BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
2. Faktor Penghambat Komunkasi Terapeutik Antara Perawat Dan Pasien
60 hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa putri anda terkena kanker, diharap ibu dan keluarga sabar mendengarkan kabar ini”
Hasil wawancara dengan salah satu pasien Tiara bahwa :
“Perawat a sanging napaung baji ja apa-apa injo garringku nampa napauanga solusina, jari ballo kusa’ring ka sanna jaki kunni ni perhatikan punna apparessaki”
(Perawat menyampaikan dengan rinci mengenai penyakit saya dan menyampaikan dan solusi kepada saya serta memberikan perhatian saat pemeriksaan)
Ini menjelaskan bahwa perawat melakukan dengan baik tugasnya sebagai perawat dalam melayani pasien dengan baik. Memberitahu penyakit yang dialami pasien serta memberikan arahan perihal anjuran minum obat yang telah diberikan oleh Dokter.
2. Faktor Penghambat Komunkasi Terapeutik Antara Perawat Dan Pasien Di
61 pertukaran timbal balik arti dan pengertian (Komunikator dan Komunikan) tetapi seringkali proses penafsirannya keliru.
Adapun hambatan-hambatan yang dialami perawat dalam melakukan komunikasi terapeutik kepada pasien di Puskesmas Herlang, berdasarkan hasil wawancara penulis kepada kepala koordinator perawat Nurwahida.S.Kep, Ns bahwa :
“ Faktor penghambat yang dilakukan perawat terhadap pasien yaitu faktor bahasa dan mimik wajah dari pasien yang kurang baik dari pasien maupun keluarganya “
Faktor bahasa merupakan salah satu hambatan dalam komunkasi terapeutik antara perawat dan pasien, perawat mengalami kesulitan ketika merawat seorang pasien yang bermimik wajah kurang baik sehingga susah untuk dimengerti.
Sikap merupakan komunikasi non verbal yang dilakukan melalui pergerakan tubuh yaitu terdiri dari :
a. Ekspresi muka (posisi mulut,alis,mata,senyum dan lainnya) b. Gesture (gerak,isyarat.sikap)
c. Gerakan tubuh dan postur
d. Gerak mata, gerak atau kontak mata diartikan sebagai melihat langsung kemata orang lain. Kontak mata untuk menghargai pasien.
Diperjelas oleh keluarga pasien yang Sitti Ruhaeda dan Darmin bahwa :
62
“ Melihat pelayanan yang diberikan perawat kepada pasien itu perawatan baik, memberikan senyuman kepada pasien yang menjadi salah satu motivasi bagi pasien “
Hal di diatas diartikan bahwa komunikasi nonverbal seperti mimik wajah yang kurang baik untuk di pandang merupakan salah satu hambatan perawat untuk mengartikan keinginan yang diinginkan oleh pasien
2.2 Hambatan Manusiawi
Menurut Cruden dan Sherman bahwa hambatan juga berasal dari individual manusia, perbedaan emosi, keterampilan mendengar,perbedaan starus pencarian infornasi dan penyaringan informasi.
Adapun hambatan-hambatan yang dialami perawat dalam melakukan komunikasi terapeutik kepada pasien di Puskesmas Herlang, berdasarkan hasil wawancara penulis kepada yang Suci ihwana S.Kep, NS di ruang rawat UGD ia mengatakan bahwa :
“Kendala yang biasa dialami oleh perawat adalah kadang apa yang diucapkan kepada pasien lain yang disampaikan kepada keluarganya sehingga memunculkan kekeliruan antara perawat dan keluarga pasien serta kendala berikutnya perawat mengulang kata 2-3 kali baru pasien itu paham”
Tidak hanya bahasa yang menjadi penghambat komunikasi terapeutik akan tetapi karena penyampaian pasien terhadap keluarga akan keadaan menjadi kendala sehingga harus mengulang kata agar mereka paham. Hal yang terlihat ketika perawat berkomunikasi dengan pasien kadang pasien bernada suara keras sehingga menjadi hambatan komunikasi karena membuat perawat tersinnggung.
63 Gangguan-gangguan ini diperjelas oleh seorang perawat yang Dina Wahyuni, S.Kep, Ns bahwa :
“Berkomunikasi dengan pasien itu tidak mudah misalnya pasiennya yang berlatar belakang pendidikan yang kurang dan sudah lanjut usia, tidak mengetahui bahasa indonesia serta pendengaran yang kurang atau sudah tidak stabil lagi sehingga menghadirkan keluarga pasien sebelum menjelaskan masalah kesehatan pasien serta solusinya”
Aswati, keluarga pasien menyatakan bahwa :
“Saya rasa pelayanan sudah cukup bagus, saya selalu mengantar bapak/ibu saya setiap pemeriksaan karena kadang terjadi salah paham apa yang dikatakan oleh perawat kepada pasien, biasanya pasien juga menjelaskan kepada kami sebagai keluarganya itu berbeda, dari hal itu saya sebagai keluarga pasien ikut mendapingi”
Berdasarkan uraian di atas penulis berpendapat bahwa efektifnya komunikasi terapeutik antara perawat dan pasien juga dipengaruhi oleh keadaan psikologis dari pasien. Apabila kondisi psikologis pasien menurun, maka akan menghambat jalannya komunikasi.
