• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL STUDI KASUS

A. Hasil Studi Kasus

7. Evaluasi keperawatan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada An. R.L hasil evaluasi sebagai berikut: Evaluasi pada hari senin, 20 Juni 2022

23

Diagnosa I nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis jam 13.15, S: pasien mengatakan masih merasakan nyeri, O: tanda-tanda vital Td: 110/70mmHg, N.98x/menit. S:36.4, RR: 20x/menit, keadaan umum: pasien masih meringis kesakitan, skala nyeri 5, wajah pucat, konjungtiva anemis, terlihat memegang abdomen bagian kanan bawah. A: masalah belum teratasi, P: Lanjutkan Intervensi, diagnosa II Risiko Defisit Nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan. Jam 13.30 S: Pasien mengatakan merasa mual O: Pasien tampak lemas A: Masalah belum teratasi P: Lanjutkan Intervensi, dan diagnosa III Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi jam 13.45 S:

pasien dan keluarga mengatakan tidak mengerti tentang penyakit yang dialami pasien. O: pasien tidak mampu menjawab pertanyaan yang diberikan, wajah terlihat bingung saat ditanya. A: masalah belum teratasi. P: lanjutkan intervensi.

Pada Selasa tanggal 21 Juni 2022, Diagnosa I nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis jam 09.00, S: pasien mengatakan nyeri berkurang, O: tanda-tanda vital Td:

103/75mmHg, N.65x/menit. S:36.5°C, RR: 20x/menit, SPO 99%

keadaan umum: wajah tidak tampak meringis kesakitan, skala nyeri 4 (1-10), konjungtiva anemis. A: masalah belum teratasi, P:

Lanjutkan intervensi, Diagnosa II Risiko Defisit Nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan. Jam 09.30 S: Pasien mengatakan muntah 2 kali dan memahami edukasi yang disampaikan O: Pasien tampak kooperatif A: Masalah belum teratasi P: Lanjutkan Intervensi, dan Diagnosa III Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi jam 10.10 S:

pasien dan keluarga mengatakan dapat menjawab pertanyaan yang ajukan O: pasien mampu menjawab pertanyaan yang diberikan, tidak terlihat bingung saat ditanya. A: masalah teratasi. P: Intervensi dihentikan

24

Pada Rabu Tanggal 22 Juni 2022, Diagnosa I nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis jam 14.00, S: pasien mengatakan nyeri berkurang, O: tanda-tanda vital Td:

95/68mmHg, N.75x/menit. S:36.5°C, RR: 20x/menit, SPO 98%

keadaan umum: wajah tidak tampak meringis kesakitan, skala nyeri 3 (1-10), konjungtiva anemis. A: masalah belum teratasi, P:

Intervensi dihentikan, Diagnosa II Risiko Defisit Nutrisi

berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan. Jam 14.20 S: Pasien mengatakan sudah tidak mual dan makan sesuai porsi yang dianjurkan O: Pasien tampak kooperatif A: Masalah teratasi tujuan tercapai P: Hentikan Intervensi, dan diagnosa III Defisit pengetahuan, S: pasien mengatakan memahami informasi yang telah disampaikan sebelumnya, O: Pasien dan keluarga bisa menjelaskan kembali informasi yang telah disampaikan, A: Tujuan tercapai masalah teratasi, P: Intervensi dihentikan.

25

BAB IV PEMBAHASAN

Pembahasan ini menggambarkan kesenjangan dan keselarasan kasus aktual dengan tinjauan pustaka. Pembahasan ini menganalisa proses pemberian asuhan keperawatan dimulai dari pengkajian dan pemeriksaan, penegakkan masalah keperawatan, intervensi, implementasi perencanaan hingga penilaian akhir menggunakan SOAP.

A. Pengkajian

Menurut V. Wiratna Sujarweni (2018), asal objek penelitian disebut sumber data. Di Karya Tulis Ilmiah ini, diperoleh informasi dari pasien dan keluarganya serta rekam medis pasien yaitu pasien berinisial An. S, jenis kelamin perempuan, beragama Islam, suku Banjar dan berdomisili di Banjabaru, tanggal dirawat 19 Juni 2022 pada jam 09.00 WITA. Tanggal Pengkajian 19 Juni 2022. Keluhan utama An.

S nyeri terasa seperti ditusuk dengan benda tajam dengan skala nyeri 5 (0-10) di abdomen.

