BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5 Perhitungan
Perhitungan ini membandingkan hasil pengukuran dan hasil perhitungan dimana perbedaannya terdapat pada penambahan Direct Grounding dengan tujuan menurunkan / mengurangi nilai pentanahan pada tower.
A. Hasil Pengkuran
Menjelaskan hasil pengukuran rata-rata dari setiap kaki tower ( A,B,C,D) sebelum pemasangan Direct Grounding nilainya di atas standar 5 ohm dan sesudah pemasangan Direct Grounding.nilainya menjadi di bawah standar 5 ohm.
36 Tabel 4.1 : Sebelum pemasangan Direct Grounding
NO.TOWER
Hasil Pengukuran Kaki T ower A ( Ω ) B ( Ω ) C ( Ω ) D ( Ω )
Rata-rata ( Ω) 71 17,4 Ω 6,39 Ω 8,55 Ω 7,03 Ω 9,8425 Ω 72 4,6 Ω 3,38 Ω 5,97 Ω 4,27 Ω 4,555 Ω 73 4,18 Ω 2,87 Ω 4,35 Ω 1,56 Ω 3,24 Ω 210 9,55 Ω 9 Ω 9,35 Ω 8,78 Ω 9,17 Ω
243 4 Ω 3,4 Ω 4 Ω 4,2 Ω 3,9 Ω
244 6 Ω 2 Ω 5,6 Ω 2,4 Ω 4 Ω
252 8,78 Ω 7,55 Ω 10,7 Ω 12,02 Ω 9,7625 Ω
269 10,4 Ω 10,5 Ω 4,2 Ω 3 Ω 7,025 Ω
270 9,6 Ω 9 Ω 7 Ω 18 Ω 10,9 Ω
271 26 Ω 20 Ω 22 Ω 32 Ω 25 Ω
272 50 Ω 40 Ω 80 Ω 80 Ω 62,5 Ω
275 22,1 Ω 20,8 Ω 20,1 Ω 20 Ω 20,75 Ω 276 42,2 Ω 42 Ω 41,9 Ω 41,7 Ω 41,95 Ω
290 50 Ω 9,8 Ω 26 Ω 26 Ω 27,95 Ω
291 22,3 Ω 23 Ω 22,4 Ω 30,7 Ω 24,35 Ω
37 Tabel 4.2 : Sesudah pemasangan Direct Grounding
NO.TOWER
Hasil Pengukuran Kaki T ower
A ( Ω ) B ( Ω ) C ( Ω ) D ( Ω ) Rata-rata ( Ω) 71 1,1 Ω 0,91 Ω 0,84 Ω 1,11 Ω 0,99 Ω
72 1,4 Ω 0,9 Ω 0,6 Ω 1,4 Ω 1,075 Ω
73 2,2 Ω 2 Ω 2 Ω 2,4 Ω 2,15 Ω
210 1,4 Ω 2,6 Ω 1,9 Ω 3 Ω 2,225 Ω
243 3,2 Ω 2,4 Ω 4,8 Ω 2,8 Ω 3,3 Ω
244 2,4 Ω 2,8 Ω 2,8 Ω 1,9 Ω 2,485 Ω
252 2 Ω 3 Ω 3,2 Ω 2 Ω 2,55 Ω
269 1,8 Ω 2,6 Ω 1,3 Ω 2,5 Ω 2,05 Ω Ω
270 2,2 Ω 3,6 Ω 3,5 Ω 2,2 Ω 2,875 Ω
271 1,8 Ω 2,8 Ω 2,4 Ω 2 Ω 2,25 Ω
272 3 Ω 2 Ω 2 Ω 4 Ω 2,75 Ω
275 3,6 Ω 2,1 Ω 3,1 Ω 1,7 Ω 2,625 Ω
276 2,2 Ω 2 Ω 2,2 Ω 2,2 Ω 2,15 Ω
290 2,2 Ω 2,4 Ω 2,3 Ω 2,6 Ω 2,375 Ω
291 3,2 Ω 1,6 Ω 2 Ω 1,8 Ω 2,15 Ω
38 B. Data
menampilkan data- data jenis tower, terdapat 2 jenis yaitu tower jenis suspension ( penyangga ) dan tension ( penarik ) dimana memiliki panjang kaki tower, lebar kaki tower, serta area cangkupan pentanahan yang berbeda sesuai dengan jenisya.
Tabel 4.3 : Data Pentanahan Dan Tower
C. Pengolahan data
Pada pengolahan data ini mengambil salah satu contoh nilai rata – rata bersama dari tower 71 dengan type tower (Aa2 + 3) dan type isolator Doubel Suspension (DS).
