sebenarnya apa itu pergaulan bebas? Pergaulan bebas merupakan cara berteman tanpa batas, baik dalam berbicara, berperilaku dan sebagainya. Sayangnya cara ini lebih sering mendatangkan dampak negatif. Pergaulan bebas yang lebih banyak terjadi pada laki-laki dan perempuan.
Pergaulan antara laki-laki dan perempuan dibagi menjadi tiga bentuk. Pertama, pergaulan antara laki-laki dengan perempuan mahramnya, yang demikian ini jelas dibolehkan.
Kedua, pergaulan antara laki-laki dengan perempuan yang bukan mahram sangat berbahaya karena akan menimbulkan fitnah, hal ini jelas diharamkan. Ketiga, pergaulan yang bercampu baur antara laki-laki dengan perempuan di lembaga pendidikan, di perkantoran, di rumah sakit, serta pada acara-acara resepsi dll. Pada poin ketiga ini terdapat perbedaan pendapat, sebagian orang berpendapat bahwa hal tersebut tidak mengundang fitnah baik bagi laki-laki maupun perempuan asal sesuai dengan syariat dan tujuan yang baik.
Sedangkan sebagian yang lain berpendapat hal tersebut dapat mengundang fitnah.
Dari beberapa istilah pergaulan di atas, maka dapat dipahami bahwa boleh saja bergaul antara laki-laki dengan perempuan dalam hal-hal yang positif, dan tetap harus menjaga etika pergaulan. Kemudian harus menghindari pergaulan yang berdua-duaan dengan lawan jenis. Hal ini biasa terjadi pada anak remaja yang sudah mulai memasuki usia balig. Biasanya amat senang untuk berkumpul dan bersosialisasi dengan teman-temanya (laki-laki/perempuan). Namun seiring dengan perkembangan zaman, pada usia seperti itu menjadi tidak terkontrol sehingga menimbulkan dampak negatif pergaulan bebas pada anak remaja. Adapun penyebab terjadinya pergaulan bebas ada lima faktor;
Faktor orang tua yakni orang tua yang kurang baik dan sering konflik di dalam rumah tangganya, disebabkan kedangkalan pemahaman agama dan iman. Maka dari itu, suatu kewajiban bagi umat Islam untuk selalu menambah pemahaman agamanya dan mengamalkan ilmu agama yang ia pahami sehingga nantinya keimanan secara otomatis akan bertambah.
Apabila iman bertambah, maka bertambah pula ketenangan dalam rumah tangga sehingga terwujud ketenteraman, kedamaian dan kesejahteraan. Iman pada hakikatnya adalah kebutuhan batin manusia atau bisa dikatakan makanan lezatnya roh. Jadi, apabila iman dangkal atau kuran bahkan tidak ada, maka diibaratkan jasad yang sudah lama tidak mendapatkan makanan. Demikianlah gambaran seseorang yang tidak pernah memperhatikan kebutuhan rohaninya sehingga tampak dalam kehidupan sehari-hari keresahan, kegalauan, kesusahan dan sebagainya.
Faktor lingkungan yakni lingkungan akan memengaruhi anak remaja untuk melakukan pergaulan bebas atau hal-hal yang negatif lainnya, jika lingkungannya tidak sehat. Tetapi apabila lingkungan sehat, anak remaja akan malu melakukan hal-hal yang negatif karena terdapat hukum atau norma yang tidak tertulis di lingkungan tersebut. Lalu, bagaimana cara untuk mewujudkan lingkungan yang sehat?, Adapun cara untuk mewujudkan lingkungan yang sehat yaitu; a) Membangun sistem pada lingkungan tersebut sesuai dengan kesepakatan masyarakat setempat. b) Menjaga ukhuah Islamiah.
c) Mendirikan majlis ilmu. d) bergotong royong. e) Kerjasama yang baik antara pemerintah dengan masyarakatnya.
f) Menjadikan budaya 3.S (sipakatau, sipakalebbi, sipakaraja saling menghargai, memuliakan dan saling menghormati.