Menurut Wedjo (2019), manifestasi yang pertama adalah nyeri atau rasa tidak nyaman di area pusar, diiringi dengan hilangnya nafsu makan, mual yang berlangsung kurang dari 3 hari, nyeri area panggul, pinggang, dan kekuan otot bisa saja terjadi. Sejalan dengan kasus di mana An. S yang mengeluhkan tidak nafsu makan, mual muntah kurang lebih sepuluh kali dan nyeri pada perut kanan bawah pada skala 5 akan tetapi pada anak usia 15 tahun meringis sampai menangis skala 5 dianggap kurang tepat karena anak usia 15 tahun seharusnya memiliki toileransi lebih tinggi terhadap rasa sakit diabnding amnak usia 10 tahun kebawah yang memang rentan menangis untuk penhgkajian skala seharusnya tidak hanya bersifat subjektif dari pasien tetapi perlu ada penilaian objektif dari penulis, maka diagnosis utama menurut teori SDKI adalah nyeri akut yang berhubungan dengan faktor biologis dari cedera tersebut. Hasil penelitian tersebut secara teoritis mengungkapkan beberapa tanda dan gejala, yaitu: malaise, takikardia, anoreksia, mual/muntah. Dalam kasus An. S. terdapat mual, muntah dan malaise, tapi tidak ada takikardia. Pada penderita apendisitis, mual dan muntah disebabkan oleh

26

peradangan pada apendiks yang menyebabkan peregangan pada lapisan apendiks akibat peningkatan produksi asam lambung oleh sel parietal lambung. Gangguan pada sistem gastrointestinal seperti mual merupakan hasil peningkatan tekanan intrakranial pada usus buntu. Untuk kecemasan biasanya akan mengakibatkan takikardi, sedangkan pada kasus klien tidak merasakan takikardia dan juga cemas.

B. Masalah keperawatan

Berdasarkan SDKI (2017), ada dua kemungkinan kondisi diagnosis: Untuk diagnosis pre-operatif ada nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisiologis (proses inflamasi appendiks), Risiko defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan (muntah), hipertemia berhubungan dengan proses infeksi, ansietas, defisit pengetahuan dan risiko hipovolemia. Untuk diagnosa post operatif sendiri ada Nyeri akut yang berhubungan dengan agen cedera fisik (pembedahan), intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan gerakan terbatas karena rasa sakit, dan risiko infeksi yang tinggi terkait dengan prosedur operasi usus buntu invasif. Pada kasus ini penulis berfokus mengangkat diagnosa keperawatan Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (proses inflamasi) karena pasien mengeluhkan nyeri pada perut kanan bawah dengan skala nyeri 5 dan pasien juga tampak meringis kesakitan, dimana kondisi ini disebabkan karena proses infeksi yang terjadi di appendiks. Kedua, penulis mengangkat risiko defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan sebagai diagnosa tambahan berdasarkan keluhan pasien mual, muntah dan kehilangan nafsu makan serta diagnosa sekunder lainnya yaitu defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi, diangkat dengan pertimbangan pasien dan keluarganya mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui atau memahami penyakit pasien dari definisi, penyebab dan tanda gejala appendisitis saat dilakukan pengkajian.

Adapun kemungkinan diagnosis lainnya berdasarkan teori SDKI baik pada fase pre-operatif maupun post-operatif yaitu hipertemia tidak di angkat sebagai diagnosa pada kasus ini karena pada saat pemberian asuhan keperawatan, suhu tubuh pasien terpantau normal. Untuk intoleransi aktivitas dengan keterbatasan

27

gerak sekunder yang berhubungan dengan rasa sakit, penulis tidak membuat diagnosis ini karena klien tampak dapat bergerak bebas terbatas karena tidak melalui proses pembedahan dan nyeri yang dirasakan hilang timbul. Terakhir, risiko infeksi yang berhubungan dengan prosedur invasif, penulis tidak mengangkat diagnosis tersebut karena tidak ada bekas luka pasca bedah selama penelitian. Dalam hal ini, pasien masih dalam masa pengobatan konservatif. Selain itu, tinjauan sistematis tahun 2019, yang membandingkan usus buntu dengan pengobatan konservatif pada anak-anak dengan radang usus buntu tanpa komplikasi, menunjukkan bahwa pengelolaan non-operasi (penyembuhan dalam 2 minggu setelah intervensi) berhasil pada 58-100% kasus, dengan 0,1 –31,8%

kekambuhan dalam 1 tahun.

