• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Faktor Penyebab Kematian pada Anak (Neonatal, Bayi dan Balita)

2.3.5 Faktor penyebab terkait Pelayanan Kesehatan

Pelayanan kesehatan selama kehamilan, persalinan dan nifas sangat penting dalam keberlangsungan hidup bayi terutama dalam menurunkan angka kematian bayi . Indikator utama lama pelayana kesehatan menurunkan kematian bayi yaitu pemeriksaan kehamilan/pelayana antenatal care, kunjungan neonatal, persalinan di fasilitas kesehatan, persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten.

1. Pelayanan Antenatal Care

Pelayanan kehamilan atau antenatal care adalah pelayanan kesehatan ibu hamil yang diberikan oleh tenaga kesehatan kompeten selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal. Tujuan pelayanan ANC yaitu memenuhi hak setiap ibu hamil memperoleh pelayanan antenatal yang berkualitas sehingga mampu menjalani kehamilan dengan sehat, bersalin dengan selamat, dan melahirkan bayi yang sehat.

Pelayanan antenatal disebut lengkap apabila dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten serta memenuhi standar tersebut. Standar waktu pelayanan antenatal tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan kepada ibu hamil, berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan dan penanganan komplikasi. Pelayanan pemeriksaan kehamilan dilaksanakan oleh dokter (dokter umum dan/atau dokter kandungan), bidan dan perawat meliputi pemeriksaan kehamilan (K1) yaitu pelayanan kesehatan masa kehamilan minimal 1 kali tanpa memperhitungkan periode waktu pemeriksaan dan pemeriksaan kehamilan 4 kali (K4) yaitu pelayanan kesehatan masa kehamilan yang diberikan minimal 4 kali, yaitu 1 kali pada trimester pertama, 1 kali pada trimester ke dua, dan 2 kali pada trimester ke tiga (BKKBN et al., 2018).

Gambar 2.5 Tren Cakupan Pemeriksaan kehamilan (BKKBN et al., 2018)

Pelayanan ANC dari tenaga kesehatan (nakes) yang kompeten minimal 1 kali (K1) mengalami peningkatan sedikit dari 93% pada SDKI 2007 menjadi 98% pada SDKI 2017, dan ANC K4 meingkat 11% dari 66% pada SDKI 2007 menjadi 77% pada SDKI 2017. Persentase cakupan ANC K4 ini sedikit lebih tinggi dari target Kementerian Kesehatan pada tahun 2015 sebesar 72 persen, dan 77 persen pada tahun 2017. Dengan demikian target Renstra Kementerian Kesehatan 2015-2019 untuk indikator ANC K4 hingga tahun 2017 telah tercapai (BKKBN et al., 2018).

Isnawati dalam penelitiannya menyatakan bahwa frekuensi kunjungan ANC < 4 kali mempengaruhi 1,8 kali terjadinya kematian neonatal dan 1,8 kali berisiko terjadi kematian postneonatal dan bayi, maka pemeriksaan ANC 4 kali atau lebih akan memberikan perlindungan pada bayi dan deteksi dini kemungkinan risiko terjadinya kematian neonatal, postneonatal dan bayi (Isnawati, 2014). Pada provinsi dengan AKB tertinggi memiliki rata-rata persentase ANC < 4 lebih tinggi sebesar 24.4% dibandingkan dengan provinsi yang memiliki AKB rendah sebesar 12.7%. Pelayanan antenatal care < 4 kali memiliki korelasi yang kuat dengan kematian anak di provinsi, artinya semakin tinggi presentase pelayanan antenatal care < 4 kali anak di suatu provinsi maka semakin tinggi kematian provinsinya (Laksana, 2015).

2. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan

Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan kompeten yaitu ditolong oleh dokter umum, dokter kandungan (dokter spesialis kandungan dan kebidanan), bidan dan perawat terlatih (BKKBN et al., 2018). Proporsi persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan kompeten meningkat dari 83 persen pada SDKI 2012 menjadi 91 persen pada SDKI 2017, dan persalinan yang masih ditolong oleh dukun bayi mengalami penurunan dari 14 persen pada SDKI 2012 menjadi 7 persen pada SDKI 2017(BKKBN et al., 2018). Persalinan ditolong oleh tenaga non kesehatan memiliki korelasi yang kuat dengan kematian anak di provinsi, artinya semakin tinggi presentase persalinan ditolong oleh tenaga non kesehatan di suatu provinsi maka semakin tinggi kematian provinsinya (Laksana, 2015).

