• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fenomena Pemikiran Wanita Haid Boleh Tidak Berdiam di Dalam

BAB II LANDASAN TEORI

C. Fenomena Pemikiran Wanita Haid Boleh Tidak Berdiam di Dalam

Rasulullah Saw memerintahkan kaum muslimin untuk membangun masjid di tempat setiap kabilah, dan juga memerintahkan membersihkan dan memberi wewangian di dalam masjid.

Jika halaman masjid tersebut bersambung dengan masjid dan berada di dalam pagar masjid maka halaman masjid tersebut adalah bagian dari masjid. Namun jika halaman tersebut tidak tersambung dengan masjid dan tidak berada di dalam pagar masjid maka halaman tersebut bukanlah bagian dari masjid. An Nawawi asy- Syafi’i mengatakan, “ yang di maksud dengan halaman masjid adalah areal yang melekat pada bangunan

junub, dan ada juga sebagian ulama yang membedakannya. Perbedaan pandangan ini menimbulkan perbedaan penetapan hukum dalam hal hukum memasuki masjid bagi perempuan haid.

Amalan ibadah yang diharamkan selama haid dan nifas adalah, seluruh jenis shalat, sujud tilawah, menyentuh Al-Qur’an, membaca Aqur’an Masuk Masjid, i’tikaf, thawaf.73 Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum wanita haid masuk masjid dan tinggal di dalamnya, kedalam dua pendapat. Pendapat pertama tidak boleh, demikian madzhab mayoritas ulama, termasuk di antaranya imam madzhab yang empat dan para muridnya.

Pendapat kedua, wanita haid boleh masuk dan berdiam di masjid. Demikian madzhab Dawud, Ibn Hazm, dan Al-Muzani.74

Ibnu hazm dalam kitab al-muhalla mengatakan boleh saja bagi wanita yang haid dan nifas memasuki masjid.

َأ ْنِم ِقدِر َط ِفِ هلَّ َسَو ِهْيَلَع ُ هللَّا هلَّ َص ه ِبِهنلا ُهَيِقَل ُههنَأ :َةَرْيرُه ِبَِأ ْنَع َوِةَنْدِدَمْلا ِق ُر ْط

هل َسْْاَف. ٌبُنُجَوُه

َبَأ َيَ؟ َتْنُك َنْيَأ.َلاَق ُهَءاَجاهمَلَف.َهلَّ َسَو ِهْيَلَع ُ هللَّا هلىا َص ُّ ِبِهنلا ُهَدهفَتَف َل َسَتْغاَف َبَهَذَف َلْو ُسَر َيَ:َلاَقََةَرْيَرُه

َك َسِلاَجُأ ْنَأ ُتْهِرَكَف ٌبُنُج َنََأَو ِنَِتْيِقَلَِ هللَّا ُهللَّا هلىا َص ِ هللَّا َلْو ُسَر َلاَقَف.َل ِسَتْغَأ هتََّح

:َهلَّ َسَو ِهْيَلَع

ُسُجْنَد َلَ َنِمْؤُمْلا هن ا َِ هللَّا َناَحْب ُ س ِ

Artinya: “Dari Abu Hurairah, bahwa ia bertemu dengan Nabi Saw, di salah satu jalan Madinah, sedangkan ia dalam keadaan junub, maka ia menyelinap dan pergi untuk mandi sehingga Rasulullah Saw, mencari- carinya. Ketika ia datang lagi, beliau bertanya:” Ke mana kamu, Abu Hurairah?” Ia menjawab:”Wahai Rasulullah, anda bertemu saya, sedangkan saya dalam keadaan junub, maka saya merasa kurang enak duduk bersama

73 Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adilatuhu, h. 519.

74 Shalih bin Abdullah Al-Laahim, Fiqih Darah Wanita, (Surabaya: Pustaka Elba, 2011), h. 77.

anda sebelum saya mandi.” Rasulullah Saw, bersabda:”Maha Suci Allah!

Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.” (HR. Bukhari).75

Ulama Syafi’i dan Hambali membolehkan wanita yang sedang haid atau nifas berlalu di dalam masjid, jika ia yakin tidak mengotori masjid.

Karena, hukum mengotori masjid dengan najis atau kotoran lainnya adalah haram.76 Juga, karena terdapat riwayat Aisyah yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. Berkata kepadanya,

ْلا َنِم َةَرْمُخْلا ِنِْيِلِو َنَ :لَّس و هيلع و الله لَّص ِالله ُلْو ُسَر ْ ِلِ َلاَق : ْتَلاَق َة َشِئاَع ْنَع : ُتْلُقَف .ِد ِج ْسَم

لع الله لَّص ِالله ُلْو ُسَر َلاَقَف . ٌضِئاَح ْ ِِنّ ا ِ ِ ِدَد ِف ْت َسْيَل ِكَت َضْيَح هن ا :لَّس و هي ِ

.

