BAB IV PENYAJIAN ANALISI DATA
4.2. Faktor-Faktor Penghambat Sinergitas Tiga (3) Pilar Dalam
4.2.1. Faktor Penghambat Sinergitas Tiga (3) Pilar Dalam
Untuk membuktikan dilapangan, peneliti memberikan sebuah pertanyaan melalui wawancara tentang hambatan yang dilaksanakan oleh Tiga (3) Pilar dan Perawat desa dalam menyelesaikan masalah sanitasi:
Pertanyaan yang di kemukakan oleh peneliti yaitu:
1. Menurut Bapak/Ibu/Saudara (i) selaku anggota Tiga (3) Pilar dan Perawat, apakah ada hambatan saat melakukan program sanitasi?
Narasumber 1: ” Tidak ada mbak, karena saya disini hanya bisa memantau saja. Masyarakat juga sudah merasa nyaman atau senang setalah mendapatkan Jamban dari Desa “. (Bapak Bripka Saman, wawancara yang dilakukan 19 April 2019)
Narasumber 2: ” Tidak ada mbak, karena masyarakat sudah lebih nyaman setelah mendapatkan jamban dari program sanitasi “. (Bapak Serda Sukarno, wawancara yang dilakukan 17 April 2019)
Narasumber 3: ” Kalau hambatan pasti ada mbak, seperti adanya pro dan kontra yang terjadi, karena program Sanitasi ini juga mempengaruhi warga lainnya yang tidak mendapatkan bantuan pembangunan jamban di setiap rumah. Untuk itu kami Tiga (3) Pilar dan Perawat selalu bersosialisasi kepada masyarakat desa “. (Ibu Hj.Khairulliswati, wawancara yang dilakukan 5 April 2019)
Narasumber 4: ” Hambatanya itu ada mbak, biasanaya ada masyarakat yang pro dan kontra ada karakteristik sendiri-sendiri kadang ada juga yang menunggu bantuan dari desa untuk membangun jamban di rumahnya dan ada pula
96 masayarakat dengan kesadaran sendiri untuk membuat jamban dirumah “. (Ibu Zulfa Tadzirotun Nashiroh, wawancara yang dilakukan 8 Mei 2019) 2. Dengan adanya Tiga (3) Pilar dan Perawat desa, apakah sudah
bermanfaat untuk menyelesaikan masalah sanitasi
Narasumber 1: “ Sudah bermanfaat mbak, karena Tiga (3) Pilar ini sangat membantu masyarakat dalam melayani dengan baik dan selalu terjun dalam kegiatan yang diadakan oleh Pemerintah untuk masyarakat yang kurang mampu dalam kehidupan sehari-hari. (Bapak Bripka Saman, wawancara yang dilakukan 19 April 2019) Narasumber 2: ” Sudah mbak, karena Tiga (3) Pilar selalu memantau
keadaan yang ada di masyarakat dengan baik, dan memberikan layanan pada masyarakat. Agar Program- program tersebut terlaksana dengan baik. “. (Bapak Serda Sukarno, wawancara yang dilakukan 17 April 2019)
Narasumber 3: “ Sudah sangat bermanfaat mbak bagi masyarakat, apalagi sekarang Tiga (3) Pilar juga dibantu oleh Perawat desa karena setiap desa sudah mempunyai Perawat dan Bidan pada bidangnya masing-masing.
(Ibu Hj.Khairulliswati, wawancara yang dilakukan 5 April 2019)
Narasumber 4: “ Sudah soalnya di Jawa Timur Ini Bidan di bantu dengan perawat desa untuk kesehatan lingkungan, jadi bidan khusus membantu anak dan ibu, perawat ini dianjurkan juga untuk melayani atau membantu masayrakat untuk menangani penyakit lingkungan maupun usia lanjut “. (Ibu Zulfa Tadzirotun Nashiroh, wawancara yang dilakukan 8 Mei 2019)
3. Apakah ada perubahan perilaku masyarakat setelah Tiga (3) Pilar dan Perawat menyelesaikan program sanitasi tersebut
Narasumber 1: “ Perubahan masyarakat dengan Tiga (3) Pilar pasti ada mbak, karena kebanyakan masyarakat masih belum mengenal Tiga (3) Pilar dengan baik, apalagi saya selaku Bhabinkamtibmas di desa masih banyak yang takut dengan Polri. Tapi dengan menagayomi
97 masyarakat dapat bertatap muka lagsung dan memberikan layanan kepada masyarakat dengan baik dan sampai saat ini masyarakat dengan Bhabinkamtibmas selalu berkonsultasi dengan masalah yang ada di desa. Apalagi dengan adanya Program Sanitasi ini Tiga (3) Pilar langsung terjun dalam kegiatan pembangunan jamban di rumah warga. (Bapak Bripka Saman, wawancara yang dilakukan 19 April 2019)
Narasumber 2: “ Sudah ada perubahan mbak, karena Tiga (3) Pilar sekarang selalu terjun ke masyarakat. Dan memberikan motivasi maupun arahan kepada masyarakat agar tetap selalu damai di lingkungan.
