BAB II TINJAUAN PUSTAKA
G. Fokus Penelitian
Fokus penelitian di gunakan sebagai dasar dalam pengumpulan data sehingga tidak terjadi biasa terhadap data yang diambil. Untuk menyamakan pemahaman dan cara pandang terhadap karya ilmiah ini, maka penulis akan memberikan penjelasan mengenai maksud dan fokus penelitian terhadap karya ilmiah ini.
Sistem pengelolaan TAHURA (PERDA No.28/2008)
Efektivitas Pengelolaan TAHURA Planning
a. Pertemuan b. Pengumpulan
data
Actuating a. Pembagian tugas b. Pemberdayaan
masyarakat
Controlling a. Internal b. Eksternal
Fokus penelitian merupakan dari penjelasan dari kerangka konsep adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Perencanaan dengan indiator pertemuan, pengumpulan data.
2. Pelaksanaan dengan indikator pembagian tugas, pemberdayaan masyarakat.
3. Pegawasan dengan indikator internal dan eksternal.
H. Deskripsi Fokus Penelitian
Mengenai objek penelitian maka diuraikan beberapa deskripsi fokus sebagai berikut :
1. Perencanaan merupakan tahap awal dari suatu perencanaan pada saat implementasi dilapangan sangat ditentukan oleh penetapan prakondisi ketika perencanaan tersebut akan dibuat. Tahap prakondisi dimulai dari pertemuan pegelolaan, pengumpulan data yang akan digunakan dalam proses penyusunan perencanaan yang disusun oleh pengelola dan dapat melibatkan pihak-pihak lain yang berkompoten (diketuai kepala Unit Pengelola/UPTD TAHURA atau pejabat yang ditunjuk oleh kepala Unit Pengelola UPTD TAHURA. Data potensi (internal maupun eksternal) merupakan data utama yang mendasari arah suatu tujuan.
2. pelaksanaan yang ada dilapangan diarahkan untuk mewujudkan tujuan dan fungsi kawasan supaya optimal melalui program dan kegiatan yang telah ditetapkan dalan rencana-rencana yang telah disahkan. Di selenggarakan secara terukur dan professional sedemikian rupa sehingga mampu menciptakan suasana kerja yang produktif dan kreatif di semua lini. Seperti pembagian tugas kepada petugas uptd pengelolaan, anggota masyarakat dan aparat pemerintah dalam penanaman pohon disejumlah titik lokasi, pemberian pelatihan plasma
nutfah dan pemberdayaan masayarakat dalam bentuk peningkatan pengetahuan, pengembangan yang meliputi penataan dan pemanfaatan kelembagaan, pengembangan usaha ekonomi.
3. Pengawasan program yang ada dilapangan meliputi pengawasan internal dan eksternal. Pengawasan internal lembaga bersifat lembaga struktural dan Fungsional. Setiap stap dan karyawan di UPTD pengelolaan Taman Hutan Raya wajib menyadari tugas pokok dan fungsinya masing-masing dalam menjalankan kewajiban tersebut dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab.
Kegiatan pembinaan internal dapat berupa rapat kerja atau rapat koordinasi pelaksanaan kegiatan dan program.
4. Efektifitas sejauh mana organisasi berhasil mendapatkan dan memanfaatkan sumberdaya dalam pengelolaan mencapai tujuan operasional. Efektivitas keseluruhan dalam arti sejauh mana organisasi melaksanakan tugas untuk mencapai semua sasaran.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan diwilayah Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai pada taman hutan raya (TAHURA) Abdul Latief pada Dinas perkebunan dan kehutanan Kabupaten Sinjai. Penelitian telah dilakukan selama dua bulan yakni bulan Agustus s/d September tahun 2016
B. Jenis Penelitian dan Tipe Penelitian 1. Jenis penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang berusaha menjelaskan sedetail mungkin objek dan masalah penelitian berdasarkan fakta yang diperoleh di lapangan. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2002:3) bahwa metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa fakta-fakta tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati.
2. Tipe penelitian
Tipe penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah fenomologi yaitu peneliti akan mendeskripsikan pengalaman yang dilakukan dan dialami oleh informan berkaitan dengan sistem pengelolaan Taman Hutan Raya (TAHURA) Abdul Latief Studi kasus di Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai.