Artinya:“Dari Aisyah r.a. dia berkata: Rasulullah Saw. pernah bersabda kepadaku dari masjid: “Ambilkanlah untukku al-khumrah (sajadah kecil yang cukup untuk sujud) di masjid” Aku berkata: “Saya Haid!” Rasulullah saw.

bersabda: “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu.” (HR. Muslim).77 Di samping itu, ulama Hambali Juga membolehkan wanita yang sedang haid untuk duduk di dalam masjid dengan berwudhu terlebih dahulu sesudah darah kering.78hukum makruh juga berlaku bagi perempuan yang sedang haid dan nifas apabila mereka dapat menjamin untuk menjaga kesucian masjid dari haid dan nifasnya.79 maka hukumnya menurut madzhab Hambali boleh lewat, Madzhab ini sependapat dengan madzhab Syafi’i, hanya saja mereka membolehkan berlalu saja manakala ada kepentingan

75 Imam Abi Husein Muslim Ibnu Hajjaj Al Qusyairy An Nalsabury, Shahih Muslim Juz

1, (CV. Asy Syifa’: Semarang, 1992), h.461.

76 Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adilatuhu, h. 521.

77 Hadis kedua ini tidak memiliki asbab al-wurud secara khusus. Akan tetapi asbab al- wurud hadis ini disebutkan di dalam matan hadis yang ketika ‘Aisyah yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw, untuk mengambilkan sajadah dari dalam masjid, dan pada saat itu ‘Aisyah sedang dalam keadaan haid. Setelah ‘Aisyah mengatakan demikian maka, Rasulullah Saw, mengatakan bahwa haidmu bukanlah di tanganmu. Dan ‘Aisyah pun mengambilkan sajadah tersebut.

78 Wahbah az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adilatuhu, h. 521.

79 Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi, Fikih Empat Madzhab, Jilid 1(Jakarta: Pustaka Al- Kautsar, 2015), h. 489.

tertentu, seperti mengambil sesuatu, meninggalkan sesuatu, atau adanya jalan yang harus melewati masjid, selain yang demikian maka tidak boleh.80

Imam Syafi’i berkata: Allah Swt,berfirman, “Janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja hingga kamu mandi.” (Qs. An-Nisaa’ (4): 43) Imam Syafi’i berkata: Sebagian ulama mengatakan tentang firman Allah Swt, “dan tidak pula orang yang berjunub terkecuali sekedar berlalu saja.” bahwa maknanya adalah, “Janganlah kamu hampiri tempat shalat.” Karena tidak ada dalam shalat melewati jalan, yang ada hanyalah melewati tempat shalat, yaitu masjid. Maka, tidak mengapa seorang yang berjunub melewati masjid dengan tidak berhenti padanya.81

Kata “shalat” di artikan tempat shalat, tetapi dalam ayat tersebut tidak menyebutkan wanita haid. Wanita haid dalam ayat tersebut diqiyaskan dengan kata junub. Sehingga ulama dari kalangan ini membolehkan dengan syarat hanya sekedar lewat atau mengambil sesuatu di dalam masjid.

Sebagaimana telah diuraikan dalam pembahasan masalah mandi, bahwa wanita yang sedang haid tidak boleh berdiam diri di dalam masjid, dan diperbolehkan jika hanya sekedar berlalu saja.82

Allah Swt berfirman:





























80Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Jilid 1, Terj. Misbah, (Jakarta: Pustaka Azzam,2009), h.

200-201.

81 Imam Asy-Syafi’i, Al Umm Jilid 1, Terj. Ismail Yakub, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2014), h. 131

82 Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, Fiqih Wanita Edisi Lengkap, (Jakarta: PT.

AlKautsar, 1998), h. 77.

Artinya: “sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis. Sebab itu janganlah mereka memasuki Masjidil haram sesudah tahun ini.” (QS. Al- Baqarah (02): 28).83

Maka tiada seyogialah bagi orang musyrik itu masuk masjidil haram, dalam keadaan apapun juga. Apabila orang musyrik itu bermalam di masjid, selain masjidil haram, maka seperti demikian orang muslim. Bahwa Ibnu Umar dirawikan, adalah ia bermalam dalam masjid pada masa Rasulullah Saw. Dan dia itu bujang dan termasuk orang miskin yang tinggal di shuffah.

Tiada bernajis tanah dengan dilalui wanita berhaid, orang junub, orang musyrik dan mayatnya. Karena tiadalah bernajis manusia yang masih hidup.

Aku memandang makruh bagi wanita berhaid lalu dalam masjid. Dan kalau ia lalu, niscaya ia tidak menajiskan masjid.84

Berdasarkan hadits tersebut, jumhur ulama termasuk 4 madzhab (Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hambali dan Imam Hanafi) melarang wanita yang sedang haid untuk masuk dan berdiam di dalam masjid.