(Bapak Serda Sukarno, wawancara yang dilakukan 17 April 2019)
Narasumber 3: “ Sudah mbak, karena Tiga (3) Pilar selalu terjun ke lapangan langsung dan memberikan arahan kepada masyarakat dan dengan adanya program sanitasi ini juga Tiga (3) Pilar membantu masyarakat dalam pembangunan jamban, masyarakat dengan Tiga (3) Pilar sekarang juga sudah ada perubahan yaitu selalu bertatap muka dan saling menghargai satu sama lainnya (Ibu Hj.Khairulliswati, wawancara yang dilakukan 5 April 2019)
Narasumber 4: “ Mohon maaf ya mbak, untuk Ponkesdes ini penyehatan lingkungan ini diambil sama tanggungjawab perawat desa untuk fungsinya sendiri- sendiri “. (Ibu Zulfa Tadzirotun Nashiroh, wawancara yang dilakukan 8 Mei 2019)
4. Apakah ada sarana dan prasarana Perawat untuk melakukan kegiatan program Sanitasi sudah ada?
Narasumber : “ Sarana dan prasarana ini sudah ada mbak, biasanya sudah ada pemicuan dari desa termasuk tempat sampah, maupun yang pengadaan wc untuk masyarakat miskin, jadi kita hanya promosi perilakunya saja. saolnya kendalanya di situ mbak, masayarakat sudah dikasi Wc tapi masyarakat tidak ada kesadaran Buang air besar masih di sungai “. (Ibu
98 Zulfa Tadzirotun Nashiroh, wawancara yang dilakukan 8 Mei 2019)
5. Apakah ada anggaran untuk mendukung kegiatan yang dilakukan Tiga (3) Pilar dan Perawat? Seperti halnya teknologi untuk menyampaikan informasi dengan anggota Tiga (3) Pilar dan Bidan?
Narasumber 1: “ Sudah ada mbak, anggaran tersebut biasanya dari desa. Jadi kita hanya bisa memantau dan membantu untuk pembuatannya saja “. (Bapak Bripka Saman, wawancara yang dilakukan 19 April 2019)
Narasumber 2: “ Sudah ada mbak. Anggaran tersebut sudah di sediakan oleh desa”. (Bapak Serda Sukarno, wawancara yang dilakukan 17 April 2019)
Narasumber 3: “Sudah ada mbak, anggarannya salah satu fasilitas sanitasi dasar yang wajib dimiliki warga adalah jamban keluarga, sebagai tempat membuang kotoran manusia. Akan tetapi masih banyak warga yang belum memiliki jamban dan mempunyai kebiasaan BAB disembarang tempat salah satunya di sungai.
Perilaku warga ini berisiko menularkan penyakit berbasis lingkungan, seperti: diare, cholera, cacing, thypoid, parathypoid, hepatitis, malnutrisi, pencemaran air dan mengurangi estetika. “.(Ibu Hj.Khairulliswati, wawancara yang dilakukan 5 April 2019)
Narasumber 4: “ Sudah ada, biasanya dari desa , tempat sampah jamban wc untuk orang miskin, jadi kita hanya promosi perilaku saja, tapi kendala ya asyarakat sudah dikasih wc masih belum punya kesadaran untk membuang air besar di wc”. (Ibu Zulfa Tadzirotun Nashiroh, wawancara yang dilakukan 8 Mei 2019) Dari wawancara diatas dapat disumpulkan bahwa hambatan yang dirasakan Tiga (3) Pilar dan Perawat pasti ada Pro dan Kontra nya di setiap masayarakat, karena dengan adanya program Sanitasi ini
99 tidak semua masayarakat mendapatkan bantuan, sehingga banyak masyarakat yang tidak terima dengan semua bantuan yang di berikan kepada masyarakat miskin. Beberapa program pembangunan sanitasi pedesaan didapatkan hasil bahwa banyak sarana yang dibangun (khususnya dari bantuan) tidak digunakan dan dipelihara oleh masyarakat. Pendekatan yang digunakan oleh program tersebut tidak berhasil memunculan demand dari masyarakat akan jamban.
