• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.2 Landasan Teori

2.2.10 Empat Perspektif Balanced Scorecard

Menurut (Dorf & Raitanen, 2005) empat Perspektif dalam Balanced Scorecard yaitu :

1.

Perspektif Keuangan (Financial Perspective).

Balanced scorecard memakai tolak ukur kinerja keuangan seperti laba bersih, tolak ukur tersebut digunakan dalam perusahaan untuk mengetahui keuntungannya. Namun tolak ukur keuangan saja tidak dapat menggambarkan penyebab yang menjadikan perubahan kekayaan yang diciptakan perusahaan atau organisasi, sehingga diperlukanlah tolak ukur pada aspek non-keuangan (Tandiontong & Yoland, 2011). Dalam perspektif keuangan dapat dilakukan pengukuran dengan beberapa aspek diantaranya:

a. Earning Before Interest, Taxes, Despreciation, and Amortization (EBITDA)

EBITDA memiliki arti pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. EBITDA menjadi salah satu cara yang digunakan untuk mengukur performa keuangan perusahaan, karena dapat menunjukkan seberapa banyak laba yang diperoleh perusahaan.

Cara menganalisis EBITDA yaitu dengan melihat apabila semakin besar EBITDA suatu perusahaan, berarti perusahaan tersebut memiliki kategori yang sangat bagus dari sisi profitabilitasnya, Perhitungan EBITDA PT X dilakukan setiap bulan.

Rumus Perhitungan EBITDA (Egam et al., 2018) :

EBITDA = Laba Bersih + Pajak + Bunga + Depresiasi + Amortisasi ……(2.1) b. Return on Asset (ROA)

Return on Asset (ROA) merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menggunakan aset bisnisnya untuk menghasilkan laba atau keuntungan. Return on Asset didapatkan dengan membagi laba bersih dengan total aset. Rasio ini merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan, khususnya dalam profitabilitas perusahaan. Semakin tinggi hasil Return on Asset menunjukkan bahwa perusahaan semakin efektif dalam menghasilkan laba bersih dari aset yang dimilikinya. Adapun rumus dan perhitungan Return On Asset (ROA) adalah sebagai berikut (Egam et al., 2018) :

ROA = Laba Setelah Pajak

Total Aset π‘₯ 100% ……….……….(2.2)

c. Return on Equity (ROE)

Return on Equity (ROE) merupakan rasio yang dapat menunjukkan seberapa besar kontribusi modal dalam menciptakan laba bersih. Return on Equity (ROE) menjadi salah satu unsur yang penting untuk mengetahui sejauh mana perusahaan dapat mengelola modal, apabila hasil Return on Equity semakin besar, maka perusahaan terbukti mampu memanfaatkan modal dengan sebaik-baiknya. Berikut merupakan rumus dalam menghitung ROE (Egam et al., 2018) : ROE = Laba Setelah Pajak

Modal Sendiri π‘₯ 100% ……….……….(2.3) d. Return on Investment (ROI)

Return on Investment (ROI) merupakan rasio untuk mengetahui profitabilitas perusahaan, ROI dijadikan ukuran untuk menilai atas

seberapa besar tingkat pengembalian investasi secara keseluruhan dalam sebuah bisnis perusahaan. Apabila Return on Investment memiliki hasil tinggi berarti menunjukkan adanya efisiensi yang telah dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan. Adapun rumus perhitungan Return on Investment (ROI) adalah sebagai berikut (Muniroh, 2018):

ROI = EBIT+Penyusutan

πΆπ‘Žπ‘π‘–π‘‘π‘Žπ‘™ πΈπ‘šπ‘π‘™π‘œπ‘¦π‘’π‘‘ π‘₯ 100% ………….……….(2.4) Keterangan :

EBIT : Laba sebelum bunga Penyusutan : Depresiasi + Amortisasi Capital Employed : Modal yang digunakan e. Current Ratio

Current Ratio (rasio lancar) adalah rasio likuiditas yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau hutang yang akan segera jatuh tempo. Dengan kata lain untuk mengetahui seberapa besar aktiva lancar yang tersedia untuk menutupi hutang jangka pendek. Yang biasanya digunakan untuk mengukur tingkat keamanan suatu perusahaan. Semakin tinggi nilai current ratio, maka semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam memenuhi hutang jangka pendeknya. Berikut rumus menghitung current ratio (Muniroh, 2018):

Current Ratio = πΆπ‘’π‘Ÿπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘‘ 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑑

πΆπ‘’π‘Ÿπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘‘ πΏπ‘–π‘Žπ‘π‘–π‘™π‘–π‘‘π‘’π‘  π‘₯ 100% ………(2.5) Keterangan :

Current Asset : Aktiva lancar Current Liabilites : Hutang Lancar f. Perputaran Persediaan