Para ulama yang melarang wanita haid diam di masjid berbeda pendapat mengenai wanita yang sekedar lewat di dalam masjid untuk mengambil sesuatu atau meletakan sesuatu atau hanya ada satu jalan di dalamnya, Madzhab hambali dan Syafi’i dari yang paling shahih. Juga sebagian ulama malikiyah, dan menjadi pilihan Al- Hasan: mereka berhujjah dengan dalil berikut ini:85

83 QS. Al-Baqarah: 28.

84 Imam Asy-Syafi’i, Al Umm Jilid 1, h. 132

85 Shalih bin Abdullah Al-Laahim, Fiqih Darah Wanita, h. 88.

Firman Allah Swt:















Artinya:”(jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam Keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. (QS. An-Nisaa (04): 43).86

Pengambilan dalil:

Sesungguhnya Allah melarang orang yang junub untuk mendekati tempat shalat, yaitu masjid. Apabila hal ini dilarang bagi orang yang junub, maka bagi wanita yang haid akan lebih dilarang, karena hadatsnya lebih berat.

Itulah sebabnya dilarang melakukan hubungan suami istri, puasa dan shalat.

Keduanya disamakan dalam banyak hukum.87

Yang dimaksud dengan ayat di atas adalah mendekati tempat shalat, karena tidak ada dalam shalat melewati jalan. Yang ada adalah melewati jalan di tempatnya yaitu di masjid. Pengecualian dari larangan menunjukan pembolehan apabila hal ini di bolehkan bagi orang yang junub maka wanita yang haid adalah sama.88

Namun ada peluang untuk menakwili ayat tadi secara majazi maupun secara hakiki. Jika di takwili secara majazi, berarti adalah kalimat yang dibuang, yakni kalimat tempat shalat. Kalau dimunculkan berbunyi,

“janganlah kamu mendekati tempat shalat,” jadi, orang yang hanya sekedar lewat, dikecualikan dari larangan mendekati tempat shalat. Dan jika ditakwili secara hakiki, berarti tidak ada kalimat yang dibuang sama sekali.

Pemahaman kita harus kembali kepada hakikat, dan apa yang tampak pada

86 QS. An-Nisa: 43

87 Shalih bin Abdullah Al-Laahim, Fiqih Darah Wanita, h. 78.

88 Shalih bin Abdullah Al-Laahim, Fiqih Darah Wanita, h. 78.

ayat tersebut. Kalau begitu, kalimat yang melintasi jalan berarti seorang musafir yang dalam keadaan junub dan tidak menemukan air.89

Ulama-ulama yang mengartikan ayat diatas secara majazi, memperbolehkan orang junub lewat dan berjalan di dalam masjid.

Sedangkan ulama yang memahami ayat ini secara hakiki, menyatakan bahwa ayat ini tidak dapat dijadikan dalil untuk kasus orang junub yang dilarang berdiam di masjid. Perbedaan para ulama ahli fikih dalam masalah wanita yang sedang haid ini juga sama seperti perbedaan pendapat mereka dalam masalah orang yang sedang junub. 90

Wanita haid tidak boleh lewat di dalam masjid. Demikian pendapat madzhab Hanafi, Maliki Dan Syafi’i mereka berhujah dengan dalil berikut ini, Rasulullah Saw bersabda:

َْنَْع ُ هللَّا َ ِ ضِ َر َة َشِئاَع ْنَع ْلا ُّلِحُأ َلَ ِِنّ ا :َهلَّ َسَو ِهْيَلَع ُ هللَّا هلَّ َص ِ هللَّا ُلو ُسَر َلاَق : ْتَلاَق ا

ٍضِئاَحِل َدِج ْسَم

. ٍبُنُج َلَ َو

Artinya:”Dari ‘Aisyah r.a. Rasulullah Saw Bersabda:“Aku tidak menghalalkan masjid untuk wanita yang haid dan orang yang junub.” (HR.

Abu Daud).91

Dalam kitab Subulussalam dinyatakan, bahwa hadits ini di pandang shahih oleh Khuzaimah seorang ahli Hadits), dan berdasarkan hadits ini dapat dipahami bahwa wanita haid tidak boleh masuk masjid. Namun demikian, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa wanita menstruasi boleh masuk masjid atau tidak dilarang. Alasan mereka, sebagaimana diungkapkan dalam kitab Subussalam, karena mereka menganggap bahwa hadits-hadits tersebut

89 Ibn Rusyd, Bidayatul Mujtahid Jilid 1, h.76.

90 Ibn Rusyd, Bidayatul Mujtahid Jilid 1, h.76.

91 Abdul Aziz Mabruk al-Ahmadi et.al, Fikih muyassar Panduan Praktis Fikih Dan Hukum Islam, h. 64.

di atas tidak shahih karena ada perawinya yang matruk. Jadi dapat dikatakan, bahwa hukum wanita yang sedang haid masuk masjid adalah masalah khilafiyah.92

Wanita haid tidak diperbolehkan memasuki masjid dikarenakan disamakan hukumnya dengan orang yang dalam keadan junub, karena sama- sama dalam keadaan hadas besar. Akan tetapi, jika dilihat dari fenomena yang ada pada saat ini, keluar masuk masjid merupakan hal yang biasa bagi wanita haid. Seakan-akan tidak ada larangan bagi mereka untuk masuk ke dalam masjid.

D. Istinbat dan Ijtihad