HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
3. Faktor Pendukung
Pencegahan khusus tersebut akan dapat memberikan efek jera pada sipelaku, dan pencegahan umum dapat berpengaruh secara psikologi terhadap masyarakat agar tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh undang-undang (hukum). memiliki fungsi untuk menegakan wibawa pemerintah, menegakan norma dan membentuk norma, jadi dengan demikian penerapan hukum terutama bagi penegak hukum yang melanggar akan memiliki efek yang strategis bagi ketaatan masyarakat terhadap hukum, oleh karenanya hal tersebut harus dilakukan secara serius.
dasar itulah maka ada beberapa prasyarat ideal pula yang mesti dijalankan oleh Polri di era demokrasi antara lain, pekerjaan Polri adalah untuk kepentingan dan ketentraman masyarakat. Dalam hal ini maka Polri dituntut untuk bekerja secara profesional, perlu digaris bawahi bahwa cara kerja Polri adalah mengutamakan hukum bukan untuk kepentingan atasan atau kepentingan politik. Polri juga tunduk pada aturan hukum, bahwa pelanggaran hukum yang dilakukan oleh anggota Polri harus diajukan ke pengadilan umum, untuk meningkatkan kinerja anggota Polri sistem penggajian yang baru termasuk remunerasi juga akan berlaku bagi anggota Polri.
Dalam wawancara dengan waka Polres Pangkep Kompol Syukri Abham tentang dorongan politik menyatakan:
“Bahwa sentraisasi organisasi Kepolisian yang disertai luasnya fungsi sebagai penegak hukum, pembina kamtibmas dan pelayan masyarakat dengan pemberian wewenang yang cukup besar oleh UU serta posisinya di bawah Presiden tanpa ada kontrol publik yang kuat, maka dalam konteks pemerintahan hal itu akan menciptakan kemandirian dan mampu mengemban tugas dengan berbagai macam masalah dalam masyarakat yang harus ditanggulangi termasuk dampak dari pembangunan”.
(wawancara 9 Oktober 2019).
Bahwa konstitusi juga belum mengatur secara teknis di mana kedudukan Polri apakah di bawah Presiden langsung atau di bawah Departemen .Di satu pihak kelebihan kedudukan Polri yang di bawah Presiden adalah kedudukan yang semestinya yaitu dimasukkan dalam lingkungan komunitas hukum atau komunitas pemerintahan tanpa adanya kekhawatiran intervensi secara politis. Selain itu jika Polri
tetap ditempatkan di bawah departemen atau kementerian akan menciptakan peluang terjadinya politisasi oleh kelompok politik tertentu jika kementerian yang menaungi Polri berasal dari parpol. Di lain pihak kekhawatiran di atas belum tentu benar karena pengalaman di Negara-negara demokratis menganut sistem Kepolisian secara terpisah atau berdiri sendiri berdasarkan sistem desentraisasi di negara tersebut.
Dalam wawancara dengan anggota sat Intelkan AKP Taufik Ismail, SH. tentang dorongan hukum menyatakan:
“Menurut saya Polri sebaiknya lebih mengedepankan aspek- aspek fungsional sebagai penegak hukum bersama Jaksa dan Hakim dan tidak terkendala dengan aspek struktural yang lebih mengemuka meskipun saat ini Polri dapat saja menjadi penyidik yang otonom, namun posisi struktural Polri dapat saja mengurangi independensinya dalam melaksanakan fungsinya sebagai penegak hukum”. (wawancara 11 Novenber 2019).
Perubahan kultur dan organisasi Polri ini memang membutuhkan waktu yang cukup lama, apalagi secara implementasi kultural harus diakui bahwa Polisi belum memperlihatkan seluruh karakter sipilnya sebagai cermin jati diri Polri yaitu Polisi yang menghormati hak hak sipil serta mengedepankan pendekatan kemanusiaan. Hal ini memang terkait dengan paradigma lama Polri yang dulunya masih menjadi bagian dari kekuatan militer, sehingga budaya tersebut masih belum terkikis dari institusi Polri. Bahwa Kepolisian daerah dapat saja secara struktural berada di bawah
Kepolisian nasional tetapi secara fungsional melekat pada daerah dan bertanggung jawab dengan pemerintah daerah.
Dalam wawancara tokoh masyarakat bapak Fataduddin tentang dorongan politik menyatakan:
“Bahwa implementasi kultural harus diakui bahwa Polisi belum memperlihatkan seluruh karakter sipilnya sebagai cermin jati diri Polri, Polisi yang menghormati hak-hak sipil serta mengedepankan pendekatan kemanusiaan, hal ini memang terkait dengan paradigma lama Polri yang dulunya masih menjadi bagian dari kekuatan militer, sehingga budaya tersebut masih belum terkikis dari institusi Polri, karena di mata masyarakat Polri selalu menegakan hukum yang berlaku pada saat ini untuk ketertiban dan keamanan masyarakat”.