Perputaran Persediaan atau Inventory Turn Over merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk menilai lamanya waktu yang diperlukan perusahaan dalam menjual persediannya. Semakin cepat perusahaan dalam menjual persediannya, maka dapat memberikan

dampak yang besar pada laba, karena dapat mengurangi biaya simpannya. Rumus dalam menghitung Perputaran Persediaan adalah sebagai berikut (Gaol, 2015) :

Perputaran Persediaan = Harga Pokok Penjualan

Rataβˆ’Rata Persediaan ……….(2.6) 2. Perspektif Pelanggan (Customer Perspective)

Suatu perusahaan apabila ingin mencapai kinerja keuangan yang superior dalam jangka panjang, perusahaan harus menciptakan dan menyajikan suatu produk atau jasa yang bernilai baik kepada pelanggan (Dorf & Raitanen, 2005). Produk dikatakan bernilai apabila manfaat yang diterima produk lebih tinggi dari pada biaya perolehan (bila kinerja produk semakin mendekati atau bahkan melebihi dari apa yang diharapkan dan dipersepsikan pelanggan).

Tolak ukur kinerja dalam perspektif ini yaitu kelompok pengukuran nilai pelanggan (Customer Value Proposition), dengan pengukuran ini dapat menggambarkan kinerja apa saja yang harus dilakukan perusahaan untuk mencapai tingkat kepuasan, loyalitas, dan akuisisi pelanggan yang tinggi.

Value proposition menggambarkan atribut yang disajikan perusahaan dalam produk/jasa yang dijual untuk menciptakan loyalitas dan kepuasan pelanggan. Kelompok pengukuran nilai pelanggan terdiri dari:

a. Hubungan dengan kepuasan pelanggan, yang meliputi: distribusi produk kepada pelanggan, pemenuhan pesanan, waktu pengiriman, proses komunikasi, cara pegawai dalam melayani pelanggan, harga, cara menyikapi keluhan, serta bagaimana perasaan pelanggan setelah membeli produk/jasa dari perusahaan yang bersangkutan.

b. Citra dan image, yang merupakan kesan, perasaan, gambaran, atau bisa disebut dengan persepsi yang telah direkam pada memori publik atau konsumen dari suatu organisasi. Dengan image perusahaan yang positif, akan memberikan sebuah keunggulan tersendiri yang dapat memudahkan atau meningkatkan daya saing perusahaan. Persepsi ini berhubungan pada nama bisnis, produk, dan kualitas dari sebuah organisasi. Citra perusahaan dapat dinilai dari kualitas produk, harga

produk, kepedulian terhadap pelanggan, keuangan dan tata kelola perusahaan yang baik, sarana yang memadai, serta sumber daya manusia yang dimilikinya.

3. Perspektif Proses Bisnis Internal (Internal Business Process Perspective) Perspektif proses bisnis internal menampilkan proses kritis yang memungkinkan unit bisnis untuk memberi Value Proposition yang mampu menarik dan mempertahankan pelanggannya di segmen pasar yang diinginkan dan memuaskan harapan para pemegang saham melalui financial returns (Tandiontong & Yoland, 2011).

Menurut (Dorf & Raitanen, 2005) proses bisnis internal dapat dilakukan salah satunya melalui peningkatan produksi dan proses inovasi. Proses Inovasi adalah bagian terpenting dalam keseluruhan proses produksi. Tetapi ada juga perusahaan yang menempatkan inovasi di luar proses produksi.

Pada perspektif bisnis internal dapat dilakukan penilaian kinerja perusahaan berdasarkan aspek-aspek berikut :

a. Analisis Produktivitas

Analisis produktivitas dapat diukur dari apa yang dihasilkan oleh perusahaan. Dalam perusahaan agrobisnis, produktivitas dapat diukur berdasarkan pada produktivitas lahan yang ditanami oleh komoditi.

Untuk mengetahui produktivitas lahan digunakan rumus (Rauf et al., 2021) :

Produktivitas = Hasil Produksi

Luas Lahan ………..(2.7)

b. Proses Inovasi

Proses inovasi bisnis merupakan proses penerapan ide baru yang melibatkan pemikiran kreatif untuk meningkatkan strategi bisnis perusahaan.

c. Peningkatan Penjualan

Dalam proses bisnisnya, perusahaan perlu meningkatkan pendapatan penjualan agar dapat mencapai target perusahaan.

4. Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran (Learning and Growth Perspective)

Perspektif ini menggambarkan upaya perusahaan untuk terus menerus melakukan proses-proses untuk pertumbuhan perusahaan. Yang dapat dilakukan perusahaan untuk mencapai pertumbuhan dan pembelajaran yaitu dengan cara :

a. Pengembangan Talenta Pegawai

Pengembangan talenta pegawai dapat dilakukan dengan melakukan pelatihan yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan pegawai.

b. Capaian IT Maturity Level

Penilaian IT Maturity Level perusahaan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana proses-proses teknologi informasi yang dikelola oleh perusahaan, berdasarkan standar/framework tata kelola teknologi informasi. IT Maturity Level dapat dilakukan perhitungan dengan cara (Haryanto et al., 2021) :

Dokumen terkait