• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V EFEK-EFEK KOMASS

3. Faktor yang Mempengaruhi Efek Komass

Efek komunikasi massa menampakkan wujudnya menjadi tiga yakni; efek kognitif (pengetahuan), wujud afektif (emosional dan perasaan), dan wujud behavioral yang tidak lain adalah perubahan perilaku. Ketiga wujud efek komunikasi ini tidak bisa berdiri sendiri yang berarti juga masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi penerimaan pesan. Faktor itu dipilah menjadi dua bagian besar yaitu faktor individu dan faktor sosial. “Ada dua faktor yang mempengaruhi efek komunikasi massa” (Nurudin, 2014:228), yaitu; (a) Faktor individu, dan( b) Faktor sosial.

a. Faktor Individu

Lebih jauh dikemukakan oleh Nurudin bahwa faktor individu yang ikut berpengaruh pada penerimaan pesan lebih banyak dipengaruhi oleh pemikiran psikologi. Seorang psikolog akan melihat bahwa faktor pribadi seseorang ikut menentukan proses efek yang terjadi. Faktor-faktor itu antara lain, selective attention, selective perception, selective retention, motivasi dan pengetahuan, kepercayaan, pendapat, nilai dan kebutuhan, kepribadian, dan penyesuaian diri.

41

Selective attention dimaksudkan bahwa individu cenderung memperhatikan dan menerima terpaan pesan media massa yang sesuai dengan pendapat dan minatnya. Selective perception diberikan arti bahwa seorang individu secara sadar akan mencari media yang bisa mendorong kecenderungan dirinya. Kecenderungan dirinya ini bisa berupa pendapat, sikap, dan/atau keyakinan. Kemudian yang dinamakan selective retention adalah kecenderungan seseorang hanya untuk mengingat pesan yang sesuai dengan pendapat dan kebutuhan dirinya. Misalnya, Anda seorang mahasiswa, pada saat dosen Anda memberikan informasi tentang soal-soal yang akan keluar dalam Ujian Akhir Semester, besar kemungkinan Anda akan mengingat atau menghafalkan soal materi yang berhubungan dengan soal- soal yang dianjurkan dosen tersebut.

Lalu apa pula yang berkenaan dengan motivasi ? Motivasi seseorang juga akan ikut menentukan sebuah pesan itu diterima atau ditolak. Motivasi seseorang, untuk mencari hiburan misalnya, akan menjadi alasan untuk menikmati media massa. Acara “dialog politik” tentu tidak akan menarik bagi yang ingin mencari hiburan seperti menonton sinetron. Kenapa begitu ? Sebab orang yang tertarik dengan “dialog politik” akan membawa dampak pada publik atau bukan bersifat pribadi. Sedangkan sinetron yang ditontonya tentu bersifat sangat pribadi sesuai dengan minat dan kesenangannya. Seorang yang percaya bahwa dengan memanfaatkan media massa, masyarakat akan menjadi cerdas dan akan mendudukkan media massa sebagai satu-satunya faktor yang ikut mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang.

Sementara itu kepribadian seseorang juga akan ikut dalam pembentukan proses penerimaan pesan. Pribadi yang gampang marah tentu tidak akan terpengaruh terhadap terpaan televisi yang intinya menyarankan harus bersikap sabar. Pribadi penyabar akan menyukai sajian-sajian acara yang membutuhkan kesabaran. Misalnya, mereka akan menyukai acara anak-anak, apalagi pada dasarnya mereka memang senang terhadap anak. Menyenangi anak tidak akan bisa diserahkan pada mereka yang mempunyai pribadi yang cepat marah.

