• Tidak ada hasil yang ditemukan

Frekuensi Kekambuhan

PRESENTASI ORAL - 2

B. Frekuensi Kekambuhan

Prosiding “Inovasi Pelayanan PTM” Page 23 menyebabkan penyempitan di saluran pernafasan (bronkokonstriksi) dan menimbulkan gejala sesak dan mengi (Saputri, 2016).

Prosiding “Inovasi Pelayanan PTM” Page 24 menurunnya depresi dan kecemasan, perbaikan faal paru, dan menurunnya resiko kematian sebelum waktunya (Ukhalima et al., 2016).

SIMPULAN

Berdasarkan hasil uji rerata terdapat pengaruh yang bermakna senam asma terhadap Kadar Tumor Necrosis Factor-Alpha (TNF-α), frekuensi kekambuhan dan kualitas hidup pada pasien dengan asma di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan kalimantan Timur Samarinda.

DAFTAR PUSTAKA

Aini, F. (2008). Faktor-Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Tingkat Kekambuhan Pasien Asma Fitri Aini 1) Yesi Hasneli 2) Yulia Irvani Dewi 3).

Asma Terhadap Frekuensi Kekambuhan Penyakit Asma Di Puskesmas Perawatan Tomalehu Kecamatan Amalatu Kabupaten Seram Bagian Barat Tahun 2016, 2.

Juhariyah, S., Djajalaksana, S., Sartono, T. R., & Ridwan, M. (2012). Efektivitas Latihan Fisis dan Latihan Pernapasan pada Asma Persisten Sedang-Berat. J Respir Indo, 32(1), 17–24.

Miftah Azrin, Syahira, I. Y. (2015). Hubungan Tingkat Pengetahuan Asma Dengan Tingkat Kontrol Asma Di Poliklinik Paru Rsud Arifin Achmad Pekanbaru, 1, 1–8.

Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Novarin, C., Murtaqib, & Widayati, N. (2015). Pengaruh Progressive Muscle Relaxation terhadap Aliran Puncak Ekspirasi Klien dengan Asma Bronkial di Poli Spesialis Paru B Rumah Sakit Paru Kabupaten Jember ( The Effect of Progressive Muscle Relaxation on Peak Expiratory Flow of Clients with Bronchial A. E-Jurnal Pustaka Kesehatan, 3(2).

Novita F, L., & Hartini, N. (2014). Hubungan Antara Tingkat Stres Dengan Frekuensi Kekambuhan Pada Wanita Penderita Asma Usia Dewasa Awal Yang Telah Menikah. Psikologis Klinis Dan Kesehatan Mental, 2(1), 7–15.

PDPI. (2009). Asma. Pedoman Diagnosis Dan Penatalaksaan Asma Di Indonesia, 105.

Permatasari, V. D. (2015). ( FEV1 ) Pada Wanita Asma Di Balai Kesehatan Paru Masyarakat ( BKPM ) Semarang Gymnastics Influence Asthma Of Lung

Prosiding “Inovasi Pelayanan PTM” Page 25 Function ( KVP & FEV1 ) Women In Asthma In Lung Community Health Center ( BKPM ) Semarang, 10(2), 65–80.

Putri, R. S. (2017). Pengaruh Relaksasi Otot Progresif Terhadap Kualitas Tidur Lanjut Usia Di Panti Jompo Aisiyah Surakarta.

Sabri, Y. S., & Chan, Y. (2014). Penggunaan Asthma Control Test (ACT) Secara Mandiri Oleh Pasien Untuk Mendeteksi Perubahan Tingkat Kontrol Asma.

Jurnal Keperawatan, 3(3), 517–526.

Safitri, R. P., Rusiana, H. P., & Idris, B. N. A. (2012). Pengaruh relaksasi progresif dengan peningkatan kualitas tidur pada lansia puskesmas cakranegara. Jurnal Keperawatan, 3–6.

Saily, S., Adrianison, & Bebasari, E. (2014). Gambaran faal paru dan skoring astma control test (ACT) penderita asma rawat jalan di poliklinik paru RSUD arifin achmad pekanbaru. Jom, 1(2), 2.

Sekaran, U. (2014). Metodologi Penelitian untuk Bisnis (Research Methods for Business) (Edisi 4). Jakarta: Salemba Empat.

Smeltzer, S. C. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Brunner dan Suddarth) (8 Vol. 1). EGC , Jakarta.

Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi (Mixed Methods). Bandung : Alfabeta.

