
21Mustafa Edwin Nasution dkk, Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam, (Jakarta: Kencana, 2006), h.16
22Syed Nawab Haider Naqvi, Menggagas Ilmu Ekonomi Islam, terjemahan M. Saiful Anam dan Muhammad Ufuqul Mubin, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009)h. 28
25
merupakan bagian ilmu ilmu sosial, tidak terlepas dari konsep-konsep Islam yang harus dilaksanakan dalam bidang tersebut. Hubungan Islam komprehensif dengan ekonomi Islam, yaitu kajian ekonomi Islam mencakup semua aspek muamalah, mu’asyarah, akhlak, dan yang menjadi landasannya adalah aqidah dan ubudiah. 23 b. Dasar Hukum Ekonomi Islam
Sebuah ilmu tentunya memiliki landasan hukum agar dapat dinyatakan sebagai sebuah bagian dari konsep pengetahuan. Demikian pula dengan penerapan syariah di bidang ekonomi bertujuan sebagai transformasi masyarakat yang berbudaya Islami.
Aktivitas ekonomi sering melakukan berbagai bentuk perjanjian. Perjanjian merupakan pengikat antara individu yang melahirkan hak dan kewajiban. Untuk mengatur hubungan antara individu yang mengandung unsur pemenuhan hak dan kewajiban dalam jangka waktu lama, dalam perinsip syariah diwajibakan untuk dibuat secara tertulis yang dimana itu disebut sebagai akad dalam ekonomi Islam.
Ada beberapa hukum yang menjadi landasan pemikiran dan penentuan konsep ekonomi dalam Islam.
Beberapa dasar hukum Islam tersebut diantaranya adalah sebagai berikut : 1) Al-Qur’an
Al-Qur’an memberikan ketentuan-ketentuan hukum muamalat yang sebagian besar berbentuk kaidah-kaidah umum. Seperti beberapa hal yang terdapat dalam Al-Qur’an yang membahas mengenai ekonomi, yaitu larangan memakan harta dengan cara yang tidak sah, seperti suap. Dimana itu terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 188
23Lukman Hakim, Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam, (Surakarta: Erlangga, 2012), h. 3-4.
ْمَأ ْن ِّم ﺎًﻘي ِرَف ۟اﻮُﻠُكْﺄَﺘِل ِﻡﺎَّﻜُﺤْلٱ ﻰَلِإ ٓﺎَهِب ۟اﻮُلْﺪُت َﻭ ِﻞِطََٰﺒْلٱِب مُﻜَﻨْيَب مُﻜَل ََٰﻮْمَأ ۟ا ٓﻮُﻠُكْﺄَت َﻻ َﻭ لٱ ِل ََٰﻮ
َنﻮُمَﻠْﻌَت ْمُﺘنَأ َﻭ ِمْثِ ْلْٱِب ِسﺎَّﻨ Terjemahnya:
“ Dan jangalah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan cara yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu daoat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu ddengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah:188).24
Dalam Q.S An-Nisa ayat 29 juga terdapat ketentuan bahwa perdagangan atas dasar suka rel merupakan salah satu bentuk muamalat yang halal yaitu :
َرَت نَﻋ ًة َر ََٰجِت َنﻮُﻜَت نَأ ٓ َّﻻِإ ِﻞِطََٰﺒْلٱِب مُﻜَﻨْيَب مُﻜَل ََٰﻮْمَأ ۟ا ٓﻮُﻠُكْﺄَت َﻻ ۟اﻮُﻨَماَء َنيِذَّلٱ ﺎَهُّيَﺄََٰٓي ۚ ْمُﻜَسُﻔنَأ ۟ا ٓﻮُﻠُﺘْﻘَت َﻻ َﻭ ۚ ْمُﻜﻨِّم ٍضا
ﺎًمي ِح َر ْمُﻜِب َنﺎَك َ َّللَّٱ َّنِإ Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali suka dinatara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepdamu” (QS. An-Nisa:29).25
2) Hadist
Hadist memberikan ketentuan-ketentuan hukum muamalat yang lebih terperinci daripada Al-Qur’an, hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ad-Daruquthni, dan lainnya dari Sa’id Al-Khudri ra. Bahwa Rasulullah saw bersabda :
Artinya:
“Janganlah merugikan diri sendiri dan Janganlah merugikan orang lain.26 c. Karakteristik Ekonomi Islam
Tidak banyak yang dikemukakan dalam Al-Qur’an dan banyak prinsip-prinsip yang mendasar saja yang membahas tentang bagaimana seharusnya kaum muslimin
24Departemen Agama RI, Al-qur’an dan Terjemahanya
25Departemen Agama RI, Al-qur’an dan Terjemahanya