Orang-orang yang cepat bisa menyesuaikan diri akan mudah terkena terpaan media massa. Misalnya, Anda berasal dari desa, kemudan Anda pergi ke kota yang terpaan media massanya demikian gencar. Terpaan media massa dan

42

pergaulan sehari-hari jelas akan mempengaruhi sikap dan perilaku Anda dalam menghadapi lingkungan di sekelilingnya. Dari segi cara berpakaian Anda akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan pergaulan kota, misalnya ada informasi tentang mode trend terbaru pemakaian model rambut. Orang yang gampang menyesuaikan diri akan lebih mudah terkena terpaan tentang informasi model rembut tadi. Terpaan media massa akan lebih mudah diterima oleh orang-orang yang biasa menyesuaikan diri dengan hal-hal yang baru.

b. Faktor Sosial

Pada kajian ini masih mengadopsi pandangan Nurudin (2014)

sebagaimana yang dipaparkan mengenai faktor individu terdahulu. Dalam hal ini seorang ahli sosial (Sosiolog) lantaran memfokuskan kajian pada masyarakat, dalam berbagai kesempatan melihat individu itu sebagai gejala sosial. Artinya, bagaimana individu itu berhubungan dengan orang lain dan dalam kerangka yang lebih luas. Semuanya akan mempengaruhi proses efek yang akan terjadi.

Memang, membedakan antara faktor individu dengan faktor sosial sangat sulit sebab batasannya sangat tipis, tetapi bukan berarti hal itu tidak bisa dibedakan.

Tegasnya, individu atau orang perorang berbeda dengan masyarakat.

Umur dan jenis kelamin merupakan faktor pertama yang mempengaruhi proses penerimaan pesan. Bisa jadi karena umur dan jenis kelamin seseorang akan ikut mempengaruhi pada kelompok mana ia bergabung. Jadi jenis kelamin dan umur mempengaruhi proses penerimaan pesan media massa. Misalnya, Anda masuk organisasi sosial keagamaan NU (Nahdlathul Ulama) atau Muhamadyah.

Individu yang masuk organisasi keagamaan NU akan lebih mudah menerima pesan-pesan media massa yang mendukung keberadaan NU dan menolak kritik- kritik yang ditujukan kepada NU, begitu juga sebaliknya dengan mereka yang masuk sebagai organisasi keagamaan Muhamadyah. Bahkan reaksi individu yang masuk organisasi seringkali bersifat sangat reaktif. Artinya, bisa jadi pesan-pesan media massa itu benar, tetapi karena ia berada pada sebuah organisasi, maka pesan-pesan itu tidaklah begitu mengena pada diri individu tersebut.

Setiap orang mempunyai jenis dan tingkat pendidikan yang berbeda dengan yang lainnya. Keragaman tingkat pendidikan inipun sangat menentukan proses

43

penerimaan pesan media massa. Mereka yang berpendidikan rendah biasanya lebih menyukai berita-berita seks, kriminal, kejahatan, atau berita-berita yang sadis-bombastis. Oleh karena itulah mengapa surat kabar Pos Kota (Jakarta), Memorandum (Surabaya), Meteor (Semarang), dan juga koran Bali Express (Bali), lebih ditujukan kepada kalangan menengah ke bawah, karena mereka (pembaca) lebih menyukai berita-berita seperti itu. Sangat jarang atau hampir tidak ada yang membaca berita-berita koran Kompas atau majalah Tempo. Ini artinya, pesan-pesan media massa Kompas dan Tempo lebih banyak mempengaruhi pembaca kalangan menengah ke atas.

Seorang pegawai bank atau mereka yang bekerja di sektor ekonomi lebih senang menikmati acara berita Market Review daripada Parliament Watch yang membicarakan politik uang di DPR pada Metro TV. Atau, kelompok ini akan lebih suka membaca Bisnis Indonesia, Kontan, Infobank (media ekonomi) daripada membaca Citra, dan Bintang (media umum dan hiburan). Bahkan pendapatanpun akan ikut menentukan acara apa yang akan dilihat/dtonton dan koran mana yang akan dijadikan bacaan setiap harinya. Mereka yang memiliki uang berlebih mungkin akan berlangganan lebih dari satu media dan sebaliknya yang ekonominya pas-pasan mungkin hanya satu media yang dibacanya setiap hari.