Pembenahan pada lingkungan juga bukan merupakan perkara mudah, seperti membalik teapak tangan, namun merupakan permasalahan yang rumit dan kompleks, karena selalu menghadapi tantangan, baik dari dalam maupun dari luar masyarakat. Tantangan terbesar yang dihadapi pemerintah adalah masalah sosial budaya dan perilaku masyarakat, seperti Buang Air Besar di sembarang tempat, khususnya ke badan air yang digunakan untuk mencuci, mandi, dan kebutuhan higienis lainnya. Dalam rangka pembenahan terhadap lingkungan, 3 Pilar maupun Perawat desa mencanangkan strategi nasional Sanitasi total Berbasis Masyarakat, atau yang lebih dikenal dengan nama STBM. STBM adalah suatu pendekatan partisipatif yang mengajak masyarakat untuk mengalisa kondisi sanitasi mereka melalui suatu proses pemicuan, sehingga masyarakat dapat berpikir dan mengambil tindakan untuk meninggalkan kebiasaan buang air besar mereka yang masih di tempat terbuka dan sembarang tempat.
Pendekatan yang dilakukan dalam STBM menyerang/menimbulkan
100 rasa ngeri dan malu kepada masyarakat tentang kondisi lingkungannya. Melalui pendekatan ini kesadaran akan kondisi yang sangat tidak bersih dan tidak nyaman ditimbulkan.
Dari pendekatan ini juga ditimbulkan kesadaran bahwa sanitasi (kebisaan BAB di sembarang tempat) adalah masalah bersama karena dapat berimplikasi kepada semua masyarakat sehingga pemecahannya juga harus dilakukan dan dipecahkan secara bersama. Pemerintah Kelurahan menggunakan bantuan stimulan jamban yang dialokasikan melalui APBD kecamatan untuk membangun jamban bagi rumah tangga yang tidak mempunyai sarana ini sejak 2016. Selain menggunakan bantuan stimulan jamban, Pemerintah Kelurahan juga menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) 2018 dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Dinas PUPR) untuk membangun jamban leher angsa dan tangki septik bagi 50 rumah tangga yang belum mendapatkan bantuan stimulan jamban tahun 2017. Proses pembangunan ini mulai pada bulan September 2018 dan ditargetkan selesai di awal 2019.
Untuk memastikan data tentang kepemilikan jamban dan tangki septik di desa pomahan dan desa sembunglor tetap akurat di masa mendatang, Pemerintah Kelurahan dan perwakilan masyarakat membuat peta sanitasi desa pomahan dan desa sembunglor yang berisi informasi tentang jenis dan kondisi sarana sanitasi warga.
101 Dengan ini, menggunakan hasil kegiatan pengkajian partisipatif dan pemicuan, dan dipasang di Kantor Kelurahan sehingga masyarakat dapat menandai jika ada jamban warga yang rusak dan perlu bantuan pemerintah untuk memperbaikinya. Dalam strategi ini peran masyarakat menjadi sangat vital, karena masyarakat menjadi pemeran utama dalam menyelesaikan permasalahan sanitasi lingkungan. Hal ini dikarenakan masalah sanitasi lingkungan merupakan tanggung jawab masyarakat, bukan pihak lain. Selain itu, masyarakat juga berperan dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi, yang merupakan bagian penting dalam keberhasilan sebuah program. Beberapa hal yang membedakan program Sanitasi dengan program-program lainnya, yaitu yang pertama, prinsip yang digunakan dalam metode.
Sanitasi adalah target, bukan pada pembangunan sarana, tetapi menghilangkan “open defecation”, adanya variasi teknologi yang luas dan sedapat mungkin menggunakan material lokal sehingga sesuai jangkauan kemampuan seluruh lapisan masyarakat dan prinsip tanpa subsidi untuk meyakinkan bahwa masalah sanitasi adalah masalah masyarakat, bukan masalah pihak luar. Akan tetapi, kenyataan bahwa di beberapa desa yang mendapat bantuan untuk sanitasi, belum terbebas dari kebiasaan BAB di sembarang tempat atau open defecation. Dengan kata lain, kebiasaan BAB di sembarang tempat tetap berjalan, sekalipun fasilitas jamban
102 disediakan. Milyaran rupiah telah dikeluarkan dan banyak tenaga kerja yang bergerak dari satu proyek ke proyek lainnya. Tetapi dengan adanya program sanitasi ini juga bermanfaat untuk kenyamanan dan kebersihan untuk lingkungan yang ada di sekitar masyarakat.
4.3. Upaya Sinergitas Tiga (3) Pilar Dalam Menyelesaikan Masalah Program