1. Menghitung tahanan jenis tanah (Pers.1)
ρ = 38,5 Ω.m Jenis Tower
Panjang kaki tower (m)
Lebar kaki tower (m)
Tinggi tower (m)
Area cangkupan pentanahan (m2)
Tension (A) 12 12 42 81
Suspension (D)
16 16 42 49
39 2. Menghitungkan Tahanan Grid dengan efek kedalamannya (Pers.2)
Rg = 2,69 Ω
3. Menghitung tahanan tanah dari Grid dengan persamaan Schwarz’s (Pers.3)
R1 = 2,59 Ω
4. Menghitung tahanan tanah rod (Pers.4)
R2 = 1,24 Ω
5. Menghitung hambatan tanh bersama anatar Grid dan batang (Pers.5)
Rm = 1,73 Ω
6. Menghitung resistansi total system (Pers.6) Rg= 2,59 x 1,24 – 1,372
2,59 + 1,24 – 2 x 1,73 Rg = 0,59 Ω
Keterangan :
40 1. Menghitung K1 dan K2
Untuk kedalaman h = 1/10 √𝐴𝑟𝑒𝑎
Diketahui x=1 dikarenakan luas kaki pentanahan adalah berbentuk bujur sangkar.
Untuk K1 (Pers.7) yB = -0,005 x + 1,20 yB = 1,195
Untuk K2 (Pers.8) yB = 0.10 x + 4.68 yB = 4.78
2. Menghitung jari – jari konduktor yang terkubur kedalam Grid
a' = √𝑎 2ℎ
a' = √0,009525.2 𝑥 0,25 =0,06901 D. Hasil perhitungan
Untuk hasil perhitungan terdapat pada tabel 4.4 dimana pada setiap kaki hasil perhitungannya berbeda yaitu nilai dari perhitungan tahanan jenis tanah, tahanan Grid dengan efek kedalaman, tahanan tanah dari Grid , tahanan tanah Rod, tahanan bersama Gid dan Rod dan tahanan total sistem. Hasil perhitungan menggunakan rumus yang yang diambil dari nilai rata-rata hasil setelah pemasangan dan pengukuran Direct Grounding.
41 Tabel 4.4 Hasil Perhitungan
NO TOWER
ρ ( Ω ) Rg ( Ω ) R1 ( Ω ) R2 ( Ω ) Rm ( Ω) Rgs ( Ω)
71 38,5 Ω 2,69 Ω 2,59 Ω 1,24 Ω 1,73 Ω 1,23 Ω 72 45,57 Ω 2,61 Ω 2,52 Ω 1,3 Ω 1,5 Ω 1,29 Ω 73 56,8 Ω 3,97 Ω 3,8 Ω 1,82 Ω 2,5 Ω 1,07 Ω 210 57,82 Ω 4,04 Ω 3,9 Ω 1,85 Ω 2,61 Ω 0,76 Ω 243 70,42 Ω 4,9 Ω 4,75 Ω 2,26 Ω 3,1 Ω 1,3 Ω 244 69,15 Ω 3,97 Ω 3,8 Ω 2,22 Ω 2,28 Ω 2,2 Ω 252 70,19 Ω 4,03 Ω 3,8 Ω 2,25 Ω 2,32 Ω 2,2 Ω 269 62,93 Ω 3,6 Ω 3,48 Ω 2,02 Ω 2,08 Ω 2 Ω 270 74,53 Ω 4,28 Ω 4,12 Ω 2,39 Ω 2,46 Ω 2,3 Ω 271 58,15 Ω 4,07 Ω 3,92 Ω 1,86 Ω 2,62 Ω 0,5 Ω 272 64,28 Ω 4,49 Ω 4,33 Ω 2,06 Ω 2,9 Ω 0,8 Ω 275 62,81 Ω 4,3 Ω 4,2 Ω 2,01 Ω 2,8 Ω 0,9 Ω 276 64,45 Ω 3,7 Ω 3,57 Ω 2,06 Ω 1,97 Ω 2,05 Ω 290 59,74 Ω 4,1 Ω 4,03 Ω 1,91 Ω 2,6 Ω 1,2 Ω 291 64,45 Ω 3,7 Ω 3,57 Ω 2,06 Ω 1,97 Ω 2 Ω
42 E. Analisis
Banyak elektroda Rod yang berjumlah 9 batang dan di hubung secara paralel bahwa nilai resistansi total sistem di bawah 2,3 ohm. Hasil l ini sangat baik karena di bawah standar tahanan tanah yaitu 5 ohm.
Perbandingan nilia hitungan tahanan total sistem dengan nilai rata- rata pengukuran bersama nilai terjauh 1,4 ohm. Nilai pengukuran lebih kecil dari pada nilai perhitungan dapat di karenakan ketika pengukuran pada saat tanah sedah basah sehingga tahanan jenis tanah menurun dan tahanan sistem ikut menurun.