C. Sumber Data
Sumber data yang akan dikumpulkan oleh peneliti dalam penelitian ini ada dua macam yaitu:
1. Sumber data primer
Sumber data primer adalah sumber data utama yang digunakan untuk menjaring berbagai data dan informasi yang terkait dengan fokus yang dikaji.
Hal ini dilakukan melalui metode wawancara dan observasi 2. Sumber data skunder
Sumber data skunder adalah sumber data pendukung yang diperlukan untuk melengkapi data primer yang dikumpulkan. Hal ini dilakukan sebagai upaya penyesuaian dengan kebutuhan data lapangan yang terkait dengan objek yang dikaji. Data skunder terutama diperorleh, melalui dokumentasi.
D. Informan Penelitian
Informan dipilih secara Purposive (sengaja) dan dapat memberi data yang valid terkait dengan masalah yang diteliti.
Informan terdiri atas Kepala Dinas, Bidang pengelolaan, Kepala Kantor UPTD Tahura, Tokoh masyarakat. Untuk lebih jelasnya, karakteristik informan sebagai berikut:
Tabel informan
No Nama Inisial Jabatan
1 Ir. H. Ramlan Hamid, M.Si (RH) Kepala Dinas
2. Sultan, Sp (SN) Bidang Pengelolaan
3. A. Mattaliu (AM) Bidang Pegelolaan
4. Muh. Nuralam (MN) Kepala Kantor UPTD
5. Caha
Supriadi
(CH) (SPD)
Toko masyarakat
6 Subhan
Jamil
(SBN) (JML)
Pengunjung
Jumlah informan adalah 8 orang D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitan ini adalah 1. Wawancara
Wawancara yaitu tanya jawab yang dilakukan penulis dengan kepala dinas perkebunan dan kehutanan serta masyarakat Kabupaten sinjai yang berhubungan dengan penelitian.
2. Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan sistematis tentang gejalah- gejalah yang diamati. Pengumpulan data dalam penenelitian ini dilakukan dengan cara observasi langsung (direct observation) dan sebagai peneliti yang menempatkan diri sebagai pengamat (rocengnized outsider) sehingga interaksi peneliti dengan subjek penelitian bersifat terbatas. Dengan melakukan observasi, penneliti mencatat apa saja yang dilihat dan mengganti dari
dokumen tertulis untuk memberikan gambaran secara utuh tentang objek yang akan diteliti.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis, terutama berupa arsip-arsip, dan termasuk juga buku-buku, dokumen resmi maupun statistik yang berhubungan dengan masalah penelitian.
Teknik ini dilakukan dengan cara mengadakan penelaan terhadap bahan- bahan yang tertulis meliputi hasil-hasil seminar dan buku-buku serta majalah.
Beberpa data skunder yang dicari dalam penelitian ini adalah informasi tertulis baik dari dalam maupun dari luar yang di anggap relevan.
I. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis kualitatif yang dengan mendeskripsikan dan menganalisis lebih mendalam dari data hasil penelitian yang diperoleh melalui wawancara langsung, observasi dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Model milles dan humberman (Emsir, 2010) menyatakan bahwa terdapat tiga macam kegiatan analisis data kualitatif, yaitu:
1. Reduksi data
Data yang diperoleh dilapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perluh dicatat secara teliti dan rinci.
Mereduksi data berarti: merangkum, memilih hal-hal yang pokok, mempokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
2. Model data
Setelah data direduksi, maka langkah berikutnya adalah mendisplaykan data. Disply data dalam penelitian kualitatif bisa dilakukan dengan bentuk:
uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sebagainya.
Miles dan Humberman (1894) menyatakan :”the most frequent form ofdisplay data for qualitative research data in the pas has been narativetex”artinya :yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif dengan teks yang bersifat naratif. Selain dalam bentuk naratif, display data dapat juga berupa grafik, matriks, network (kejaringan kerja).
3. Penarikan /Verifikasi Kesimpulan
Langkah ketiga adalah penarikan kesimpulan data verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. namun bila kesimpulan memang telah didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat meneliti kembali kelapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel (dapat dipercaya).
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena
masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada dilapangan.
kesimpulan dalam penelitian kualitatif yang diharapkan adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya yang masih belum jelas, sehingga setelah diteliti menjadi jelas.
J. Keabsahan Data
Menurut Sugiono (2012:125) Triangulagi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi, sumber triangulasi teknik pengumpulan data dan waktu.