C. Intervensi

Menurut SIKI (2018) dan SLKI (2019), rencana perawatan adalah tinjauan intensitas nyeri, yang tujuannya adalah untuk mengidentifikasi indikator yang berkemungkinan diandalkan untuk meringankan rasa sakit yang dirasakan oleh pasien selama perawatan yaitu manajemen nyeri untuk mengatasi masalah keperawatan utama dengan kriteria berikut: Pasien tidak meringis, wajah pasien rileks, skala nyeri berkurang dari 5 menjadi 3 (nyeri ringan). Sesuai dengan teori bahwa merumuskan rencana tidakan keperawatan adalah kegiatan spesifik untuk membantu pasien dalam mencapai tujuan dan kriteria hasil, adatipe rencana tindakan keperawatan yaitu observasi, terapeutik dan nursing treatment, penyuluhan atau pendidikan kesehatan, rujukan atau kolaborasi. Rasional adalah dasar pemikiran atau alasan ilmiah yang mendasari ditetapkan rencana tindakan keperawatan (Rohmah, 2012). Untuk intervensi tambahan dari diagnosa sekunder juga terdapat keselarasan antara teori dimana saat memberikan edukasi kepada pasien lebih efektif ketika dilakukan dengan teknik komunikasi efektif tanpa terlalu banyak melibatkan bahasa medis. Serta manajemen muntah untuk penanganan diagnosa defisit nutrisi.

28

D. Implementasi keperawatan

Implementasi merupakan penerapan dari rencana keperawatan yang telah disusun sebelumnya. Untuk mencapai tujuan dan kriteria hasil pada kasus An. S, dilakukan asuhan sebagai berikut: mengkaji secara komprehensif lokasi, durasi, frekuensi, karakteristik, kualitas, dan faktor penyebab munculnya nyeri menggunakan PQRST. Tujuannya untuk menentukan penanganan yang tepat terkait terapi farmakalogi dan non farmakologi, serta penegakkan diagnosa sekunder. Di bagian implementasi dari manajemen nyeri menjadi kurang tepat mengingat skala dan golongan nyeri klien termasuk sebagai nyeri kategori berat, maka seharusnya untuk intervensi dan implementasinya berfokus pada bantuan analgesik sudah dan terapi non farmakologis sebagai intervensi sekunder dari diagnosa tersebut. Kemudian seharusnya ada jarak antara pemberian analgesik dengan pemberian terapi relaksasi napas dalam untuk mengetahui seberapa efektif salah satu dari kedua tindakan tersebut. Kedua, mengatur posisi yang nyaman untuk pasien agar ketegangan otot berkurang dan pasien merasa rileks sehingga tidak memperparah nyeri. Selanjutnya, sebagai langkah tindakan mandiri di samping kolaborasi pemberian analgetik, mengajarkan terapi non farmakologi berupa tarikan nafas dalam dan imajinasi terbimbing juga dinilai efektif pada kasus ini. Dalam kasus An. S Intervensi dilaksanakan dan dievaluasi selama tiga hari (Senin 20 Juni 2022 - Rabu 22 Mei 2022)

E. Evaluasi keperawatan

Sebagai langkah terakhir dalam proses pengobatan adalah penilaian akhir untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari asuhan yang telah diberikan.

Hari 1 Hari 2 Hari 3

Skala Nyeri 5 (kategori nyeri sedang)

Skala nyeri 4 (Kategori nyeri sedang)

Skala 3

(Kategori nyeri ringan) Mual muntah 10 kali Muntah 2 kali, mual Mual, tidak ada muntah Pasien dan keluarga

tidak memahami terkait definisi, penyebab, cara

Pasien dan keluarga memahami penjelasan

Pasien dan keluarga dapat menjelaskan

29

mengatasi penyakit pasien

yang disampaikan terkait penyakit pasien

kembali terkait appendisitis

30

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Appendisitis akut adalah peradangan pada appendiks yang disebabkan peningkatan intrakranial pada appendiks, umumnya ditandai dengan adanya nyeri yang terlokalisir dan gejala gangguan sistem gastrointestinal. Terkait penanganannya umumya dilakukan proses pembedahan, tetapi untuk appendisitis akut tanpa komplikasi masih bisa dilakukan terapi konservatif menggunakan antibiotik.

Hasil pengkajian dan pemeriksaan fisik diperoleh data pasien berinisial An.

S berjenis kelamin perempuan berusia 15 tahun, menganut agama Islam, suku Banjar, tinggal di Banjarbaru, tanggal MRS 19 Juni 2022 pukul 09.00 WITA.

Dengan fokus masalah keperawatan utama yaitu Nyeri Akut pada appendicitis acute. S berhubungan dengan agen cedera fisiologis (proses inflamasi appendiks), Risiko Defisit Nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan (muntah), Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi (SDKI, 2017) Manajemen nyeri sebagai fokus intervensi.

Per tanggal 20-22 Juni 2022 disusun penilaian harian dari setiap masalah keperawatan sebagai indikator berhasil tidaknya asuhan yang diberikan. Pada tanggal 22 Juni 2022, intervensi dihentikan karena berdasarkan hasil evaluasi, tiga dari tiga masalah keperawatan yang di angkat sudah terselesaikan.

