BAB IV PEMBAHASAN
4.2 Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Kecelakaan Kerja
Kecelakaan-kecelakaan kerja yang berpotensi dialami pekerja PT Ciomas Adisatwa (JAPFA Group), tentunya juga dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Factor-faktor tersebut, antara lain factor kimia, biologis, fisika, ergonomic, dan psikologi. Factor kimia pada PT Ciomas Adisatwa (JAPFA Group) yang mempengaruhi potensi kecelakaan kerja terdiri dari cairan bahan kimia dan debu bahan-bahan yang berbentuk bubuk. Factor biologis yang dapat mempengaruhi potensi kecelakaan kerja terdiri atas virus dan jamur. Factor fisika terdapat pada PT Ciomas Adisatwa (JAPFA Group) adalah suhu. Pada factor ergonomic yang terdiri atas posisi kerja, perlengkapan bekerja, dan desain ruang bekerja.
Sedangkan pada factor psikologi adalah beban kerja.
4.2.1 Faktor Kimia
Faktor kimia merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja pada pekerja yang diakibatkan adanya zat-zat atau energi kimia atau radioaktif. Zat-zat kimia yang dimaksud dapat berupa larutan atau berupa bahan bubuk yang digunakan sebagai tambahan pada tahap produksi. Pada PT Ciomas
29
Adisatwa (JAPFA Group) sendiri terdapat beberapa bahan berupa larutan dan bubuk yang digunakan pada tahap sterilisasi dan bahan tambahan pada produk.
Pada tahap sterlisasi digunakan zat klorin food grade, sedangkan pada tahap produksi dibutuhkan tepung dan tepung bumbu sebagai bahan tambahan dari produk.
Zat klorin yang digunakan harus selalu dipantau kualitas dan kadar klorin yang ada pada unit drum chiller. Hal ini bertujuan untuk memastikan kadar dan kualitas klorin pada unit tersebut berada pada takaran yang tepat. Paparan zat klorin yang berlebihan tentunya akan memberikan efek samping yang buruk bagi para pekerja. Beberapa penelitian yang telah dilakukan menujukkan residu dari klorin dapat menyebabkan risiko kanker kandung kemih dan rectum (Morris et al., 1992).
Selain paparan zat klorin yang berlebihan, penggunaan bahan- bahan yang berupa bubuk juga dapat memberikan efek samping untuk para pekerja. Bahan- bahan bubuk sangatlah ringan, sehingga mudah terbawa oleh angin. Hal ini tentunya dapat mengganggu indra penglihatan para pekerja. Selain itu, juga dapat membuat pekerja sesak nafas yang diakibatkan masuknya bahan-bahan yang ringan ke saluran pernafasan.
4.2.2 Faktor Biologis
Faktor biologis merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi potensi bahaya kerja atau kecelakaan kerja yang diakibatkan oleh suatu makhluk hidup.
Faktor biologi yang meliputi tumbuhan atau hewan (Astuti, 2016.). Faktor-faktor biologis yang berpotensi terjadi di PT Ciomas Adisatwa (JAPFA Group) sendiri dapat berasal dari darah ayam, jeroan ayam, atau mikroorganisme air.
Darah pada RPA yang terpapar udara ruangan terlalu lama akan meningkatkan pertumbuhan bakteri-bakteri yang dapat menginfeksi pekerja.
Karena, limbah darah yang dihasilkan dari RPA sendiri dapat menjadi tempat yang ideal untuk bakteri dapat tumbuh. Kelompok bahaya biologi tersebut dalam industri RPH karena daging, darah serta limbah yang dihasilkan selama
30
proses merupakan habitat umum yang menjadi tempat perindukan (Bahtiyar et al., 2022). Selain itu, ayam- ayam yang belum dibersihkan juga bisa membawa mikoorganisme yang dapat menginfeksi.
Selain melalui karkas, potensi bahaya kerja pada faktor biologis juga dapat dipengaruhi oleh kualitas air yang dialirkan pada ruang kerja. Area kotor sendiri, mengharuskan ruangannya teraliri oleh air mengalir secara terus menerus.
Hal ini menimbulkan tangan pekerja dapat terjangkit kutu air. Kutu air sendiri berasal dari jamur yang disebabkan oleh lingkungan yang bersuhu hangat dan lembab.