(wawancara 19 Oktober 2019).
Agar fungsi ini dapat digunakan sesuai dengan tugas pokok Polri maka perlu disertai dengan sistem pengawasan secara intemal, implementasi organisasi Polri diawasi oleh sebuah Inspektorat yang disebut sebagai Irwasum. Inspektorat Pengawasan Umum (Irwasum) memiliki tugas menyelenggarakan fungsi pembinaan, pengawasan dan pemeriksaan umum bagi seluruh jajaran Polri, menyelenggarakan kegiatan rutin pengawasan umum dan pemeriksaan baik yang terprogram maupun yang tak terprogram terhadap aspek manajerial semua unit organisasi Polri dan menyusun laporan hasil pemeriksaan termasuk penyimpangan pelaksanaan tugasnya.
Dalam wawancara dengan masyarakat bapak Hamsa tentang dorongan politik dalam melakukan peran fungsi Kepolisian menyatakan:
“Bahwa Polisi pada era reformasi harus profesional dalam bidang Penegakkan hukum, seiring dengan munculnya paradigma baru budaya Polisi yang berwatak sipil dalam melaksanakan tugas pokoknya, sebagai pelindung masyarakat, mengayomi masyarakat, serta melayani masyarakat, Polisi harus selalu ada di tempat tugasnya untuk melayani masyarakat”
(wawancara 26 November 2019).
Penegakkan hukum dipengaruhi oleh tingkat perkembangan masyarakat di tempat hukum tersebut berlaku atau diberlakukan.
Dalam masyarakat sederhana, pola penegakkan hukumnya dilaksanakan melalui prosedur dan mekanisme yang sederhana pula.
Namunn dalam masyarakat modem yang bersifat rasional dan memiliki tingkat spesialisasi dan diferensiasi yang begitu tinggi, pengorganisasian Penegakkan hukumnya menjadi begitu kompleks dan sangat birokratis. Semakin modem suatu masyarakat, maka akan semakin kompleks dan semakin birokratis proses penegakkan hukumnya. Sebagai akibatnya yang memegang peranan penting dalam proses Penegakkan hukum bukan hanya manusia yang menjadi aparat penegak hukum, namun juga organisasi yang mengatur dan mengelola operasionalisasi proses Penegakkan hukum.
b. Tekanan ekonomi dan peningkatan efesiensi.
Inovasi merupakan sebuah bentuk ide maupun gagasan yang dituangkan dalam berbagai macam bentuk. misalnya dalam hal pelayanan publik. Pelayanan umum merupakan interaksi antara pemerintah dengan masyarakat dalam menyediakan kebutuhan masyarakat terhadap barang dan jasa publik secara luas. Salah satu
institusi pemerintah yang menjalankan fungsi pelayanan publik adalah Kepolisian. Umumnya pelayanan publik diKepolisian dilakukan dengan cara datang langsung kekantor Polisi untuk melaporkan kasus kejahatan. Masyarakat yang mengalami kejadian yang sangat terdesak pastinya berpikir untuk menghemat waktu agar bisa mengatasi masalah tersebut tanpa harus datang kekantor Polisi untuk melaporkan kejadian tersebut. Teknologi informasi yang berkembang saat ini sangat pesat pada kehidupan bermasyarakat. Intemet merupakan salah satu media informasi yang memiliki keunggulan dengan cepatnya perkembangan dibandingkan dengan teknologi lainnya.
Dalam wawancara dengan waka Polres Pangkep Kompol Sukri Abhan tentang tekanan ekonomi dan peningkatan efektifitas menyatakan:
“Menurut saya sebagai pelayan masyarakat untuk melakukan efesiensi penggunaan teknologi menjadi hal yang diperlukan untuk masa sekarang ini, apalagi dengan adanya banyak aplikasi yang mempermudah pekerjaan masyarakat. Hampir setiap orang mendukung aktivitasnya sehari-hari dengan smartphone untuk mempermudah pelayanan new pablik servies” (wawancara 9 Oktober 2019)
Polisi sebagai salah satu bentuk elemen pelayanan publik wajib memberikan pelayanan yang prima pada masyarakat. Anggota Kepolisian di surakarta saat ini diwajibkan menginstal aplikasi panic button. aplikasi panic button dapat diakses dengan mudah cukup dengan menekan tiga tombol SOS tiga kali petugas Kepolisian yang terdekat akan segera menuju titik koordinat SOS tersebut. Aplikasi ini
memudahkan aparat Kepolisian dalam menangani tindak kejahatan yang bersifat darurat karena mengetahui lokasi kejahatan dengan jelas dan cepat. Pelayanan Kepolisian yang dulunya untuk melaporkan kejahatan harus datang langsung kekantor Polisi dengan adanya aplikasi panic button diharapkan bisa membantu masyarakat untuk mempermudah urusan diKepolisian. Panic button bisa digunakan dimana saja melalui smartphone yang terkoneksi kejariangan intemet.