Faktor pengaruh media massa yang terus menjamur dikalangan masyarakat, sehingga sangat cepat informasi negatif sampai pada anak remaja. Seiring dengan perkembangan zaman, maka kita tidak bisa lagi membendungnya kecuali dengan kesadaran masing-masing. Lalu, apa yang harus kita lakukan agar supaya tidak terpengaruh pada hal-hal yang negatif? Adapun perilaku yang harus kita biasakan adalah sebagai berikut; a) Gantung wudhu maksudnya harus selalu ada air wudhunya. b) Langgengkan Istighfar
(هيلا بوتاو ميظعلا الله رفغتسا)iminimal 100x setiap waktu. c) Selalu membaca Al-Qur’an. d) Berdzikir sepanjang masa ( اللهلا هلال).
e) Berkumpul dengan orang-orang yang saleh. f) Rajin shalat berjama’ah.
Faktor lemahnya pendidikan agama Islam pada anak remaja, dan tampak jelas bahwa jam pelajaran pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah umum sangat kurang.
Sehingga peserta didik mengira bahwa pendidikan agama Islam tidak terlalu penting. Hal ini merupakan kekeliruan besar terhadap pemangku kebijakan, maka wajarlah kalau akhlak tercela terjadi pada anak remaja. Lalu apa solusinya karena sudah terlanjur seperti ini sekarang? Adapun solusinya adalah sistem pendidikan ala pesantren yakni peserta didik harus di asramakan dan tinggal di dalam pondok bersama dengan kiyainya.
Faktor ekonomi keluarga yakni lemahnya ekonomi keluarga contohnya anak yang putus sekolah karena ekonomi keluarga yang rendah membuat perilaku sang anak menjadi tambah parah.
Dari beberapa faktor penyebab terjadinya pergaulan bebas di atas, maka langkah-langkah yang harus ditempuh untuk dapat memperbaikinya adalah; a) memperbaiki cara pandang atau pola pikir, b) jujur pada diri sendiri, c) menjaga keseimbangan pola hidup, d) banyak beraktivitas secara positif, e) berpikir tentang masa depan, f) mengurangi menonton TV yang mengandung unsur seksual dan kekerasan, g) selalu membaca buku-buku yang memberikan motivasi yang baik, h) berkomunikasi dengan baik kepada sesama manusia, i) menegakkan aturan hukum positif dan memperlakukan hukum syariat pada diri sendiri. Di dalam Islam, dikenal adanya syariat atau hukum Islam yaitu ketentuan berupa perintah, anjuran, dan larangan Allah Swt yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al- Hadis, Allah Swt, telah berfirman, QS. Al-Imran/3: 138
١٣٨ َنيِقَّتُمۡلِّل ٞةَظِع ۡوَم َو ىٗدُه َو ِساَّنلِّل ٞناَيَب اَذَٰه
Terjemahnya:
Al-Qur’an ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
(QS. Al-Imran/3 : 138)
Di dalam hukum Islam telah diatur segala aspek kehidupan
manusia mulai dari bab thahara sampai tata cara bergaul kepada sesama manusia. Intinya bahwa hukum Islam itu tidak merugikan segala aspek kehidupan manusia, hanya sebahagian umat manusia belum memahami hakikat hukum Islam. Pada prinsipnya adalah apabila hukum Islam tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya, maka pasti akan selalu berhadapan dengan berbagai macam persoalan dan permasalahan hidup.
