FILUM PROTOZOA KELAS FLAGELLATA (FLAGELLATA INTESTINAL DAN GENITAL)
A. Flagellata Intestinal ( Giardia lamblia )
Spesies Giardia lamblia dikenal dalam beberapa nama, antara lain Giardia duodenalis atau Giardia intestinalis atau Lamblia intestinalis. Infeksinya dikenal dengan istilah giardiasis.
Parasit ini pertama kali ditemukan oleh Antoni van Leeuwenhoek pada tahun 1681, ia melihat mikroorganisme yang bergerak-gerak yang diamati dari sampel feses di bawah mikroskop. Selanjutnya dipelajari lebih dalam oleh Lambl pada tahun 1859 dan diberi nama “intestinalis”.
Setelah dipelajari lebih lanjut oleh Stiles pada tahun 1915 maka Stiles memberikan nama baru yakni Giardia lamblia, untuk menghormati Prof. A. Giard dari Paris dan Doktor F.
Lambl dari Praha.
1. Habitat
Giardia lamblia hidup di area duodenum dan jejunum bagian atas, dan pada beberapa kasus terkadang dijumpai juga pada saluran empedu dan kandung empedu. Parasit ini melekatkan tubuhnya pada dinding usus bagian dalam
2. Distribusi Geografis
Parasit ini tersebar secara kosmopolit di daerah beriklim tropis dan subtropis. Keberadaannya pada wilayah geografis, menandakan wilayah tersebut masih memiliki msalah kesehatan, terutama masalah pada higiene dan sanitasi lingkungan.
3. Morfologi
Giardia lamblia memiliki dua stadium, yakni trofozoit dan kista. Stadium trofozoit berbentuk seperti buah pir dengan bentuk tubuh simetris bilateral, memiliki panjang sekitar 14 mikron dan lebar sekitar 7 mikron, bagian anterior membulat, lebih lebar dari pada posterior dan bagian posterior meruncing. Bagian dosrsal memiliki permukaan cembung, sebaliknya bagian ventral memiliki permukaan cekung. Stadium trofozoit panjangnya sekitar 12-15 mikron, pada bagian anterior memiliki sepasang inti berbentuk oval dengan kariosom ditengah serta butir-butir kromatin yang tersebar di plasma inti. Memiliki empat pasang flagel yang muncul dari empat pasang blefaroplas, memiliki sepasang aksostil yang muncul dari sepasang blefaroplas. Memiliki batil isap yang berbentuk seperti cakram yang cekung pada bagian ventral, ukuran batil isap menempati setengah bagian anterior.
A B
C D
Gambar. 11.1 Stadium tropozoit Giardia lamblia A.Preparat basah dengan Iodine; B. Pewarnaan Giemsa; C. Pewarnaan trikrom; D. Pewarnaan Kohn
Sumber : Centers for Disease Control and Prevention. (2017).
Stadium kista Giardia lamblia berukuran 8-12 mikron berbentuk lonjong memiliki 2-4 buah inti (kista yang baru terbentuk memiliki 2 inti dan kista matang memiliki 4 inti), memiliki dinding yang tipis dan kuat.
Sitoplasma memikiki butir halus.
A B
C D
Gambar. 11.2 Stadium kista Giardia lamblia A-B.
Preparat basah dengan Iodine; C-D. Pewarnaan trikrom;
Sumber : Centers for Disease Control and Prevention. (2017).
4. Transmisi & Siklus Hidup
Giardia lamblia hidup di dalam rongga usus kecil yaitu duodenum dan bagian bagian proksimal jejunum, kadang-kadang dijumpai juga pada saluran dan kandung empedu. Bila kista matang tertelan oleh hospes, maka akan terjadi ekskistasi di duodenum, kemudian sitoplasma membelah dan flagel tumbuh dari aksonema sehingga terbentuk menjadi dua tropozoit. Tropozoit berkembang biak dengan cara membelah pasang longitudinal. Bila jumlahnya banyak sekali, maka tropozoit yang menempel pada mukosa usus, akan menutupi permukaan mukosa usus halus.
Tropozoit yang tidak menempel, akan mengikuti pergerakan peristaltik usus menuju ke usus besar dan akan membentuk kista (enkistasi) bila feses memadat, sehingga stadium kista dapat dijumpai pada feses
konsistensi padat, namun pada feses konsistensi cair bisa dijumpai stadium tropozoit.
Penyebaran infeksi giardiasis dapat melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi feses yang mengandung kista Giardia lamblia. Penyebaran kista dapat diperatarai oleh vektor mekanik seperti lalat, ataupun lipas (kecoak). Setelah kista matang masuk ke dalam tubuh host dan tiba di bagian duodenum, maka stadium kista (bentuk tidur/istirahat) akan berubah bentuk menjadi stadium trofozoit (bentuk aktif), proses ini dikenal dengan istilah ekskistasi, kemudian parasit ini memperbanyak diri dengan cara membelah diri secara longitudinal. Stadium trofozoit dapat bergerak dari duodenum menuju saluran empedu atau kandung empedu kemudian berubah bentuk kembali menjadi stadium kista (enkistasi) dan menetap di sana dalam waktu yang cukup lama.
Gambar. 11.3 Siklus Hidup Giardia lamblia
Sumber : Centers for Disease Control and Prevention. (2017).
Kista adalah bentuk bertahan dan merupakan stadium yang berperan dalam penularan giardiasis.
Kista dan trofozoit dapat ditemukan di feses (tahap diagnostik). Kista dapat bertahan beberapa bulan di air dingin. Infeksi terjadi dengan menelan air dan makanan yang mengandung kista, atau melalui jalur fecal-oral. Pada usus kecil, ekskistasi melepaskan tropozoit (setiap kista menghasilkan dua tropozoit).
Tropozoit berkembang biak dengan pembelahan biner memanjang (belah pasang longitudinal), tersisa di lumen usus kecil proksimal di mana mereka dapat bebas atau melekat pada mukosa oleh cakram penghisap ventral. Enkistasi terjadi saat parasit
menuju usus besar. Kista adalah stadium yang paling sering ditemukan pada feses nondiare, kista merupakan stadium yang berperan dalam penularan dari orang ke orang.
5. Patogenesis
Infeksi giardiasis ringan biasanya asimtomatik. Tidak dijumpai kerusakan mukosa duodenum dan jejunum.
Namun pada giardiasis berat bersifat simtomatik, antara lain dapat terjadi iritasi dan kerusakan jaringan usus.
Perlekatan stadium trofozoit Giardia lamblia pada area duodenum dibantu oleh batil isap (sucking disc).
Bila jumlah trofozoit yang melekat sangat banyak, maka akan terjadi gangguang penyerapan lemak pada duodenum, sehingga lemak keluar bersama feses (steatore).
Selain itu Giardia lamblia juga menghasil toksin yang dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan jaringan usus hingga terjadi radang kataral, yang dapat menimbulkan gejala klinis seperti demam, nyeri dan gangguan perut, mual, muntah dan kembung.
Penderita juga mengalami diare serta sindrom malabsorsi.
6. Pencegahan Infeksi Parasit
Pencegahan infeksi parasit ini terutama dengan memperhatikan higiene dan sanitasi perorangan, keluarga dan kelompok masyarakat, yakni dengan menghindari mengkonsumsi air minum dan makanan