Selanjutya, agama yang mereka anut akan mempengaruhi juga efek pesan.

Agama biasanya menjadi faktor penentu dalam organisasi apa yang akan diikuti.

Itu berarti, organisasi keagamaan apa yang akan diikuti ikut menentukan proses penerimaan pesan. Bahkan sangat menentukan acara apa yang hendak ditonton di televisi dan rubrik apa yang akan dibaca di sebuah koran. Selain agama, juga tempat tinggal yang ikut menentukan keragaman media yang akan ditonton atau dibacanya. Katakanlah Anda tinggal di Jawa Timur (Surabaya), kemungkinan besar Anda akan berlangganan atau setidak-tidaknya sering membaca koran Jawa Pos, Surya, dan tidak akan berlangganan Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), Suara Merdeka (Semarang), dan Pikiran Rakyat yang terbit di Bandung. Dalam kaidah jurnalistik ada kaitannya dengan proximity (faktor kedekatan), seperti misalnya seorang PNS yang tinggal di Denpasar sangat mungkin akan membaca/berlangganan Bali Post, Nusa Bali, atau sering-sering memirsa Bali TV,

44

Dewata TV, dan TVRI Bali. Sangat tipis kemungkinan mereka membaca koran Suara Pembaruan, Pos Kota, atau Gorontalo Pos.

E. Rangkuman

Efek komunikasi massa (komass) dapat diberikan arti sebagai perubahan perilaku manusia setelah diterpa oleh pesan-pesan media massa. Efek komass amat bervariasi namun jika dipilah menjadi dua bagian besar maka efek tersebut meliputi; efek primer, dan efek skunder. Di pihak lain ada pula pandangan yang lebih rinci tentang efek komass tersebut yakni; efek ekonomi, efek sosial, efek penjadwalan kegiatan sehari-hari, efek hilangnya perasaan yang tidak nyaman, dan efek komass yang dapat menumbuhkan perasaan tertentu.

Teori efek komass dibedakan menjadi tiga yaitu; (a) Teori efek tidak terbatas, (b) Teori efek terbatas, dan (c) Teori efek moderat. Sedangkan yang mempengaruhi efek komass tersebut diidentifikasi menjadi dua faktor, yaitu;

faktor individu, dan faktor sosial.

45 F. Latihan Menjawab Soal

1. Renungkan sejenak, lalu jawab pertanyaan ini, “apa yang Anda ketahui tentang efek komunikasi massa (komass), dan apa pula ciri-cirinya

2. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis efek komass disertai contohnya masing-masing

3. Jelaskan secara ringkas apa yang Anda ketahui tentang teori efek komass yang tidak terbatas, disertai contohnya yang relevan !

4. Jelaskan secara ringkas apa yang Anda ketahui tentang teori efek komass terbatas disertai dengan contohnya yang relevan !

5. Jelaskan pula secara ringkas, disertai contoh, tentang teori efek komass yang dikatakan moderat !

46 G. Daftar Rujukan

Anonim. tt. Uraian Teoretis Komunikasi Massa (Bab II). Tersedia pada Reposi- tory.usu.ac.id. .... diunduh 2 Februari 2015.

--- 2013. Hambatan, Efek dan Teori Efek Komunikasi Massa dalam Sosiologi Komunikasi. tersedia pada communication.uii.ac.id/images/perkuliahan/

soskom6.pdf.diunduh 2 Februari 2015.

Effendy, Onong Uchjana. 1989. Kamus Komunikasi. Bandung: Penerbit CV.

Mandar Maju.

Nurudin. 2007/2014. Pengantar Komunikasi Massa. Bandung: Penerbit Rajawali Pers.

Setyowati, Yuli. 2006. Komunikasi Massa. tersedia pada http://www.geogle.com diunduh tanggal 5 Februari 2015.

Undang-Undang RI No. 40 Tahun 1999 tentang “Pers.”

