• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Penyebab Kenakalan Remaja di Desa Dolong B, Kec

نوُك ِر ۡشُمۡلٱ

D. Ketaatan remaja

4. Faktor Penyebab Kenakalan Remaja di Desa Dolong B, Kec

Walea kepulauan Kab. Tojo Una-una Prov. Sulawesi Tengah

Kenakalan remaja merupakan produk konstitusi mental serta emosi yang sangat labil dan defektif. Sebagai akibat pengondisian lingkungan buruk terhadap pribadi anak. sebagaimana yang disampaikan oleh tokoh agama atas nama Hutman hamzah beliau menyampaikan bahwa;

“ Bagaimana bisa masyarakat taat kalau pemerintah saja tidak melihat kondisi ketaatan remaja, apakah masyarakatnya taat atau tidak? Pemerintah desa pun yang seharusnya menjadi pengawas dalam lingkup desa, tidak menjadikan ketaatan masyarakat khususnya remaja sebagai fokus utama. Bahkan bisa saja tidak dianggap sebagai masalah dalam masyarakat atau remaja, padahal apabila remaja umumnya masyarakat menjadi taat maka saya yakin tingkat kejahatan menurun dan kesejateraan akan dinikmati bersama”.16

Hal lain yang menjadi penyebab kenakalan remaja antara lain:

a.) Kontrol diri yang lemah

Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan tingkah laku yang tidak dapat diterima, akan tersesat pada perilaku “ nakal”.

Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.17

15 Ust Abdullah, wawancara pribadi, da’i Desa Dolong B,17 maret 2018

16Hutman Hamzah, Wawancara pribadi,tokoh agama Desa Dolong B 3 maret 2018 17 Ust Abdullah, wawancara pribadi, Da’i Desa Dolong B,17 maret 2018

b.) Kurangnya ilmu agama berhubungan dasar-dasar keimanan dalam diri remaja

Masalah ilmu agama belum menjadi upaya sungguh-sungguh dari orang tua dan guru terhadap diri remaja. Padahal ilmu agama adalah benteng diri remaja dalam menghadapi berbagai cobaan yang datang padanya sekarang dan dimasa yang akan datang.18

c.) Faktor lingkungan keluarga

Keluarga merupakan lingkungan terdekat untuk membesarkan, mendewasakan dan di dalamnya anak mendapat pendidikan yang pertama kali.

Keluarga merupakan kelompok masyarakat terkecil, akan tetapi lingkungan paling kuat dalam membesarkan anak dan terutama bagi anak yang belum sekolah.

Pendidikan keluarga salah bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja, seperti terlalu memanjakan anak, kurangnya didikan agama.19

d.) Faktor lingkungan sekolah

Sekolah merupakan tempat pendidikan kedua setelah rumah tangga.

Karena itu ia cukup berperan dalam membina anak untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab.

Anak remaja yang sudah duduk di bangku SMP dan SMA umumnya menghabiskan waktu 7 jam sehari di sekolahnya, hal ini menunjukkan bahwa sebagian waktu remaja dihabiskan di sekolah, tidak mengherankan kalau pengaruh sekolah terhadap perkembangan jiwa remaja cukup besar.20

18 Ust Abdullah, wawancara pribadi,da’i Desa Dolong B,17 maret 2018

19 Abdul Rasyid manopo, wawancara pribadi, toko agama Desa Dolong B,selasa 24 april 2018.

20 Ust Abdullah, wawancara pribadi,da’i Desa Dolong B,17 maret 2018

30 e.) Faktor keadaan masyarakat

Masyarakat sebagai lingkungan ketiga adalah lingkungan terluas bagi remaja dan sekaligus paling banyak menawarkan pilihan. Maka dari itu keadaan masyarakat sekitarnya lansung maupun tidak lansung akan memberikan pengaruh terhadap kehidupan remaja. Uatazd abdullah mengatakan bahwa :