1. Triangulasi sumber
Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diproleh melalui beberapa sumber. Dalam hal ini peneliti melakukan pengumpulan data dan pengujian data yang telah diproleh melalui hasil pengamatan, wawancara dam dokumen-dokumen yang ada. Kemudian peneliti membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara dan membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.
2. Triangulasi teknik
Triagulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Dalam hal ini data yang diperoleh dengan wawancara , lalu dicek dengan observasi dan dokumen. Apabila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang berbeda- beda maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang
bersangkutan atau yang lain untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar karena sudut pandangnya berbeda-beda.
3. Triangulasi waktu
Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara dipagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah akan memberikkan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya. Triangulasi dapat juga dilakukan dengan cara mengecek hasil penelitian dari tim peneliti lain yang diberi tugas melakukan pengumpulan data.
34
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi atau Karakteristik Obyek Penelitian 1. Gambaran Wilayah Kabupaten Sinjai
Sinjai adalah sebuah Kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan.
Nama Sinjai berasal dari kata Sijai (Bahasa Bugis) artinya “sama jahitannya”.
Sinjai artinya bersatu dalan jahitan, dari istilah Sijai menjadi sinjai merupakan suatu simbol dalam mempererat hubungan kekeluargaan, Hal ini diperjelas dengan adanya gagasan dari LAMASSIAJENG Raja Lammati X untuk memperkokoh bersatunya antara kerajaan Bulo - Bulo dan Lamatti dengan ungkapanya PASIJA SINGKERUNNA LAMATI BULO-BULO artinya satukan keyakinan Lamatti dengan Bulo-Bulo, sehingga setelah meniggal dunia beliau digelar dengan PUANTA MATINROE RISIJAINA. Eksistensi dan identitas kerajaan-kerajaan yang ada di Kabupaten Sinjai pada masa lalu semakin jelas dengan di dirikannya Benteng pada tahun 1557. Benteng ini dikenal dengan nama Benteng Balangnipa, sebab didirikanya di Balangnipa yang sekarang menjadi ibu kota Kabupaten Sinjai. Disamping itu, Benteng ini pun dikenal dengan nama Benteng Tellulimpoe karena didirikan secara bersama-sama oleh 3 (tiga) kerajaan yakni Lamatti, Bulo-bulo, dan Tondong lalu dipugaroleh Belanda melalui perang Manggarabombang.
Agresi Belanda tahun 1559-1561 terjadi pertempurang yang hebat sehingga dalam sejarah dikenal nama Rumpa’na Manggarabombang atau perang manggarabombang, dan tahun 1559 Benteng Balangnipa jatuh ketangan
Belanda. Tahun 1636 orang Belanda mulai datang kedaerah Sinjai . Kerajaan- kerajaan Sinjai menentang keras upaya Belanda untuk mengadu domba menentang keras upaya belanda untuk memecah belah persatuan kerajaan- kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan . Hal ini mencapai puncak dengan terjadinya peristiwa pembunuhan terhadap orang-orang belanda yang mencoba membujuk Kerajaan Bulo-Bulo untuk melakukan peran terhadap Kerajaan Gowa. Peristiwa ini terjadi tahun 1639. Hal ini disebabkan oleh rakyat Sinjai tetap berpegan teguh pada PERJANJIAN TOPEKKONG. Tahun 1824 Gubernur Hindia Belanda VAN DER CAPELLAN datang dari Batavia untuk membujuk I CELLA ARUNG (PUANG CELLA MATA) Bulo-bulo XXI agar menerima perjanjian Bongaya dan mengisinkan Belanda mendirikan Loji atau Kantor Dagang diLappa tetapi ditolak dengan tegas.
Tahun 1861 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan dan Daerah, Takluknya wilayah Tellulimpoe Sinjai di jadikan satu wilayah dengan sebutan Goster Districten. Tanggal 24 Februari 1940, Gubernur Groten Gost menetapkan pembagian Administratif untuk Daerah Timur termasuk Residen Clebes, dimana Sinjai bersama-sama beberapa kabupaten lainnya bersatu sebagai Onther Afdeling Sinnai terdiri dari beberapa adats Gemenchap, yaitu Cost Bulo-bulo, Tondong, Manimpahoi, Lamatti West, Bulo-bulo, Manipi dan Turungen.