26 Ibnu Majah , Sunan Ibnu Majah, Juz 2, CD. Maktabah Kutubil Mutun, Seri 4, h. 743
27
berperilaku sebagai konsumen, produsen dan pemilik modal. Ekonomi Syariah menekankan kepada 4 sifat, yaitu:
1) Kesatuan, 2) Keseimbangan, 3) Kebebasan dan 4) Tanggung jawab
Al-Qur’an mendorong umat Islam untuk menguasai dan memanfaatkan sektor-sektor dan kegiatan ekonomi dalam skala yang lebih luas dan komprenshif, seperti perdaganfan, industri, pertanian, keuangan jasa dan sebagainya yang ditujukan untuk kemaslahatan dan kepentingan bersama.27
Sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S Al-Hasyr ayat 7
ﻯِذِل َﻭ ِلﻮُس َّرﻠِل َﻭ ِ َّ ِ َفَلِل َٰﻯ َرُﻘْلٱ ِﻞْﻫَأ ْنِم ۦِﮫِلﻮُس َر َٰﻰَﻠَﻋ ُ َّللَّٱ َءٓﺎَفَأ ٓﺎَّم َﻻ ْﻰَك ِﻞيِﺒَّسلٱ ِنْبٱ َﻭ ِنيِﻜ ََٰسَمْلٱ َﻭ َٰﻰَمََٰﺘَيْلٱ َﻭ َٰﻰَب ْرُﻘْلٱ
۟اﻮُهَﺘنٱَف ُﮫْﻨَﻋ ْمُﻜَٰىَهَن ﺎَم َﻭ ُهﻭُذُﺨَف ُلﻮُس َّرلٱ ُمُﻜَٰىَتاَء ٓﺎَم َﻭ ۚ ْمُﻜﻨِم ِءٓﺎَيِﻨْغَ ْلْٱ َنْيَب ًۢﺔَلﻭُد َنﻮُﻜَي ِبﺎَﻘِﻌْلٱ ُﺪيِﺪََ َ َّللَّٱ َّنِإ ۖ َ َّللَّٱ ۟اﻮُﻘَّتٱ َﻭ ۚ
Terjemahnya:
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota, Maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang- orang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan pa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Amak bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”(QS. Al-Hasyr;17).28
Dalam melakukan kegiatan ekonomi, Al-Qur’an melarang umat Islam mempergunakan cara-cara batil seperti melakukan kegiatan riba, melakukan penipuan, mempermainkan takaran, dan timbangan, berjudi, melakukan praktik suap- menyuap dan cara-cara batil lainnya.
27 Didin Hafidhuddin, Islam Aplikatif, (Jakarta : Gema Insani, Jakarta, 2003), h. 29
28Departemen Agama RI, Al-qur’an dan Terjemahanya
d. Pengertian Bisnis Islam
Menurut Veithzal Rivai & Andi Buchari, Bisnis Islam ialah Serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah kepemilikan (barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi dalam cara memperolehnya dan pedayagunadaan hartanya karena aturan halal dan haram.29
Sedangkan menurut Muhammad Ismail Yusanto, Bisnis Syariah merupakan kegiatan jual beli berlandaskan pada hukum islam. Islam mewajibkan setiap muslim, khususnya yang memiliki tanggungan untuk bekerja. Bekerja merupakan slah satu sebab pokok yang memungkinkan manusia memiliki harta kekayaan.30
e. Prinsip-prinsip Bisnis dalam Ekonomi Islam
Pada dasarnya ekonomi Islam memiliki sifat dasar sebagai ekonom rabbani dan insani, disebut ekonomi rabbani karena syarat dengan arahan dan nilai-nilai ilahiah. Dikatakan ekonomi insani karena sistem ekonomi ini dilaksanakan dan ditujukan untuk kemakmuran manusia.31 Dalam bisnis perspektif ekonomi Islam terdapat beberapa prinsip yaitu sebagai berikut:
1) Dalam bisnis Islam tidak mengandung unsur kedzaliman Sebagaimana firman Allah dal Q.S Al-Baqarah ayat 275
۟ا َٰﻮَب ِّرلٱ َﻡ َّرَح َﻭ َعْيَﺒْلٱ ُ َّللَّٱ َّﻞَحَأ َﻭ
Terjemahnya:
Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
29Veithzal Rivai & Andi Buchari, “ISLAMIC ECONOMICS Ekonomi Syariah bukan Opsi, tapi Solusi” (Jakarta:Bumi Aksara, 2013), h. 234
30Muhammad Ismail Yusanto, Menggagas Bisnis Islam (Jakarta, Gema Insani Pres, 2002), h.
17 31
Veithzal Rivai, Amiur Nuruddin, dan Faisar Ananda Arfan, Islamic Business and Economic Athic, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), h. 94
29
(QS. Al-Baqarah:275). 32
Dalam bisnis Islam tidak mengandung unsur kedzaliman, kegiatan bisnis seperti transaksi dalam perdagangan, Islam tidak membenarkan adanya unsur riba.