Faktor kondisi lingkungan masyarakat yang tidak sehat atau rawan, menjadi faktor kondusif bagi remaja untuk berprilaku menyimpang. Apapun yang terjadi, mau tidak mau yang namanya remaja pasti terjun di masyarakat. Karena itu lingkungan sosial sewajarnya menjadi perhatian kita semua agar bisa menjadi lingkungan yang baik yang bisa meredam dorongan-dorongan negatif pada remaja.21

21 Ust Abdullah, wawancara pribadi,da’i Desa Dolong B,17 maret 2018

A. Analisis Bimbingan Islam Oleh Da’i Untuk Mengatasi Kenakalan Remaja di Desa Dolong B, Kec. Walea Kepulauan Kab. Tojo Una-una Prov. Sulawesi Tengah

Berdasarkan hasil wawancara dari Da’i dan Tokoh-tokoh yang ada di masyarakat Maka penulis akan menuliskan poin-poin yang berhubungan dengan pembinaan remaja untuk mengatasi kenakalan remaja di desa dolong B, sebagai berikut :

1) pembinaan remaja melalui masjid

pembinaan remaja dalam islam bertujuan agar remaja menjadi anak yang shalih dengan arti anak yang baik, beriman, berilmu, berketerampilan dan berahlak mulia serta memiliki fikrah islam yang komprehensif. Untuk membina remaja bisa dilakukan dengan berbagai cara dan sarana, salah satuNya melalui masjid atau pembentukan remaja masjid.

Remaja masjid Yaitu suatu organisasi atau wadah perkumpulan remaja muslim yang menggunakan masjid sebagai pusat akativitasnya dan telah terealisasi di masjid-masjid perkotaan. Terbukti salah satu alternatif pembinaan remaja terbaik. Melalui organisasi ini, mereka memperoleh lingkungan islami.

Remaja masjid membina para anggotanya agar beriman, berilmu dan beramal shalih dalam rangka mengabdi kepada allah swt untuk mencapairidhonya.

Pembinaan dilakukan dengan menyusun aneka program yang selanjutnya berkelanjutan dengan berbagai aktivitas. Remaja masjid yang telah mapan biasanya mampu berkerja secara terstruktur. Mereka menyusun kerja priodik dan

42 42

30

melakukan berbagai aktivitas yang berorientasi Pada keislaman, kemasjidan, keremajaan, keterampilan dan keilmuan.

Perjuangan yang dilakukan remaja masjid adalah dalam kerangka dakwah islamiyah, yaitu perjuangan untuk menyeru umat manusia kepada ketaatan kepada Allah dan rasulnya. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kebenaran, insya Allah akan mampu mengalahkan kebatilan. Namun perlu diketahui, saat ini kebatilan yang terorganisir juga memiliki peluang untuk dapat mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir.

Karena itu, dalam perjuangan melawan kebatilan perlu persiapan yang sungguh-sungguh dan tertata dengan rapi, seperti bunyanun marshush. Untuk membentuk bangunan strategi yang tersusun kokoh (bunyanun marshush) diperlukan organisasidan manajemen yang tangguh serta didukung sumber daya manusia (SDM) yang mencukupi dan berkualitas.

Abdul rasyid manopo selaku toko masyarakat menyatakan Remaja masjid memegang peran dalam penyebaran budaya islam.

“Melalui remaja mesjid secara bertahap kita dapat menanamkan nilai-nilai dasar keimanan, dengan pengadaan ta’lim dan diskusi, sehingga dapat membentengi generasi islam dalam pergaulannya, mereka mengenal jati diri tidak mudah terombang ambing dalam menentukan jalan hidup sebagai seorang muslim”.22

Saat ini seakan tidak ada batas pergaulan para pemuda, karena itu dengan remaja masjid inilah kita bisa mengontrol dan mencegah pergaulan bebas yang setiap saat mengintai generasi islam. Kemudian menggali potensi diri mereka

22Abdul Rasyid manopo, wawancara pribadi, toko agama Desa Dolong B,selasa 24 april 2018.

serta memotivasi untuk mengadakan kegiatan-kegiatan dengan kretifitas dalam menampilkan nilai-nilai keislaman.