Watak dan karakter masyarakat tercermin dari sistem demokratis dan berkedaulatan rakyat . Komunikasi politik di antara keraajaa-kerajaan dibagun melalui landasan tatanan kesopanan yakni Sipakatau yaitu saling menghormati,
serta menjunjung tinggi nilai-nilai konsep “Siruimenre’ Tessirui No” yakni saling menarik ke atas, pantang saling menarik ke bawah, Mallilu Sipakainge yang bermakna bila khilaf saling mengingatkan. Sekalipun dari ketiga kerajaan tersebut tergabung ke dalam persekutuan Kerajaan Tellulimpo’E namun pelaksanaan roda pemerintahan tetap berjalan pada wilayahnya masing- masing tanpa ada pertentangan dan peperangan yang terjadi diantara mereka.
Pada masa penduduk jepang, struktur pemerintahan dan namanya ditatah sesuai dengan kebutuhan Bala Tentara Jepang yang bermarkas di Gojeng.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945 yakni tanggal 20 Oktober resmi menjadi sebuah Kabupaten Berdasarkan Undang-undang RI Nomor 29 Tahun 1959. Dan pada tanggal 17 Februari 1960 Abdul Latief di lantik menjadi kepala Daerah Tingkat II Sinjai yang pertama hingga saat ini telah di nahkodai oleh 8 (delapan) orang putra terbaik.
2. Topografi dan Iklim
Kabupaten Sinjai teletak di pantai jazirah Provinsi Sulawesi Selatan sekitar 223 km dari kota Makassar melalui jalur pantai selatan (Bantaeng ) dan 192 km lewat tengah maros, dengan posisi geografis terletak antara 50 19’
30” sampai 50 36’ 47” Lintang selatan dan 11900 48’ 30’’ sampai 1200 0’ 0’’
Bujur Timur. Keadaan alam Kabupaten Sinjai terdiri dari masing – masing 15% daratan rendah dan 80% berupa pembukitan, bergelombang hingga penggunungan dimana terdapat gunung bawakaraeng dan gunung lompobattang. Kabupaten Sinjai memiliki luas wilayah sekitar 819,96 km2.
(81.996 Ha). Posisi wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Bone (bagian
Utara), teluk Bone (bagian Timur), Kabupaten Bulukumba (bagian Selatan), dan Kabupaten Gowa (dibagian Barat). Wilayah administrasi Kabupaten Sinjai terdiri dari 9 kecamatan, 67 Desa, 13 kelurahan.
Wilayah Kabupaten Sinjai mempunyai bentuk wilayah yang beragam dengan tofografi kemiringan lahan (Kontur) dan iklim yang bervariasi. Adapun topografi dan kemiringan lereng di Kabupaten Sinjai dimana memiliki 3(tiga) dimensi wilayah yakni wilayah laut/pantai wilayah daratan rendah dan daratan tinggi. Secara morfologi kondisi topografi wilayah Kabupaten Sinjai sangat bervariasi yaitu dari areal daratan hingga areal bergunung sekitar 38,26 persen atau seluas 31.370 Ha merupakan kawasan daratan hingga landai dengan kemiringan 0 – 15 persen. Areal pembukitan hingga bergunung dengan kemiringan diatas 40 persen di perkirakan seluas 25.625 Ha atau 31.25 persen.
Kondisi geologi Adanya aktivitas vulkanik menyebabkan wilayah Kabupaten Sinjai memiliki komposit geologis umumnya berbentuk dari batuan yang berasosiasi dengan batuan vulkan, misalnya petroklasik, kelompok basal, breksilaharik dan sedikit alluvium. Sebagai dampak dari aktivitas vulkanik ini, maka tanah di Kabupaten Sinjai cukup subur dan banyak mengandung fosfor dan Kalium.
Di Kabupaten Sinjai ditemukan jenis tanah Andosol, Latosol, Mediteran dan Regosol. Mediteran adalah jenis tanah yang dominan dan pada umumnya terletak dikawasan permukiman dan pertanian. Tanah Andosol terletak pada daerah hulu pada ketinggian teratas. Tanah Latosol berada pada ketinggian.
Sebagian dari tanah Latosol telah dikembangkan menjadi areah pertanian untuk
tanaman semusim. Tanah Regosol merupakan jenis tanah yang paling sedikit ditemukan, hanya berada didaerah pesisir pantai, dari daerah sekitar kota Sinjai.
