342 ABD P
PEMBUBARAN PENGURUS KOPERASI SAWIT PERKASA TIMUR OLEH KEPALA DINAS KOPERASI, UKM, TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI KABUPATEN ROKAN HULU (STUDI KASUS DALAM
PUTUSAN NOMOR 7/G/2018/PTUN.PBR.)
Abdillah Mabrur, 151111019, Fakultas Hukum, 2019, 80 halaman ABSTRAK
Peradilan Tata Usaha Negara merupakan salah satu lingkup peradilan yang ada dalam Kekuasaan Kehakiman di Indonesia dan diciptakan untuk menyelesaikan sengketa antara pemerintah dan warga negaranya, yakni berupa sengketa tata usaha negara.
Sengketa tata usaha negara tersebut timbul karena dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara yang bertentangan dengan peraturan peundang- undangan dan asas-asas umum pemerintahan yang baik sehingga Keputusan Tata Usaha Negara tersebut dapat digugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Putusan pengadilan yang amarnya berupa pengabulan gugatan penggugat berakibat pada pembatalan suatu Keputusan Tata Usaha Negara. Salah satu contohnya ialah kasus pembubaran pengurus Koperasi Sawit Perkasa Timur oleh Kepala Dinas Koperasi, UKM, Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Rokan Hulu melalui penerbitan Surat Keterangan Kepala Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Rokan Hulu No.518/ Diskoptransnaker/ KUKM/429 tanggal 06 November 2017 dalam Putusan Nomor 7/G/2018/PTUN.Pbr. Berdasarkan hal tersebut, penulis sangat tertarik untuk mengkaji kasus ini. Adapun rumusan masalah penelitian ini: (1) Bagaimana pembubaran pengurus Koperasi Sawit Perkasa Timur oleh Kepala Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kabupaten Rokan Hulu? dan (2) Bagaimana pertimbangan hakim dalam memutus perkara a quo? Adapun penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif yang bersifat deskriptif, sumber data didapatkan oleh penulis melalui studi kepustakaan dan pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumen. Dari hasil penelitian, terdapat kesimpulan bahwa pembubaran pengurus Koperasi Sawit Perkasa Timur melalui penerbitan objek sengketa a quo bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait kewenangan Diskoptransnaker di bidang koperasi dan prinsip-prinsip koperasi khususnya prinsip kemandirian dan prinsip pengelolaan koperasi secara demokratis. Penerbitan objek sengketa a quo juga bertentangan dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik. Selain itu, Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Pekanbaru tidak memberikan pertimbangan yang komprehensif bahkan hakim keliru dalam memberikan pertimbangan terhadap perkara a quo.
Kata kunci : pembubaran, pengurus, koperasi
347 ADI p
PERLINDUNGAN JAMINAN SOSIAL NASIONAL TERHADAP PEMAIN SEPAKBOLA SEMEN PADANG FOOTBALL CLUB
Adittya Firmansyah, 151011017, Fakultas Hukum, 2019, 84 Halaman ABSTRAK
Pemain sepakbola profesional merupakan pekerja/buruh dan terhadap mereka berlaku ketentuan UU Ketenagakerjaan baginya.