47

ETIKA “KOMUNIKASI” KOMASS

A. Standar Kompetensi

Mahasiswa memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan tentang pengertian etika komunikasi massa (komass), perlunya mempelajari etika komass, syarat- syarat etika komass, dan dimensi-dimensi etika komass.

B. Kompetensi Dasar

Mahasiswa memahami mengenai pengertian etika komunikasi massa (komass), perlunya mempelajari etika komass, tiga syarat etika komass, dan tiga dimensi komass.

C. Tujuan Pembelajaran

Setelah menerima penjelasan dari dosen, mahasis diharapkan dapat 1.Menjelaskan pengertian etika komass

2. Menyebutkan dan menjelaskan perlunya mempelajari etika komass 3. Menyebutkan dan menjelaskan tiga persyaratan etika komass 4. Menyebutkan dan menjelaskan tiga dimensi etika komass.

D. Materi

1. Mengapa Perlu Etika dalam Komass

Berbicara soal “etika” yang disasar adalah mengenai perilaku seseorang yang dikatakan baik atau buruk, dan bisa pula mengenai pantas tidak pantasnya sesuatu itu dilakukan oleh seseorang. Ketika Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR-RI menyidangkan Ketua DPR Setya Novanto gara-gara keterlibatannya dalam kasus PT. Freeport “Papa minta saham,” maka yang dipersoalkan di situ adalah mengenai pantas tidak pantasnya sang ketua DPR melakukan lobi-lobi bisnis. Setelah melalui proses panjang, yang selalu diliput oleh media massa,

BAB VI

48

akhirnya keputusan berakhir pada pengunduran diri Setya Novanto sebagai ketua DPR. Dalam kaitan itu persoalan etika agak berbeda dengan kasus hukum atau pidana yang biasanya diselesaikan di sidang pengadilan. Pentingnya mengenai etika dalam praktek komunikasi, pada akhir tulisan ini penulis lampirkan (lampiran 03 tentang Kode Etik Jurnalisme) sebagai turunan dari persoalan etika komunikasi.

Di dunia media massa juga demikian. Ada aspek-aspek etika yang perlu dikedepankan agar semua pihak menjadi puas tanpa menyisakan beban dan persoalan bagi mereka yang sedang mengalami kasus pers. Kembali ke kasus

“Papa minta saham,” memang Setya Novanto, melalui kuasa hukumnya sempat melaporkan Metro TV sebagai sebuah media massa elektronik yang menurut cermatan beliau telah melanggar kode etik jurnalistik. Laporan yang disampaikan ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, yang menurut penilaian banyak pihak dinilai laporannya itu “salah alamat” sebab yang benar laporan itu seyogyanya ditujukan/disampaikan kepada Dewan Pers. Benar, akhirnya pihak Dewan Pers pun lalu mengeluarkan siaran pers yang menyebut bahwa semua pemberitaan Metro TV tentang kasus Setya Novanto itu sudah berjalan secara wajar dan tidak ada kaidah-kaidah jurnalistik yang dilanggar.

Persoalan berikutnya, kenapa etika itu perlu dalam komunikasi massa ? Guna menjawab pertanyaan ini, penulis menggunakan hampir seluruh paparan ini bersumber dari sebuah buku yang berjudul “Etika Komunikasi; Manipulasi Media, Kekerasan, dan Pornografi” yang ditulis oleh Haryatmoko (2007). Media, tepatnya media massa, merupakan sarana utama untuk menyampaikan dan mendapatkan informasi. Peningkatan tingkat pendidikan tidak bisa dilepaskan dari sumbangan media. Sayang, hak publik untuk mendapatkan informasi yang benar sering tidak dijamin karena adanya pertarungan kepentingan dalam hal politik, ekonomi, dan/atau budaya.