Ukhalima, N., Sudrajat, H., Nisa, K., Kedokteran, F., Lampung, U., Fisiologi, B., Lampung, U. (2016). Efektifitas Senam Asma untuk Meningkatkan Fungsi Paru Penderita Asma Effectivityof Asthma Exercises to Increase Lung FunctionofAsthma Patient.

Ungaran, D. I. R. (2016). Gambaran Faktor-Faktor Pencetus Timbulnya Program Studi Keperawatan.

WHO. (2013). WHO : Scope: Asthma. Diakses dari http://www.who.int/respiratory/asthma/scope/en/ pada 27 Oktober 2017.

Widjanegara, I. G. (2013). Senam Asma Mengurangi Kekambuhan dan Meningkatkan Saturasi Oksigen pada Penderita Asma di Poliklinik Paru Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Denpasar. Program Pascasarjana Universitas Udayana Denpasar.

Wijaya, I. M. K. (2015). Proceedings Seminar Nasional FMIPA UNDIKSHA V Tahun 2015 I Made Kusuma Wijaya, 336–341.

Prosiding “Inovasi Pelayanan PTM” Page 26 PENGARUH KARAKTERISTIK PEKERJAAN DAN KEPEMIMPINAN

TRANSFORMASIONAL TERHADAP ALTRUISM DAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA PADA RUMAH SAKIT SWASTA DI KOTA

SAMARINDA H. Supriadi B1, Amiruddin2,

1Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Kaltim, Jalan Kurnia Makmur No. 64 Kelurahan Harapan Baru Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda, 75123

2Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur, Jl. Wolter Monginsidi No. 38 Samarinda, 75123

Email : [email protected]

Abstract

Organization is a social system with human resources as the main factor to achieve effectiveness and efficiency (Rad et al. 2005). One of the strategies carried out by Hospitals to gain competitive advantage in this highly competitive market is to manage and optimize human resources effective and efficient. Human resources as one of the most valuable organizational assets have their own uniqueness compared to other factors because humans have intellect, thoughts, desires, knowledge, skills, and exhibit a variety of behaviors.

Job characteristics are the basis for organizational productivity and employee job satisfaction which play an important role in the success and survival of the organization. In conditions of increasing competition, well-designed jobs will be able to attract and maintain a workforce and provide motivation to produce quality products and services.

Bass (1997) states that transformational leadership can make subordinates become more involved and care about their work, pay more attention and time to their work, and become less concerned with personal interests. Leaders who motivate subordinates to be more concerned with achieving the goals of the Hospital , will try to establish cooperation with subordinates, and involve them in the achievement of the Hospital's goals.

Keywords: Job Characteristics, Transformational Leadership, Altuism, Performance.

Abstrak

Organisasi merupakan sistem sosial dengan sumber daya manusia merupakan faktor utama untuk mencapai efektivitas dan efisiensi (Rad et al. 2005).Salah satu strategi yang juga dilakukan Rumah Sakit untuk memperoleh keunggulan bersaing dalam pasar yang sangat kompetitif ini adalah dengan mengelola dan mengoptimalkan sumber daya manusia secara efektif dan efisien.

Sumber daya manusia sebagai salah satu aset organisasi yang paling berharga memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan faktor lainnya karena manusia memiliki akal, pikiran, keinginan, pengetahuan, keterampilan, dan menunjukkan beraneka ragam perilaku.

Karakteristik pekerjaan merupakan dasar bagi produktivitas organisasi dan kepuasan kerja karyawan yang memainkan peranan penting dalam kesuksesan dan kelangsungan hidup organisasi.

Dalam kondisi persaingan yang semakin meningkat, pekerjaan yang dirancang dengan baik akan mampu menarik dan mempertahankan tenaga kerja dan memberikan motivasi untuk menghasilkan produk dan jasa yang berkualitas.

Bass (1997) menyatakan bahwa kepemimpinan transformasional dapat membuat para bawahan menjadi lebih terlibat dan peduli pada pekerjaannya, lebih banyak mencurahkan perhatian dan waktu untuk pekerjaannya, dan menjadi kurang perhatiannya kepada kepentingan- kepentingan pribadinya. Pemimpin yang memotivasi bawahan agar lebih mementingkan pencapaian tujuan Rumah Sakit, akan berusaha menjalin kerjasama dengan para bawahan, dan melibatkan mereka dalam pencapaian-pencapaian tujuan Rumah Sakit tersebut.

Kata Kunci: Karakteristik Pekerjaan, Kepemimpinan Transformasional, Altuism, Kinerja.