2) Pembinaan remaja melalui lembaga pendidikan

Pendidikan merupakan sebuah keharusan bagi bangsa yang ingin eksis di tengah perubahan dunia. Bangsa –bangsa yang unggul adalah mereka yang mencurahkan segenap perhatiannya kepada pendidikan. Jepang yang terkenal dengan kecanggihan teknologinya, berhasil karena pemerintahannya sangat menomor satukan pendidikan.

Salah satunya bisa kita lihat dari ungkapan kaisar jepang hirohito setelah serangan bom atom tentara sekutu di dua kota besar, hiroshima dan nagasaki, dia mengatakan“berapa guru yang kita masih miliki?”.Bangsa indonesia juga tidak kalah dengan jepang, pendidikan menjadi salah satu target dalam perencanaan pembangunan pemerintah, sejak orde baru sudah menggulirkan program WAJAR (wajib belajar).

Niat baik pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia indonesia melalui pendidikan tampak dari restra (rencana strategis), dalam restra tersebut pemerintah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk seluruh jenjang pendidikan di indonesia mulai tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Perguruan Tinggi (PT). Dengan adanya kebijakan pemerintah tersebut, seorang Da’i harusnya memberikan apresiasi dan mendukung secara moril ijtihad baik pemerintah., disertai dengan usaha terjun ke sekolah-sekolah dalam rangka

30

memberikan pengajaran, bimbingan, praktek pelaksanaan syariat kepada anak didik, khususnya di Desa Dolong B.

Ust abdullah selaku da’i desa Dolong b, menyatakan hal penting yang harus diusahakan bersama :

“di antara usaha maksimal dalam pembinaan remaja selainbimbingan di sekolah- sekolah harus mengusulkan kepada pemerintah atau pihak swasta untuk

mengadakan anggaran pembangunan pondok pesantren”23

Dalam hal ini bahwa begitu pentingnya pondok pesanren sebagai tempat pembinaan yang terus mengotrol pergaulan para remaja sehingga dengan pendidikan tersebut akan membentuk karakter remaja di manapun mereka berada baik di lingkungan keluarga, masyarakat dan di berbagai kesempatan lainnya ahlak para remaja tetap pada nilai keislaman.

3) Pembinaan remaja melalui pendidikan keluarga

Keluarga adalah bagian dari tiga institusi pendidikan selain sekolah dan masyarakat. Di dalam keluarga anak belajar banyak tentang norma dan nilai. Jika dibandingkan sekolah atau masyarakat, kedudukan keluarga lebih ensesial. Hal ini didasari oleh keberadaan keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama yang mempengaruhi anak.

Mendidik itu ibarat memasak, bahan apa pun akan menjadi hidangan yang lezat di tangan koki terbaik. Tetapi sebaliknya bahan yang enak dan mahal pun menjadi biasa saja di tangan koki amatir. Perbedaan antara koki professional dan amatir terletak pada penguasaan metode. Koki profesional menguasai banyak

Ust Abdullah, wawancara pribadi, toko agama Desa Dolong B,17 maret 2018

teknik memasak, dia bisa menggunakan cara masak yang beragam terhadap satu bahan makanan. Sedangkan koki yang amatir tidak menguasai teknik memasak, bagi dia memasak adalah mengubah bahan mentah menjadi matang.

Begitu pula dalam suatu keluarga orang-orang dewasa menjadi guru bagi anak-anak, Ayah, ibu, kakak, bahkan pembantu rumah tangga adalah guru-guru yang mempengaruhi keadaan anak baik secara psikologis ataupun intelektual.

Maka keluarga yang mengiginkan kebahagiaan dunia dan akhirat berupa anak shalih/shalihah, hendaknya mereka mempersiapakan sebaik mungkin sejak dini

Karena pendidikan yang salah bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja, keluarga sangat menentukan bentuk karakter dan perkembangan karakteristik kepribadian anak.

Dokumen terkait