Allah Swt, menurunkan hukum Islam melalui Al-Qur’an, karena adanya manusia di dunia. Al-Qur’an adalah petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia. Apabila manusia jauh dari petunjuk hidupnya maka sama halnya ia membinatangkan dirinya. Salah satu contoh, dengan menyebut “kampret” atau
“cebong” selain dari itu, suka mengolok-olok orang lain. Allah Swt, telah berfirman dalam QS. Al-Hujurat/49: 11
ٰٓىَسَع ٍم ۡوَق نِّم ٞم ۡوَق ۡرَخۡسَي َل ْاوُنَماَء َنيِذَّلٱ اَهُّيَأَٰٓي نَأ ٰٓىَسَع ٍءٓاَسِّن نِّم ٞءٓاَسِن َل َو ۡمُهۡنِّم ا ٗرۡيَخ ْاوُنوُكَي نَأ
ْاوُزَباَنَت َل َو ۡمُكَسُفنَأ ْا ٓوُزِمۡلَت َلَو َّۖنُهۡنِّم ا ٗرۡيَخ َّنُكَي
ۡمَّل نَم َو ِۚن َٰميِ ۡلإٱ َدۡعَب ُقوُسُفۡلٱ ُمۡسِلٱ َسۡئِب ِۖبَٰقۡلَ ۡلٱِب ١١ َنوُمِلَّٰظلٱ ُمُه َكِئَٰٓل ْوُأَف ۡبُتَي
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka, dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik, dan janganlah suka mencela dirimu sendiri, dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan, seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
(QS. Al-Hujurat/49: 11)
Ayat di atas, telah mengingatkan kepada kita semua bahwa sebaiknya pergaulan di antara orang-orang beriman, di dalamnya terdapat hal-hal diperingatkan Allah agar kaum
beriman menjauhinya karena dapat merusak persaudaraan diantara mereka. Misalnya, mengolok-olok orang lain, mengejek diri sendiri dan memanggil orang lain dengan gelar yang buruk. Jadi intinya, seseorang mengolok-olok ialah menganggap rendah derajat orang lain, meremehkannya dan mengingatkan cela-cela dan kekurangan-kekurangan dengan cara yang dapat menyebabkan ketawa, hal seperti ini tidak dibernarkan dalam agama. Oleh karena itu, marilah kita saling menghargai, menghormati dan saling menjaga perasaan dari segala ketersinggungan hati.
Dalam membangun pergaulan di antara sesama manusia, sangatlah dianjurkan untuk saling menghargai dan menghormati diantara sesama, karena sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari yakni hidup menjadi rukun, damai, tenteram, tidak ada permusuhan, bahkan kebersamaan semakin meningkat.
Hidup bersama dengan sesama manusia merupakan naluri dasar manusia. Aristoteles (322-384 SM) mengatakan bahwa manusia pada hakikatnya adalah zoon politicon, artinya manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial tidak mungkin dapat hidup tanpa bermasyarakat. Manusia yang selalu hidup di tengah-tengah dan dalam pergaulan dengan sesama manusia merupakan pembawaan manusia. Perilaku sosial ini dikukuhkan Allah dengan sebutan hablum minannas, bersama dengan tauhid ubudiyah sebagai hablum minallah menjadikan manusia sebagai makhluk mulia.
Namun perlu diketahui tentang pilosofi hidup binatang yaitu,” 1 ekor ayam tambah 1 ekor musang sama dengan 1 ekor musang, dimana ayamnya?, jawab dimakan musang”.
Maksudnya, jika seseorang ingin bergaul dengan orang lain, maka harus pandai melihat dan mengamati teman pergaulannya jangan sampai nanti kita dimakan. Demikianlah keadaan hidup manusia di zaman modern ini. Itulah sebabnya sehingga Allah Swt, mengingatkan kepada kita semua dalam QS. At-Taubah/9: 119
َعَم ْاوُنوُك َو َ َّللٱ ْاوُقَّتٱ ْاوُنَماَء َنيِذَّلٱ اَهُّيَأَٰٓي
١١٩ َنيِقِد َّٰصلٱ
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS.
At-Taubah/9: 119).
Ayat di atas menegaskan untuk selalu bersama orang-orang yang benar yakni orang yang jujur dalam seluruh perkataan, perbuatan dan keadaan. Karena Islam adalah agama yang mulia mengajarkan kepada seluruh pengikutnya untuk selalu jujur dalam semua keadaan. Islam juga mengharamkan sifat dusta dan mencela perbuatan yang tidak baik. Rasulullah Saw telah bersabda;