4.2.3 Faktor Fisika
Faktor fisika merupakan faktor penyebab kecelakaan kerja yang dipengaruhi oleh suhu, cahaya,tekanan, dan parameter-parameter fisika yang lain. Faktor fisika adalah faktor di dalam tempat kerja yang bersifat fisika yang dalam keputusan ini terdiri dari iklim kerja, kebisingan, getaran, gelombang mikro, sinar ultra ungu dan medan magnet (PerMenKenTrans No.PER.13/MEN/X/2011).
Faktor fisika yang terdapat pada PT Ciomas Adisatwa (JAPFA Group sendiri, antara lain suhu ruangan kerja. Pada area kotor RPA, memiliki suhu yang cenderung hangat.
Suhu ruangan kerja yang cenderung hangat pada area kotor, akan membuat ruangan tersebut menjadi pengap dan lembab. Hal inni tentunya membuatpara pekerja tidak nyaman dalam bekerja. Sehingga dapat menimbuljan hilangnya fokus para pekerja yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja lainnya. Bahkan para pekerja juga dituntu untuk bekerja dengan posisi berdiri selama kurang lebih 8 jam, tentunya akan membuat pekerja semakin tidak nyaman.
4.2.4 Faktor Ergonomi
Faktor ergonomic merupakan faktor penyebab kecelakaan kerja yang
31
dipengaruhi oleh kondisi pekerjaan dalam suatu perusahaan. Faktor ergonomic perlu dipertimbangkan dalam mendukung kenyamanan operator saat bekerja serta memberikan pemahaman kepada operator tentang risiko yang bisa terjadi terutama pada perusahaan (Sukwadi et al., 2017). Faktor ergonomic penyebab kecelakaan kerja pada di PT Ciomas Adisatwa (JAPFA Group) sendiri berasal dari posisi kerja, perlengkapan bekerja, dan desain ruang bekerja. Dimana, hal-hal tersebut tentunya dapat membahayakan keselamatan dan keamanan para pekerja di PT Ciomas Adisatwa (JAPFA Group).
Posisi kerja di PT Ciomas Adisatwa (JAPFA Group) sendiri mengharuskan para pekerja untuk terus berdiri sepanjang jam kerja. Posisi ini tentunya akan membuat para pekerja kelelahan dan mudah kehilangan konsentrasi. Apalagi, posisi kerja berdiri harus dilakukan selama kurang lebih 8 jam tanpa ada pergantian. Tentunya hal tersebut akan membuat kaki para pekerja sakit.
4.2.5 Faktor Psikologi
Yang terakhir, yaitu faktor psikologis. Faktor psikologis merupakan faktor penyebab kecelakaan kerja yang diakibatkan oleh kondisi psikis dari pekerja itu sendiri. Umumnya, kondisi-kondisi psikir pekerja yang terganggu dilatar belakangi oleh kelelahan dalam bekerja dan beban kerja yang tinggi. Faktor manusia seperti kelelahan fisik maupun psikologis yang menyebabkan perilaku kerja yang tidak aman dan hanya sedikit dikarenakan oleh kondisi kerja yang tidak aman (Document (1), n.d.) Ketidak sesuaian antara beban kerja dengan kemampuan bekerja pada individu akan mempengaruhi kesehatan mental dan psikis dari para pekerja.
Indikasi faktor psikologis penyebab terjadinya kecelekaan kerja pada PT Ciomas Adisatwa (JAPFA Group) sendiri berasal dari kelelahan. Jam kerja di PT Ciomas Adisatwa (JAPFA Group) yang tergolong panjang tentunya akan membuat Sebagian pekerja mengalami stress dan kelelahan. Apalagi selama jam bekerja berlangsung, pekerja harus siap berdiri dengan durasi yang panjang.
Hal ini berkaitan dengan jumlah produksi per harinya di PT Ciomas Adisatwa
32
(JAPFA Group). Dimana, per harinya PT Ciomas Adisatwa (JAPFA Group) mampu menghasilkan ribuan produk, sehingga beban kerja pada pekerja akan semakin bertambah seiring dengan beban produksi yang dihasilkan.