Bukan hanya hak publik akan pentingnya informasi dirugikan, tetapi kecenderungan kuat yang datang dari tuntutan pasar telah mengubah secara mendasar sistem media (organisasi komunikasi publik) sehingga pertimbangan pendidikan, pencerahan, analisis kritis, dan hiburan yang sehat diabaikan demi meraih keuntungan semata. Keprihatinan uama pengelola media adalah

49

keuntungan, terutama keuntungan secara finansial. Apalagi ada semacam asumsi yang menyatakan bahwa logika pasar sangat menentukan tingkat kualitas informasi yang disuguhkan. Etika komunikasi mau membongkar bentuk-bentuk dominasi (kekerasan simbolik) itu dengan mengajak komponen/pembaca, pendengar, dan pemirsa berani mengambil raka.

Etika komunikasi menumbuhkan kepedulian untuk mengkritisi media yang dewasa ini cenderung membuat pemirsa/pembaca kompulsif sehingga membuat refleksi diabaikan demi emosi. Informasi sepertinya sudah merupakan interpretasi.

Tidak mudah memilah-milah tipuan, sensor, propaganda, dan kepentingan- kepentingan tersembunyi lainnya. Situasi seperti itu mau menjelaskan syarat- syarat kemungkinan etika komunikasi. Etika komunikasi mau menjamin hak berkomunikasi di ruang publik dan hak akan informasi yang benar.

Etika komunikasi bukan hanya masalah kehendak baik wartawan atau para pelaku komunikasi lainnya dengan deontologi profesi mereka, tetapi juga masalah etika institusional yang berupa undang-undang atau hukum. Harus diakui bahwa nurani wartawan dan deontologi profesi belum cukup tangguh menghadapi determinisme ekonomi dan teknologi, serta masih sangat rentan terhadap konspirasi, desinformasi, dan berbagai bentuk manipulasi. Regulasi publik ini bukan pertama kali untuk membatasi kebebasan berekspresi, tetapi untuk memperkuat deontologi profesi, mengangkat kredibilitas media dan pada akhirnya menjamin masyarakat untuk memenuhi haknya akan informasi yang benar. Jadi, etika komunikasi mau memecahkan dilema antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab media sebagai instansi pelayanan publik.

2. Tiga Syarat Etika Komass

Dengan mengutip pendapat Boris Libois, 1994:3, Haryatmoko (2007:38) mengemukakan setidak-tidaknya ada tiga pertimbangan mengapa penerapan etika komunikasi semakin mendesak untuk dilaksanakan. Ketiga pertimbangan itu adalah (a) untuk melindungi publik, (b) menjaga keseimbangan, dan (c) menghindari adanya dampak negatif.

Syarat etika komass untuk melindungi publik dimaksudkan bahwa media mempunyai kekuasaan dan efek yang dahsyat terhadap publik, padahal media

50

mudah memanipulasi dan mengalienasi audiens. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa etika komunikasi mau melindungi publik yang lemah.

Pertimbangan kedua, di mana etika komunikasi merupakan upaya untuk menjaga kesimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab. Salah satunya adalah mengingatkan tendensi korporatis para wartawan media besar untuk memonopoli kritik, sementara praktek mereka jelas-jelas tidak mau dikritik.

Jangan sampai semua jenis kritik terhadap media langsung dimasukkan kedalam stigma pembatasan atau pengebirian kebebasan pers. Jadi tujuannya justru untuk masa depan pers itu sendiri.

Pertimbangan ketiga, mencoba menghindari sedapat mungkin dampak negatif dari logika instrumental. Logika ini, konon, cenderung mengabaikan nilai dan makna, yang penting hanyalah mempertahankan kredibilitas pers di depan publik.

Dengan demikian, tujuan media sebagai instrumen pencerahan kurang mendapat perhatian. Di sisi lain, nilai dan makna itu sendiri melekat pada tujuan suatu tindakan. Logika instrumental sering menjadikan sarana, cara, atau instrumen sebagai tujuan pada dirinya.