Biasanya praktik riba banyak terjadi dalam bisnis keuangan. Kedzaliman merupakan tindakan melampaui batas yang sering terjadi dan digunakan oleh seseorang untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Tindakan dengan melakukan kedzaliman untuk mendapatkan keuntungan ini sering juga disebut dengan
“Machiavellian”yaitu sikap menghalalkan segala cara agar tujuannya dapat tercapai.33 2) Barang yang di jual halal
Kehalalan produk dalam bisnis syariah sangat diperhatikan sekali itu mengacu pada hukum Islam. Minuman keras, narkoba, makanana yang mengandung najis, atau jasa pengiriman barang yang di haramkan tidak boleh di praktikan dalam bisnis syariah. Ini artinya seorang pengusaha hendaknya tidak mempergunakan hartanya kecuali untuk yang diperbolehkan oleh syariat, dan tidak masuk dalam wilayah yang diharamkan. Al-Qur’an telah meletakkan konsep dasar halal dan haram yang berkenaan dengan transaksi dalam hal yang berhubungan dengan akuisisi, disposisi dan semacamnya.34
3) Tidak ada penipuan/bersikap jujur Dalam Q.S Asy Syu’araa ayat 181-183
َﻨي ِرِسْﺨُمْلٱ َنِم ۟اﻮُنﻮُﻜَت َﻻ َﻭ َﻞْيَﻜْلٱ ۟اﻮُف ْﻭَأ ْلٱ ِسﺎَطْسِﻘْلٱِب ۟اﻮُن ِﺯ َﻮ
ِميِﻘَﺘْسُم
َنيِﺪِسْﻔُم ِض ْرَ ْلْٱ ﻰِف ۟ا ْﻮَثْﻌَت َﻻ َﻭ ْمُﻫَءٓﺎَيََْأ َسﺎَّﻨلٱ ۟اﻮُسَﺨْﺒَت َﻻ َﻭ
32Departemen Agama RI, Al-qur’an dan Terjemahanya
33Kasmir dan Jakfar, “Studi Kelayakan Bisnis” (Jakarta: Kencana. 2003), h. 37.
34Mawardi, Ekonomi Islam (Pekanbaru: Alfa Riau Graha Unri Press. 2007). h. 36.
Artinya:
Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan: Dan janganlah dengan timbangan yang lurus; dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.(QS. Asy Syu’Araa:181-183).35
Dalam dunia bisnis tidak terhitung penipuan yang terjadi dalam praktik perdagangan menutupi kecacatan barang. Istilah ghisy dalam bisnis adalah menyembunyikan cacat barang dan mencampur dengan barang-barang yang baik dengan yang jelek. Bisnis berkonsep syariah tidak melakukan praktik-praktik licik semacam itu. Hubungan antara penjual dengan pembeli adalah simbiosis mutualisme (saling menguntungkan).
4) Mengedepankan taawun (tolong menolong) Dalam Q.S Al-Maidah:2
ِبﺎَﻘِﻌْلٱ ُﺪيِﺪََ َ َّللَّٱ َّنِإ ۖ َ َّللَّٱ ۟اﻮُﻘَّتٱ َﻭ ۚ ِن ََٰﻭْﺪُﻌْلٱ َﻭ ِمْثِ ْلْٱ ﻰَﻠَﻋ ۟اﻮُن َﻭﺎَﻌَت َﻻ َﻭ Terjemahnya:
Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajukan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allag amat berat siksaan- Nya.(QS. Al-Maidah:2).36
Dalam Islam, tolong menolonh adalah kewajiban setiap muslim. Sudah semestinya konsep tolong menolong hanya dilakukan dalam lingkup yang sempit.
Tentu saja untuk menjaga agar tolong menolonh ini selalu dalam koridor kebaikan dan takwa diperlukan suatu sistem yang benar-benar sesuai syariah. 37
35Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahanya,
36Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahanya,
37Faisar Ananda Arfa, Perbandingan Ekonomi islam dan Ekonomi Konvensional (Jakarta:
Press, 2003), h. 40.
31
f. Tujuan Bisnis Dalam Islam
1) Keuntungaan materi dan non materi
Tujuan dari dari dilakukannya bisnis yaitu untuk mendapat keuntugan materi namun untuk bisnis dalam Islam tidak hanya keuntungan materi yang hendak di capai melainkan untuk mencapai keuntungan manfaat seperti manfaat kemanusiaan yaitu membukalapangan pekerjaan, atau manfaat yang bersipat ahlak mulia sehingga meciptakan hubungan yang Islami. Dan manfaat spiritual taitu bisis hendaknya dimaksudkan untuk beribada kepada Allah SWT.
2) Pertumbuhan asset dan keuntungan
Bisnis dilakukan unuk menungkatkan pertumbuhan asset dan keuntungan, baik keuntungan materi maupun non materi.Usaha untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis harus sesuai dengan ketentuan syariah.
3) Keberlangsungan (kontinuitas) bisnis
Bisnis dililakukan agar pertumbuhan asset dapat dijaga keberlangsungannya dalam kurun waktu yang cukup lama.Hal ini harus sesuai dengan ketentuan syariah.
4) Keberkahan harta dan keridaan Allah SWT
Bisnis yang dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah tujuan intinya adalah mendapatkan keberkahan harta dan keridhaan Allah SWT.Tujuan keempat ini adalah tujuan fundamental yang membedakan bisnis yang dilandasi oleh syariah dan yang tidak.38
38Arip Purkon, Bisnis Online Syariah, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014) h. 8-10