Perhitungan dapat dilihat bahwa semakin besar tahanan jenis tanah maka semakin besar nilai tahanan totalnya. Hasil ini sejalur dengan rumus yang di gunakan karena nilai tahanan jenis tanah di semua rumus di pakai di pembilang.
Nilai tahanan jenis tanah secara perhitungan pada tower 270 lebih besar daripada tower 71, sedangkan nilai tahanan total sistem tower 71 lebih kecil dari pada tower 270. Nilai tersebut sangat di pengaruhi oleh area cakupan pentanahan, tower 270 lebih besar daripada 70 karena perbedaan jenis tower di mana tower 270 tipe tension sedangkan 70 tipe sispension. Semakin luas area cangkupan pentanahan maka tahanan jenis tanahnya semakin besar, dan tahanan totalnya akan lebih kecil dibandingkan tahanan total dari area cangkupan pentanahan yang lebih kecil karena pada rumus-rumus yang mencari tahanan total area cakupan pentanahan (A) menjadi pembagi.
43 BAB V
PENUTUP A. Kesimpulan
1. Banyaknya jumlah elektroda Rod 9 buah dan dihubungkan ke paralel, maka nilai perhitungan tahanan kaki pentanahan yang di dapatkan yaitu di bawah standar < 5 ohm. Dengan begitu pentanahan kaki tower T/L Lasususa-Kolaka aman dan baik.
2. Nilai perhitungan tahanan terendah di kaki tower 271 dengan nilai resistansi 0,5 ohm, sedangkan nilai tertinggi berada pada kaki tower 270 dengan nilai resistansi 2,3 ohm.
3. Area cakupan pentanahan sangat mempengaruhi nilai tahanan total dan tahanan jenis tanah pada perhitungan. Semakin luas area maka semakin besar tahanan jenis tanah, tapi nilai pentanahannya akan menjadi kecil karena semakin jauh jarak antar elektroda Rod maka semakin kecil tahanan total.
B. Saran
1. Perlunya dilakukan pengukuran rutin tahanan pentanahan tower pada tower jaringan transmisi sebagai mitigas awal pencegahan gangguan.
2. Metode perbaikan Tower di ULTG Kendari sebaiknya diaplikasikan pada ULTG lain yang memiliki tower dengan tahanan jenis tanah yang tinggi.
44 DAFTAR PUSTAKA
A sunawar, “Analisis pengaruh temperatur dan kadar garam terhadap hambatan jenis tanah,” Setrum, vol. 2, no. 1, pp. 16-21, 2013
Ariawan. Putu Rusdi.2009. Pentanahan Netral Sistem Tenaga. Jakarta : Erlangga.
Jasdi Udiklat PLN. 2009. Sistem Tenaga Listrik Jakarta.
G.S. Pambayun,R, Y. E. Yuliato, M Rachimoeallah, and E. M. M. Putri,
“Pembuatan karbon aktif dari arang tempurung kelapa dengan aktivator ZnC12 dan Na 2CO3 sebagai adsorben untuk mengurangi kadar fenol dalam air limbah, “J. Tek Pomit, Vol. 2 No. , PP. 116-120, 2013) Herman and W. Joetra, “Pengaruh garam dapur (NaCl) terhadap kembang susut
tanah lampung, “J. Momentum, vol. 17, no 1, pp. 13-20, 2015
Hutauruk, T.S. 1999. “Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan Peralatan”. Jakarta: Erlangga
IEEE STD 142-1991 IEEE STD-80-2000
Pabla. A. S. Ir.Hadi. Abdul 1991 (Sistem distribusi daya listrik) erlangga:Jakarta PT. PLN (Persero) ULTG Kendari (Target Kinerja) 2018
PT. PLN (Persero). 2010. “Buku Petunjuk Batasan Operasi dan Pemeliharaan Peralatan Penyaluran Tenaga Listrik Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT/SUTET) (No. Dokumen : 10-22/HARLUR-PST/2009)”.
Jakarata : SK Direksi No. 114. Dir/2010 Puil 2011 (Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2011)
PUIL. 1987 (Peraturan Umum Instalasi Listrik Indonesia 187)
45
LAMPIRAN
a. Penggalian b. Penarikan Kawan Arde ke Tower
c. Penanaman Elektroda Batang d. Penarikan kawat ke lubang galian
e. Paralel groove dihubungkan f. Membuat belitan diantara ke kawat arde batang elektroda
46 g. penaburan garam h. Penaburan arang
i. Proses penimbunan j. Pengujian Direct grounding
47 Gambar ilustrasi Sistem Pentanahan Tower T/L Lasusua-Kolaka
48 Foto Sebelum Terjadi Sambaran Petir (Flash Over) Normal
Foto Setelah Terjadi Sambaran Petir (Flash Over)