Dalam pasal 1 angka 3 UU Ketenagakerjaan disebutkan bahwa, “Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain”. Sepakbola merupakan salah satu olahraga yang banyak menggunakan kontak fisik ditambah kerasnya kompetisi sepakbola di Indonesia sehingga pertandingan yang dilakukan memiliki potensi dan resiko yang cukup besar untuk membuat pemain sepakbola akan mengalami cedera saat bertanding dan bahkan resiko meninggal dunia. Dalam Pasal 99 Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menentukan bahwa: “Setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan sosial tenaga kerja”. Pasal 13 ayat (1) UU SJSN juga menentukan bahwa pemberi kerja secara bertahap wajib mendaftarkan dirinya dan pekerjanya sebagai peserta kepada BPJS sesuai dengan program jaminan sosial yang diikuti. Pemain sepakbola Semen Padang FC merupakan pekerja/buruh yang bekerja pada PT. Kabau Sirah Semen Padang dan wajib untuk diberikan perlindungan jaminan sosial kepadanya. Namun pada faktanya PT. Kabau Sirah Semen Padang belum memberikan perlindungan jaminan sosial dengan baik sesuai undang-undang yang berlaku. Berdasarkan persoalan yang dimaksud maka permasalahaan pada penelitian ini yaitu: 1) Bagaimana pelaksanaan pemenuhan jaminan sosial nasional pemain Semen Padang FC oleh PT Kabau Sirah Semen Padang? 2) Apa yang menjadi kendala bagi PT Kabau Sirah Semen Padang dalam pelaksanaan pemenuhan jaminan sosial nasional pemain sepakbola Semen Padang FC dan bagaimana cara mengatasinya? Penelitian bersifat deskriptif analitis, dengan menggunakan metode pendekatan yuridis empiris. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder, teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumen dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil: 1) Pelaksanaan pemenuhan jaminan sosial nasional terhadap pemain Semen Padang FC belum berjalan dengan baik sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku karena dari 102 orang pemain Semen Padang FC hanya 30 orang pemain yang diikutkan dalam program jaminan sosial. 2) Kendala yang dialami PT. Kabau Sirah Semen Padang adalah masalah keuangan yang terbatas dan perusahaan yang masih menganggap jaminan sosial sebagai biaya tambahan bagi perusahaan. Kemudian kurangnya pengawasan dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sumbar karena terbatasnya jumlah pengawas dan dana operasional. Dari sisi BPJS Ketenagakerjaan, kendala yang dihadapi adalah terbatasnya kegiatan sosialisasi atau edukasi yang diberikan kepada pihak perusahaan.
Kata kunci : perlindungan, jaminan sosial, sepakbola, ketenagakerjaan
341 AZI p
PENGATURAN PROFESI DOKTER ASING MENURUT MUTUAL RECOGNITION ARRANGEMENT ON MEDICAL PRACTITIONERS DALAM KERANGKA MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
Aizizia Puteri Imansyah, 1510112135, Fakultas Hukum Universitas Andalas, 53 Halaman, Tahun 2019, Pembimbing: Dr.
Najmi, SH., MH & Magdariza, SH., MH ABSTRAK
Globalisasi adalah perubahan yang terjadi dari segala aspek yaitu sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Secara garis beras globalisasi diranah hukum internasional terkait juga terhadap perubahan dari aspek ekonomi, khususnya di bidang jasa.
Didalam hukum internasional, terdapat hukum yang mengatur tentang jasa, yaitu Mutual Recognition Arrangement. Dalam pengaturan MRAs diatur juga secara khusus mengenai profesi dokter yaitu Mutual Recognition Arrangement on Medical Practitioners. Dalam peraturan ini terdapat segala ketentuan yang mengatur bagaimana kedudukan profesi dokter yang akan melakukan kerjasama dengan negara lain. Salah satu contoh kasus yang sudah terjadi yaitu dimana profesi dokter asing dari Negara Singapura yang masuk ke Indonesia dalam rangka membagi ilmu tentang teknologi yang sebelumnya belum pernah digunakan oleh dokter Indonesia. Hal tersebut dapat terjadi karena sudah sangat dibutuhkan teknologi yang lebih baru yang akan digunakan di Indonesia. Rumusan masalah yaitu 1. Bagaimana pengaturan dokter asing menurut Mutual Recognition Arrangement On Medical Practitioners dalam kerangka Masyarakat Ekonomi ASEAN? 2. Bagaimana implementasi MRA On Medical ractitioners dalam penggunaan dokter asing di Indonesia? . Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode yuridis normatif. Hasil penilitian dan pembahasan yaitu : 1. Pengaturan tenaga medis asing menurut Mutual Recognition Arrangement dalam kerangka Masyarakat Ekonomi Asean yaitu: Ada 10 Pasal yang sudah tertulis dan sudah disetujui oleh 10 Negara Anggota ASEAN. Ke-10 Pasal tersebut dirasakan sudah sangat cukup untuk menghadapi berbagai macam permasalahan yang timbul apabila ada Negara yang tidak tunduk kepada perjanjian yang sudah disepakati. Kesimpulan yang bisa kita ambil yaitu seperti yang sudah tertera dalam Pasal pertama yang tertulis dalam Mutual Recognition Arrangement adalah tentang tujuan dari adanya peraturan yang sudah disahkan oleh ke-10 Negara ASEAN. 2. Implementasi MRA On Medical Practitioners dalam penggunaan profesi dokter asing di Indonesia Mendapatkan informasi yang lebih baik terkait masalah kesehatan dan bertukar informasi tentang teknologi, dapat mendorong upaya peningkatan kualitas tenaga medis Indonesia secara terus menerus, dan meningkatkan efisiensi dan daya saing di tingkat Internasional.