Penolong persalinan oleh tenaga terlatih dapat menjadi indikator penggunaan layanan kesehatan oleh ibu hamil dalam memperoleh informasi tentang kesehatan ibu dan anak yang lebih baik. Risiko kematian neonatal dini pada persalinan ditolong oleh non tenaga kesehatan sebesar 2,7 kali jika dibandingkan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (Hermiyanti, 2014).

Pada provinsi dengan AKB tertinggi memiliki rata-rata persentase penolong persalinan oleh non-tenaga kesehatan lebih tinggi sebesar 29.9% dibandingkan dengan provinsi yang memiliki AKB rendah sebesar 5.1%.

3. Pertolongan Persalinan di fasilitas kesehatan

Persalinan yang dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan (puskesmas, klinik atau rumah bersalin, praktik tenaga kesehatan dan rumah sakit) merupakan salah satu indikator penurunan kematian bayi baru lahir dimana dapat memastikan ibu melahirkan ditempat yang sesuai standard, peralatan dan kondisi persalinan yang higienis dapat membantu mengurangi risiko komplikasi yang dapat menyebabkan kesakitan dan kematian (BKKBN et al., 2018). Selama kurun waktu 5 tahun, persalinan di rumah turun dari 36 persen pada SDKI 2012 menjadi 21 persen pada SDKI 2017 dikarenakan telah terjadi peningkatan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan, dari 56 persen pada SDKI 2012 menjadi 74 persen SDKI 2017 (BKKBN et al., 2018). Proses persalinan di fasilitas kesehatan

diharapkan karena jika ada kondisi kegawatdaruratan dapat ditangani secara langsung oleh tenaga kesehatan kompeten.

Hasil Riskesdas 2017, persalinan di fasilitas kesehatan adalah 79.3%

dimana ada peningkatan dari 70,4 persen hasil riskesdas 2013, namun masih terdapat 16.9 persen bersalin di rumah/lainnya. Penolong persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten (dokter spesialis, dokter umum dan bidan/perawat) mencapai 93.1%, namun masih bervariasi antar provinsi (Batlitbangkes, 2018).

Persalinan yang tidak dilakukan difasilitas kesehatan mempunyai peluang 1,5 kali untuk terjadinya kematian neonatal (Hermiyanti, 2014)

5. Kunjungan Neonatal

Pelayanan perawatan masa nifas bayi baru lahir (KN) dilakukan untuk mendeteksi tanda bahaya dan gangguan kesehatan pada anak secara dini agar tidak terjadi kematian maupun kesakitan, dimana dimulai sejak 24 jam pertama setelah kelahiran hingga 48 jam setelah melahirkan (KN 1). Pelayanan kesehatan pada bayi baru lahir dianjurkan untuk dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu 1 kali pada umur 6-48 jam (KN 1), 1 kali pada umur 3-7 hari (KN 2), dan 1 kali pada umur 8- 28 hari (KN 3) (BKKBN et al., 2018). Pelayanan yang diberikan saat KN meliputi pengukuran berat dan panjang badan lahir, pengukuran suhu tubuh, perawatan tali pusat, pemeriksaan adanya penyakit atau infeksi berat dengan menghitung frekuensi napas dan denyut jantung bayi, pemeriksaan ikterus, pemeriksaan diare, pemeriksaan adanya kemungkinan berat badan rendah dan/atau masalah pemberian ASI, pemeriksaan status pemberian vitamin K1 dan imunisasi HB-0, serta pemberian tindakan (terapi/rujukan) jika ada masalah/keluhan pada bayi (BKKBN et al., 2018).

Bayi yang mendapatkan pelayanan kesehatan dalam 2 hari pertama setelah dilahirkan sebanyak 79% mengalami peningkatan signifikan dalam kurun waktu 2012-2017 dari 52% tahun 2012, ini telah melebihi target 75 persen yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2015, namun masih ada juga bayi baru lahir yang mendapatkan perawatan neonatal pada umur 3-7 hari sebesar 2% (BKKBN et al., 2018). Pada provinsi dengan AKB tertinggi memiliki rata-

rata persentase waktu kunjungan neonatal > 7 hari lebih tinggi sebesar 27.1%

dibandingkan dengan provinsi yang memiliki AKB rendah sebesar 21.4%.

2.4 Kerangka Analisis Studi Kelangsungan Hidup Anak di Negara Berkembang

Dokumen terkait