3. Tiga Dimensi Etika Komass

Etika komunikasi, demikian pula etika komuniasi massa (komass) memiliki tiga dimensi sebagaimana ditulis Haryatmoko (2007:45-51). Ketiga dimensi itu, masing-masing; dimensi tujuan, perilaku, dan dimensi sarana.

a. Dimensi Tujuan

Dimensi tujuan (policy) menyangkut nilai demokrasi, terutama kebebasan untuk berekspresi, kebesan pers, dan juga hak akan informasi yang benar.

Dalam negara demokratis, para aktor komunikasi, peneliti, asosiasi warga negara, dan politisi harus mempunyai komitmen terhadap nilai kebebasan tersebut. Negara harus menjamin serta memfasilitasi terwujudnya nilai-nilai tersebut. Dimensi tujuan ini terkait langsung dengan meta-etika yang tidak terlalu disibukkan oleh isi etika profesi (deontologi jurnalisme).

Meta-etika mengarah pada teoretisasi materi moral yang lebih luas dari sekadar etika normatif. Ia menjangkau sampai pada refleksi dan pengujian

51

sampai pada batas-batas yang bisa diterima dalam pelaksanaan praktek- praktek jurnalistik yang sah (B. Libois, 1994). Jadi, yang dipertaruhkan meliputi berbagai hak dan kebebasan yang meliputi seperti; nilai dasar kebebasan pers, masalah hubungan antara kebebasan berekspresi dan hak akan informasi dibandingkan dengan hak individual lainnya, tingkatan berbagai nilai yang mencakup pelaksanaan kebebasan pers dan demokrasi, atau antara kebebasan berekspresi dan kekuasaan ekonomi atau kekuasaan politik. Jadi, meta-etika mau merefleksikan masalah status, rasionalitas dan legitimitas aktor komunikasi (wartawan), struktur informasi (misalnya media cetak dan media elektronik), wacana dan pendekatan etika dalam hal kebebasan berekspresi dan hak akan informasi.

Dewasa ini, banyak muncul ketidakpuasan terhadap media. Biasanya yang dkeluhkan ialah kualitas dan batas-batas praktek profesi ini dalam hal informasi. Rendahnya kualitas media sering juga dikaitkan dengan banyaknya berita atau siaran tentang kekerasan, pornografi, kriminalitas, dan masalah- masalah yang bersifat sensasional. Lucunya, semua bentuk berita dan siaran selalu atas nama atau menamakan diri kebebasan pers.

b. Dimensi Perilaku

Dimensi perilaku dikatakan sebagai dimensi yang langsung terkait

dengan perilaku aktor komuniasi, yaitu aksi-aksi komunikasi. Perilaku aktor komunikasi hanya menjadi salah satu dimensi etika komunikasi, yaitu bagian dari aksi komunikasi (politics). Aspek etisnya ditunjukkan pada kehendak baik untuk bertanggung jawab. Kehendak baik ini lalu diungkapkan dalam etika profesi dengan maksud agar ada norma intern yang mengatur profesi.

Aturan semacam ini dirumuskan dalam deontologi jurnalisme. B.Libois (1994), merumuskan tiga prinsip utama deontologi jurnalisme sebagai berikut. Pertama, hormat dan perlindungan atas hak warga negara akan informasi dan sarana-sarana yang perlu untuk mendapatkannya. Masuk dalam kategori ini ialah perlindungan atas sumber berita, pemberitaan informasi yang benar dan tepat, jujur dan lengkap, pembedaan antara fakta dan

52

komentar, informasi dan opini. Sedangkan mengenai metode guna mendapatkan informasi harus jujur dan pantas (harus ditolak jika ternyata hasil curian, menyembunyikan, menyalahgunakan kepercayaan dengan menyamar, pelanggaran terhadap rahasia profesi atau instruksi yang mesti dirahasiakan).