Kata kunci: ASEAN, MEA, MRA on Medical Practitioners, Profesi Dokter.
347 ALF p
PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN (Prudential Banking) DALAM PERJANJIAN KUPEDES PADA PT.
BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) Tbk. UNIT BUNDO KANDUANG KOTA PADANG ALFI HIDAYAT, 1520123046, MAGISTER KENOTARIATAN UNIVERSITAS ANDALAS
ABSTRAK
Penerapan prinsip kehati-hatian merupakan hal penting guna mewujudkan sistem perbankan yang sehat, kuat dan kokoh.
Penerapan Prinsip kehati-hatian ( prudent banking principle) pada dasarnya yaitu melaksanakan analisa kredit 5C (character, capital, capacity, collateral, condition of economy) 7C (personality, party, purpose, prospect, payment. Profitability, protection) dan 3R (return, repayment, risk bearing ability). Namun dalam praktek masih ditemukan kredit bermasalah (non performing loan) secara grafik mengalami peningkatan dari tahun 2015-2017 lebih dari 5% (lima persen) sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan bisnis di bidang mikro. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana penerapan prinsip kehati- hatian (prudential banking) dalam perjanjian kredit KUPEDES BRI Unit Bundo Kanduang dan untuk mengetahui tanggung jawab Bank BRI Unit Bundo Kanduang dengan pihak debitur jika terjadi kredit bermasalah. Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris yaitu suatu penelitian yang menggunakan metode pendekatan terhadap masalah dengan melihat norma- norma hukum yang berlaku kemudian dihubungkan dengan fakta-fakta hukum yang terdapat dilapangan. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat ditemukan bahwa penerapan prinsip kehati-hatian (Prudential Banking) di PT. BRI (Persero) Tbk. Unit Bundo Kanduang Kota Padang belum diterapkan dengan maksimal oleh Petugas Kredit Lini sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku. Dalam praktek terdapat kelemahan yang dilakukan oleh Petugas Kredit Lini Bank dalam memprakarsa kredit yang tidak sesuai dengan analisa 5C,7P dan 3R, sehingga menimbulkan kredit bermasalah. Faktor penyebab terjadinya kredit bermasalah pada dasarnya disebabkan oleh ketidakhati-hatian Petugas Kredit Lini dalam melakukan analisa kredit dan disebabkan oleh usaha debitur tidak dikelola dengan baik. Tanggung jawab Bank BRI Unit Bundo Kanduang Kota Padang dalam menangani kredit bermasalah yaitu dengan menerapkan sanksi administrasi kepada Petugas Kredit Lini berupa larangan untuk melakukan proses pemberian kredit dan menurunkan tingkat NPL (non performing loan) debitur kelolaan Petugas yang bersangkutan. Penyelamatan kredit dilakukan melalui restrukturisasi. penyelesaian kredit secara damai dengan menjual agunan dibawah tangan dan penyelesaian melalui saluran hukum yang dilaksanakan oleh KPKNL (Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang).