Hidrologi wilayah Kabupaten Sinjai terdapat aliran sungai (DAS) yang relatif besar dan membentang sepanjang arealnya telah banyak dimanfaatkan untuk lahan pertanian, konservsi, ekologis, dan ekonomis.
Penggunaan lahan di Kabupaten Sinjai di dominasi oleh penggunaan lahan untuk pertanian tanaman pangan, perikanan dan kelautan, holtikultural, tanaman perkebunan, dan tanaman /vegetasi kehutanan. Penggunaan lahan untuk pertanian dan perkebunan telah sampai pada daerah yang topografinya berombak sampai bergunung (bentuk lahan yang dominan).
Letak geografis Kabupaten Sinjai yang strategis memiliki alam tiga dimensi, yakni bukit pengunungan, lembah daratan, dan pesisir pantai, dengan dua musim yaitu musim penghujan pada periode April –Oktober, dan musim kemarau yang berlangsung pada periode Oktober – April. Selain itu ada 3 (tiga) type iklim (menurut Schmidt & Fergusson) yang terjadi dan berlangsung di wilayah ini, yaitu Zona iklim type B2, C2, D2 & type D3. Dengan adanya kedua musim tersebut sangat menguntungkan bagi sector pertanian.
Demografi/Sumberdaya Manusia berdasarkan data keadaan penduduk yang dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Sinjai Tahun 2016 sebesar 238.607 jiwa.
Peta Kabupaten Sinjai
3. Perkembangan Taman Hutan Raya Abdul Latief di Kecamatan Sinjai Borong
a. Keadaan Umum Areal Taman Hutan Raya Abdul Latief 1. Luas Taman Hutan Raya Abdul Latief
Taman Hutan Raya (TAHURA) Abdul Latief merupakan kawasan hutan lindung Bulu Pattiroang kelompok hutan Lopmpobattang yang terletak di sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Aparang yang membentang mulai dari Hulu Jeppara sampai Dusun Kalimbu. Tahura Abdul Latief terletak disebelah Barat Daya Kabupaten Sinjai dan berjarak ibu Kota Kecamatan Sinjai Borong 12 km dan 60 km dari pusat ibu kota Kabupaten Sinjai, secara Geografis berada 05 18’41,3” Lintang selatan dan antara 120 00’32,5” Bujur Timur dengan luas _+720 Ha atau 10,31 % dari luas 6.965 Ha sehingga tidak akan mengganggu perlindungan tata air, namun pelestarianya ditingkatkan mengingat fungsinya sebagai “ Hutan Konservasi”. Tahura terletak pada ketinggian 1.200 -2.000 M dpl, sehingga hawanya sejuk dan berembun mulai jam 12:00 siang.
Areal/Lokasi yang digunakan dalam Pengelolaan Taman Hutan Raya (TAHURA) Merupakan Kawasan Hutan Konservasi yang terletak di Dusun Mattirotasi Desa Batu Belerang Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai seluas _+720 Ha.
Secara administratif, sebagian besar kawasan Tahura Abdul Latief masuk dalam wilayah Kecamatan Sinjai Borong yaitu Desa Batu Belerang Kecamatan Sinjai Borong. Batas wilayah meliputi :
Sebelah Barat berbatasan dengan sebagian hutang lindung gunung Pattiroang kelompok hutang Lompobattang–Aparang Gunung Bawakaraeng.
Sebelah Timur berbatasan dengan lahan masyarakat berupa lahan pertanian Dusun Kalimbu Desa Batu Belerang Kecamatan Sinjai Borong.
Sebelah Utara berbatasan dengan kawasan hutang lindung di Dusun Jeppara Desa Batu Belerang Kecamatan Sinjai Borong.
Sebelah Selatan berbatasan dengan lahan milik penduduk dan pemukiman dan sebagian hutang lindung yang berbatasan Kabupaten Bulukumba.
2. Keadaan Biofisik
Jenis Tanah pada wilayah Tahura Abdul Latief merupakan tanah Latosol dan Andosol terbentuk dari bahan Volkanik bersifat in ermedier. Andosol biasa di jumpai didaerahvolkanik dengan ketinggian tempat antar 1.200 -2000 m dpl.