Kedua, hormat dan perlindungan atas hak individual lain dari warga negara. Termasuk dalam hal ini yaitu hak akan martabat dan kehormatan, hak atas kesehatan fisik & mental, hak konsumen dan hak untuk berekspresi dalam media, serta hak jawab. Di samping itu harus mendapat jaminan juga tentang hak akan privacy, praduga tak bersalah, hak akan reputasi, hak akan citra yang baik, hak bersuara, dan hak akan rahasia komuniasi. Jadi, hak akan informasi tidak bisa memberi pembenaran pada upaya yang akan merugikan pribadi seseorang.

Ketiga, ajakan untuk menjaga harmoni masyarakat. Unsur ketiga deontologi jurnalisme ini melarang semua bentuk provokasi atau dorongan yang akan membangkitkan kebencian atau ajakan pada pembangkangan sipil.

Deontologi jurnalisme ini membantu dalam mempertajam makna tanggung jawab. Ia bisa menjadi faktor stabilisasi tindakan yang berasal dari dalam diri aktor komunikasi.

c. Dimensi Sarana

Dimensi sarana (polity) ini memfokuskan pada sistem media dan prinsip dasar pengorganisasian praktek penyelenggaraan informasi, termasuk yang mendasari hubungan produksi informasi. Dimensi sarana ini meliputi;

pertama, semua bentuk regulasi oleh penguasa publik (tatanan hukum dan institusi). Asas kesamaan dan masalah siapa diuntungkan atau dirugikan oleh hukum atau institusi tertentu menjadi wacana etika yang sangat relevan; dan kedua, struktur sosial yang direkayasa secara politik menganut prinsip timbal balik (hubungan kekuasaan mempengaruhi produk informasi), termasuk determinisme ekonomi dan teknologi.

Hukum berbeda dengan deontologi. Deontologi jurnalisme merupakan keseluruhan aturan dan prinsip yang mengatur pelaksanaan

53

profesi. Hal ini biasanya disusun oleh ikatan profesi. Jangkauannya pun terbatas pada masalah moral meskipun disertai sanksi. Namun demikian sanksi ini hanya terbatas untuk menegakkan disiplin profesi. Sedangkan pada dimensi sarana, norma etika komunikasi harus sudah menjadi hukum atau undang-undang. Kedua yang terakhir ini (aspek hukum dan undang- undang) harus diterapkan guna mencegah penyalahgunaan dan ketidakadilan disertai sanksi hukum yang dipaksakan dari luar profesi.

Dimensi moral pada tingat sarana ini terletak pada upaya menegakkan asas keadilan dan kesetaraan. Oleh karena itu perlu mencermati agar keadilan prosedural yang menyangkut aturan dan proses sungguh dapat dijamin. Peraturan dan hukum harus mampu menjadi pengawas dan kontrol yang bisa mencegah penyalahgunaan dan ketidakadilan. Dengan demikian, peranan etika komunikasi menjadi nyata dalam menguji dan mengkritisi legitimasi keputusan, institusi, dan praktek komunikasi agar sesuai dengan etika politik.

E. Rangkuman

Berbicara soal “etika” yang disasar, yaitu mengenai perilaku seseorang yang dikatakan baik atau buruk, dan bisa pula mengenai kepantasan atau pantas tidak pantasnya sesuatu itu dilakukan oleh seseorang dan/atau institusi, termasuk di dalamnya adalah institusi pers atau media massa. Justru karena itu kita perlu mempelajari etika didalam berkomunikasi, termasuk juga etika dalam komass, agar kita tidak menyimpang dan menjadi “korban” komunikasi.

Ada tiga syarat yang diperlukan sekaligus sebagai pertimbangan bahwa kita telah beretika atau belum beretika dalam berkomunikasi. Ketiga syarat/pertimbangan tersebut yaitu; demi melindungi publik, menjaga keseimbangan, dan menghindari adanya dampak negatif. Sisi lain dari ketiga syarat/pertimbangan ini, lalu muncul pula dimensi-dimensi etika komunikasi.

Dimensi etika komuniasi massa (komass) tersebut terdiri atas (1) dimensi tujuan, (2) dimensi perilaku, dan (3) dimensi sarana.

Dokumen terkait