Kata Kunci : Prinsip Prudential Banking, Kredit Bermasalah,Penyelesaian Kredit.
345 FAD p
PELAKSANAAN PENYIDIKAN TINDAK PIDANA PENADAHAN OLEH PENYIDIK POLRESTA PADANG (Studi di Polresta Padang)
Fadila Monika Andini, 1510112097, Fakultas Hukum Universitas Andalas, Program KekhususanHukumPidana(PK IV), 81halaman – Tahun 2019, Pembimbing : Dr. A. IrzalRias, S.H., M.H dan Nelwitis, S.H., M.H
ABSTRAK
Penadahan merupakan suatu tindak pidana yang marak terjadi. Dalam penegakan hukum tindak pidana penadahan ini ini, peranan kepolisian sebagai aparat penegak hukum sangatlah dibutuhkan, terutama penyidik untuk mengungkap dan menyelesaikan kasus tindak pidana penadahan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan penyidikan oleh kepolisian dalam menanggulangi tindak pidana penadahan di Polresta Padang,untuk mengetahui apasajakah kendala yang dihadapi penyidik dan solusinya dalam melaksanakan penyidikan penadahan di Polresta Padang. Penelitian ini dilaksanakan di Kepolisian Resort kota Padang.. Metode penelitian yang digunakan penulis antara lain dengan pendekatanyuridis empiris.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan penyidikan tindak pidana penadahan masih belum terlaksana sesuai dengan aturan-aturan mengenai tata cara pelaksanaan proses penyelidikan dan penyidikan yang terdapat dalam KUHAP dan Peraturan Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik indonesia Nomor 3 Tahun 2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pelaksanaan Penyidikan Tindak .Kendala yang dihadapi penyidik Polsek Padang Barat saat melakukan penyidikan tindak pidana penadahan yaitu keterbatasan Sumber Daya Manusia, Biaya Operasional,Posisi sindikat pencurian dan penadahan semakin luas dan semakin sulit diberantas,dan kurangnya saksi.
345 ANI p
PELAKSANAAN KOORDINASI ANTARA PENYIDIK BADAN NARKOTIKA NASIONAL (BNNP) PROVINSI SUMATERA BARAT DENGAN PENYIDIK DIREKTORAT RESERSE NARKOBA KEPOLISIAN DAERAH
SUMATERA BARAT DALAM PENYIDIKAN TINDAK PIDANA NARKOTIKA
Anishya Yulia Anggraini, 1510111093, Fakultas Hukum Universitas Andalas, PK IV Hukum Pidana, 53 halaman Tahun 2019 ABSTRAK
Tindak pidana narkotika yang telah bersifat transnasional yang dilakukan menggunakan modus operandi yang tinggi, teknologi canggih, didukung oleh jaringan organisasi yang luas, dan sudah banyak menimbulkan korban, terutama dikalangan generasi muda bangsa yang sangat membahayakan masyarakat, bangsa dan Negara. Pemerintah membentuk Badan Narkotika Nasional (BNN) yang diberi kewenangan khusus untuk memberantas dan mencegah tindak pidana narkotika.Untuk mencegah dan memberantas tindak pidana narkotika maka BNN berkoordinasi dengan penyidik Kepolisian Republik Indonesia. Berdasarkan uraian diatas rumusan masalah yang dibahas adalah: 1. Bagaimanakah pelaksanaan koordinasi antara penyidik Badan Narkotika Nasional (BNNP) Provinsi Sumatera Barat dengan penyidik Direktorat Reserse Narkoba Kepolisian Daerah Sumatera Barat dalam penydikan tindak pidana narkotika? 2. Apakah kendala dalam melakukan koordinasi penyidik Badan Narkotika Nasional (BNNP) Provinsi Sumatera Barat dengan penyidik Direktorat Reserse Narkoba Kepolisian Daerah Sumatera Barat Dalam Penyidikan Tindak Pidana Narkotika? Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis sosiologis yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pelaksanaan koordinasi yang terjadi antara penyidik BNNP Sumbar dengan penyidik Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumbar yaitu berupa pengajuan assessment untuk rehabilitasi korban penyalahgunaan narkotika,yang diajukan oleh penyidik Polda Sumbar, dan saling memberitahu secara tertulis bahwa telah dimulainy apenyidikan. Dalam hal melakukan pencegahan narkotika BNNP Sumbar dengan Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumbar berkoordinasi dilapangan untuk melakukan razia di tempat-tempat tertentu seperti, di tempat karaoke dan tempat-tempat hiburan malam. Adapun kendala dalam melakukan koordinasi antara BNNP Sumbar dengan penyidik Direktorat Reseres Narkoba Polda Sumbar yaitu dalam meminta personil penyidik ke Polda Sumbar, karena harus berdasarkan persetujuan pimpinan Polda Sumbar sehingga personil penyidik yang diminta terkadang mengalami proses yang sulit, karena banyaknya personil penyidik yang sedang bertugas, sehingga dalam melakukan penanganan kasus tindak pidana narkotika BNNP Sumbar kurang maksimal.
346 ANN k
KEABSAHAN PENETAPAN HAK TANGGUNGAN MENJADI SITA JAMINAN (STUDI KASUS NO:20/PDT.G/PLW/2010/PN.LP)
Annisa Fakhira Ramadania Sharen, 1410111060, Fakultas Hukum Universitas Andalas, PK 1 (Perdata Murni), 75 halaman, 2019
ABSTRAK
Kegiatan lembaga perbankan yaitu menghimpun dana melalui simpanan dan menyalurkannya kembali melalui kredit, dalam penyalurannya biasanya dibutuhkan suatu jaminan, jaminan yang umum dipakai dalam dunia perbankan yaitu jaminan hak tanggungan, hak tanggungan mempunyai suatu ciri-ciri yaitu memberikan kedudukan yang diutamakan bagi pemegangnya dan tidak dapat diletakkan sita eksekusi diatasnya. Dalam skripsi ini yang menjadi perumusan masalah yang dibahas adalah: (1) Apa yang melatar belakangi terjadinya perkara perdata nomor: 20/PDT.G/PLW/2010/PN.LP tentang Penetapan hak tanggungan menjadi sita jaminan. (2) Bagaimanakah keabsahan penetapan hak tanggungan menjadi sita jaminan dalam perkara no: 20/PDT.G/PLW/2010/PN.LP menurut Undang- Undang No 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif, yaitu metode penelitian yang menganalisis suatu permasalahan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dengan menggunakan bahan hukum primer, sekunder maupun tersier. Hasil penelitian dan pembahasan menjelaskan latar belakang terjadinya perkara perdata nomor :20/PDT.G/PLW/2010/PN.LP tentang Penetapan hak tanggungan menjadi sita jaminan serta apakah hak tanggungan yang dijadikan sita jaminan dalam perkara perdata No :20/PDT.G/PLW/2010/PN.LP tersebut sah menurut Undang-Undang yang berlaku. Obyek hak tanggungan yang dijadikan sita jaminan oleh pengadilan Lubuk Pakam karena perkara antara Terlawan Penyita dengan Terlawan Tersita adalah sah, dikarenakan hak tanggungan yang dimiliki oleh Pelawan melanggar ketentuan Undang-Undang Hak Tanggungan dan dinyatakan cacat hukum. Dalam melakukan setiap perjanjian harus ada itikad baik dari para pihak sehingga tidak menimbulkan kerugian dikemudian hari.