Adapun hasil penelitian ini menunjukan bahwa komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat dan pasien tidak efektif karena adanya gangguan psikologis. Gangguan psikologis ini berasal dari pasien karena pasien memiliki emosi yang tidak stabil dalam berkomunikasi, kemunduran dalam proses berfikir, sulit konsentrasi .
Pendapat juga diperjelas oleh salah seorang perawat yang Kasmira Ferli, S.Kep, Ns bahwa :
“Kendala juga yang kadang dialami yaitu ketika kami sebagai perawat sudah memaksimalkan pelayanan dari kami namun pasien serta keluarga pasien tetap menilai semua pelayanan belum memuaskan”
64 Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa komunikasi terapeutik bisa berjalan dengan semestinya ketika pasien bisa menerima dan memahami petunjuk-petunjuk dari perawat.
Hal di atas merupakan hambatan hambatan manusiawi atau hambatan individual karena kekeliruan dalam persepsi , perbedaan emosi.
Berdasarkan pengamatan penulis dilapangan, perawat melakukan komunikasi terapeutik di Puskesmas Herlang terkadang berjalan tidak sesuai yang diinginkan, masih terdapat kesulitan ketika perawat memberikan terapeutik kepada pasien dikarena berbagai faktor seperti yang dijelaskan dipembahasan sebelumnya menjelaskan faktor apa saja yang menjadi penghambat perawat ketika memberikan komunikasi terapeutik kepada pasien di Puskesmas Herlang.
65 BAB V
PENUTUP A. Kesimpulan
Penelitian yang penulis lakukan mengenai komunikasi terapeutik antara perawat dan pasien di puskesmas herlang menghasilkan beberapa kesimpulan : 1. Hasil penelitian di Puskesmas Herlang menunjukkan bahwa komunikasi
terapeutik antara perawat dan pasien, telah berlangsung dengan baik. Hal ini tercermin dari cara penyambutan perawat terhadap pasien dengan ekspresi wajah yang menyenangkan komunikasi yang lembut kepada pasien, serta kesabaran dalam mendengarkan berbagai keluhan-keluhan pasien, memberikan tanggapan balik yang mudah dimengerti oleh pasien dengan tetap memperhatikan bahasa yang santun
2. Faktor yang menghambat terjadinya komunikasi terapeutik antara perawat dan pasien di Puskesmas Herlang yaitu : penggunaan bahasa, mimik wajah pasien kurang baik kepada perawat, keadaan psikologi perawat dan pasien seringkali mengalami ketidakcocokan misalnya intonasi suara serta pengetahuan keluarga yang lebih tau dari perawat termasuk kendala yang dirasakan perawat.
B. Saran
Berdasarkan pada kesimpulan diatas, beberapa saran penelitian yaitu : 1. Untuk perawat yang bekerja di Puskesmas Herlang diharapkan
memberikan terapeutik dengan baik lagi agar para pasien menyukai tindakan yang dilakukan oleh perawat agar pasien menyukai tindakan
66 yang dilakukan oleh perawat dengan meningkatkan komunikasi yang baik dan benar
2. Untuk pasien yang berobat atau melaksanakan terapeutik serta keluarga pasien di Puskesmas Herlang agar mendengarkan perawat dengan baik ketika sedang diberikan terapeutik oleh perawat demi kebaikan pasien untuk segera lekas sembuh.
67 DAFTAR PUSTAKA
Andi Prastowo. 2012. Metode Penelitian Penelitian Kualitatif Dalam Persektif Rancangan Penelitian. Jogjakarta : Ar-ruzzmedia.
Aw Suranto. 2018. Komunikasi Organisasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Budianto. 2016. Konsep Dasar Keperawatan. 2016. Pusdik SDM Kesehatan Damaiyanti, Mukhripah. 2010. Komunikasi Terapeutik Dalam Praktik
Keperawatan. Bandung: Reflika Aditama.
J.Moleong, Lexy.2014.Metode Penelitian Kualitatif , Edisi Revisi. PT Remaja Rosdakarya, Bandung.
Lexy, J Moleong. 2008.Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Moenir. 2000. Manajemen Pelayanan Publik. Jakarta: Bina Aksara.