Panic button memiki fungsi untuk mengirimkan pesan darurat kepada pihak Kepolisian terdekat daerah jawa tengah. Perkembangan pelayanan publik konversional atau panic button merupakan sebuah inovasi dari perkembangan sebelumnya.
Dalam wawancara dengan anggota Kepolisian sat Samapta Aiptu Andi Lukman tentang tekanan ekonomi dan peningkatan efesiensi menyatakan:
“Menurut saya perlu ada inovasi baru dalam perubahan pelayanan lebih efesiensi lagi kama tuntutan masyarakat sekarang semakin maju menghemat waktu dan biaya karena aktivitas yang selama ini masyarakat lakukan ketika melihat kejadian tindak kriminal maupun peristiwa yang lainnya, sekarang ini dapat dilakukan dimana-mana dengan menggunakan teknologi intemet”. (wawancara 27 Oktober 2019)
Hal senada wawancara dengan anggota Kepolisian sat Lantas AKP Mamat Rahmat menyatakan:
“Menurut saya kita memanfaatkan pekembangan teknologi yang begitu pesat sekarang ini semua mempermudahkan komunikasi
dengan selulruh masyarakat dengan pelayanan yang lebih efesiensi”. (wawancara 21 November 2019).
Inovasi tidak hanya diwakili dengan memperkenalkan atau menerapkan ide atau metode baru sebagai suatu proses yang melibatkan banyak kegiatan untuk mengungkap cara-cara baru.
Seharusnya tidak membingungkan dengan penciptaan sebagai tindakan membuat, menciptakan, atau menghasilkan sesuatu. Namun, inovasi baru dapat diwujudkan dengan kreativitas. Orang perlu berpikir di luar kotak untuk membuat peningkatan tambahan inovasi merupakan pemikiran, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Konsep inovasi tersebut menunjukkan bahwa kebaruan inovasi ditentukan secara subjektif menurut pandangan individu yang menerimanya. Gagasan disebut sebagai inovasi apabila hal tersebut dianggap baru oleh seseorang dan merupakan sebuah hal yang pertama kali ditemui oleh orang tersebut. Konsep baru dalam ide yang inovatif tidak harus baru sama sekali.
Dalam wawancara dengan masyarakat bapak M.Ruslan ketua RW tentang tekanan ekonomi dan peningkatan efesiensi menyatakan:
“Menurut saya mewakili masyarakat yang ada di pulo ini kita disini masih belum bisa akses komunikasi dengan koPolisian secara intens dan belum bisa mengakses informasi-informasi tentang perkembagan yang ada di saat ini kama kita masih terbatas jaringan untuk komunikasi dengan pihak Kepolisian untuk menyelasai masalah yang kita hadapi setiap saat”.
(wawancara 17 Oktober 2019).
Hal senada wawancara dengan masyarakat bapak Hamsa tentang tekanan ekonomi dan peningkatan efesiensi menyatakan:
“Menurut saya sebagai masyarakat pihak Kepolisian harus memanfaatkan perkembagan zaman sekarang untuk melayani masyarakat bagaimana media digital memengaruhi perilaku sosial masyarakat sekarang ini”. (wawancara 11 November 2019).
Komunikasi organisasi adalah proses di mana orang membangun, mengelola, dan menafsirkan perilaku dan simbol baik verbal maupun nonverbal, baik secara sengaja maupun tidak sengaja, melalui interaksi dimediasi atau langsung, di dalam dan di seluruh konteks organisasi tertentu. Komunikasi organisasi dapat terjadi pada berbagai tingkatan, yang melibatkan interaksi interpersonal dan diadik, kelompok kecil atau tim, pertemuan besar, dan di dalam atau di seluruh departemen atau unit organisasi, seluruh organisasi, sektor industri, dan perbatasan nasional. Menggunakan media massa, dapat mempermudah penyampaian informasi kepada masyarakat secara massa, efektif, dan efisien. Berbagai bentuk media masa media cetak, media elektronik, dan multi media yang dapat digunakan oleh pihak- pihak yang berkomunikasi untuk menyampaikan pesan-pesan mereka merupakan bentuk dari saluran media masa.
c. Teknologi.
Bahwa semua penyelenggara pelayanan harus berjalan dengan mengedepankan aspek pelayanan prima. Mengingat fungsi utama
instansi publik termasuk Kepolisian ialah melayani masyarakat, maka dalam pencapaian tujuan, instansi perlu terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan. Pelayanan yang diberikan oleh intansi publik harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Tantangan ekstemal yang dihadapi oleh Polisi Republik Indonesia saat ini ditandai dengan terjadinya gangguan kriminalitas yang semakin canggih seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun perilaku kehidupan masyarakat sebagai dampak pola kejahatan yang terjadi.