346 ABD p
PENYELESAIAN SENGKETA HARTA WARIS DARI HARTA BERSAMA DI KENAGARIAN PANTI SAMPAI KE PENGADILAN NEGERI LUBUK SIKAPING KELAS II KABUPATEN PASAMAN (STUDI KASUS PUTUSAN
NO.02/PDT.G/2005/PN-LBS)
Abdil Razi, 1510111164, Fakultas Hukum Universitas Andalas, Tahun 2019, 67 Halaman ABSTRAK
Pembagian warisan merupakan suatu permasalahan yang rentan terjadinya konflik dalam sebuah keluarga. Sering kali keutuhan keluarga menjadi berantakan, fenomena ini terjadi diberbagai lapisan masyarakat. Perkara perdata No.02/PDT.G/2005/PN-LBS didaftarkan di Pengadilan Negeri Lubuk Sikaping karena penguasaan harta warisan secara sepihak oleh ahli waris. Oleh sebab itu penulis tertarik untuk membahas bagaimana penyelesaian sengketa harta warisan dari harta bersama dan juga peranan KAN dalam sengketa tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis sosiologis. Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif menggunakan data sekunder berupa dokumen serta peraturan terkait dengan warisan dan data primer yang diperoleh dari hasil penelitian langsung dilapangan. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukan bahwa terjadinya sengketa pembagian harta warisan dari harta bersama adalah karena salah satu ahli waris tidak merasa puas dengan warisan yang didapatnya dan ingin menguasai lebih.
Penyelesaian tahap pertama telah dilakukan dengan cara mediasi di KAN dan telah mencapai kesepakatan, namun penggugat tidak menerimanya dan mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri. Dari hasil persidangan diperoleh fakta bahwa penggugat bukanlah ahli waris yg sah dan harta warisan yang disengketakan merupakan hak dari tergugat. Pertimbangan hakim terlihat pada proses pembuktian di persidangan, dalam persidangan penggugat tidak dapat membuktikan dalil gugatanya sehingga gugatan penggugat ditolak secara keseluruhan.
Kata Kunci : pembagian harta warisan, peranan KAN, Penyelesaian sengketa di pengadilan negeri.
345 ABD p
PELAKSANAAN DIVERSI PADA TAHAP PENYIDIKAN TERHADAP TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN OLEH ANAK DI WILAYAH HUKUM POLRES PARIAMAN
Abdul Hafiz Alfani. 1510115001. Hukum Pidana. Fakultas Hukum Universitas Andalas. 69 Halaman.Tahun 2019 ABSTRAK
Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke luar proses peradilan pidana. Tidak semua perkara anak yang dapat dilakukan diversi. Perkara Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) masih terjadi, khususnya untuk wilayah hukum Polres Pariaman dari tahun 2014-2019 terdapat 8 kasus tindak pidana yang dilakukan oleh anak, terhadap kasus tesebut penyidik dari Polres Pariaman ada yang berhasil melakukan diversi pada tahap penyidikan dan ada juga yang tidak berhasil diversi pada tingkat penyidikan. Permasalahan dalam skripsi ini adalah 1) Bagaimanakah pelaksanaan diversi pada tahap penyidikan terhadap tindak pidana yang dilakukan anak di wilayah hukum Polres Pariaman? 2) Apakah faktor penyebab berhasil/tidak berhasilnya diversi oleh penyidik terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh anak di wilayah hukum Polres Pariaman? Penelitian ini merupakan penelitian yuridis sosiologis, yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara melihat norma-norma hukum yang berkaitan dengan penelitian lalu kemudian dikaitkan dengan fakta- fakta yang terjadi ditempat penulis melakukan penelitian. Sebagai hasil dari penelitian memperlihatkan bahwa : (1) Polres Pariaman baru melaksanakan diversi pada tindak pidana pencurian, hal yang menjadi penyebab kenapa hanya tindak pidana pencurian yang dilakukan diversi oleh penyidik Polres Pariaman adalah karena ada dilema atau persoalan yang dialami oleh penyidik Polres Pariaman. (2) faktor penyebab berhasil/tidak berhasilnya diversi oleh penyidik adalah pertama; kesepakatan antara kedua belah pihak, pada saat penyidik melakukan upaya diversi terhadap anak yang melakukan tindak pidana, terjadi suatu pertemuan antara kedua belah pihak dan pihak lain yang terkait untuk membicarakan secara bersama-sama untuk mencari jalan keluar yang terbaik, terutama untuk anak agar masa depannya dapat terjamin. kedua; penetapan dari pengadilan negeri, apabila diversi telah tercapai di tingkat penyidikan dan hasil kesepakatan telah dikirim oleh penyidik kepada pengadilan negeri namun tidak disetujui oleh pengadilan dengan alasan tertentu, maka hasil kesepakatan diversi batal dan kasus tersebut dilanjutkan ke proses lebih lanjut. ketiga; diskresi kepolisian, diskresi adalah suatu kekuasaan yang dimiliki oleh kepolisian yang dilakukan berdasarkan hukum atas pertimbangan dan keyakinan serta lebih menekankan pertimbangan- pertimbangan moral dari pada pertimbangan hukum.