B. Saran

1. Bagi institut RSI Sultan Agung Banjarbaru, diharapkan bisa terus mendukung penelitian mahasiswa dalam penyediaan lahan belajar agar mahasiswa yang berkecimpung di kesehatan mendapat pandangan konkret tidak hanya dalam bentuk teoritis.

31

2. Bagi perawat, diharapkan bisa lebih cermat dalam penyusunan intervensi agar asuhan yang dilakukan bisa tepat sasaran dalam penyelesaian kasus khususnya appendisitis.

3. Bagi institusi pendidikan, diharapkan dapat menyediakan lebih banyak media literatur terkait terapi konservatif pada anak dengan Appendisitis.

4. Bagi pasien dan keluarga, diharapkan meningkatkan kemampuan mengambil keputusan dan pemanfaatan fasilitas kesehatan jika merasakan gejala-gejala appendisitis sebagai usaha preventif penurunan kasus bedah darurat radang usus buntu.

32

DAFTAR PUSTAKA

Amin huda nurarif, & Hardhi kusuma, (2015). aplikasi asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa medis dan nanda nic noc (jilid 3). penerbit mediaction jogja.

Bhangu A, Soreide K, Di Saverio S, Assarsson JH, Drake FT. Acute appendicitis:

Modern understanding of pathogenesis, diagnosis, and management.

Lancet. 2015;386(10000):1278-1287. DOI: 10.1016/S0140- 6736(15)00275-5

Di Saverio S, Podda M, De Simone B, Ceresoli M, Augustin G, Gori A, et al.

Diagnosis and treatment of acute appendicitis: 2020 update of the WSES Jerusalem guidelines. World Journal of Emergency Surgery. 2020;15(1):27.

DOI: 10.1186/s13017-020-00306-3

Elizabeth J. Corwin. (2011). Buku Saku Patofisiologi

Erwin Hidayat (2020). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Appendisitis Yang Dirawat Di Rumah Sakit

Goleman, daniel; boyatzis, Richard; Mckee, A. (2019). Kebiasaan Konsumsi Makanan Cepat Saji Pada Siswa Kelas Viii Smp Negeri 1 Yogyakarta.

Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1689–1699.

doi/10.1017/CBO9781107415324.004

Huang L, Yin Y, Yang L, Wang C, Li Y, Zhou Z. Comparison of antibiotic therapy and appendectomy for acute uncomplicated appendicitis in children: A meta-analysis. JAMA Pediatrics. 2017;171(5):426-434.

DOI: 10.1001/jamapediatrics.2017.0057

Hartawan, I.G.N Bagus Rai Mulya., Ekawati, Ni Putu., Saputra, Herman., Dewi, I.

G. A. S. M. (2020). Karakteristik Kasus Apendisitis di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali Tahun 2018. Jurnal Medika Udayana, 9(10),

33

6–10. Retrieved

fromhttps://ocs.unud.ac.id/index.php/eum/article/view/67019/37307 Mansjoer, A. (2011). Kapita Selekta Kedokteran (ketiga jil). Jakarta.

Putri, L. (2021). Buku Asuhan Keperawatan Anak (M. Ardila (ed.)).

PPNI, Tim Pokja SDKI DPP. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia . PPNI, Tim Pokja SIKI DPP. (2018). Standarn Intervensi Keperawatan IIndonesia.

PPNI, Tim Pokja SLKI DPP. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indinesia.

Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia

Rasubala. (2017). Pengaruh Teknik Relaksasi Benson Terhadap Skala Nyeri pada Klien Post Operasi di RSUP. PROF. dr. R.D. Kandou dan RS Tk. III R.W.

Monginsidi Teling Manado.

Sallinen V, Akl EA, You JJ, Agarwal A, Shoucair S, Vadvik PO, et al. Meta- analysis of antibiotics versus appendicectomy for non-perforated acute appendicitis. British Journal of Surgery. 2016;103(6):656-667.

DOI: 10.1002/bjs.10147

Snyder MJ, Guthrie M, Cagle S. Acute appendicitis: Efficient diagnosis and management. Am Fam Physician. 2018;98(1):25-33

Sofiah, W. (2017). Asuhan Keperawatan Klien Yang Mengalami Post Op

Thomas, G. A., Lahunduitan, I., & Tangkilisan, A. (2016). Angka Kejadian Apendisitis Di Rsup Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Oktober 2012

–September 2015. E-CliniC, 4(1).

https://doi.org/10.35790/ecl.4.1.2016.10960

Viniol A, Keunecke C, Biroga T, Stadje R, Dornieden K, Bosner S, et al. Studies of the symptom abdominal pain—A systematic review and metaanalysis.

Family Practice. 2014;31(5): 517-529. DOI: 10.1093/famp

Dokumen terkait