Sedangkan tantangan intemal yang dihadapi oleh Polisi Republik Indonesia adalah tingkat profesionalisme dankinerja anggota Polisi Republik Indonesia yang masih perlu ditingkatkan.
Dalam wawancara anggota Kepolisian sat Samapta Aiptu Andi Lukman tentang teknologi sebagai pendorong fungsi Kepolisian menyatakan:
“Upaya mencapai kualitas pelayanan yang baik, diperlukan penyusunan standar pelayanan publik yang dapat menjadi tolok ukur pelayanan yang berkualitas. Standar pelayanan publik oleh Kepolisian Republik Indonesia yang menjadi standar untuk dilaksanakan dari tingkat Pusat sampai tingkat Polsek di seluruh Wilayah Kesatuan Negara Republik Indonesia. Kama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hidup dengan aman dan tertib sebagai pelayana masyarakar di perlukan kedisiplinan dan standar dalam pelayanan”. (wawancara 27 Oktober 2019).
Tantangan ekstemal yang dihadapi oleh Polisi Republik Indonesia saat ini ditandai dengan terjadinya gangguan kriminalitas yang semakin canggih seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun perilaku kehidupan masyarakat sebagai dampak
pola kejahatan yang terjadi. Sedangkan tantangan intemal yang dihadapi oleh Polisi Republik Indonesia adalah tingkat profesionalisme dankinerja anggota Polisi Republik Indonesia yang masih perlu ditingkatkan. Apabila peningkatan profesionalisme dan kinerja ini tidak dilakukan maka akan menjadi bumerang bagi Polisi Republik Indonesia sendiri atau dapat menimbulkan masalah baru, antara lainmisalnya kekerasan yang dilakukan oleh petugas Kepolisian di lapangan, salah prosedur, salah tembak, penanganan konflik antar suku bangsa maupun perkelahian antar warga masyarakat yang tidak tuntas dan lain sebagainya.
Dalam wawancara dengan anggota Kepolisian sat intelkam AKP Taufik Ismail, SH. Tentang teknologi dalam implementasi fungsi Kepolisian menyatakan:
“Bahwa Polri sebagai pengayom pelindung masyarakat di era digitas sekarang ini kita membuka akses masyarakat 24 jam untuk melayani masyarakat sebagai mitra kami selalu siap melayani sesuai kebutuhan masing-masing masyarakat, di era digital ini semua mempermudah informasi setiap saat perkembagan masyarakat dan kriminal yang terjadi di masyarakat untuk segera mengelesaikan masalah yang terjadi di tempat kejadian”. (wawancara 11 Oktober 2019).
Sampai saat ini, institusi Polisi Republik Indonesia tidak pemah terlepas dari sorotan publik, karena memiliki tugas pokok, fungsi, peran dan wewenang sebagai salah satu bagian dari fungsi Pemerintahan Negara dalam rangka pemenuhan di bidang pemeliharaan keamanan dalam negeri/kamtibmas, aparatur penegak
hukum, pelindung, pengayom, pelayan kepada masyarakat, sehingga kinerja Polisi Republik Indonesiatidak pemah luput dari penilaian masyarakat, khususnya menyangkut komplin dari masyarakat atau instansi pemerintah terhadap kinerja Polisi Republik Indonesi aterutama menyangkut pelayanan Polisi Republik Indonesia terhadap masyarakat yang diduga menyalah gunakan wewenang, melanggar disiplin dan kode etik Kepolisian, korupsi, kolusi, nepotisme, yang merugikan masyarakat di mana implikasinya bermuara pada citra Polisi Republik Indonesiayang negatif.
Dalam wawancara dengan masyarakat bapak Fatahuddin tentang teknologi untuk menunjang fungsi Kepolisian menyatakan:
“Bahwa kita di sini belum bisa menikmati teknologi yang ada pada era digital sekarang ini kama jaringan untuk komunikasi langsung dengan pihak keamana belum bisa kami nikmati sampai sekarang”. (wawancara 11 november 2019).
Perkembangan teknologi informasi dengan dukungan komputer telah menjadi suatu revolusi dalam segala bidang, baik bidang jasa, manufaktur menyinggung kebutuhan penggunaan teknologi ini dalam dunia Kepolisian juga dirasakan sangat perlu oleh aparat Kepolisian sebagai implementasinya dibuat suatu sistem informasi Kepolisian sebagai media komunikasi dari masyarakat ke Polisi, dengan menghubungi nomor telepon yang mudah diingat setiap laporan dari masyarakat dapat cepat dilayani oleh petugas Polisi dengan kehadiran di tempat kejadian dan memberikan pelayanan yang baik terhadap