Tabel 1. Kondisi Jenis Tanah pada Areal Kerja Taman Hutan Raya (TAHURA) Abdul Latief Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai
No Jenis Tanah Luas (Ha) % Keterangan
1 Litosol 30 -
2 Andosol 60 -
3. Tempat dan Topografi
Lokasi Pengelolaan Taman Hutan Raya Berada pada ketinggian rata – rata 1.417 m diatas permukaan laut. Keadaan topografinya terdiri atas daratan : datar, landai, agak curam sampai curam. Dengan kondisi topografi khususnya di areal penanaman tentu dapat dilakukan teknik konservasi tanah dengan terasering. Penyebaran wilayah berdasarkan kemiringan lereng.
Tabel 2. Kondisi topografi pada Areal Kerja Taman Hutan Raya (TAHURA) Abdul Latief Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai
4. Vegetasi dan Penutupan Lahan
Vegetasi pada areal Pengelolaan Taman Hutan Raya dapat dikelompokkan kedalam vegetasi rumput herbal, padang alang – alang, semak belukar dan ladang. Jenis Vegetasi dan penutupan lahan di areal Pengelolaan Taman Hutan Raya di Desa Batu Belerang Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai dapat dilihat pada tabel.
No Sebaran kemiringan lereng Luas (Ha) Keterangan
1. Datar (0-8%) 115,00 -
2. Landai (8–15%) 140,00 -
3. Agak Curam (15–25%) 345,00 -
4. Curam (25–40 %) 120,00 -
Jumlah 720,00 -
Tabel3. Kondisi Jenis Vegetasi Penutupan Lahan Taman Hutan Raya (TAHURA) Abdul Latief Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai.
No Jenis vegetasi Luas (Ha) Keterangan
1. Rumput herbal (vegetasi jarang)
75,00 -
2. Padang alang–alang - -
3. Semar Belukar 250,00 -
4. Ladang 5,00 -
5. Hutan 390,00 -
Jumlah 720,00 -
5. Potensi Wisata
Taman Hutan Raya (TAHURA) Abdul Latief Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai memiliki potensi sumber daya alam dan sumberdaya hayati yang mampu mendukung terwujudnya pengelolaan kawasan taman hutan raya dengan mengacu prinsip – rinsip konservasi tanpa mengurangi fungsi hidro – orologis. Beberapa potensi wisata yang ada di Taman Hutan Raya Abdul Latief yang bersifat khas di antaranya :
1. Potensi kawasan yang merupakan ekosistem asli hutan pengunungan primer dan skunder dengan keanekaragaman jenis flora dan fauna endemic Sulawesi.
2. Potensi ke indahan dan phenomena alam pengunungan, padang savanna yang khas, gejala alam yang khas (sikapan batuan, sungai diatas gunung).
3. Potensi panorama alam hutan pengunungan (Mountain forest) yang sangat indah, berhawa dingin, dapat melihat pemandangan kota dan laut disekitarnya.
4. Lokasi pengembangan dan penangkaran satwa, arboretum atau koleksi berbagai jenis tumbuhan.
5. Objek wisata alam berupa wisata alam air terjun waeluluE, air terjun waeburuE dan sumber air panas Belerang yang terletak -+ 4 km dan -+ 6 km dari pintu gerbang Taman Hutan Raya (TAHURA) Abdul Latief.
6. Jalan setapak (jogging track) : adanya jogging track antara kantor Unit Pelaksanaan Teknis Dinas (UPTD) taman hutan raya sampai ke embung (tempat perendaman) dan melingkar di sekitar menara pengawasan dan tempat penginapan/pertemuan, dan jalan setapak tanah menyusuri ekosistem pinggir hutan sejauh -+ 1 km dengan kondisi baik.
7. Danau kecil (situ) : wisata alam berupa danau kecil yang dijumpai tumbuhan talas yang di jadikan sebagai bahan pangan.
6. Kelembagaan
Pembangunan, pembinaan dan pengembangan kelembagaan Unit Pelaksanaan Teknis Dinas (UPTD) pengelolaan taman hutan raya diarahkan untuk dapat mengoptimalkan fungsi kawasan sebagaimana yang telah ditetapkan. Aspek-aspek yang terlingkup didalamnya meliputi struktur organisai yang efektif dan efesien, pengelolaan sumber daya manusia yang kompoten, berdedikasi dan propesional, melakukan koordinasi dengan instansi terkait secara berkesinambungan dan menfasilitasi penyusunan daerah yang mampu mendukung upaya pelestarian alam.