346 ADI p
PENGELOLAAN USAHA AIR MINUM NAGARI DI JORONG TANJUANG BATUANG SEBAGAI ASET NAGARI OLEH PEMERINTAH NAGARI DUO KOTO KECAMATAN TANJUNG RAYA KABUPATEN AGAM
Adila Azani, 1510112172, Fakultas Hukum Universitas Andalas, Tahun 2018, 83 Halaman ABSTRAK
Nagari sebagai desa adat diakui eksistensinya di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana tertuang di dalam Pasal 18B ayat (2) Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Nagari memiliki harta kekayaan yang merupakan aset bagi nagari tersebut dimana pengelolaannya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan nagari dan meningkatkan pendapatan nagari. Nagari Duo Koto misalnya, salah satu nagari yang terletak di kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam, memiliki aset berupa usaha air minum dengan menggunakan dana desa sebagai dana utama dalam pembangunannya. Namun, pengelolaan usaha air minum sebagai aset nagari tersebut belum dipayungi oleh peraturan nagari sebagaimana amanat Pasal 110 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Berdasarkan uraian latar belakang, maka permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah : 1) Mengapa pengelolaan usaha air minum di jorong Tanjuang Batuang Nagari Duo Koto belum diatur di dalam peraturan nagari?
2) Apa usaha yang sudah dilakukan pemerintah Nagari Duo Koto dalam mengelola usaha air minum di jorong Tanjuang Batuang Nagari Duo Koto? Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis-sosiologis, sifat penelitian deskriptif, teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan studi dokumen. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil , yakni : 1) Usaha air minum di jorong Tanjuang Batuang belum di atur dalam peraturan nagari karena sumber dana pembangunan usaha air minum tersebut tidak sepenuhnya berasal dari dana desa, ada sumbangsih warga dan pemuda di dalamnya. Sehingga pemerintah nagari Duo Koto kesulitan dalam memberanikan diri mengatur masyarakat. Minimnya ilmu hukum yang dimiliki pemerintah nagari Duo Koto ditambah kurangnya peran pemerintah kabupaten atau provinsi dalam memberikan pelatihan terkait pembuatan peraturan nagari menjadi kendala pemerintah nagari Duo Koto menyelesaikan rancangan peraturan nagari. 2) Adapun usaha yang telah ditempuh pemerintah nagari Duo Koto adalah membuat kebijakan berdasarkan kesepakatan bersama masyarakat jorong Tanjuang Batuang untuk menjadi pedoman sementara pengelolaan usaha air minum, mengangkat panitia pengurus yang bertugas mengelola usaha air minum tersebut, menjatuhi sanksi berupa pemutusan peyaluran air ke rumah warga yang melanggar ketentuan, dan membuat rancangan peraturan nagari sebagai payung hukum pengelolaan usaha air minum tersebut.