Nisya Rifiani & Hartanti Sulihandari.Prinsip-Prinsip Dasar Keperawata.Jakarta Timur: Dunia Cerdas. 2013
Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.Jakarta : Rineka Cipta.
Notoatmodjo, Soekidjo. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan (EdisiRevisi).Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Nurjannah. 2005. Komunikasi Terapeutik ( Dasar-Dasar Komunikasi Bagi Perawat ). Moncomedia.
Ratminto. 2006. Manajemen Pelayanan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Rosdakarya.
Reni Agustina Harahap & Fauzia Eka Putra. 2019. Komunikasi Kesehatan. . Jakarta: Prenadamedia Grup
Sinambela dkk,2008. Reformasi Pelayanan Publik,Jakarta : Bumi Aksara Suciati.Psikologi Komunikasi Sebuah Tinjauan Teoritis dan Perspektif Islam.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Yogyakarta: Buku Litera. 2015 Karyaningsih Dewi Ponco. 2018. Ilmu Komunikasi. Yogyakarta. Penerbit Samudra Biru Jurnal dan Skripsi
Nurahma. Komunikasi Terapeutik Antara Perawat Dan Pasien Di Puskesmas Antang Perumnas Makassar. 2016
68 Hajaruddin. Hubungan Antara Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Tingkat Kepuasan Pasien Di Puskesmas Pleret Bantul Yogyakarta. 2014
Priscylia A.C Rorie, Dkk. Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat Dengan Kepuasan Pasien Di Ruang Rawat Inap Irina A RSUP PROF. DR.R.D. Kandow Manado. 2014
Rismayanti. Hambatan Komunikasi Yang Sering Dihadapi Dalam Sebuah Organisasi. Vol 1. No IV
Sumber lain
UU RI No. 23 Tentang Perawat Laporan Tahunan 2019 Ombudsman
Laporan Tahunan Periode 2011-2015 Ombudsman
(https://makassar.tribunnews.com/2019/03/28/sorot-pelayanan-puskesmas-knpi- herlang-seruduk-dinkes-dan-dprd-bulukumba Diakses 25 Februari 2019)
69
LAMPIRAN
70 LAMPIRAN 1
71 Gambar 1. Struktur Organisasi UPT Puskesmas Herlang
Gambar 2. Alur Pelayanan Puskesmas Herlang
72 LAMPIRAN 2
Gambar 3. Gedung UGD
73 Gambar 4. Ruangan Rawat Inap
Gambar 5. Fasilitas Ruang Gawa Darurat Puskesmas Herlang
74 Lampiran 3
Gambar 6. Pemberian Izin Oleh Kepala Puskesmas
75 Gambar 7. Pemberian Data Oleh Sekretaris Puskesmas Herlang
Gambar 8 Wawancara Informan, Suci ihwana S.Kep, NS
Gambar 9 Wawancara Informan, Kasmira Ferli, S.Kep, Ns
76 Gambar 10 Wawancara Informan, Dina Wahyuni, S.Kep, Ns
Gambar 11 Wawancara Informan, Hamdayani, S.Kep, Ns
77 Gambar 12 Foto Bersama Perawat
Gambar 13. Wawancara Pasien, Arnila
78 Gambar 14. Wawancara Pasien, Isya
Gambar 15. Wawancara Pasien, Tiara
79 Gambar 16. Wawancara Keluarga Pasien, Nengsih
Gambar 17. Wawancara Keluarga Pasien, Darmin
80 Gambar 18. Wawancara Keluarga Pasien, Sitti Ruhaeda
81 LAMPIRAN 4
NAMA : JABATAN : USIA : AGAMA : PEKERJAAN : PENDIDIKAN TERAKHIR :
1. Apa yang anda ketahui tentang komunikasi kesehatan ? 2. Bagaimana anda melakukan komunikasi kesehatan ?
3. Pengalaman apa yang berkesan ketika melakukan komunikasi kesehatan ? 4. Menurut anda efektifitaskah komunikasi kesehatan ?
5. Apa faktor yang menghambat komunikasi kesehatan ?
6. Bagaimana anda mengatasi hambatan komunikasi kesehatan ?
82 LAMPIRAN 5
NAMA :
USIA :
1. Bagaimana sikap perawat kepada anda ketika sedang menyampaikan keluhan mengenai kesehatan anda ?
2. Apakah perawat menggunakan bahasa umum yang mudah dimengerti saat berkomunikasi dengan anda ?
3. Bagaimana ekspresi perawat ketika memberikan layanan kesehatan kepada anda ?
4. Apakah perawat menyampaikan hasil pengamatannya terhadap kesehatan anda?
83 LAMPIRAN 6
Nama : Usia :
1. Bagaimana menurut anda tentang pelayanan yang diberikan perawat kepada pasie/keluarga anda ?
84
85
86
87
88